Pada Rabu, 16 Agustus 2017 2:23, May Swan <[email protected]> menulis:
Surat Dari Singapur== MAKANAN==ByMay Swan“Aach, bisa makan enak nanti!” Bagi
yang akanmengunjungi Singapura umumnya inilah yang pertama diinginkan. Kesan
ini tidaksaja terdapat pada mereka yang datang dari negeri Eropa, terlebih pula
dariSwedia dimana “makanan enak” berarti Swedish meatball di Ikea Cafe, dan
Chinesefood berarti potongan ikan goreng tepung dan dua macam salad layu
kesepianmenunggu kedatangan customer, tapi juga bagi mereka yang datang dari
Jakarta. Tidaklah mengherankan karena selain tersedia beraneka ragam, makanan
di Singapurarata rata tinggi standardnya karena kompetisi sangat tajam.
Masyarakat Singapurasering makan di luar, tidak masak di rumah. Minum kopi pun
sukanya diluar. Jangankan di restoran besar, di restoran tradisionalkecil di
daerah perumahan rakyat HDB pun ada yang mendapat Michelin Food Award,seperti
Tai Hwa Pork Noodle di Crawford Food Centre, misalnya. Customers datangngantri
tidak berhenti dari pagi sampai sore. Bagi kami orang lokal, kalausedang
ketagihan makan enak, tujuannya selalu ke restoran kecil tradisional didaerah
perumahan HDB seperti di Clementi, Bukit Merah, Alexandra, China Town,Holland
Village dan dll, tidak keshopping mall. Hidangan apa saja, dari Western food,
steak, Indian food, Malayfood dan tentunya Chinese food bahkan Thai food,
Japanese food semua komplitdisitu, tinggal milih mau yang mana. Mau makan sate
atau kari kepala ikan disitulahtempatnya, juga bagi yang gemar seafood BBQ;
bermacam ikan, udang, sutung,kerang, kepiting dan rejungan tersedia disitu. Dan
rasanya jauh lebih mantep,lebih original daripada makanan yang terdapat di food
court shopping mall.Bedanya di restoran tradisional tidak pakai aircond,
makanan di sediakan /dimasak ketika ada pesanan, tidak diletakan di counter
menunggu customer datang.Hidangan demikian disebut chee cha dalam bahasa
lokalnya,sangat popular dengan masyarakat setempat. Bukan saja lebih sedap,
lebih manteprasanya, harganya juga lebih murah. Rata rata seperempat harga
makanan direstoran besar yang ada aircond, service tax dan service charges.
Tapi tentunya perlu sabarmenanti, sabar ngantri dan perlu tahan panas. Dan juga
biasanya perlu ada oranglokal yang mengantar, karena tidak semua turis kenal
dengan tempat tempattersebut.Satu alasan kenapa banyak yang gemar makan di
restoranatau food court di shopping mall karena convenient, bisa sekalian
belanjadisitu. Bagi yang bawa mobil sendiri tentunya no problem. Hanya pada jam
jamtertentu sering sesak padat mencari tempat parkir. Tapi kalau naik MRT
(MassRapid Transport) yaitu train di bawah tanah, atau disebut Metro di Eropa,
lebihconvenient lagi. Bukan saja ada covered walkway sepanjang jalan menuju
kestasion, maka terlindung dari terik matahari dan tidak basah ketika hujan.
Padamalam hari lampu dipasang, walkway terang benderang terasa aman. Lagi
pulatempat yang dituju umumnya selalu bersambungan dengan shopping mall,
daristasion bisa langsung masuk kedalam tidak perlu menyeberang jalan.
Kehidupan di Singapura banyak tersedia fasilitas umum modern,bersih dan
teratur. Maka umumnya banyak disenangi turis luar negeri, merasa amandan tenang
datang berbelanja di sini. Begitu juga bagi expatriate yang ditugaskandi
Singapura, mereka umumnya gembira ketika mendapat kesempatan bekerja di
kotaini.Kemajuan Singapura tidak dapat disangkal. Kehidupanaman nyaman diantara
masyarakat multi budaya, etnik dan agama juga kenyataanyang patut dibanggakan,
terutama jika dibanding dengan banyak tempat di Eropaseperti Paris, Berlin dan
Stockholm, juga di Amerika dimana rioting,penembakan, pembunuhan berupa
kejadian saban hari. Tapi kemajuan Singapura tidaktumbuh dengan sendirinya, ia
adalah hasil dari pemerintahan yang pandaimenyesuaikan diri dengan situasi
regional dan internasional. Sebagai sebuahnegeri kecil, a red dot dalam atlas
dunia, bukan saja kemajuan,keberadaan Singapura sebagai an independent entity
pun tidak dapat taken forgranted. Maka ketika pada sebuah public forum Fareed
Zakaria dari CNN mengajukansebuah pertanyaan kepada PM Singapura Lee Hsien
Loong “Apakah Anda pernah merasakawatir mengenai hari depan Singapura?” Lee
menjawab sambil ketawa terbahakbahak “Pernah kawatir? Saya dan seluruh pimpinan
bukan saja pernah kawatir,bahkan saban hari kawatir.” Jawaban yang sangat tepat
atas pertanyaan yang bernadacondescending.