*Kelakuan para petinggi rezim neo-Mojopahit yang seperti ini tidak
mendorong para atlet untuk mencapai prestasi yang maximal.*


http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41112164


SEA Games 2017: Keluh-kesah atlet yang tak kunjung diganti uang saku dan
uang makan

   -

   31 Agustus 2017

Hak atas foto Kemenpora Image caption Menpora Imam Nahrawi bersedia memikul
tanggung jawab atas kegagalan dan persoalan yang muncul selama SEA Games
2017.

Tak hanya mencatat pencapaian terburuk sepanjang ajang olahraga antarnegara
ASEAN, keikutsertaan Indonesia di SEA Games 2017 juga diwarnai keluh-kesah
atlet tentang 'tidak kunjung cairnya uang saku, akomodasi hingga keharusan
merogoh kocek pribadi'.

Olahragawan senior seperti atlet angkat besi Eko Yuli Irawan, misalnya,
meminta pemerintah tak mengharapkan prestasi di tengah kepedulian yang
minim. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi pun meminta maaf atas
pencairan anggaran yang selalu molor.

"Keterlambatan, kekurangan, sudah saya pahami, tapi kehati-hatian adalah
prinsip utama kami, terutama dalam menyelesaikan uang akomodasi dan honor,"
kata Imam di Jakarta, Kamis (31/08).

Imam khawatir terjerat persoalan hukum jika penggunaan APBN untuk keperluan
atlet tidak sesuai dengan administrasi hukum. Ia mengklaim, Badan Pemeriksa
Keuangan (BPK) dan lembaga penegak hukum kerap memperingatkannya untuk
mematuhi administrasi keuangan negara.

Imam pun berjanji, "Saya akan lakukan terobosan baru yang tidak melanggar
aturan yang berlaku."

   -

   SEA Games 2017: Mengapa sejak reformasi, prestasi Indonesia terus
   terpuruk? <http://www.bbc.com/indonesia/olahraga-41072624>
   -

   Saat Indonesia terpuruk, Malaysia berjaya dengan 140 emas, pastikan
   juara umum SEA Games <http://www.bbc.com/indonesia/olahraga-41083312>
   -

   Ditaklukkan Malaysia, Indonesia gagal ke final SEA Games 2017
   <http://www.bbc.com/indonesia/olahraga-41060686>

Persoalan anggaran untuk atlet mencuat beberapa jam usai penutupan Sea
Games di Kuala Lumpur, Rabu malam lalu. Hal itu diawali atlet tolak peluru
peraih medali emas, Eki Febri Ekawati, yang mengkritik pemerintah melalui
akun Instagram miliknya.

"Uang akomodasi (makan, penginapan, dll) belum juga dibayar dari bulan
Januari sampai Agustus, padahal Sea Games 2017 sudah hampir selesai," tulis
Eki.

Eki mengaku menggunakan uang pribadi untuk akomodasi, yakni penginapan dan
makan, selama pelatnas periode Januari hingga Maret 2017. April lalu, Eki
dipindahkan ke hotel.

"Mudah-mudahan ada solusinya. Itu kan hak saya," kata Eki soal penggantian
uang pribadi itu, melalui pesan singkat kepada BBC Indonesia.

Imam menuding uang akomodasi Eki tak cair karena atlet asal Kuningan, Jawa
Barat, itu tinggal di rumah selama pelatnas. Eki menampik pernyataan Imam
tersebut.

"Saya tidak tinggal di rumah. Saya kan di hotel. Saya sudah jelaskan ke Pak
Menteri," ujarnya.

Hak atas foto INSTAGRAM Image caption Eki Febri Ekawati mengunggah sejumlah
komentar pada akun @badmintontalk tentang keterlambatan pemerintah membayar
uang akomodasinya.

Keluhan serupa juga diungkapkan Eko Yuli.

Peraih satu perak SEA Games 2017 itu hingga kini menyebut uang akomodasi
untuk para atlet angkat besi tak kunjung cair. Manajernya juga harus
memutar otak untuk membeli vitamin dan suplemen.

"Manajer mengusulkan ke Satlak Prima (Satuan Pelaksana Program Indonesia
Emas) dan Kemenpora, tapi tidak ada tanggapan. Kalau pun ada, kami diberi
yang bukan selayaknya untuk atlet angkat besi, tapi vitamin untuk orang
awam," ujar Eko kepada BBC Indonesia.

Eko mengikuti SEA Games sejak 2007. Dalam lima keikutsertaannya, Eko meraih
empat emas dan satu perak. Eko juga telah berlomba di dua Asian Games (dua
perunggu) dan tiga Olimpiade (satu perak, dua perunggu).

Merujuk pengalamannya itu, Eko menilai manajemen pembiayaan atlet pada Sea
Games 2017 ini merupakan yang terburuk.

"Tahun ini akomodasi tersendat terus. Lima atau beberapa bulan belum turun.
Manajer mencari dana dari luar untuk talangan," tuturnya.

Di tempat terpisah, pejabat pembuat komitmen Satlak Prima, Chandra Bhakti,
berjanji melunasi seluruh uang akomodasi dan honor atlet SEA Games, paling
lama 5 September mendatang.

Hak atas foto AFP/Getty Images Image caption Eko Yuli tak mampu
mempertahankan empat emas yang diraihnya secara berturut-turut sejak Sea
Games 2007.

*Tak gunakan APBN*

Imam kini berwacana menggunakan anggaran non-APBN dari lembaga pendanaan
khusus olahraga (LPUDK) untuk membiayai pengeluaran atlet yang masuk daftar
Satlak Prima.

"Sehingga katakanlah ada pergeseran atlet, ada akomodasi yang harus dibayar
per hari ini juga. Sementara kalau lewat APBN harus ada proses dan
administrasi," kata Imam.

   -

   Dugaan korupsi Asian Games 2018: 'Bukti reformasi birokrasi tidak
   dilakukan' <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38235143>
   -

   Dicurangi atau tidak, aksi tim sepak takraw Indonesia 'langgar aturan'
   di SEA Games <http://www.bbc.com/indonesia/trensosial-41008391>

LPUDK, kata Imam, akan menampung dana dari badan usaha milik negara, donasi
publik dan sumbangan pihak swasta. Imam akan melibatkan penegak hukum untuk
mencegah persoalan di kemudian hari.

Perihal anggaran SEA Games 2017 yang bermasalah muncul sebelum ajang itu
dibuka, 19 Agustus lalu. Awal bulan ini, pelaksana tugas Sekjen Komite
Olimpiade Indonesia (KOI) Hellen Sarita mengeluhkan pencairan dana Sea
Games yang tersendat. Dari total Rp41,5 miliar, KOI saat itu baru menerima
Rp30,5 miliar.

Sekrestaris Kemenpora, Gatot Dewa Broto, mengkonfirmasi keterlambatan itu
diakibatkan penandatanganan nota kesepahaman antara lembaganya dan KOI juga
mundur.

Hak atas foto AFP/Getty Images Image caption Pelari Indonesia Triyaningsih
sujud syukur setelah memenangi ajang 10 ribu meter.

Terkait prestasi, Satlak Prima sendiri beberapa kali mengubah target emas.
November 2016, Ketua Satlak Prima, Achmad Soetjipto, yakin Indonesia mampu
merebut 65 emas di SEA Games 2017.

Belakangan, target itu turun menjadi 55 emas. Faktanya, kontingen Indonesia
hanya dapat menraih 38 emas. Pada jumpa pers yang sama dengan Imam, Kamis
pagi tadi, Soetjipto angkat bicara.

"Kami hanya coba membandingkan dengan rekor SEA Games dulu, wah jago,
bagus. Begitu ketemu di lapangan ada kejutan bahwa Malaysia jauh lebih
hebat. Itu kami akui. Tapi apakah itu gagal? Saya kira bukan kegagalan, itu
*struggle*," ujarnya.

Kirim email ke