Pada Selasa, 15 Agustus 2017 21:44, "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
Kisah buruh Indonesia jadi sarjana saat kerja di Korea Selatan
|
| |
Kisah buruh Indonesia jadi sarjana saat kerja di Korea Selatan - BBC Indonesia
Di antara jam kerja dan waktu istirahat, sejumlah pekerja migran asal
Indonesia bisa menyelesaikan program strat... | |
|
- 8 jam lalu
- Bagikan artikel ini dengan Facebook
- Bagikan artikel ini dengan Twitter
- Bagikan artikel ini dengan Messenger
- Bagikan artikel ini dengan Email
- Kirim
Hak atas fotoAJI SURYAImage captionPekerja migran yang menamatkan sarjana
strata satu di Korea Selatan. Waras, kedua dari kiri.Ini kisah tentang pekerja
migran Indonesia yang menamatkan pendidikan S1 di Korea Selatan.Namanya Waras.
Selama 20 tahun warga Trenggalek, Jawa Timur, ini bekerja sebagai pekerja
migran di pabrik onderdil, Korea Selatan.Minggu lalu dia diwisuda sebagai
sarjana manajemen, bersama sepuluh pekerja migran lain yang menamatkan kuliah
di Universitas Terbuka (UT) kelompok belajar Korea Selatan.''Saya masuk UT umur
40 tahun, sekarang 44 tahun. Di situ, semua mahasiswa umurnya di bawah 25
tahun,'' ujar Waras yang berangkat ke Korea Selatan sebagai TKI berbekal ijazah
SMEA Islam Durenan, Trenggalek," katanya berkisah kepada Clara Rondonuwu dari
BBC Indonesia.
- Nuryati, mantan TKI bergelar sarjana
- Buruh migran: Beri saya kesempatan menjadi ibu sebenarnya
- 'Sulit mengawasi' jalur gelap TKI ilegal dari Malaysia-Indonesia
''Dari mulai kenal sekolah, saya memang suka dengan pendidikan. Ketika kecil
saya hidup di musala dan masjid, karena ingin pengetahuan. Tapi karena orang
tua dan (faktor) biaya, (saya) berhenti (sekolah). Tapi saya tidak putus
asa.''Setelah tiga kali memperpanjang kontrak kerja di Korea Selatan, pada 2011
Waras siap pulang ke Indonesia, bertepatan dengan tuntasnya masa kerja.Namun ia
mencium peluang lain ketika dibuka UT kelas belajar Korea Selatan. Karena itu
akan berarti Waras bisa bergelar sarjana dengan kuliah sistem tutor seminggu
sekali. Rencana pulang pun ditunda.Menjalani kuliah seminggu sekali
kedengarannya enteng, tapi tidak demikian bagi Waras yang harus bekerja hingga
12 jam kerja di sebuah pabrik.Kepada BBC Indonesia dia bercerita, situasi
terberat dialaminya saat dapat giliran shift malam dan harus bergegas ke kampus
begitu jam kerja berakhir.Hak atas fotoDOKUMENTASI WARAS.Image captionPekerja
migran yang mengikuti kuliah di Universitas Terbuka kelompok belajar Korea
Selatan.''Kerja dimulai pukul 20.00 sampai pukul 08.00 pada keesokan harinya.
Saya usahakan istirahat total satu jam 30 menit di jam istirahat. Pulang kerja,
siap-siap mandi dan otomatis langsung berangkat ke kampus," ungkap Waras."Dua
jam perjalanan naik bus dan kereta listrik bawah tanah. Sepanjang perjalanan
itu bisa tidur satu jam kan lumayan. Sampai kampus pukul 10," kisahnya.
Perkuliahan baru berakhir pukul 17.00, kemudian roda hidup Waras berputar lagi
untuk bersiap masuk kerja pukul 20.00.''Dengan dasar niat dan tekad kuat,
meskipun waktu sedikit, saya gunakan dengan baik.''Soal biaya, jawabnya
singkat: ''Ya biaya sendiri, uang gaji''.
Ijazah bukan untuk kerja
''Salah kalau bilang ijazah ini untuk kerja, persepsi saya tidak begitu.
Ilmunya yang kepingin saya manfaatkan untuk menciptakan lapangan kerja,'' kata
Waras.Lalu peluang apa yang sudah terpikir di benak Waras? Kata dia, ada
tradisi kuliner nenek moyangnya yang kini sudah tenggelam.''Tahun 1960-1990
usaha nenek memang maju pesat. Tiap kali dengar nama nenek saya, orang dari
daerah saya pasti kenal. (Tapi) sampai sekarang anak-cucunya tidak ada yang
meneruskan. Yang terpikir, apa ini jodoh saya untuk mengembangkan itu?''Dengan
usaha kuliner, menurutnya, dia bisa merekrut tenaga kerja. ''Nah, dari awal
tujuannya bukan merekrut pekerja berpendidikan tinggi tapi merekrut orang yang
putus sekolah. Karena yang di bawah banyak yang membutuhkan.''Hak atas fotoAJI
SURYAImage captionSejak UT Korea Selatan dibuka, lulusannya total 86
orang.Koordinator Umum UT Korea Selatan, Syarif Hidayat, mengatakan mahasiswa
yang mendaftar sejak Kelompok Belajar UT Korea dibuka enam tahun lalu jumlahnya
sekitar 1.000 orang. Sebagian besar mereka buruh migran.Ada pun yang aktif
setiap semester berkisar antara 300 dan 400 mahasiswa. ''Yang sudah lulus
totalnya 86 orang, termasuk yang kemarin,'' kata Syarif.''Kalau lancar, kuliah
di sini (Korea Selatan) sama dengan di Indonesia. Delapan semester sudah bisa
selesai. Tapi kalau mengulang, ada yang 13 semester baru lulus. Itu yang paling
lama.''Apa saja tantangannya? Menurut Syarif, rata-rata pekerja menjalani jam
kerja yang relatif berat, yakni 10-14 jam sehari. Sedangkan mereka hanya punya
libur di hari Minggu.''Jadi memang ada keterbatasan waktu, tidak seperti
mahasiswa reguler yang bisa belajar kapan pun.''Hak atas fotoDOKUMENTASI
WARASImage captionRata-rata pekerja migran yang berkuliah menjalani juga jam
kerja yang relatif berat, yakni 10-14 jam sehari.Dari sekian perjuangan
tersebut, Waras dan sejumlah buruh migran yang berhasil menamatkan pendidikan
tergolong sukses. ''Ada salah satu lulusan kita yang kalau jadi akan ambil
kuliah S2 di Korea Selatan. Dia diterima di Universitas Sungkyunkwan,'' imbuh
Syarif.Sedangkan secara keseluruhan terdapat 2.100 warga Indonesia di luar
negeri yang mengikuti kuliah UT.Mereka tersebar di 34 negara dengan 51 lokasi
ujian. Jumlah mahasiswa yang relatif besar berada di Malaysia, Korea Selatan,
Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Yunani. #yiv3775194680 #yiv3775194680 --
#yiv3775194680ygrp-mkp {border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:10px
0;padding:0 10px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp hr {border:1px solid
#d8d8d8;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp #yiv3775194680hd
{color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:700;line-height:122%;margin:10px
0;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp #yiv3775194680ads
{margin-bottom:10px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp .yiv3775194680ad
{padding:0 0;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp .yiv3775194680ad p
{margin:0;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mkp .yiv3775194680ad a
{color:#0000ff;text-decoration:none;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-sponsor
#yiv3775194680ygrp-lc {font-family:Arial;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-sponsor #yiv3775194680ygrp-lc #yiv3775194680hd {margin:10px
0px;font-weight:700;font-size:78%;line-height:122%;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-sponsor #yiv3775194680ygrp-lc .yiv3775194680ad
{margin-bottom:10px;padding:0 0;}#yiv3775194680 #yiv3775194680actions
{font-family:Verdana;font-size:11px;padding:10px 0;}#yiv3775194680
#yiv3775194680activity
{background-color:#e0ecee;float:left;font-family:Verdana;font-size:10px;padding:10px;}#yiv3775194680
#yiv3775194680activity span {font-weight:700;}#yiv3775194680
#yiv3775194680activity span:first-child
{text-transform:uppercase;}#yiv3775194680 #yiv3775194680activity span a
{color:#5085b6;text-decoration:none;}#yiv3775194680 #yiv3775194680activity span
span {color:#ff7900;}#yiv3775194680 #yiv3775194680activity span
.yiv3775194680underline {text-decoration:underline;}#yiv3775194680
.yiv3775194680attach
{clear:both;display:table;font-family:Arial;font-size:12px;padding:10px
0;width:400px;}#yiv3775194680 .yiv3775194680attach div a
{text-decoration:none;}#yiv3775194680 .yiv3775194680attach img
{border:none;padding-right:5px;}#yiv3775194680 .yiv3775194680attach label
{display:block;margin-bottom:5px;}#yiv3775194680 .yiv3775194680attach label a
{text-decoration:none;}#yiv3775194680 blockquote {margin:0 0 0
4px;}#yiv3775194680 .yiv3775194680bold
{font-family:Arial;font-size:13px;font-weight:700;}#yiv3775194680
.yiv3775194680bold a {text-decoration:none;}#yiv3775194680 dd.yiv3775194680last
p a {font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3775194680 dd.yiv3775194680last p
span {margin-right:10px;font-family:Verdana;font-weight:700;}#yiv3775194680
dd.yiv3775194680last p span.yiv3775194680yshortcuts
{margin-right:0;}#yiv3775194680 div.yiv3775194680attach-table div div a
{text-decoration:none;}#yiv3775194680 div.yiv3775194680attach-table
{width:400px;}#yiv3775194680 div.yiv3775194680file-title a, #yiv3775194680
div.yiv3775194680file-title a:active, #yiv3775194680
div.yiv3775194680file-title a:hover, #yiv3775194680 div.yiv3775194680file-title
a:visited {text-decoration:none;}#yiv3775194680 div.yiv3775194680photo-title a,
#yiv3775194680 div.yiv3775194680photo-title a:active, #yiv3775194680
div.yiv3775194680photo-title a:hover, #yiv3775194680
div.yiv3775194680photo-title a:visited {text-decoration:none;}#yiv3775194680
div#yiv3775194680ygrp-mlmsg #yiv3775194680ygrp-msg p a
span.yiv3775194680yshortcuts
{font-family:Verdana;font-size:10px;font-weight:normal;}#yiv3775194680
.yiv3775194680green {color:#628c2a;}#yiv3775194680 .yiv3775194680MsoNormal
{margin:0 0 0 0;}#yiv3775194680 o {font-size:0;}#yiv3775194680
#yiv3775194680photos div {float:left;width:72px;}#yiv3775194680
#yiv3775194680photos div div {border:1px solid
#666666;min-height:62px;overflow:hidden;width:62px;}#yiv3775194680
#yiv3775194680photos div label
{color:#666666;font-size:10px;overflow:hidden;text-align:center;white-space:nowrap;width:64px;}#yiv3775194680
#yiv3775194680reco-category {font-size:77%;}#yiv3775194680
#yiv3775194680reco-desc {font-size:77%;}#yiv3775194680 .yiv3775194680replbq
{margin:4px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-actbar div a:first-child
{margin-right:2px;padding-right:5px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mlmsg
{font-size:13px;font-family:Arial, helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-mlmsg select, #yiv3775194680 input, #yiv3775194680 textarea
{font:99% Arial, Helvetica, clean, sans-serif;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-mlmsg pre, #yiv3775194680 code {font:115%
monospace;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mlmsg *
{line-height:1.22em;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-mlmsg #yiv3775194680logo
{padding-bottom:10px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-msg p a
{font-family:Verdana;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-msg
p#yiv3775194680attach-count span {color:#1E66AE;font-weight:700;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-reco #yiv3775194680reco-head
{color:#ff7900;font-weight:700;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-reco
{margin-bottom:20px;padding:0px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-sponsor
#yiv3775194680ov li a {font-size:130%;text-decoration:none;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-sponsor #yiv3775194680ov li
{font-size:77%;list-style-type:square;padding:6px 0;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-sponsor #yiv3775194680ov ul {margin:0;padding:0 0 0
8px;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-text
{font-family:Georgia;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-text p {margin:0 0 1em
0;}#yiv3775194680 #yiv3775194680ygrp-text tt {font-size:120%;}#yiv3775194680
#yiv3775194680ygrp-vital ul li:last-child {border-right:none
!important;}#yiv3775194680