*Kalau otak gemuk bisa mudah dapat stroke, kata seorang ahli nujum.*

2017-08-21 8:00 GMT+02:00 Chalik Hamid [email protected]
[nasional-list] <[email protected]>:

>
> [Attachment(s) <#m_4721938169291666574_TopText> from Chalik Hamid
> included below]
>
>
>
> Pada Minggu, 20 Agustus 2017 9:31, "'Chan CT' [email protected]
> [GELORA45]" <[email protected]> menulis:
>
>
>
> Jokowi Kurus Tapi Otaknya Gemuk
> BY YULIAN <https://seword.com/author/yulian/> ON AUGUST 20, 2017POLITIK
> <https://seword.com/category/politik/>
> https://seword.com/politik/jokowi-kurus-tapi-otaknya-gemuk/
> [image: image]
> Nama Tifatul Sembiring mendadak tenar. Pro dan kontra menemani
> hari-harinya kini usai doa yang ia bacakan dalam sidang tahunan DPR/MPR
> tanggal 16 Agustus 2017. Tahun lalu politikus dari partai Gerinda, Syafii,
> juga berdoa dengan tidak etis dalam sidang tahunan, dan juga menuai
> kontroversi. Dua partai oposisi pemerintah yang mempermainkan doa. Luar
> biasa. Dan lebih luar biasanya lagi ternyata doa Tifatul ini adalah
> improvisasi karena sebenarnya doa itu tidak ada dalam teks aslinya. Doa
> yang benar-benar tidak pantas dan tidak pada tempatnya.
> Menurut saya ada dua hal menarik yang hendak saya bagikan dalam tulisan
> ini. *pertama*: mengenai pembelaan Tifatul atas doanya yang menuai kritik
> itu dan yang *kedua* mengenai fisik pak Jokowi yang kurus.
> Pertama: “Nggak (mengkritik). Doanya yang lebih baik dan bagus. Supaya
> kuat, supaya sehat menghadapi beban yang berat. Itu dibaca semua, jangan
> dipotong begitu,” ujar Tifatul di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu
> (16/8/2017).
> Tifatul mengatakan dirinya tidak ada tujuan apapun. Hanya berdoa agar
> Presiden Indonesia menjadi lebih baik.
> “Supaya lebih bagus Presiden kita. Supaya dikabulkan Allah doanya, he-he,”
> kata Tifatul.
> Ia menekankan sekali lagi bahwa doa yang dipanjatkannya itu bukan sebatas
> Presiden agar lebih gemuk. Tapi juga supaya mencintai rakyatnya.
> “Supaya sehat, supaya beriman, supaya bertakwa, supaya mencintai rakyat,
> supaya menghormati ulama, supaya istiqomah. Panjang doanya,” tutup dia.”
> https://news.detik.com/berita/d-3602239/soal-doa-jokowi-
> gemuk-ini-penjelasan-tifatul
> Penjelasan Tifatul di atas menurut saya sangat *absurd*. Sudahlah, bilang
> saja jujur kalau pak Jokowi itu kurus kering, tidak berwibawa, jelek, tidak
> gagah. Maksudnya apa coba bilang “agar Presiden Indonesia menjadi lebih
> baik”. Lebih baik dari sisi apa? Fisik? Sejak kapan fisik menjadi ukuran
> akan kebaikan, kegagahan, kewibawaan seorang presiden? Sejak kapan presiden
> gemuk berarti presiden yang baik, gagah perkasa? Yang penting itu
> integritas, mental, dan moral. Dan tiga hal itu ada di pak Jokowi. Dari
> pada berbadan gempal, gagah, tapi baru digrudug orang seiprit saja di rumah
> yang tidak ditinggalinya sudah merasa terancam, galau, curcul di medsos.
> Seharusnya kalau doa yang tulus dari hati yang jernih dan waras, langsung
> saja doakan agar Tuhan memberikan kesehatan kepada pak Jokowi agar dapat
> memimpin negri ini dengan baik dan dua periode. Tidak usah mengolok-olok
> fisik dan pribadi begitu. Pak Jokowi itu presiden bukan pembantumu, bekatul
> miring!..Sori, agak gregetan ini.
> Tidak mungkin “Tifatul mengatakan dirinya tidak ada tujuan apapun” selain
> mendoakan agar presiden agar menjadi lebih baik. Maksudnya agar presiden
> Indonesia menjadi lebih gemuk, gempal, gagah perkasa. Buat apa badan gemuk
> tapi otak kurus, macam kau itu, Tifatul, otak kurus. Dendam kesumat saja
> yang ada di otakmu itu!
> Ia menekankan sekali lagi bahwa doa yang dipanjatkannya itu bukan sebatas
> Presiden agar lebih gemuk. Tapi juga supaya mencintai rakyatnya.
> “Supaya sehat, supaya beriman, supaya bertakwa, supaya mencintai rakyat,
> supaya menghormati ulama, supaya istiqomah. Panjang doanya,” tutup dia.”
> Supaya sehat? Tidak. Supaya gemuk iya, karena memang pak Jokowi badannya
> kurus. Tifatul ini malu kalau presidennya berbadan kurus. Supaya beriman?
> Ini lebih *absurd* lagi. Memangnya pak Jokowi kurang beriman? Iman itu
> yang menilai Tuhan, bukan manusia. Dan penglihatan kita pun sangat jelas
> bahwa pak Jokowi beragama. Itu tandanya beliau beriman kepada Tuhan yang
> Maha Esa.
> Mencintai rakyatnya? Sangat jelas pula kalau pak Jokowi ini sangat
> mencintai rakyatnya. Pembangunan merata, BBM satu harga di Indonesia,
> Papua, listirk juga sudah mulai dinikmati oleh saudara kita di Papua, juga
> semen harganya sudah sangat turun, dan lain-lain. Lalu apa indikasi bahwa
> Jokowi tidak mencintai rakyatnya? Apakah gara-gara subsidi listrik dicabut
> dan banyak yang mengeluhkan mahalnya harga listrik? Saya bukan sombong
> karena saya juga masih dalam kategori berekonomi menengah ke bawah, dan
> biaya listrik memang sedikit menambah beban. Tapi saya sangat bahagia
> ketika tahu bahwa beban saya ini ternyata menerangi rumah-rumah suadara
> saya di Papua, yang ketika dipimpin mantan jendral yang gagah perkasa itu,
> tidak juga dialiri listrik.
> Setahu saya, dalam hitung-hitungan ekonomi, resiko harus diambil agar,
> perusahaan misalnya, mengalami kemajuan. Tidak stagnan. Tidak jalan di
> tempat. Dan pak Jokowi mengambil resiko itu, mencabut subsidi listrik
> orang-orang yang mampu. Tentu saja agar bangsa ini segera menjadi bangsa
> yang mandiri dan berkeadilan. Dan rakyatnya tidak manja karena subsidi.
> Lagi pula sampai kapan mau disubsidi? Sampai negara tetangga sudah pindah
> ke planet Mars?
> Jokowi tidak menghormati Ulama? Yang benar saja? Ulama yang mana? Ulama
> yang lari ke Arab itu? Emang dia ulama, ya?
> Jadi fix ya, kalau doa Tifatul Sembiring ini hanya sebuah nyinyiran yang
> mengolok presiden. Mengolok fisik presiden yang kurus. Dan mempermalukan
> Jokowi di depan umum. Walau sebenarnya pak Jokowi tidak pernah merasa malu
> pada fisiknya yang kurus dan bersahaja itu. Harusnya Tifatul ini salut pada
> dan bangga pada Jokowi karena kurus kering begitu kok bisa jadi presiden
> dan terbukti mampu memimpin dengan baik pula.
> Jokowi itu rakyat jelata, bukan mantan jendral yang gagah perkasa
> Kedua: Pak Jokowi memang berbadan kurus. Tapi otaknya gemuk, sehat, gagah,
> dan perkasa. Beliau hanya sorang rakyat jelata yang kebetulan dipercaya
> menjadi pemimpin. Kekurusan fisiknya itu bukan karena ia menjadi presiden,
> dengan beban pekerjaan yang sangat berat. Tetapi sejak menjadi wali kota
> Solo pun beliau memang sudah kurus. Dan perawakan beliau ya begitu itu,
> sangat “ndeso” dan bersahaja. Beliau kurus tapi tidak berarti cacingan,
> penyakitan, dan tidak mampu memimpin negeri ini. Justru beliau, menurut
> info rajin puasa. Dan bukan penampilan fisik yang menjadi fokus beliau.
> Tapi kejujuran dan integritas dalam memikul amanat rakyatlah yang penting.
> Ia tak lagi peduli pada dirinya sendiri.
> Walau begitu bukan berarti beliau tidak sadar kalau beliau itu Presiden,
> lambang negara. Sejauh ini beliau telah menunjukan suatu sikap yang wajar
> dan pas sebagai Presiden. Ingat soal jas yang beliau pakai ketika bertemu
> sultan Brunai, yang kacingnya bawahnya tidak terkancing dan menjadi sorotan
> kaum bumi datar? Dan ternyata cara memakai jas pak Jokowi sudah benar
> dengan tidak mengkancingkan kancing paling bawah. Juga soal sholat pakai
> kaus kaki, pak Jokowi juga sudah benar dan tidak ada yang salah. Tapi oleh
> kaum bumi datar kaos kaki itu menjadi fitnah. Tapi ketika yang lain, tokoh
> idola mereka yang sholat pakai kaus kaki mereka diam sejuta bahasa.
> Sejak dilantik jadi presiden tiga tahun lalu, otaknya yang gemuk tapi
> lincah itu langsung tancap gas membenahi Indonesia. Beliau tahu bahwa salah
> satu elemen penting perekonomian adalah infrastruktur. Oleh sebab itu
> infrastruktur dikebut. Agar ke depan perekonomian lebih mudah ditata dan
> dirancang. Bagaimana mungkin ngomongin harga barang murah kalau
> distribusinya saja sulit minta ampun karena kondisi jalan yang rusak parah.
> Klub sekaya Manchaster United saja punya hutang bertumpuk. Lalu haramkan
> sebuah negara berhutang? Sama sekali tidak. Asal hutang dipakai untuk hal
> yang produksif. Bukan berhutang untuk mensubsidi dan bikin candi.
> Kurang lebih tiga tahun ini kita melihat dan merasakan pembangunan yang
> begitu giatnya. Hampir disegala bidang dan dimana-mana. Pak Jokowi ingin
> agar Indonesia juga punya infrastruktur yang megah dan menunjang
> perekonomian. Berapa kali pak Jokowi bolak-balik ke Kalimantan, Sumatera,
> dan Papua? Tak terhitung jumlahnya. Beliau ingin memastikan bahwa proyek
> berjalan dengan baik. Tidak ada yang mangkrak karena dananya dikorupsi.
> “wajah” Indonesia diperbatasan perlahan dicantikan. PLBN dibangun dengan
> megahnya. 10 Tahun dipimpin sang jendral berbadan tegap, gagah, gemuk, PLBN
> mana yang dibangun dengan megah? Mungkin saya kurang up date.
> Papua kini tak lagi menjadi anak tiri, pembangunan masif juga terjadi di
> Papua terutama akses listrik dan jalan. Juga BBM dan Semen, kini harganya
> jauh lebih murah. Ini agar perekonomian Papua perlahan naik dan membaik.
> Terbaru kita baru saja mengekspor bawang merah ke Thailand. Kelak semoga
> beras dan komoditi lainnya. Kita harus paham bahwa negri ini sudha cukup
> lama terjajah oleh prilaku dan budaya korupsi, budaya kontraproduktif
> karena hanya mementingkan golongan sendiri. Rakyat hanya menjadi alasan
> klasik untuk berkuasa.
> Pak Jokowi, dengan otaknya yang gemuk itu, sedang mempersiapkan masa depan
> yang bagus, kokoh, dan cerah untuk Indonesia. Walau ia tahu bahwa resiko
> yang ia ambil akan menyakiti hati rakyatnya. Tapi ini penting agar kelak
> masa depan rakyatnya cerah, secerah mentari pagi. Dan sepuluh dua puluh
> tahun lagi, rakyat bangsa ini akan berterima kasih pada Jokowi atas apa
> yang kini beliau lakukan, menancapkan fondasi infrastruktur, ekonomi, moral
> dan kejujuran yang sangat kokoh di Negeri ini. Jokowi, orang yang kurus
> tapi berotak gemuk dan cerdas.
> Semoga pak Jokowi, Presiden Indonesia, sehat selalu.
>
>
>
> 
>

Kirim email ke