https://dunia.tempo.co/read/news/2017/09/01/118905260/surat-terbuka-peraih-nobel-kritik-aung-san-suu-kyi-soal-rohingya?AllUtama&campaign=AllUtama_Click_1
Surat Terbuka Peraih Nobel Kritik Aung San Suu
Kyi Soal Rohingya
Jum'at, 01 September 2017 | 19:35 WIB
0 komentar
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/09/01/118905260/surat-terbuka-peraih-nobel-kritik-aung-san-suu-kyi-soal-rohingya?AllUtama&campaign=AllUtama_Click_1#comments>
30003
Aung San Suu Kyi. AP/Khin Maung Win
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/09/01/118905260/surat-terbuka-peraih-nobel-kritik-aung-san-suu-kyi-soal-rohingya?AllUtama&campaign=AllUtama_Click_1#>
Aung San Suu Kyi. AP/Khin Maung Win.
*TEMPO.CO*, *Jakarta* - Sebanyak 13 peraih Nobel dan 10 tokoh dari
berbagai profesi mengirim surat terbuka ke Dewan Keamanan PBB untuk
mengkritik pemimpin de facto Myanmar, Aung San Suu Kyi
<https://www.tempo.co/topik/tokoh/367/aung-san-suu-kyi>dalam
menyelesaikan masalah etnis minoritas Rohingya dan mengingatkan tentang
tragedi pembasmian etnis dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Surat terbuka ditandatangani 13 peraih Nobel yakni Muhammad Yusuf, Uskup
Desmond Tutu, Malala Yousafzai, Jose Ramos Horta, Tawakul Karman, Shirin
Ebadi, Betty Williams, Mairead Maguire, Oscar Arias, Jody Willliams,
Leymah Gbowee, Sir Richard J. Roberts, dan Elizabeth Blackburn.
Baca:Kantor Suu Kyi Tuding LSM Internasional Danai Milisi Rohingya
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/08/29/118904107/kantor-suu-kyi-tuding-lsm-internasional-danai-milisi-rohingya>
Adapun 10 tokoh itu adalah Emma Bonino, Arianna Huffington, Sir Richard
Branson, Paul Polman, Mo Ibrahinm, Richard Curtis, Alaa Murabit, Jochen
Zeitz, Kerry Kennedy, dan Romano Prodi.
Dalam surat terbuka mereka, yang diunggah di Guardian, 1 September
2017, peraih Novel dan aktivis itu menyatakan serangan militer Myanmar
telah membunuh ratusan orang termasuk anak-anak, pemerkosaan terhadap
perempuan, pembakaran rumah dan penangkapan terhadap warga sipil secara
semena-mena.
"Akses organisasi bantuan kemanusian hampir sepenuhnya ditolak,
menciptakan krisis kemanusiaan yang sangat mengerikan di kawasan yang
sudah sangat melarat," tulis surat terbuka itu.
Baca: Myanmar Tolak Tim PBB Pencari Fakta Rohingya
<https://dunia.tempo.co/read/news/2017/07/01/118888088/myanmar-tolak-tim-pbb-pencari-fakta-rohingya>
"Sejumlah pakar internasional telah mengingatkan potensi genosida. Yang
terjadi baru-baru ini menandai tragedi masa lalu_Rwanda, Darfur, Bosnia,
Kosovo. Jika kita gagal mengambil tindakan, jika mereka tidak tewas
ditembak, maka orang-orang itu tewas akibat menderita kelaparan parah."
Para peraih Nobel dan tokoh serta aktivis ini menilai pemerintah Myanmar
bertindak sangat tidak proporsional dalam menyelesaikan masalah Rohingya.
Rohingya sebagai etnis minoritas memiliki populasi 1 juta orang di
Myanmar. Mereka hidup sudah beberapa generasi di Myanmar, tapi mereka
diperlakukan seperti imigran gelap dan kewarganegaraannya ditolak.
Mereka telah mengalami persekusi bertahun-tahun oleh pemerintah dan
kelompok nasionalis Budha.
Baca: Bertemu Utusan PBB, Suu Kyi: Istilah Rohingya Tak Digunakan
<https://dunia.tempo.co/read/news/2016/06/20/118781630/bertemu-utusan-pbb-suu-kyi-istilah-rohingya-tak-digunakan>
Bentrokan berdarah yang diawali serangan kelompok pemberontak Rohingya
ke sedikitnya 30 kantor polisi dan beberapa markas tentara di Rakhine,
Myanmar, dibalas oleh militer Myanmar dengan operasi militer yang
dinamai menumpas ekstrimis.
Bentrokan yang diklaim terburuk sejak 5 tahun terakhir, membuat
gelombang pelarian etnis Rohingya ke perbatasan Bangladesh. Dan mereka
tewas saat menyeberang ke Bangladesh terutama anak-anak dan perempuan.
Para aktivis HAM dan lembaga kemanusiaan internasional menilai Aung San
Suu Kyi <https://www.tempo.co/topik/tokoh/367/aung-san-suu-kyi>i tidak
tegas bersikap atas penderitaan yang dialami Rohingya. Baru-baru ini
malah kantor penasehat putri Jenderal Aung San, tokoh reformasi Myanmar,
ini menuding LSM internasional mendanai milisi Rohingya.
*GUARDIAN | MARIA RITA*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*
*