http://www.sinarharapan.co/news/read/1708018816/pahitnya-garam-ironi-yang-terus-berulang



PAHITNYA GARAM, IRONI YANG TERUS BERULANG

*KITA SELALU SETENGAH HATI KEPADA PETANI. lEBIH SUKA IMPOR KARENA ITU CARA
MUDAH, TAPI TAK MEMPERKUAT KETAHANAN EKONOMI NASIONAL. *

01 Agustus 2017 10:44 BC <http://www.sinarharapan.co/news/author/BC>
Editorial <http://www.sinarharapan.co/news/tajuk/editorial> dibaca: 231


inShare

Kiara.or.id /

Petani garam

*EDITORIALÂ *

Krisis kekurangan pasokan garam terjadi lagi. Ini ironi pembangunan kita.
Bagaimana mungkin hal ini terus terjadi di negara yang memiliki ribuan
kilometer garis pantai. Karena kejadian terus berulang, patut dicurigai ada
yang tidak beres dalam pengurusan produksi dan distribusinya.

Selain jutaan petani garam sudah turun menurun bekerja di tambak-tambak
produksi, kita juga mempunyai BUMN yang sudah berpuluh tahun bertugas di
bidang ini, yaitu PN Garam. Lantas apa kerjanya kalau kejadian seperti ini
terus berulang, padahal perusahaan pelat merah itu juga berkewajiban
membina petani.

Tampaknya pemerintah dan pemangku kepentingan lebih senang melakukan impor.
Maklum, ini bisnis besar, siapa yang tak tergiur. Namun cara berpikir
seperti itu tidak sejalan dengan upaya memperkuat potensi dalam negeri,
meningkatkan daya tahan perekonomian nasional. Itu cara berpikir yang lebih
mementingkan untung rugi, bukan meningkatkan daya saing perekonomian
nasional secara jangka panjang.

Krisis garam ini ironis. Seolah kita mati di lumbung sendiri. Ini sama ssja
seperti kita kekurangan pangan, padahal lahan kita sangat subur.
Krisis-krisis seperti ini terjadi karena salah urus, seperti terjadi di
banyak sektor. Tak eloklah kita selalu berkilah karena cuaca dan
semacamnya, toh salah urus terjadi dimana-mana, apalagi kalau menyangkut
uang besar.

Kekurangan pasokan garam sudah terlihat sejak jauh hari. Â Setidaknya
terlihat sejak Lebaran, harga garam nyaris tidak pernah turun, bahkan
melambung. Kebutuhan garam nasional tiap tahun sekitar 4,3 juta ton,
mencakup garam industri  dan garam konsumsi. Tak habis pikir mengapa
pemerintah melihat dengan sebelah mata, padahal sejak dulu rencana
peningkatan produksi dan kualitas nyaring dicanangkan. Rupanya selalu indah
dalam janji dan program, tapi pelaksanaannya di lapangan berbeda.

Kita baru ribut setelah krisis garam ini berdampak pada industri tekstil
dan pengusaha kecil. Padahal, sejak awal tahun, pasokan sudah diketahui
seret, tapi tak ada langkah terobosan untuk memacu produksi. Mengapa kalau
urusan petani dan rakyat kecil kita selalu bekerja setengah hati?

Ada kekhawatiran para pemangku kepentingan kurang peduli menjaga kestabilan
produksi, apalagi menggenjot produksi. Mereka lebih suka menempuh jalan
mudah. Mengimpor lebih mudah menguntungkan. Apalagi ada fee atau komisi.
Kali ini PT Garam ditugasi mengimpor 75.000 ton dari Australia. Rencananya,
garam impor tersebut akan tiba di Tanah Air melalui tiga pelabuhan besar,
pada 10 Agustus mendatang.

Menko Perekonomian Darmin Nasution menyesalkan keadaan ini terjadi. "Apa
boleh buat, kita harus impor garam karena situasi ini sudah terlanjur
sulit. Bukan hanya garam untuk konsumsi kurang, (tapi) harga sudah terlalu
tinggi," katanya.

Persoalannya, pemerintah tidak cukup hanya menyesali keadaan. Uruslah soal
garam ini dengan sungguh-sungguh. Bina petaninya, perbaiki infrastrukturnya
dan perluas areal pertambakan garam agar volume produksi bisa mencukupi
kebutuhan nasional. Syukur bisa ekspor. Kenyataan pahit ini harus menjadi
pelajaran berharga. Tak cukup disesali, harus dibenahi secara serius dan
berkelanjutan

Kirim email ke