Pada Sabtu, 12 Agustus 2017 21:28, "Roeslan roesla...@googlemail.com 
[nasional-list]" <nasional-l...@yahoogroups.com> menulis:
 

         REVOLUSI MEMTAL YANG FUNDAMENTAL HARUS SEGERA DILAKSANAKAAN!!!  
Menurut pengamatan saya Revolusi Mental yang dicetuskan oleh Presiden Jokowi 
setelah lebih dari 2 tahun berlalu , sampai sekarang ini belum menunjukkan 
adanya tanda-tanda yang positif yang mewarnai kebangkitan kesadaran bangsa 
Indonesia khususnya para elite politiknya. Ini tercermin dalam sikap politik  
para elite bangsa Indonesia yang mengklaim dirinya sebagai orang-orang 
reformis, yang mendominasi kekuasaan politik di NKRI era reformasi, terkesan 
kuat belum dapat memahami bahwa Indonesia di era reformasi ini masih terus 
menjadi negara jajahan model baru, sebagai dampak dari sikap politik busuk 
rezim Orde Baru pimpinan jenderal TNI AD Suharto, yang secara langsung telah 
menjual kemerdekaan NKRI kepada imperialisme AS dan konco-kanconya.Kenyataan 
yang kita saksikan selama ini menunjukkan bahwa kesadaran politik sebagian 
bangsa Indonesia, terutama sekali kesadaran para elite politiknya yang 
mendominasi kekuasaan politik di NKRI, telah hacur luluh karena  dijejal konsum 
lewat budaya KKN, sehingga tega untuk membiaarkan nasib kemerdekaan negara dan 
bangsanya di  injak-injak oleh kaum neoliberal yang sudah menggelobal sebagai 
penjajah baru di NKRI. Ini tercermin dalam  sikap para elite pokitik busuk yang 
berkerumun dalam MPR RI yang merombak (mengamandemen) UUD 45 naskah asli, 
menjadi UUD 1999-2004 (4 kali amandemen) menjadi UUD yang sepenuhnya mengabdi 
pada kepentingan kaum kapitalis Neoliberal yang sudah menggelobal dibawah 
pimpinan imperialisme A. S.Rupanya dampak teori cuci otak Orde Baru selama 32 
tahun lamanya, telah menyebabkan banyak orang-orang „terpelajar“ khususnya para 
ekonom didikan A.S yaitu ekonom-ekonom  the Berkeley Mafia  telah keblinger, 
tidak tahu, karena mereka melihat gejala hanya dari satu segi saja. Saat 
Suharto berkuasa sudah ada trend dampak ekses-ekses Neoliberal itu, yaitu 
ketergantungan pada pihak asing, yang tercermin dalam bentuk pembiyayaan 
pembangunan, dimana modal asing dan utang luarnegeri sangat memainkan peranan. 
Juga tercermin dalam bentuk impor dan ekspor. Industri-industri substansi 
ekspor, tidak bisa jalan tanpa adanya dukungan kuat dari import. Yang 
melaksanakan ekspor banyak terdiri dari pihak asing.  Arus  masuk investasi 
asing dalam rangka relokasi industri untuk memanfaatkan buruh murah bangsa 
Inonesia. Adalah merupakan suatu ilusi, bahwa  ekspor yang terjadi dari 
Indonesia terutama ekspor nonmigas, telah dan akan meningkatkan nilai tambah 
yang substansional di Indonasia. Dalam konteks ini sungguh relevam apabila kita 
melontrakan pertanyaan Ekspor kita itu milik siapa?. Indonesia kembali memjadi 
tempat yang empuk bagi penghisalan surplus ekonomi oleh pihak asing. Data 
neraca diera Orde Barupun menunjukkan bahwa selama periode 1973-1990 nilai 
komulatif arus masuk investasi asing sebesar US$ 5775 juta , telah diiringi 
dengan nilai kumulatif keuntungan investasi asing yang di repatriasi keluar 
negeri sebesar US$ 58859 juta (data IMF balance of Payments Yearbook,berbagai 
tahun). Ini berarati bahwa setiap US$ 1 investasi asing yang masuk telah 
diikuti dengan biyaya US$ (58859:5775) = US$ 10,19. Financial resources yang 
keluar. Sebab utamanya mengapa ini terjadi, antara lain adalah tinngginya 
komponen sumber-sumber keuangan didalam negeri yang telah digunakan untuk 
membiyayai investasi asing. Inilah apa yang disebut penjajahan model baru di 
NKRI, diera kekuasaan rezim Oede baru Suharto, yang terus belanjut sampai 
sekarang, karena didukung oleh amandemen UU45, sebagai produk dari MPR RI 
1999-2004 Pimpinan Amin Rais.  Jadi sungguh relevan jika sekarang ini kita 
melontarlan ucapan bahwa NKRI adalah negara jajahan model baru. Dalam keadaan 
seperti inilah maka Revolusi mental yang fundamental atau mendasar harus segera 
dilaksankan! Revolusi mental secara mendasar harus diawali dengan merubah 
Paradigma, yaitu dari paradigma kapitalistik kearah Paradigma kerakayatan 
(sosialistik), dalam konteks ini, merubah paradigma kiranya tidak hanya sekedar 
bahwa kita harus memperluas daya penangkapan dan pola pikir kita, akan tetapi 
disamping itu kita harus berani membuat formulasi atau difinisi baru tentang 
"Nilai". Memang dalam masyarakat sosialistis  nilai-nilai itu tidak hanya 
membantu, tetapi juga memberikan implikasi dalam ekonomi dan politik.  Dan oleh 
karena itulah salah satu alasan mengapa perubahan tentang nilai  harus 
dilaksanakan.Rakyat dalam paradigma kapitalistik hanya diberi nilai sebagai  
pribumi, yaitiu kaum buruh dan tani, yang hanya memiliki nilai guna saja.  Agar 
supaya kita  dapat menaikkan nilai rakyat, maka kita harus berani menjalankan 
Demokrasi Ekonmi sepeti yang dimaksud dalam Pasal 33 UUD 45, yang adalah 
kebalikan dari dari paradigma kapitalistik.   Dalam Pasal 33 UUD 45 tercantum 
dasar demokrasi ekonomi, produksi dikerjakan oleh semua, untuk semua dibawah 
pimpinan atau penilikan angota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah  
yang diutamakan, bukan kemajkmuran orang perorang. Sebab itu perekonomian 
disusun sdebagai usaha bersama berdasarkan atas usaha kekeluargaan. Bangunan 
perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi. Demikianlah antara lain yang 
dimaksud oleh pasal 33 UUD 45. Tapi sayang hasilnya masih Jauh Panggang dari 
Api.  Inlah tantangan yang digadapi oleh bangsa Indonesia, untuk terus bejuang 
demi  kembali ke UUD 45, naskah asli, dan Pancasila 1 Juni 1945. Meneruskan 
Revolusi Agustus 1945 sampai keakar-akarnya!!! Demikianlah pesan Bung Karno, 
pemimpin besar bangsa Indonesia.Jika kita sungguh-sungguh berkeinginan  secara 
iklas untuk menyaksikan proses berlangsungnya emansipasi rakyat Indonesia dalam 
keseluruhan aspek kehidupannya, maka Revolusi Mental yang fundamental atau 
mendasar harus segera dilaksanakan!!! Kemudian seiring dengan itu harus 
dilaksanakan proses kembali ke UUD 45 , khususnya Pasal 33 UUD 45, dan 
Pancasila 1 Juni 1945, sebagai sarana untuk menbangitkan bangsa Indonesia. 
Karena; Kebangkitan bangsa Indonesia adalah merupakan fungsi dari sistem sosial 
bangsa Indonesia secara keseluruhan.  Tentang Revolusi Mental.Untuk membahas 
masalah Revolusi Mental, pertama-tama saya akan cermati apa sebenarnya yang 
dimaksud dengan perkataan Mental manusia. Menurut pemahaman saya perkataan 
Mental selalu berkaitan dengan batin dan watak manusia, yang bukan bersifat 
badan  atau tenaga; jadi Revolusi Mental bisa diartikan kehendak untuk merubah 
secara mendasar sifat batin dan watak manusia, sebagai dasar dari kesadaran 
manusia. Oleh karena itu dalam konteks merubah sifat batin dan watak manusia 
kita harus pertama-tama memahami  evolusi kesadaran manusia. Jadi untuk 
melakukan revolusi mental harus dimulai dengan melakukan evolusi ``meme`` Teori 
tentang >Meme<, adalah gagasan dari pakar biologi Richard Dawkins(``The Blind 
Watschmaker``) yang pertama mengeluarkan gagasan analogi dengan proses evolusi 
Darwin; karena evolusi kebudayaan itu jauh lebih cepat perkembangannya dari 
evolusi biologi Darwin.Menurut Spiral Dynamics evolusi kesadaran atau budaya 
manusia (batin) ditunjukkan dalam delapan tingkatan (sebenarnya ada 9 
tingkatan, tapi yang tingkat ke 9 itu lama-lama menghilang), jadi yang pasti 
ada 8 tingkatan evolusi kesadaran manusia (meme), yang prosesnya digambarkan 
sebagai spiral.  1.Beige (Archaisch-instinktiv)-Permulaan adanya 
insting2.Purpur (Magisch-animistisch)- Magi- animisme, percaya pada setan-setan 
dll.3.Rot    (Mächtige Götter)- menggantungkan diri pada kekuatan 
Tuhan(Allah)4.Blau   (Mythische Ordnung)- Percaya dan tergantung pada 
kitab-kitab suci5.Orange (Errungenschaften der Wissenschaft)- mengandalkan 
prestasi Ilmu Pengetahun, dan ekonomi.6. Grün   (Das sensibile Ich)-rasa 
kepekaan (kritis) terhadap dirinya sendir, dan sesama manusia, kepekaan 
terhadap ekologi dan kesadaran pluralisme.7Türkis (Integrativ)- berpandangan 
secara integral8.Gelb (kuning)  (Holistisch)- universil holistis 
system9.Koralle.(integral-holistisch)  Menurut Theori Spiral Dynamics  ``Meme`` 
adalah merupakan kekhususan mental-kulturil dari Hollon yang terdapat didalam 
salah satu Quadran tertentu, dimana Holon pada prinsipnya mempunyai empat 
dimensi yang oleh Ken Wilber disebut Quadran atau dimensi.  Tentang kesadaran 
manusia (Mental- kulturil)Dalam masalah ini  Ken Wilbers dalam bukunya yang 
berjudul “A Theory of Everything“ , untuk memahami kesadaran manusia telah 
mengajukan pandangannya tentang teori empat Quadrant (empat dimensi) tentang 
kesadaran individu Manusia, yang satu sama lain mempunyai saling hubungan dan 
pengaruh timbal balik. Empat Quadrant atau dimensi itu adalah (hubungan 
sistemik)1.  Quadran Pertama, yaitu bagian intern individu manusia (budi 
nurani, jiwa dan mental).2.  Quadran Kedua, yaitu bagian luar dari individu 
manusia, yang dimaksud adalah bagian dari tubuh dan organ-organ tubuh; misalnya 
Atom, molekul,Proaryoten, Eukaryoten,neuronal Organisme, Rükenmark, limbische 
System, Otak …dst.3.  Quadran ketiga , yaitu bagian intern dari sosial dan 
kultur (kolektif dimana manusia bergabung)4.  Quadran ke empat, yaitu bagian 
ekstern dari sosial dan kultur (System sosial dalam masyarakat, negara)Dari 
sini dapat kita lihat typish  proses evolusi kesadaran manusia atau bisa 
disebut juga  typish Holargi* kesadaran manusia. Oleh karena itu untuk mengenal 
akar-akar mental manusia, kita harus memperhatikan adanya empat Quadran itu. 
Dengan metode Holargi, maka kita dapat „melihat“ kesadaran manusia dari adanya 
pengaruh intern, pengaruh ekstern, baik secara individu maupun secara kolektif. 
Jadi teori empat Quadrant itu talah memberikan cara penyelidikan secara 
integral ( Intern, Ekstern, Tunggal dan Jamak). Dengan adanya pengenalan 
seperti itu dan adanya pengenalan tentang spyral Dynamic ditambah dengan 
pengengetahuan tentang Holargi , maka akan memudahkan kita untuk melakukan 
transformasi kesadaran misalnya tranformasi  kesadaran primer (pemikiran 
primer) ke kesadaran sekunder sebagai sarana untuk memenuhi syarat bagi 
terlaksanakannya revolusi mental.Hal ini perlu di kemukakan karena system 
berpikir Bung Karno pada dasarnya di dominassi oleh pikiran sekunder, yaitu 
suatu pikiran yang holistis/sytemik ini tercermin dalam ajaran tentang 
Marhaenisme, ajaran tentang: Sosialisme Indonesia dan ajaran tentang Pancasila, 
Trisakti dll. Sedangkan polapikir mayortas rakyat Indonesia dan para elite 
politiknya terkesan masih dikiuasi oleh polapikit primer, yaitu polapikir yang  
dikuasai oleh jalan pikirannya sendiri yaitu pikiran yang dihalalkan oleh 
kepercayaannya atau agamanya, yang berdasarkan pada kebenaran tekstuil, 
misalnya polpikir yang mengharamkan Pluralisme agama yang tertercantum dalam 
Panasila. *catatan : Holargi artinya adalah herarginya petumbuhan, seperti 
misalnya herargi Atom dalam molekule,Molekule dalam Zell(sell), Sell dalam 
organisme, organisme dalam Ekositem, ekosostem dalam Biospher, dan akhinya 
Biospher terlekat dalam Universum. Suatu proses yang terjadi dalam 
jaringan.Jadi jika kita hendak melakukan revolusi mental, maka paling tidak 
kesadaran bangsa kita, terutama kesadaran elite bangsa kita harus ditingkatkan 
pada kesadaran  green meme (kesadaran hijau), agar supaya dapat menhayati apa 
arti sebenarnya makna kebinekaan seperti yang di harapkan oleh Pancasila 1 Juni 
1945. Jadi bukan hanya sekedar semangat kebinekaan, tapi harus lebih dari itu, 
yaitu jiwa kebinekaan harus diresappi oleh setiap putra-putrti bangsa 
Indonesia, lebih-lebih oleh para elite bangsa Indonesia. Untuk maksud ini 
kiranya diperlukan adanya transformasi (lompatan) kesadaran dengan cara 
mengerakkan evolusi kesadaran manusia, artinya “meme” bangsa Indoensia harus 
ditingkatkan ketingkatan green meme, melalui pendidikan dimulai dari 
sekolah-sekolah dasar sampai pendidikan tinggi; sebagai sarana untuk memenuhi 
syarat dalam melakukan REVOLUSI MENTAL. Seperti gene yang berkembang biak dan 
menyebar luas melalui sperma dan telur, tapi meme meperbanyak diri dan menyebar 
luas misalnya melalui pengajaran guru kepada murir-muritnya. Jadi meme  itu 
adalah hasil karya manusia,dimana Ilmu Pengetahuan dan Teknologi termasuk 
didalamnyxa.Setelah bangsa Indonesia bisa mencapai pada kesadaran tingkat 6 
(kesadaran hijau), maka  mulailah bisa memerina makna kemajemukan atau 
kebinekaan, karena kesadaran hijau itu  mengandung sifat pluralis, artinya 
sudah dijiwai oleh kesadaran pluralisme. Dalam tingkatan kesadaran hijau ini 
berarti manusia sudah mempunyai perasaan kemanusiaan yang sama, manusia sudah 
dapat saling harga- menghargai antara satu dengan yang lainnya, manusia sudah 
kritis terhadap diriya sediri, bebas dari sifat angkara murka (sifat kapitalis, 
saudagar), disini manusia telah dibebaskan dari segala dogma-dogma, memahami 
atau sadar tentang lingkungan (ekologi), sehinga manusia akan dapat hidup damai 
berdampingan satu dengan yang lainnya, meskipun mereka itu berlainan Rasnya, 
etnisnya, sukunya, budayanya (agama, keyakinan, dan kepercayaan yang 
bebeda-beda).  Bangsa Indonesia nampaknya dewasa ini sudah didesak untuk 
melakukan evolusi meme, karena kesadaran bangsa Indonesia nampaknya masih 
berada pada tingkatan 3-4 menurut Spiral Dynamics dalam tabel diatas, oleh 
karena itu REVOLUSI MENTAL dalam konteks ini berarti bangsa Indonesia harus 
berani melakukan loncatan katak menuju pada kesadaran hijau  atau pandangan 
ekologis.Sebuah pandangan ekologis mengenai kesadaran manusia itu mencakup 
pandangan 3&4 (yang berkitan dengan masalah keagamaan), tapi menambaan suatu 
persepsi ekologis tentang kesadaran yang terlekat dalam kesadaran hujau, dengan 
maksud agar supaya bisa dapat mencapai kearah pemikiran sekunder, yang 
mendominasi ajaran ajaran Bung karno, seperi yang sudah saya singgung diatas, 
sehingga dengan demikian bangsa Indoneia dapat secara legowo  memenuhi Tuntutan 
Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1845, yang  merupakan kulminasi 
tuntutan-tuntutan kultural : Kemerdekaan sejati, Demokrasi Pancasila, 
emansipasi, harga diri dan jatidiri sebagai bangsa yang mandiri didalam Negara 
Kesatuan Republik Indonesia, seperti apa yang terkandung dalam RISAKTI BUNG 
KARNO.  Roeslan    #yiv0972845181 #yiv0972845181 -- #yiv0972845181ygrp-mkp 
{border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 
10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp hr {border:1px solid 
#d8d8d8;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp #yiv0972845181hd 
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px 
0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp #yiv0972845181ads 
{margin-bottom:10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad 
{padding:0 0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad p 
{margin:0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mkp .yiv0972845181ad a 
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-sponsor 
#yiv0972845181ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ygrp-lc #yiv0972845181hd {margin:10px 
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ygrp-lc .yiv0972845181ad 
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181actions 
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181activity 
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv0972845181
 #yiv0972845181activity span {font-weight:700;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181activity span:first-child 
{text-transform:uppercase;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span a 
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span 
span {color:#ff7900;}#yiv0972845181 #yiv0972845181activity span 
.yiv0972845181underline {text-decoration:underline;}#yiv0972845181 
.yiv0972845181attach 
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px 
0;width:400px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach div a 
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach img 
{border:none;padding-right:5px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach label 
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181attach label a 
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 blockquote {margin:0 0 0 
4px;}#yiv0972845181 .yiv0972845181bold 
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv0972845181 
.yiv0972845181bold a {text-decoration:none;}#yiv0972845181 dd.yiv0972845181last 
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0972845181 dd.yiv0972845181last p 
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv0972845181 
dd.yiv0972845181last p span.yiv0972845181yshortcuts 
{margin-right:0;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181attach-table div div a 
{text-decoration:none;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181attach-table 
{width:400px;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181file-title a, #yiv0972845181 
div.yiv0972845181file-title a:active, #yiv0972845181 
div.yiv0972845181file-title a:hover, #yiv0972845181 div.yiv0972845181file-title 
a:visited {text-decoration:none;}#yiv0972845181 div.yiv0972845181photo-title a, 
#yiv0972845181 div.yiv0972845181photo-title a:active, #yiv0972845181 
div.yiv0972845181photo-title a:hover, #yiv0972845181 
div.yiv0972845181photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv0972845181 
div#yiv0972845181ygrp-mlmsg #yiv0972845181ygrp-msg p a 
span.yiv0972845181yshortcuts 
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv0972845181 
.yiv0972845181green {color:#628c2a;}#yiv0972845181 .yiv0972845181MsoNormal 
{margin:0 0 0 0;}#yiv0972845181 o {font-size:0;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181photos div {float:left;width:72px;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181photos div div {border:1px solid 
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181photos div label 
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv0972845181
 #yiv0972845181reco-category {font-size:77%;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181reco-desc {font-size:77%;}#yiv0972845181 .yiv0972845181replbq 
{margin:4px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-actbar div a:first-child 
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg 
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-mlmsg select, #yiv0972845181 input, #yiv0972845181 textarea 
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-mlmsg pre, #yiv0972845181 code {font:115% 
monospace;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg * 
{line-height:1.22em;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-mlmsg #yiv0972845181logo 
{padding-bottom:10px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-msg p a 
{font-family:Verdana;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-msg 
p#yiv0972845181attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-reco #yiv0972845181reco-head 
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-reco 
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-sponsor 
#yiv0972845181ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ov li 
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-sponsor #yiv0972845181ov ul {margin:0;padding:0 0 0 
8px;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text 
{font-family:Georgia;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text p {margin:0 0 1em 
0;}#yiv0972845181 #yiv0972845181ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv0972845181 
#yiv0972845181ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none 
!important;}#yiv0972845181 

   
  • [GELORA45] REVOLUSI MEMTA... Roeslan roesla...@googlemail.com [GELORA45]
    • [GELORA45] Trs: [nas... Chalik Hamid chalik.ha...@yahoo.co.id [GELORA45]

Kirim email ke