Ini Kata Istana Soal Patung Di Tuban

 Jumat, 11 Agustus 2017 19:23:31 Oky Alexander WeniSumber foto 
istimewaWinnetnews.com - Kepala Kantor Staf Presiden Teten Masduki menyoroti 
terjadinya perubahan nilai di masyarakat Indonesia. Soal toleransi dan 
menghormati perbedaan, misalnya."Banyak hal-hal yang dulu tidak jadi masalah, 
kita rukun-rukun saja, duduk bersama dalam perbedaan, dalam kehidupan 
sehari-hari berbeda dalam politik dan kehidupan bernegara, kok ini sekarang 
menjadi masalah," ujar Teten di Jakarta, Rabu (9/8/2017)."Ini suatu fakta yang 
tidak bisa ditutup-tutupi bahwa memang terjadi perubahan nilai di masyarakat," 
lanjut dia.Teten mencontohkan penolakan kelompok masyarakat tertentu atas 
berdirinya patung raksasa dewa Kongco Kwan Sing Tee Koen di Kelenteng Kwan Sing 
Bio Tuban, Jawa Timur.Puluhan orang dari berbagai elemen menggelar aksi protes 
di depan gedung DPRD Jatim. Mereka mendesak agar patung tersebut segera 
dirobohkan karena tidak terkait dengan sejarah bangsa Indonesia.Patung setinggi 
lebih dari 30 meter yang berdiri menghadap ke laut tersebut diresmikan pada 17 
Juli 2017 lalu oleh Ketua MPR RI Zulkifli Hasan. Patung tersebut dinobatkan 
sebagai patung dewa terbesar se-Asia Tenggara.Teten menegaskan, negara tidak 
boleh tinggal diam merespons fenomena ini. Negara harus menempatkan seluruh 
warganya pada kedudukan yang sama.Jika ada persoalan, hukumlah yang ditegakkan. 
Bukan dengan cara main hakim sendiri."Jadi setiap ada tindakan intoleransi atau 
tindakan semena-mena, misalnya menghancurkan patung, benda seni dan sebagainya, 
harus dilakukan tindakan hukum," ujar Teten."Apalagi jika mereka protes mau ini 
mau itu, minta patung itu dirobohkan misalnya. Aparat tidak boleh tunduk pada 
tekanan," lanjut dia.Meski demikian, Teten mengatakan, penyadaran akan 
nilai-nilai toleransi bukan hanya tanggung jawab negara. Masyarakat sipil juga 
mesti ikut berkontribusi di dalamnya.Penyadaran nilai-nilai toleransi dan 
menghormati keberagaman harus dipupuk di setiap lini, mulai dari keluarga, 
lingkungan pendidikan, organisasi masyarakat, partai politik hingga 
negara.Sebab, apa yang terjadi saat ini, akan dilihat oleh generasi muda, calon 
pemimpin bangsa.Jika tidak ada role model yang tepat pada zaman sekarang, 
generasi muda kehilangan pijakan nilai untuk diteruskan di masa mendatang."Oleh 
sebab itu, selain negara harus memberikan role model bagi anak-anak muda, tugas 
negara juga mencari model baru bagaimana penghayatan Pancasila itu bisa masuk 
ke generasi milenial yang sekarang umur belasan tahun. Ini tantangan kita 
semua," ujar Teten.
  • [GELORA45] Ini Kata Ista... Jonathan Goeij jonathango...@yahoo.com [GELORA45]

Kirim email ke