Iyaa, ... JJ Rizal sebagai ahli sejarah pantaslah menyatakan sebaiknya tokoh 
bangsa, bahkan asal Tuban sekalipun untuk dinobatkan sebagai PAHLAWAN! Kenapa 
harus pahlawan Cina? 

Dia lupa atau belaga pilon, patung Kwan Kong itu dibangun dalam areal Klenteng, 
yang diangkat tentu BUKAN PAHLAWAN bangsa, ... tapi DEWA-DEWA yang di PUJA umat 
klenteng itu! Dan klenteng itu jelas memuja Dewa Kwan Kong! Pantaslah mereka 
perlukan membuat patung Kwan Kong segitu gede-nya dialam areal klenteng! 

Yang jadi masalah, patung itu dirasakan terlalu GEDE! Ditengah-tengah 
masyarakat Indonesia yang masih MISKIN, membangun sebuah PATUNG sebegitu 
besarnya membuat sementara orang sirik, iri bahkan jadi dengki dengan 
keberhasilan Tionghoa. Kenyataan objektif masih adanya sekelompok warga yang 
merasa sirik, iri bahkan dengki akan keberhasilan Tionghoa, bahkan masih ada 
sekelompok yang menganggap Tionghoa hanyalah PENDATANG, dan mereka yang PRIBUMI 
ini kurang diperhatikan bahkan tidak dipedulikan sekelompok Tionghoa! 

Jadi, seperti yang dinyatakan JJ Rizal sendiri: Segala Bentuk Peribadatan 
Keagamaan Harus Dihormati! Tapi, dia sendiri tidak konsekwen!



From: kh djie dji...@gmail.com [GELORA45] 
Sent: Thursday, August 10, 2017 4:03 AM
To: Gelora45 
Subject: Re: [GELORA45] Tokoh Bangsa Asal Tuban Banyak, Mengapa Harus Pahlawan 
Cina?

  

Katanya JJ. Rizal itu sejarahwan. Lha kok general knowledgenya begitu terbatas, 
sampai mesti diceritai dulu oleh temannya tentang Kwan Kong.
Kalau bukan vaknya, ya mestinya tanya dulu pada klenteng di Tuban, apa 
alasannya mendirikan patung Kwan Kong

2017-08-09 20:30 GMT+02:00 Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45] 
<GELORA45@yahoogroups.com>:

    

  JJ Rizal telah menggunakan hak jawab-nya dalam artikel  JJ Rizal: Segala 
Bentuk Peribadatan Keagamaan Harus Dihormati yang menyanggah berita dibawah, 
tetapi tetap saja terlihat Rizal asbun dan plin-plan. Patung itu didirikan 
pihak kelenteng dan di area kelenteng, sudah jelas sekali terkait dgn 
kepercayaan, bagaimana kok bisa asal ngomong dibandingkan pahlawan nasional 
segala macam.
  ---

  Rabu , 02 August 2017, 11:05 WIB
  Tokoh Bangsa Asal Tuban Banyak, Mengapa Harus Pahlawan Cina?


                          
                   
             
                   Tokoh Bangsa Asal Tuban Banyak, Mengapa Harus Pahlawan Cina? 
| Republika On...
                    REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarahwan JJ Rizal mengkritisi 
pembangunan patung tokoh Cina di Tuban, Jawa Timur. ...  
             
       


  Rep: Rahma Sulistya/ Red: Andi Nur Aminah



  JJ Rizal (kiri).


  REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sejarahwan JJ Rizal mengkritisi pembangunan 
patung tokoh Cina di Tuban, Jawa Timur. Menurut dia, tokoh bangsa yang berasal 
dari Tuban, Jawa Timur, sesungguhnya banyak.
  Misalnya saja, Sunan Kalijaga yang juga disebut sebagai Pangeran Tuban. 
Lantas mengapa harus repot membuat patung dengan tokoh besar berkebangsaan 
Cina? Pertanyaan ini kemudian muncul dari benak masyarakat Indonesia.

  JJ Rizal mempertanyakan jika ingin memajukan nilai luhur mengapa tidak 
berpatokan pada Jas Merah. " Kalau patung itu tidak ada kaitannya dengan 
peribadatan, tetapi lebih ingin memajukan nilai luhur, mengapa tidak pulang ke 
rumah sejarah bangsa?" ujar dia.

  Hati Rizal pun semakin miris tatkala yang meresmikan patung itu adalah 
seorang Ketua MPR. Patung yang dinobatkan sebagai patung tertinggi se-Asia 
Tenggara itu, adalah patung Yang Mulia Kongco Kwan Sing Tee Koen, seorang 
jenderal berkebangsaan Cina.
  "Ironisnya yang meresmikan adalah ketua MPR, sungguh mengenaskan. Lagi pula 
bukankah Tuban memiliki banyak tokoh bangsa yang bisa menjadi sumber teladan 
nilai luhur? Seperti Soegondo Djojopoespito," kata dia.

  Rizal memaparkan Soegondo Djojopoespito adalah orang yang menjadi tokoh utama 
Kongres Pemuda ke-2 dan kemudian kita kenal sebagai Sumpah Pemuda. Momen itu 
adalah proklamasi pertama Indonesia sebagai bangsa.

  Lalu, Rizal juga menyebutkan nama AK Pringgodigdo yang memainkan peran 
penting di BPUPKI dan menyelamatkan arsip risalah sidang BPUPKI. Kedua nama itu 
adalah tokoh yang berasal dari Tuban. "Sangat layak untuk dipertimbangkan agar 
patungnya bisa dibuat se-eksklusif mungkin," kata dia.

  Rizal menegaskan, pembuatan patung panglima perang dari sejarah Cina itu, di 
tengah situasi pergaulan kebangsaaan yang tegang karena isu pluralisme, justru 
bukan menenangkan masyarakat. Malah yang terjadi justru memberikan dampak 
sebaliknya.

  Menurut Rizal, semua akan lain jika pilihan tokohnya, tokoh yang berasal dari 
Tuban seperti tokoh Sumpah Pemuda Soegondo Djojopoespito. Rizal memberi masukan 
agar tokoh Sumpah Pemuda itu yang dijadikan ikon Tuban, karena tiga butir 
putusan Kongres Pemuda adalah cermin perdamaian antarmanusia tanpa melihat ras 
etnis.

  "Itu pelajaran pluralisme yang penting dalam kebangsaan kita," kata Rizal 
saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (2/8) pagi. Ke depannya, dia berharap 
Indonesia bisa menjadi lebih nasionalis lagi dalam memutuskan sesuatu, apalagi 
terkait seni dan budaya.


Kirim email ke