Terakhir kali diperbarui 09/08/2017   
   - 

Masyarakat Lintas Etnis dan Agama di Jawa Timur Tolak Rencana Perobohan Patung 
di Tuban


  
|  
|   
|   
|   |    |

   |

  |
|  
|   |  
Masyarakat Lintas Etnis dan Agama di Jawa Timur Tolak Rencana Perobohan Pat...
 Sejumlah elemen masyarakat dari lintas etnis dan agama di Jawa Timur, 
menyatakan penolakan terhadap tuntutan kel...  |   |

  |

  |

 




Ormas lintas agama dan etnis di Jawa Timur berkumpul di Klenteng Boen Bio, 
Surabaya, menolak upaya penghancuran patung (VOA/Petrus Riski)

Sejumlah elemen masyarakat dari lintas etnis dan agama di Jawa Timur, 
menyatakan penolakan terhadap tuntutan kelompok-kelompok yang ingin merobohkan 
patung Dewa Kwan Seng Tee Koen atau Kwan Kong, di Klenteng Kwan Seng Bio, 
Tuban.SURABAYA, JAWA TIMUR — Koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi 
(JIAD) Jawa Timur, Aan Anshori mendesak negara untuk melindungi seluruh umat 
beragama di Indonesia, dalam menjalankan kebebasan beribadah dan 
berkeyakinan.Rencana kelompok-kelompok masyarakat untuk merobohkan patung Dewa 
Kwan Seng Tee Koen atau Kwan Kong, di Klenteng Kwan Seng Bio, Tuban, dinilai 
sebagai tentangan terhadap konstitusi dan pengingkaran kebhinnekaan di 
Indonesia, yang harus dilawan secara bersama-sama.
Masyarakat Lintas Etnis dan Agama di Jawa Timur Tolak Rencana Perobohan Patung 
di Tuban
0:00:00/0:04:29 Unduh  Pop-out player“Konstitusi itu menjamin setiap orang itu 
bisa beribadah sesuai dengan keyakinannya dan menggunakan simbol-simbol itu. 
Jadi kalau misalkan ada upaya atau keinginan untuk menghancurkan patung atas 
nama apa pun, itu sesungguhnya ingin menantang Indonesia dan ingin menantang 
kebhinnekaan itu,” ujar Aan Anshori.Dalam sepuluh tahun terakhir, sedikitnya 
ada sembilan peristiwa yang menjadi perhatian publik, terkait penolakan dan 
perobohan patung di Indonesia. Pada tahun 2015 lalu, patung Jayandaru di 
Sidoarjo, Jawa Timur, sebagai penggambaran profesi masyarakat harus diturunkan 
karena dianggap berhala.Selain itu juga ada patung Gatotkaca dan patung Arjuna 
Memanah di Purwakarta, patung Akar Manusia di Yogyakarta, patung Buddha 
Amitabha di Vihara Tanjung Balai Sumatera Utara, serta beberapa patung karya 
seniman, terpaksa harus dirobohkan atau dibakar akibat penolakan sejumlah 
kelompok masyarakat.Aan Anshori menengarai sel ISIS berada dibalik aksi 
penolakan dan perusakan patung. Aparat keamanan menurutnya harus segera 
mengantisipasi adanya sel ISIS di 16 daerah di Jawa Timur, agar tidak sampai 
berkembang dan membesar.“ISIS sedang menggeliat, karena menurut catatan yang 
saya baca ada 16 titik, dimana 16 kabupaten/kota yang ada di Jawa Timur ini 
yang teridentifikasi ada ISIS. Bagi saya intelijen harus sudah mencium ini, dan 
mulai melakukan antisipasi, jangan sampai Jawa Timur diobok-obok seperti ini,” 
papar Aan Anshori.Sejumlah ormas lintas agama dan etnis di Jawa Timur menolak 
upaya penghancuran patung Kwan Kong di klenteng Tuban (VOA/Petrus Riski)Pemuka 
agama Katolik, Romo Yohanes Gani, CM mengatakan, polemik patung di Tuban 
merupakan bukti masih adanya umat beragama yang belum menjalankan ajaran 
agamanya secara menyeluruh, terutama dalam hal menghormati dan menghargai 
keyakinan agama lain.“Ketika saya yakin bahwa saya Katolik, ketika saya yakin 
bahwa Katolik itu benar, saya tidak akan takut, misalnya diundang orang yang 
bukan Katolik, diajak masuk ke tempat ibadah yang bukan Katolik saya tidak 
takut, saya yakin benar kok. Nah kalau orang masih takut dengan simbol, orang 
takut dengan adanya patung, ya gak yakin itu, kalau dia yakin ngapain ngurusi,” 
ujar Romo Yohanes Gani.Ketua Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) 
Jawa Timur, Ongky S. Kuncono mengatakan, Dewa Kwan Kong bagi umat agama 
Khonghucu merupakan sosok yang sangat dihormati, tidak hanya di Indonesia 
melainkan juga di seluruh dunia. Pendirian patung Kwan Kong merupakan bagian 
dari ritual kepercayaan umat Khonghocu, yang telah berlangsung lama.“Kita 
jelaskan, ini ritual. Semua klenteng itu ada Kwan Kong-nya, di Jawa Timur, Jawa 
Tengah, kalau kita di luar pulau itu Kwan Kong semua, Medan itu Kwan Kong 
semua. Dulu di pengadilan kalau orang sumpah, itu pakai gambarnya Kwan Kong 
itu, karena ini adalah orang jujur, benar. Ini kan bukan Indonesia saja, kalau 
kita ke Hongkong, Kwan Kong juga menjadi seni orang-orang besar yang dulu 
berjuang demi agama, dia sudah mendekati Tuhan itu. Singapura, bahkan Vietnam, 
Jepang, di seluruh dunia itu ada. Kalau ini mau dirobohkan, orang Indonesia 
bahkan dunia akan protes,” ujar Ongky S. Kuncono.Ongky menambahkan, keberadaan 
patung Dewa Kwan Kong tidak dapat dibandingkan dengan patung pahlawan nasional 
Jenderal Sudirman, karena Kwan Kong merupakan sosok yang berkaitan dengan 
keyakinan keagamaan suatu masyarakat.“Kwan Kong itu bukan panglima perang 
China, apalagi Kwan Kong itu dibandingkan dengan Panglima Soedirman, kalau 
Panglima Soedirman ini kan jelas pahlawan nasional. Kwan Kong itu ada sebelum 
negara China itu ada, jauh sekitar (tahun) 200-an, bahkan kalau kita tarik ya 
jauh sekali Kwan Kong itu. Maka ini tidak bisa ditarik menjadi isu politik itu 
tidak bisa, karena ini keyakinan,” imbuh Ongky.Sementara itu, mantan pengurus 
Klenteng Kwan Seng Bio, Tuban, Teguh Prabowo mengungkapkan, polemik patung Dewa 
Kwan Kong di Tuban tidak lebih dari persoalan administratif pemberian izin 
mendirikan bangunan (IMB). Hal ini akibat belum adanya pengesahan pengurus 
yayasan klenteng, yang berhak mengajukan IMB kepada Pemerintah Kabupaten 
Tuban.“Pengajuan sudah, cuma karena yang memohon (IMB) itu tidak punya jabatan, 
tidak pengurus yang sah, jadi Bupati tidak berani mengeluarkan izin itu. Yang 
penting pengurus ada dulu, diserahkan kepada Bupati. Penyelesaian ini kan harus 
ada pengurusnya yang sah, sehingga nanti mengajukan IMB itu kepada Bupati. 
Dengan demikian pokok permasalahan yang selama ini tidak keluar izinnya, karena 
tidak ada pengurusan yang sah selama lima tahun,” pungkas Teguh Prabowo. [pr/em]
  • [GELORA45] Masyarakat Li... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke