Pada Sabtu, 12 Agustus 2017 21:28, "Roeslan [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
REVOLUSI MEMTAL YANG FUNDAMENTAL HARUS SEGERA DILAKSANAKAAN!!!
Menurut pengamatan saya Revolusi Mental yang dicetuskan oleh Presiden Jokowi
setelah lebih dari 2 tahun berlalu , sampai sekarang ini belum menunjukkan
adanya tanda-tanda yang positif yang mewarnai kebangkitan kesadaran bangsa
Indonesia khususnya para elite politiknya. Ini tercermin dalam sikap politik
para elite bangsa Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang
reformis, yang mendominasi kekuasaan politik di NKRI era reformasi, terkesan
kuat belum dapat memahami bahwa Indonesia di era reformasi ini masih terus
menjadi negara jajahan model baru, sebagai dampak dari sikap politik busuk
rezim Orde Baru pimpinan jenderal TNI AD Suharto, yang secara langsung telah
menjual kemerdekaan NKRI kepada imperialisme AS dan konco-kanconya.Kenyataan
yang kita saksikan selama ini menunjukkan bahwa kesadaran politik sebagian
bangsa Indonesia, terutama sekali kesadaran para elite politiknya yang
mendominasi kekuasaan politik di NKRI, telah hacur luluh karena dijejal konsum
lewat budaya KKN, sehingga tega untuk membiaarkan nasib kemerdekaan negara dan
bangsanya di injak-injak oleh kaum neoliberal yang sudah menggelobal sebagai
penjajah baru di NKRI. Ini tercermin dalam sikap para elite pokitik busuk yang
berkerumun dalam MPR RI yang merombak (mengamandemen) UUD 45 naskah asli,
menjadi UUD 1999-2004 (4 kali amandemen) menjadi UUD yang sepenuhnya mengabdi
pada kepentingan kaum kapitalis Neoliberal yang sudah menggelobal dibawah
pimpinan imperialisme A. S.Rupanya dampak teori cuci otak Orde Baru selama 32
tahun lamanya, telah menyebabkan banyak orang-orang „terpelajar“ khususnya para
ekonom didikan A.S yaitu ekonom-ekonom the Berkeley Mafia telah keblinger,
tidak tahu, karena mereka melihat gejala hanya dari satu segi saja. Saat
Suharto berkuasa sudah ada trend dampak ekses-ekses Neoliberal itu, yaitu
ketergantungan pada pihak asing, yang tercermin dalam bentuk pembiyayaan
pembangunan, dimana modal asing dan utang luarnegeri sangat memainkan peranan.
Juga tercermin dalam bentuk impor dan ekspor. Industri-industri substansi
ekspor, tidak bisa jalan tanpa adanya dukungan kuat dari import. Yang
melaksanakan ekspor banyak terdiri dari pihak asing. Arus masuk investasi
asing dalam rangka relokasi industri untuk memanfaatkan buruh murah bangsa
Inonesia. Adalah merupakan suatu ilusi, bahwa ekspor yang terjadi dari
Indonesia terutama ekspor nonmigas, telah dan akan meningkatkan nilai tambah
yang substansional di Indonasia. Dalam konteks ini sungguh relevam apabila kita
melontrakan pertanyaan Ekspor kita itu milik siapa?. Indonesia kembali memjadi
tempat yang empuk bagi penghisalan surplus ekonomi oleh pihak asing. Data
neraca diera Orde Barupun menunjukkan bahwa selama periode 1973-1990 nilai
komulatif arus masuk investasi asing sebesar US$ 5775 juta , telah diiringi
dengan nilai kumulatif keuntungan investasi asing yang di repatriasi keluar
negeri sebesar US$ 58859 juta (data IMF balance of Payments Yearbook,berbagai
tahun). Ini berarati bahwa setiap US$ 1 investasi asing yang masuk telah
diikuti dengan biyaya US$ (58859:5775) = US$ 10,19. Financial resources yang
keluar. Sebab utamanya mengapa ini terjadi, antara lain adalah tinngginya
komponen sumber-sumber keuangan didalam negeri yang telah digunakan untuk
membiyayai investasi asing. Inilah apa yang disebut penjajahan model baru di
NKRI, diera kekuasaan rezim Oede baru Suharto, yang terus belanjut sampai
sekarang, karena didukung oleh amandemen UU45, sebagai produk dari MPR RI
1999-2004 Pimpinan Amin Rais. Jadi sungguh relevan jika sekarang ini kita
melontarlan ucapan bahwa NKRI adalah negara jajahan model baru. Dalam keadaan
seperti inilah maka Revolusi mental yang fundamental atau mendasar harus segera
dilaksankan! Revolusi mental secara mendasar harus diawali dengan merubah
Paradigma, yaitu dari paradigma kapitalistik kearah Paradigma kerakayatan
(sosialistik), dalam konteks ini, merubah paradigma kiranya tidak hanya sekedar
bahwa kita harus memperluas daya penangkapan dan pola pikir kita, akan tetapi
disamping itu kita harus berani membuat formulasi atau difinisi baru tentang
"Nilai". Memang dalam masyarakat sosialistis nilai-nilai itu tidak hanya
membantu, tetapi juga memberikan implikasi dalam ekonomi dan politik. Dan oleh
karena itulah salah satu alasan mengapa perubahan tentang nilai harus
dilaksanakan.Rakyat dalam paradigma kapitalistik hanya diberi nilai sebagai
pribumi, yaitiu kaum buruh dan tani, yang hanya memiliki nilai guna saja. Agar
supaya kita dapat menaikkan nilai rakyat, maka kita harus berani menjalankan
Demokrasi Ekonmi sepeti yang dimaksud dalam Pasal 33 UUD 45, yang adalah
kebalikan dari dari paradigma kapitalistik. Dalam Pasal 33 UUD 45 tercantum
dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah
pimpinan atau penilikan angota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah
yang diutamakan, bukan kemajkmuran orang perorang. Sebab itu perekonomian
disusun sdebagai usaha bersama berdasarkan atas usaha kekeluargaan. Bangunan
perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Demikianlah antara lain yang
dimaksud oleh pasal 33 UUD 45. Tapi sayang hasilnya masih Jauh Panggang dari
Api. Inlah tantangan yang digadapi oleh bangsa Indonesia, untuk terus bejuang
demi kembali ke UUD 45, naskah asli, dan Pancasila 1 Juni 1945. Meneruskan
Revolusi Agustus 1945 sampai keakar-akarnya!!! Demikianlah pesan Bung Karno,
pemimpin besar bangsa Indonesia.Jika kita sungguh-sungguh berkeinginan secara
iklas untuk menyaksikan proses berlangsungnya emansipasi rakyat Indonesia dalam
keseluruhan aspek kehidupannya, maka Revolusi Mental yang fundamental atau
mendasar harus segera dilaksanakan!!! Kemudian seiring dengan itu harus
dilaksanakan proses kembali ke UUD 45 , khususnya Pasal 33 UUD 45, dan
Pancasila 1 Juni 1945, sebagai sarana untuk menbangitkan bangsa Indonesia.
Karena; Kebangkitan bangsa Indonesia adalah merupakan fungsi dari sistem sosial
bangsa Indonesia secara keseluruhan. Tentang Revolusi Mental.Untuk membahas
masalah Revolusi Mental, pertama-tama saya akan cermati apa sebenarnya yang
dimaksud dengan perkataan Mental manusia. Menurut pemahaman saya perkataan
Mental selalu berkaitan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat
badan atau tenaga; jadi Revolusi Mental bisa diartikan kehendak untuk merubah
secara mendasar sifat batin dan watak manusia, sebagai dasar dari kesadaran
manusia. Oleh karena itu dalam konteks merubah sifat batin dan watak manusia
kita harus pertama-tama memahami evolusi kesadaran manusia. Jadi untuk
melakukan revolusi mental harus dimulai dengan melakukan evolusi ``meme`` Teori
tentang >Meme<, adalah gagasan dari pakar biologi Richard Dawkins(``The Blind
Watschmaker``) yang pertama mengeluarkan gagasan analogi dengan proses evolusi
Darwin; karena evolusi kebudayaan itu jauh lebih cepat perkembangannya dari
evolusi biologi Darwin.Menurut Spiral Dynamics evolusi kesadaran atau budaya
manusia (batin) ditunjukkan dalam delapan tingkatan (sebenarnya ada 9
tingkatan, tapi yang tingkat ke 9 itu lama-lama menghilang), jadi yang pasti
ada 8 tingkatan evolusi kesadaran manusia (meme), yang prosesnya digambarkan
sebagai spiral. 1.Beige (Archaisch-instinktiv)-Permulaan adanya
insting2.Purpur (Magisch-animistisch)- Magi- animisme, percaya pada setan-setan
dll.3.Rot (Mächtige Götter)- menggantungkan diri pada kekuatan
Tuhan(Allah)4.Blau (Mythische Ordnung)- Percaya dan tergantung pada
kitab-kitab suci5.Orange (Errungenschaften der Wissenschaft)- mengandalkan
prestasi Ilmu Pengetahun, dan ekonomi.6. Grün (Das sensibile Ich)-rasa
kepekaan (kritis) terhadap dirinya sendir, dan sesama manusia, kepekaan
terhadap ekologi dan kesadaran pluralisme.7Türkis (Integrativ)- berpandangan
secara integral8.Gelb (kuning) (Holistisch)- universil holistis
system9.Koralle.(integral-holistisch) Menurut Theori Spiral Dynamics ``Meme``
adalah merupakan kekhususan mental-kulturil dari Hollon yang terdapat didalam
salah satu Quadran tertentu, dimana Holon pada prinsipnya mempunyai empat
dimensi yang oleh Ken Wilber disebut Quadran atau dimensi. Tentang kesadaran
manusia (Mental- kulturil)Dalam masalah ini Ken Wilbers dalam bukunya yang
berjudul “A Theory of Everything“ , untuk memahami kesadaran manusia telah
mengajukan pandangannya tentang teori empat Quadrant (empat dimensi) tentang
kesadaran individu Manusia, yang satu sama lain mempunyai saling hubungan dan
pengaruh timbal balik. Empat Quadrant atau dimensi itu adalah (hubungan
sistemik)1. Quadran Pertama, yaitu bagian intern individu manusia (budi
nurani, jiwa dan mental).2. Quadran Kedua, yaitu bagian luar dari individu
manusia, yang dimaksud adalah bagian dari tubuh dan organ-organ tubuh; misalnya
Atom, molekul,Proaryoten, Eukaryoten,neuronal Organisme, Rükenmark, limbische
System, Otak …dst.3. Quadran ketiga , yaitu bagian intern dari sosial dan
kultur (kolektif dimana manusia bergabung)4. Quadran ke empat, yaitu bagian
ekstern dari sosial dan kultur (System sosial dalam masyarakat, negara)Dari
sini dapat kita lihat typish proses evolusi kesadaran manusia atau bisa
disebut juga typish Holargi* kesadaran manusia. Oleh karena itu untuk mengenal
akar-akar mental manusia, kita harus memperhatikan adanya empat Quadran itu.
Dengan metode Holargi, maka kita dapat „melihat“ kesadaran manusia dari adanya
pengaruh intern, pengaruh ekstern, baik secara individu maupun secara kolektif.
Jadi teori empat Quadrant itu talah memberikan cara penyelidikan secara
integral ( Intern, Ekstern, Tunggal dan Jamak). Dengan adanya pengenalan
seperti itu dan adanya pengenalan tentang spyral Dynamic ditambah dengan
pengengetahuan tentang Holargi , maka akan memudahkan kita untuk melakukan
transformasi kesadaran misalnya tranformasi kesadaran primer (pemikiran
primer) ke kesadaran sekunder sebagai sarana untuk memenuhi syarat bagi
terlaksanakannya revolusi mental.Hal ini perlu di kemukakan karena system
berpikir Bung Karno pada dasarnya di dominassi oleh pikiran sekunder, yaitu
suatu pikiran yang holistis/sytemik ini tercermin dalam ajaran tentang
Marhaenisme, ajaran tentang: Sosialisme Indonesia dan ajaran tentang Pancasila,
Trisakti dll. Sedangkan polapikir mayortas rakyat Indonesia dan para elite
politiknya terkesan masih dikiuasi oleh polapikit primer, yaitu polapikir yang
dikuasai oleh jalan pikirannya sendiri yaitu pikiran yang dihalalkan oleh
kepercayaannya atau agamanya, yang berdasarkan pada kebenaran tekstuil,
misalnya polpikir yang mengharamkan Pluralisme agama yang tertercantum dalam
Panasila. *catatan : Holargi artinya adalah herarginya petumbuhan, seperti
misalnya herargi Atom dalam molekule,Molekule dalam Zell(sell), Sell dalam
organisme, organisme dalam Ekositem, ekosostem dalam Biospher, dan akhinya
Biospher terlekat dalam Universum. Suatu proses yang terjadi dalam
jaringan.Jadi jika kita hendak melakukan revolusi mental, maka paling tidak
kesadaran bangsa kita, terutama kesadaran elite bangsa kita harus ditingkatkan
pada kesadaran green meme (kesadaran hijau), agar supaya dapat menhayati apa
arti sebenarnya makna kebinekaan seperti yang di harapkan oleh Pancasila 1 Juni
1945. Jadi bukan hanya sekedar semangat kebinekaan, tapi harus lebih dari itu,
yaitu jiwa kebinekaan harus diresappi oleh setiap putra-putrti bangsa
Indonesia, lebih-lebih oleh para elite bangsa Indonesia. Untuk maksud ini
kiranya diperlukan adanya transformasi (lompatan) kesadaran dengan cara
mengerakkan evolusi kesadaran manusia, artinya “meme” bangsa Indoensia harus
ditingkatkan ketingkatan green meme, melalui pendidikan dimulai dari
sekolah-sekolah dasar sampai pendidikan tinggi; sebagai sarana untuk memenuhi
syarat dalam melakukan REVOLUSI MENTAL. Seperti gene yang berkembang biak dan
menyebar luas melalui sperma dan telur, tapi meme meperbanyak diri dan menyebar
luas misalnya melalui pengajaran guru kepada murir-muritnya. Jadi meme itu
adalah hasil karya manusia,dimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi termasuk
didalamnyxa.Setelah bangsa Indonesia bisa mencapai pada kesadaran tingkat 6
(kesadaran hijau), maka mulailah bisa memerina makna kemajemukan atau
kebinekaan, karena kesadaran hijau itu mengandung sifat pluralis, artinya
sudah dijiwai oleh kesadaran pluralisme. Dalam tingkatan kesadaran hijau ini
berarti manusia sudah mempunyai perasaan kemanusiaan yang sama, manusia sudah
dapat saling harga- menghargai antara satu dengan yang lainnya, manusia sudah
kritis terhadap diriya sediri, bebas dari sifat angkara murka (sifat kapitalis,
saudagar), disini manusia telah dibebaskan dari segala dogma-dogma, memahami
atau sadar tentang lingkungan (ekologi), sehinga manusia akan dapat hidup damai
berdampingan satu dengan yang lainnya, meskipun mereka itu berlainan Rasnya,
etnisnya, sukunya, budayanya (agama, keyakinan, dan kepercayaan yang
bebeda-beda). Bangsa Indonesia nampaknya dewasa ini sudah didesak untuk
melakukan evolusi meme, karena kesadaran bangsa Indonesia nampaknya masih
berada pada tingkatan 3-4 menurut Spiral Dynamics dalam tabel diatas, oleh
karena itu REVOLUSI MENTAL dalam konteks ini berarti bangsa Indonesia harus
berani melakukan loncatan katak menuju pada kesadaran hijau atau pandangan
ekologis.Sebuah pandangan ekologis mengenai kesadaran manusia itu mencakup
pandangan 3&4 (yang berkitan dengan masalah keagamaan), tapi menambaan suatu
persepsi ekologis tentang kesadaran yang terlekat dalam kesadaran hujau, dengan
maksud agar supaya bisa dapat mencapai kearah pemikiran sekunder, yang
mendominasi ajaran ajaran Bung karno, seperi yang sudah saya singgung diatas,
sehingga dengan demikian bangsa Indoneia dapat secara legowo memenuhi Tuntutan
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1845, yang merupakan kulminasi
tuntutan-tuntutan kultural : Kemerdekaan sejati, Demokrasi Pancasila,
emansipasi, harga diri dan jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia, seperti apa yang terkandung dalam RISAKTI BUNG
KARNO. Roeslan #yiv0972845181 #yiv0972845181 -- #yiv0972845181ygrp-mkp
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0
10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp #yiv0972845181hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp #yiv0972845181ads
{margin-bottom:10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad
{padding:0 0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad p
{margin:0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-sponsor
#yiv0972845181ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ygrp-lc #yiv0972845181hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ygrp-lc .yiv0972845181ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0972845181
#yiv0972845181activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0972845181
#yiv0972845181activity span {font-weight:700;}#yiv0972845181
#yiv0972845181activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span
span {color:#ff7900;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span
.yiv0972845181underline {text-decoration:underline;}#yiv0972845181
.yiv0972845181attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach div a
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach label a
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0972845181
.yiv0972845181bold a {text-decoration:none;}#yiv0972845181 dd.yiv0972845181last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0972845181 dd.yiv0972845181last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0972845181
dd.yiv0972845181last p span.yiv0972845181yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181attach-table
{width:400px;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181file-title a, #yiv0972845181
div.yiv0972845181file-title a:active, #yiv0972845181
div.yiv0972845181file-title a:hover, #yiv0972845181 div.yiv0972845181file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181photo-title a,
#yiv0972845181 div.yiv0972845181photo-title a:active, #yiv0972845181
div.yiv0972845181photo-title a:hover, #yiv0972845181
div.yiv0972845181photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0972845181
div#yiv0972845181ygrp-mlmsg #yiv0972845181ygrp-msg p a
span.yiv0972845181yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0972845181
.yiv0972845181green {color:#628c2a;}#yiv0972845181 .yiv0972845181MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv0972845181 o {font-size:0;}#yiv0972845181
#yiv0972845181photos div {float:left;width:72px;}#yiv0972845181
#yiv0972845181photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0972845181
#yiv0972845181photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0972845181
#yiv0972845181reco-category {font-size:77%;}#yiv0972845181
#yiv0972845181reco-desc {font-size:77%;}#yiv0972845181 .yiv0972845181replbq
{margin:4px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-mlmsg select, #yiv0972845181 input, #yiv0972845181 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-mlmsg pre, #yiv0972845181 code {font:115%
monospace;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg #yiv0972845181logo
{padding-bottom:10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-msg
p#yiv0972845181attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-reco #yiv0972845181reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-sponsor
#yiv0972845181ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0972845181
#yiv0972845181ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv0972845181