Dari Mana dan ke Mana Senjata Impor Itu? (Episode Satu) 
http://www.republika.co.id/berita/jurnalisme-warga/wacana/17/10/01/ox4ekh385-senjata-episode-satu
 Red: Muhammad Subarkah
 

 Febrianto Adi Saputro/Republika

 Cargo Unex Bandara Soekarno Hatta.

 
 


 Oleh: Selamat Ginting
 Komite dekolonisasi PBB tidak akan menerima sebuah petisi yang ditandatangani 
oleh 1,8 juta orang Papua Barat yang menyuarakan kemerdekaan. Komite mengatakan 
hal itu berada di luar mandat komite tersebut.
 Sebelumnya, pemimpin Papua Barat yang diasingkan Benny Wenda mempresentasikan 
petisi tersebut kepada komite dekolonisasi PBB, yang dikenal sebagai C24 dan 
bertanggung jawab untuk memantau kemajuan bekas koloni menuju kemerdekaan.
 Begitu hebohnya kasus ini, mengingatkan saya pada tokoh separatis di Papua, 
Theys Eluay. Saat itu ia menjadi tokoh sentral. Ia kemudian dikabarkan tewas 
dengan (maaf) leher patah. Belakangan terungkap, ia tewas dibunuh tim satgas 
Tribuana 10 Kopassus, pimpinan Letkol (Infanteri) Hartomo.
 Lulusan Akmul 1986 itu kemudian harus menghadapi mahkamah militer dan menerima 
'hukuman'. Bagi pegiat HAM, Hartomo dkk tentu saja dianggap sebagai pelanggar 
HAM, tetapi tidak demikian di mata militer. Ia dianggap sebagai pahlawan yang 
menyelamatkan kedaulatan RI dari ancaman hilangnya atau lepasnya Papua dari RI.
 "Lebih baik melanggar HAM daripada hilang kedaulatan," begitu prinsip militer 
seluruh dunia.
 Perwira komando yang pada November 2001 divonis sebagai pembunuh Theys Eluay 
itu, kini berada di bekakang kasus penyitaan senjata berat impor milik kesatuan 
Brimob di bandara Sukarno Hatta.
 Mayjen Hartomo, perwira itu, sejak setahun lalu menjabat Kepala Badan 
Strategis (Bais) TNI. Pemasok informasi intelijen untuk Panglima TNI. Kita 
tunggu episode berikutnya dari senjata-senjata yang bikin heboh itu.
 *Jurnalis Republika.
 



 

Kirim email ke