Puisi yang berjudul "Penerbangan Malam ke Leningrad" dikatakan ditulis oleh
penyair Lekra Virga Belan. Setahu saya penyair Virga Belan belum/tidak pernah
menjadi anggota Lekra. Kalau penyair itu mengemukakan pandangan dan
kekagumannya pada Uni Sovyet pada waktu itu, saya kira hal itu wajar-wajar
saja. Panyair itu melantunkan karyanya sesuai dengan kenyataan pada saat itu.
Apa yang dikemukakan penyair Virga Belan sangat sesuai dengan keadaan tempat
dan waktu ketika itu. Bahwa kemudian lahir para pengkhianat dari dalam, itupun
sesuai dengan kenyataan perkembangan sejarah dan keadaan kongkrit.Slm: Chalik
Hamid
Pada Senin, 14 Agustus 2017 19:32, "'Lusi D.' [email protected]
[nasional-list]" <[email protected]> menulis:
[Attachment(s) from Lusi D. included below] Selamat mempelajarinya Bung Sunny.
Salam
Lusi.-
Beginn der weitergeleiteten Nachricht:
Datum: Mon, 14 Aug 2017 08:23:53 +0800
Von: "'Chan CT' [email protected] [GELORA45]"
<[email protected]> An: "GELORA_In" <[email protected]>
Betreff: [GELORA45] PKI dan Kuburan Sejarah (I - II)
PKI dan Kuburan Sejarah (I)
Selasa , 11 Juli 2017, 11:00 WIB
Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
http://www.republika.co.id/ berita/kolom/resonansi/17/07/
10/osvq5g319-pki-dan-kuburan- sejarah-i
Professor Ahmad Syafii Maarif
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
REPUBLIKA.CO.ID, Di awal malam pada 23 Mei 2017, Dubes RI di Moskow,
Bung Wahid Supriadi, mengontak saya via telepon. Sambil mengenalkan
diri, Dubes juga mengundang saya untuk berkunjung ke negara mantan
Tirai Besi itu. Di malam itu ada dua tamu penting Indonesia yang sedang
berada di Moskow: Menko Polhukam Wiranto dan Kepala BNPT Komjen Suhardi
Alius. Tetapi ada yang lebih menarik dalam pembicaraan telepon itu.
Dubes bertanya: “Mengapa isu PKI masih ramai di Indonesia, sementara di
Rusia pendukung komunisme tinggal lagi 13 persen?” Jawaban saya, ya
itulah politik kita dalam upaya merebut simpati publik agar dukungan
terhadap pemerintah Jkw-JK bisa dilemahkan melalui isu PKI ini.
Sebagaimana kita maklum sasaran utama yang ditembak dengan
mengelindingkan isu pandir ini adalah Presiden Jkw yang dituduh
sebagai titisan PKI. Bahkan ada yang melontarkan pendapat agar gen Jkw
diteliti untuk menelusuri keterkaitannya dengan PKI. Situasi semakin
heboh dengan munculnya buku sensasi karangan Bambang Tri Mulyono
berjudul: Jokowi Undercover, Malacak Jejak Sang Pemalsu Jatidiri (2016)
yang diperbanyak dengan fotokopi. Penulis ini berasal dari sebuah dusun
di Blora yang sehari-hari ditengarai sebagai peternak ayam dan kambing.
Kelompok anti-Jkw banyak juga yang percaya dengan isi buku ini yang
kabarnya mulai digarap sejak 2014, tahun terpilihnya Jkw sebagai
presiden. Dari sosok yang semula tidak dikenal Bambang Tri dengan
karyanya itu mendadak sontak jadi perhatian publik. Maka jadilah Jkw
sebagai keturunan orang PKI diperbincangkan orang sampai ke pelosok
Nusantara, sebuah fitnah politik murahan di lingkungan suasana
demokrasi Indonesia yang penuh gesekan. Menarik juga untuk dikomentari,
seorang peternak ayam dan kambing saja jika mampu menyentuh dan
mengusik kepekaan publik, namanya mudah mencuat jadi perbincangan
orang, dan kelompok yang anti Jkw dengan enak saja menelan
mentah-mentah Jokowi Undercover ini, sekalipun isinya palsu. Bagi
mereka yang penting bukan kebenaran isinya, tetapi buku itu dapat
dipakai untuk memukul lawan politik. Yang ironis adalah bahwa yang
menggunakan kicauan Bambang Tri ini ada beberapa orang yang terdidik
dan terlatih di ranah politik dan militer. Kita lanjutkan. Sesungguhnya
yang merasa geli dengan isu PKI ini tidak hanya Dubes di atas, tetapi
juga semua mereka yang masih punya nalar sehat, sekalipun mungkin tidak
suka kepada Jkw. Bagi saya sendiri, upaya sementara orang untuk
mengangkat isu PKI ini sama saja dengan menggali kuburan sejarah yang
menghabiskan energi dan pasti sia-sia. Akan lebih bagus jika seseorang
yang tidak menyukai pimpinan negara sekarang, bangunlah pendapat secara
cerdas dan jujur dengan argumen yang kuat sehingga dalam pilpres 2019
tidak terpilih lagi. Tetapi untuk menjatuhkannya sebelum masa jabatan
rampung lima tahun dengan isu-isu yang sarat kebencian jelas akan
semakin merusak sistem demokrasi Indonesia yang lagi merana itu. Inilah
salah satu akibat dari berjibunnya jumlah politisi yang tidak mau naik
kelas menjadi negarawan, sebagaimana yang pernah muncul lebih dari dari
sekali di kolom ini. Bahwa PKI pernah dijuluki sebagai partai komunis
terkuat nomor tiga sesudah Uni Soviet dan Republik Rakyat Tiongkok,
dunia mengakuinya. Mohon dicatat bahwa hancurnya komunisme bukan karena
keunggulan dan kebaikan sistem kapitalisme yang anti keadilan itu,
tetapi cara brutal dan anti kemanusiaan yang ditempuh kaum komunis
untuk merebut kekuasaan telah membawa ideologi ini ke tiang gantungan
sejarah. Amat disesalkan PKI menjadi besar karena mendapat payung
perlindungan dari penguasa ketika itu. Drama ini meraih titik baliknya
dengan tragedi 30S/PKI 1965 yang nyaris meluluhlantakkan fabrik
sosial-politik bangsa ini. Pasca tragedi ini ketegangan sosial-politik
tidak dengan sendirinya reda, bahkan sampai sekarang masih saja
dibicarakan orang tentang siapa sejatinya aktor intelektual di balik
bentrokan berdarah sesama anak bangsa ini. Pihak luar pun turut
berkicau menyoal latar belakang benturan berdarah ini.
Tetapi tuan dan puan jangan salah tafsir, ketika Resonansi ini
berbicara tentang kekejaman penganut komunisme di berbagai negara,
termasuk tindakan brutal rezim Pol Pot di Kamboja yang membunuh
rakyatnya sendiri dalam jumlah sekitar 2 juta. Berapa puluh juta rakyat
yang binasa di bawah rezim Joseph Stalin dan Mao Tse Tung di bekas Uni
Soviet dan di Cina Daratan. Rezim komunis tidak pernah ramah kepada
kemanusiaan. Saya termasuk yang mengutuk semuanya itu, di samping juga
mengutuk tindakan kejam rezim Orba terhadap pengikut atau yang
dikategorikan sebagai pengikut PKI yang jumlahnya juga ribuan tanpa
melalui proses pengadilan. Tidak sedikit juga di antara mereka itu yang
menjadi diaspora di negara-negara lain, tidak bisa pulang ke Indonesia
karena jiwa mereka terancam. Kekejaman model ini jangan berlaku lagi di
Negara Pancasila ini pada masa-masa yang akan datang. Dan teman-teman
simpatisan PKI mesti mau belajar tentang tentang watak komunisme yang
anti-demokrasi dan antikemanusiaan.
PKI dan Kuburan Sejarah (2)
Selasa , 18 Juli 2017, 06:00 WIB
Red: Maman Sudiaman
Republika/Daan
Professor Ahmad Syafii Maarif
Oleh : Ahmad Syafii Maarif
REPUBLIKA.CO.ID, Kesetiaan PKI memang bukan kepada bangsa dan negaranya
sendiri, tetapi kepada Moskow, kemudian belakangan kepada Beijing.
Kecuali Tan Malaka yang tidak pernah menanggalkan nasionalismenya serta
tidak anti Islam, hampir semua tokoh PKI berkiblat ke negara asing.
Penyair Lekra Virga Belan di bawah judul: Penerbangan Malam ke
Leningrad menulis bait-bait di bawah ini:
Dari Sochi ke daerah utara
Tidak terbentang segara
Hanya langit jingga
Dan udara malam raya.
Dan kabut tersapu di hadapan
Dan tertinggallah buih di lautan
Bumi Soviet ialah padang terluas di dunia
Dan akulah sang musafir, dalam kelana.
Seorang di sampingku berkata: Leningrad
Dan kujawab: Cukup kukenal, kamerad!
Ke sana!
Ke pusat api yang pernah menjulang dalam sejarah!
Ke sana!
Ke tempat kaum buruh menumbangkan kekuasaan durjana!
Ke Leningrad
Ya, ke Leningrad!
Kota revolusi daerah utara!
(Dimuat pertama kali dalam Harian Rakyat, Minggu, 1 Desember 1963,
dikutip dari Taufiq Ismail dan D.S. Muljanto, Prahara Budaya: Kilas
Balik Ofensif Lekra/PKI DKK. Bandung: Mizan, 1995, hlm. 228). Virga
Belan saat menulis puisi di atas memang belum ada tanda-tanda bahwa
komunisme akan hancur berkeping-keping. Belum terbayang revolusi
Mekhail Sergeyevich Gorbachev dalam bentuk glassnost (keterbukaan) dan
perestroika (reformasi) sebagai penyebab keruntuhan federasi Uni
Soviet, di samping karena invasi berdarah-darah Negara Tirai Besi ini
atas Afghanistan, bangsa Muslim miskin yang dizalimi. Kemudian pada
1991 Presiden Boris Yeltsin (pengganti Gorbachev) membubarkan Partai
Komunis Uni Soviet. Maka kalimat Belan: “Ke tempat kaum buruh
menumbangkan kekuasaan durjana!” menjadi hambar dan basi, karena tempat
yang dipuja dan diagungkan itu telah tumbang secara dramatis dan hina,
sekalipun Rusia sebagai bangsa dan negara tetap bertahan. Negeri
jajahannya satu per satu melepaskan diri dalam tenggat waktu belum
sampai satu abad.
Akhirnya, kejadian berikut perlu disertakan di sini. Pada 6 Septermber
2015 Svetlana puteri sulung Nyoto (salah seorang Trio CC PKI bersama
D.N. Aidit dan M.H. Lukman) dalam sebuah rombongan telah mengunjungi
saya untuk berbagi pengalaman dan membaca kembali kilas balik
perkembangan politik Indonesia. Dibicarakan pula tentang mustahaknya
mempercepat proses rekonsiliasi nasional, agar bangsa ini tidak lagi
disandera oleh konflik politik masa silam yang keras dan sarat
kebencian. Pada 3 Juni 2017 jam 09.28, Svetlana kirim SMS ini: “Saya
sedang bersama Catharine Panjaitan, putri sulung DI Panjaitan yg sedang
berlibur. Makan pecel di rumah saya. Semoga Buya senantiasa dilimpahi
kesehatan. Kami masih memerlukan Buya.”
Pujian terhadap saya itu tidak penting, lupakan saja. Iklim
persahabatan yang perlu diingat adalah kedekatan Svetlana dengan
Catharine Panjaitan, puteri Jenderal D.I. Panjaitan. Ayahnya adalah
salah seorang perwira tinggi Angkatan Darat yang dibunuh, kemudian
dimasukan ke dalam sebuah sumur di Lobang Buaya. Kini keturunannya
telah mengubur dendam sejarah itu untuk selama-lamanya, seperti terbaca
dalam SMS di atas. Sangat mengharukan, sangat halus. Oleh sebab itu,
PKI yang sudah masuk kuburan sejarah jangan dibongkar lagi untuk tujuan
politik kekuasaan. Sungguh tidak elok, sungguh tidak mendidik. Generasi
baru Indonesia jangan lagi diracuni oleh cara-cara berpolitik yang
tidak beradab.
#yiv6364278248 -- #yiv6364278248ygrp-mkp {border:1px solid
#d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px 0;padding:0 10px;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-mkp hr {border:1px solid #d8d8d8;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-mkp #yiv6364278248hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mkp #yiv6364278248ads
{margin-bottom:10px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mkp .yiv6364278248ad
{padding:0 0;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mkp .yiv6364278248ad p
{margin:0;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mkp .yiv6364278248ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-sponsor
#yiv6364278248ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-sponsor #yiv6364278248ygrp-lc #yiv6364278248hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-sponsor #yiv6364278248ygrp-lc .yiv6364278248ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv6364278248 #yiv6364278248actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv6364278248
#yiv6364278248activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv6364278248
#yiv6364278248activity span {font-weight:700;}#yiv6364278248
#yiv6364278248activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv6364278248 #yiv6364278248activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv6364278248 #yiv6364278248activity span
span {color:#ff7900;}#yiv6364278248 #yiv6364278248activity span
.yiv6364278248underline {text-decoration:underline;}#yiv6364278248
.yiv6364278248attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv6364278248 .yiv6364278248attach div a
{text-decoration:none;}#yiv6364278248 .yiv6364278248attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv6364278248 .yiv6364278248attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv6364278248 .yiv6364278248attach label a
{text-decoration:none;}#yiv6364278248 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv6364278248 .yiv6364278248bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv6364278248
.yiv6364278248bold a {text-decoration:none;}#yiv6364278248 dd.yiv6364278248last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6364278248 dd.yiv6364278248last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv6364278248
dd.yiv6364278248last p span.yiv6364278248yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv6364278248 div.yiv6364278248attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv6364278248 div.yiv6364278248attach-table
{width:400px;}#yiv6364278248 div.yiv6364278248file-title a, #yiv6364278248
div.yiv6364278248file-title a:active, #yiv6364278248
div.yiv6364278248file-title a:hover, #yiv6364278248 div.yiv6364278248file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv6364278248 div.yiv6364278248photo-title a,
#yiv6364278248 div.yiv6364278248photo-title a:active, #yiv6364278248
div.yiv6364278248photo-title a:hover, #yiv6364278248
div.yiv6364278248photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv6364278248
div#yiv6364278248ygrp-mlmsg #yiv6364278248ygrp-msg p a
span.yiv6364278248yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv6364278248
.yiv6364278248green {color:#628c2a;}#yiv6364278248 .yiv6364278248MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv6364278248 o {font-size:0;}#yiv6364278248
#yiv6364278248photos div {float:left;width:72px;}#yiv6364278248
#yiv6364278248photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv6364278248
#yiv6364278248photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv6364278248
#yiv6364278248reco-category {font-size:77%;}#yiv6364278248
#yiv6364278248reco-desc {font-size:77%;}#yiv6364278248 .yiv6364278248replbq
{margin:4px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-mlmsg select, #yiv6364278248 input, #yiv6364278248 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-mlmsg pre, #yiv6364278248 code {font:115%
monospace;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-mlmsg #yiv6364278248logo
{padding-bottom:10px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-msg
p#yiv6364278248attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-reco #yiv6364278248reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-sponsor
#yiv6364278248ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-sponsor #yiv6364278248ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-sponsor #yiv6364278248ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv6364278248 #yiv6364278248ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv6364278248
#yiv6364278248ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv6364278248