----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Noroyono 1963 [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: [email protected]
<[email protected]>; Jonathan Goeij <[email protected]>Terkirim:
Sabtu, 30 September 2017 03.12.13 GMT+2Judul: Re: [GELORA45] Re: PKI, Partai
Politik Pertama yang Menggunakan Nama Indonesia
Atau mungkin lebih tepat lagi kalau kita yg tanya pada dia: Di mana otakmu ? di
dengkul atau di tempurung kepalamu ????
Op vrijdag 29 september 23:58 2017 schreef "Jonathan Goeij
[email protected] [GELORA45]" <[email protected]> het volgende:
Mungkin pertanyaan Syukri Wahid "Dimana PKI?" perlu diganti dengan "Dimana
PKS?"
---In [email protected], <noroyono1963@...> wrote :
JPNN.COM / Historiana / PKI, Partai Politik Pertama Yang Menggunakan Nama
Indonesia
PKI, Partai Politik Pertama yang Menggunakan Nama IndonesiaSenin, 14 September
2015 – 06:06 WIB
Poster propaganda ini dipotret pada 9 Januari 1947. Foto: Dok. Nationaal
Archief Belanda.
SEIRING meluasnya basis Partai Komunis Indonesia, nama Indonesia pun ikut
meluas. Dari istilah etnologi, Indonesia menjadi identitas sebuah bangsa.
-------Wenri Wanhar – Jawa Pos National Network-------
Gara-gara buku Indonesien: Oder, die Inseln des malayischen Archipel yang
ditulisnya, banyak orang mengira Adolf Bastian (1826-1905) guru besar etnologi
Universitas Berlin, Jerman-lah yang pertama kali menciptakan nama Indonesia.
Padahal tidak. Bastian mencuplik kata Indonesia dari majalah ilmiah The Journal
of the Indian Archipelago and Eastern Asia, volume IV, 1850, yang terbit di
Singapura. (baca: Kata “Indonesia” Pertama Muncul Di Tempat Ini)
Pun demikian, tak bisa dipungkiri bahwa Bastian punya peran besar menyebarkan
kata Indonesia. Berulang kali dia menyebut kata Indonesia dalam bukunya yang
terbit pada 1884 tersebut.
Alhasil, kalangan akademisi di Eropa mulai akrab dengan kata Indonesia.
Sebagaimana mula terciptanya, kata Indonesia dipergunakan hanya dalam khasanah
etnologi untuk menyebut Kepulauan Hindia atau Kepulauan Melayu.
Pengaruh Bastian pulalah yang membuat Suwardi Suryaningrat alias Ki Hajar
Dewantara memberi nama Indonesische Pers-bureau untuk biro pers yang
didirikannya saat diasingkan di Belanda pada 1913.
Dan sampai sejauh itu, kata Indonesia belum beresonansi kebangsaaan, belum
menjadi identitas sebuah bangsa. Pun demikian, sebagai orang pergerakan, Ki
Hajar Dewantara boleh dibilang jembatan beralihnya kata Indonesia dari sekadar
nama wilayah menjadi identitas perjuangan.
Memasuki tahun 1920-an, kata Indonesia mulai menjadi simbol perjuangan. Dua
organ yang paling berpengaruh dalam hal ini adalah Perhimpunan Indonesia (PI)
dan Partai Komunis Indonesia (PKI).
Simbol Perjuangan
Dalam kongresnya yang ketujuh di Semarang, 23 Mei 1920, Indische Sociaal
Democratische Vereeniging (ISDV)—sempalan Sarekat Islam merubah nama jadi
Perserikatan Komunist di India (PKI).
Hari itu, Ketua Sarekat Islam (SI) Semarang, Semaoen terpilih menjadi ketua
PKI. Darsono—juga aktivis SI—sebagai wakil ketua. Bergsma (guru Soekarno ketika
mondok di rumah Tjokroaminoto) jadi sekretaris dan Dekker bendara.
Perserikatan Komunist di India berganti nama menjadi Partai Komunis
Indonesia--tetap dengan singkatan PKI--pada kongres kedua di Jakarta, Juni 1924.
Nah, merujuk keputusan itu, jadilah PKI partai politik pertama di muka bumi ini
yang menggunakan nama Indonesia.
“Pelopor pemakaian kata ini (sebagai identitas kebangsaan--red) adalah
Perhimpunan Indonesia di negeri Belanda pada tahun 1922,” tulis Busjarie Latif
dalam Manuskrip Sejarah 45 Tahun PKI (1920-1965), terbitan Ultimus Bandung 2014.
Sebelum berganti PI, organisasi perkumpulan mahasiswa rantau di Belanda ini
bernama Indische Vereeniging. Tak hanya mengganti nama organisasi, PI juga
merubah nama koran yang mereka terbitkan; Hindia Poetra menjadi Indonesia
Merdeka.
Dalam PI, antara lain terdapat nama Mohammad Hatta dan Ahmad Soebardjo, dua
orang yang kemudian hari ikut merumuskan naskah proklamasi kemerdekaan
Indonesia, 17 Agustus 1945.
Sebagai partai politik, “PKI memikul tugas2 sutji di atas pundaknya, jaitu
harus berdiri di barisan depan dalam perdjuangan melawan setiap penindasan,”
dicuplik dari bab Historis, buku Tesis 45 Tahun PKI, terbitan Jajasan Pembaruan
Djakarta, 1965 .
“Karena itu,” lanjutannya, “PKI berdjuang bukan hanja untuk pembebasan nasion
Indonesia dari penindasan imperialisme, tetapi akan terus memimpin perdjuangan
Rakjat Indonesia guna membangun suatu masjarakat Indonesia Baru jang
demokratis, bebas dari penghisapan atas manusia oleh manusia, adil dan makmur.”
Pelanjut Angkatan
PKI tak main-main dengan cita-cita politiknya. Berdasarkan kesepakatan para
pemimpinnya di Prambanan, Yogyakarta, 25 Desember 1925, PKI memutuskan merebut
kemerdekaan dari tangan Belanda.
Untuk mencapai Indonesia merdeka, mereka merencanakan pemberontakan serentak
pada 12 November 1926.
Rencana dijalankan. Pemberontakan meletus di ranah Minang dan sebagian tanah
Jawa. Namun apa hendak dikata, Belanda berhasil memadamkan api perlawanan.
Pemerintah kolonial membuang kaum nasionalis generasi awal itu ke Boven Digul,
Papua.
Sejurus kemudian, sebagai pelanjut angkatan, Soekarno bersama Tjipto
Mangunkusumo mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia. Organ yang berdiri
pada 4 Juli 1927 itu pada 1928 menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI)--partai
kedua setelah PKI yang menggunakan nama Indonesia.
Tahun itu juga Mohamad Yamin, WR Supratman dan kawan-kawan mengangkat sumpah di
Jakarta. Dalam momentum yang dikenal sebagai Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928
tersebut, mereka berikrar berbangsa, bertanah air, berbahasa persatuan; bahasa
Indonesia.
Dan Indonesia pun tak lagi sekadar istilah etnologi. Ia menjadi simbol
perlawanan dan identitas kebangsaan. (wow/jpnn)
https://www.jpnn.com/news/pki-partai-politik-pertama-yang-menggunakan-nama-indonesia?page=4