Ya, semrawut. Kita semua seperti kumpulan orang buta yang kepengin 
mengungkap sosok gajah. Sayangnya lebih dari setengah abad habis 
hanya untuk ngotot-ngototan menebak bagian yang diraba: yang 
meraba gading ngotot menebak gajah itu keras; yang meraba belalai 
ngotot gajah itu panjang; yang meraba perut ngotot lain lagi dst. 
Semua hanya bisa menduga berdasarkan kemampuan masing-masing 
dalam mengolah data / informasi.
Karena itu kalangan akademisi yang melek intelektual sebaiknya mulai 
menuntun masyarakat untuk "meraba gajah", untuk mengolah informasi 
secara menyeluruh dan akurat, bukan lagi menebak-nebak hanya untuk 
memanjakan dugaan yang bersifat subyektif. Sebab, hasilnya bisa dilihat 
sendiri, generasi anak-cucu - bahkan yang tidak ada sangkut paut 
dengan TNI & PKI - melongo karena hanya mewarisi tradisi ngotot 
dan timbunan utang.
Oya, tolong dikoreksi karena setahu saya jenderal yang diculik itu 6 orang. 
Pierre Tendean belum jenderal. 

--- SADAR@... wrote:
Peristiwa berdarah G30S 52 tahun silam itu masih banyak pertanyaan misteris 
yang sulit mendapatkan jawaban pasti, ... dan, tentunya makin lama tertunda 
akan makin kesulitan mendapatkan data-data kuat untuk membuktikan 
keakuratannya! Kalau saja dikatakan PENCULIKKAN 7 jenderal itu atas perintah 
Presiden Soekarno, tentu harus lebih dahulu dijawab KENAPA Soekarno harus 
keluarkan perintah penculikkan itu? Kalau saja Soekarno TIDAK SUKA atau tidak 
percaya pada Yani, bukankah Soekarno bisa menggantikan dengan prosedur sah? 
Kenapa harus gunakan jalan menculik! Apalagi melihat jiwa Soekarno yang lemah, 
takut pertumpahan darah itu agak sulit rasanya penculikan itu keluar dari mulut 
Soekarno, ... sedang dari anak-anak jenderal Yani, kita dengar suara justru 
presiden Soekarno memberi kepercayaan penuh pada jenderal Yani, dan dari 
ayahnya itu mereka dengar ayah nya sudah disiapkan jadi Presiden untuk 
menggantikan Soekarno, ...! Kedua, kalau saja masalahnya hanya pada jenderal 
Yani yg dianggap “PENGHALANG” utama pembentukan Angkatan ke-5, dan Dwikora, 
kenapa pula tidak merasa CUKUP dengan menculik Yani seorang, tapi harus 
menculik 6 jenderal lainnya? Apa dengan diperluas menculik 7 jenderal itu, 
Dwikora baru bisa melaju lancar?  Rasanya masih lebih mantap analisa 
Soebandrio, ... G30S itu merupakan langkah kudeta-merangkak yang dijalankan 
jenderal Soeharto. Penculikkan 7 jenderal, yang lebih senior dari dirinya itu, 
merupakan langkah pembuka jalan lapang bagi dirinya utk naik jenjang tertinggi 
di TNI! Sedang penculikan terjadi “kecelakaan” 3 jenderal terbunuh disaat 
menculikkan dirumah masing2, dan 4 jenderal dibunuh di sumur Lubang Buaya itu 
diakui Syam atas perintahnya! Lalu, pertanyaannya, siapa sesungguhnya orang 
diatas Syam itu? Soeharto atau Aidit? Kalau Aidit, kenapa pula Syam bisa 
memerintahkan Aidit tetap melanjutkan rencana perjalanan terbang ke Jogya, saat 
Aidit juga akan batalkan setelah mengetahui Soekarno tidak hendak terbang ke 
Jogya? Bukankah ini akan mendekatkan dugaan sebenarnya ditangan jenderal 
Soeharto itulah KOMANDO tertinggi G30S! Hanya dengan dugaan TONGKAT KOMANDO 
ditangan jenderal Soeharto lah, bisa menjawab terjadi kejanggalan mengapa 
letkol. Untung bisa membawahi kol. Latief dan Berjen Supardjo yang lebih tinggi 
pangkat kemiliterannya. Bagaimanapun juga G30S merupakan gerakan militer, bukan 
gerakan politik lagi, agak sulit menerima alasan karena posisi Untung di PKI 
yang lebih menentukan, ... sebagai komisari politik tetap tidak memimpin 
operasi militer! Dan, ... melihat KEDEKATAN jenderal Soeharto dengan Syam dan 
Untung sejak jaman Revolusi Jogya itu, apa yang dinyatakan Soebandrio dalam 
wawancara dengan Majalah Adil ada BENARNYA, jenderal Suharto memang PKI! 
Jenderal Suharto itulah DALANG G30S sesungguhnya! Dan karena G30S merupakan 
gerakan militer, sedang Aidit sepenuhnya mempercayakan dan menyerahkan tangkat 
komando pada jenderal Suharto yg juga PKI itu! Dan, karena jenderal Suharto 
berada dibelakang layar, semua komando dikeluarkan melalui Syam, ... terjadi 
lah keanehan yang kita lihat, Aidit yang ketua PKI tetap TUNDUK pada perintah 
Syam untuk meneruskan rencana terbang ke Jogya. Kemudian juga ada suara cukup 
kencang, itu tokoh-tokoh PKI yang dipenjarakan merasa bergembira, mereka 
memperkirakan segera akan dibebaskan, ... saat mengetahui di MPRS tahun 1967, 
jenderal Suharto dinobatkan pejabat Presiden, BUKAN jenderal Nasution! Bahkan 
letkol Untung masih berilusi, vonis HUKUMAN MATI yang dijatuhkan MAHMILUB tidak 
akan dieksekusi, akan dapatkan GRASI Presiden Suharto! Ternyata TIDAK! Semua 
tertipu! Tertipu oleh jenderal Suharto yang licik dan ternyata bermuka dua itu! 
Bermain diatas 2 perahu! Disatu sisi jenderal Suharto bersimpati pada G30S, 
bahkan menjadi PENDUKUNG dibelakang (begitu yang diketahui umum) yang jelas 
mendatangkan 2 batalyon atas perintah nya sendiri, yaitu Yon-454 dan Yon-530 
dengan perlengkapan senjata lengkap SIAP-TEMPUR ke Jakarta, ... dan ternyata 
dari 2 batalyon inilah kekuatan induk G30S itu! Dan, ... ada juga suara dari 
penjara yang lebih PENTING, seorang tokoh PKI yang sempat bertemu dengan Aidit 
dalam pelarian/persembunyian di Jateng sesaat sebelum tertangkap, disamping 
menyampaikan kesan melihat DN Aidit dalam kebingungan tidak tahu apa yang harus 
diperbuat, juga menyatakan “Kita tertipu, ...!” Tentu maksud Aidit, kita 
tertipu jenderal Suharto! Yaa, ... semua dugaan-dugaan sebagai kemungkinan, 
makin lama akan menjadi lebih SULIT menemukan data akurat untuk membuktikan 
kebenarannya, inilah TUGAS BERAT dipundak pekerja sejarah anak bangsa untuk 
bergerak lebih CEPAT meneliti lebih lanjut secepat mungkin, syukur masih bisa 
menemui tokoh-tokoh terlibat yang bisa memberikan keterangan lebih konkrit. 
Salam,ChanCT
From: ajegLama tidak terdengar pertanyaan berani ini. 

Dulu, banyak teori yang dibangun untuk mengungkap misteri 
perintah kepada Untung. Diantaranya dari Salim Said yang 
cenderung melihat perintah untuk menculik jenderal AD memang 
datang dari presiden / Pangti. Argumennya sederhana tetapi 
cukup logis, tidak ada yang bisa memerintah satuan kawal presiden 
selain komandan satuan dan presiden sendiri. Sedangkan tujuan 
penculikan, menurut banyak teori, adalah untuk menekan para 
jenderal AD terutama A. Yani, agar tetap setia kepada presiden 
dan AD mendukung penuh Dwikora.

Menurut Salim, dalam operasi penculikan terjadi "kecelakaan" 
yang menyebabkan beberapa jenderal terbunuh. Banyak teori sejenis 
dengan berbagai varian termasuk teori kebocoran itu hanya saja 
tidak ada yang bisa berteori siapa sebenarnya yang memerintahkan 
untuk sekalian menghabisi jenderal yang masih hidup ketika 
tiba di Lubang Buaya. 

Yang masih misteri sebenarnya, kapan persisnya Bung Karno 
mengungsi ke Halim, kenapa tidak bertahan di istana atau di 
rumah Dewi? Apa betul Halim / Lubang Buaya memang disiapkan 
sebagai tempat untuk mengintimidasi jenderal AD? Apa iya 
Bung Karno seceroboh itu, mau memarahi jenderal AD di wilayah 
angkatan lain (AU)? 

--- zeta_roza@... wrote:
#PERTANYAANYA ADALAH MISTERI... 
 @LetKol Untung BRRTINDAK atas "perintah" SIAPA;  Tentu dari atasannya..hingga 
yang tertinggi kah? PangTI.,,@LetKol Untung  AD Cakrabirawa Pengawal Presiden 
RI sudah "MELSPORKAN TUGAS MISInya" kepada SIAPA;  Tentu kepada 
atasannya../lalu ke "pada" siapa lagi kah? Kemudian ke- yang -tertinggikah.? 
@Misi Letkol Untung UNTUK Penyerahan kepada Presiden Soekarno sebagai "USAHA" 
menyelamatkan para Jendral [??] hingga dapat "bertemu" dengan Presiden RI 
Soekarno [???], karena para jendral tsb sebagai pelindung teratas Presiden RI, 
presiden adalah Kepala Negara simbolis keamanan warga negeri sebagai 
PangTi..@Apakah Misi LetKol Untung tsb TELAH TERJADI KEBOCORAN SEHINGGA "Telah 
didahului" "oleh" untuk tujuan di-eksekusi-kan? [....????]  MISTERI..   
≥>>>>>>>>>>>>>> Verzonden via Yahoo Mail op Android

   Op zo, okt. 1, 2017 om 10:22 schreef SADAR@...: Nasib Buntung Letkol Untung 
Usai G30S
https://tirto.id/nasib-buntung-letkol-untung-usai-g30s-cxuD
Letkol Untung Syamsuri dibawa ke Mahmilub. FOTO/Wikimedia Commons

Reporter: Petrik Matanasi

01 Oktober, 2017

· Letnan Kolonel Untung penerima Bintang Sakti itu membawa pasukannya di 
Cakrabirawa untuk G30S

· Setelah G30S Untung apes, dia sempat digebuk massa dan diringkus Hansip lalu 
dihukum mati

Letnan Kolonel (Letkol) Angkatan Darat Untung bin Sjamsuri adalah penerima 
Bintang Sakti atas aksinya dalam Operasi Trikora di Irian. Setelah memimpin 
G30S dia bernasib apes dan menemui ajal di depan regu tembak.
tirto.id - Sersan Mayor Bungkus masih ingat apa yang dialaminya pada 30 
September 1965. Seperti diakuinya dalam artikel The World of Sergeant-Major 
Bungkus: Two Interviews with Benedict Anderson and Arief Djati—yang dimuat di 
jurnal Indonesia edisi Oktober 2004 volume 78 terbitan Universitas Cornell, 
“Sore hari tanggal 30 September (1965), saya diberi pengarahan oleh komandan 
kompi saya.” 

Sang komandan kompi C dari Batalyon Kawal Kehormatan (KK) I Cakrabirawa, yang 
sangat dikenal Bungkus itu, adalah Letnan Satu Dul Arif. Dalam apel malam, Dul 
Arif hanya bisa memperoleh 60 anggota. Pasukan itu lalu bergerak ke kawasan 
Lubang Buaya, Jakarta Timur. 

“Komandan Batalyon kita (Letnan Kolonel Untung) telah menugaskan saya memegang 
unit Cakra berangkat dalam sebuah misi. Ada kelompok jenderal yang disebut 
Dewan Jenderal yang hendak mengkudeta Presiden Sukarno,” kata Dul Arif seperti 
ditirukan Bungkus. 

Tugas Cakrabirawa tak lain melindungi Presiden Sukarno. Dari ucapan Dul Arif 
itu, para pasukan tentu merasa bahwa para jenderal itu musuh besar mereka. 
Sehingga tak heran saat dalam penculikan, yang dikenal sebagai peristiwa 
Gerakan 30 September 1965 (G30S). Pasukan Cakrabirawa tidak ragu menembak 
jenderal yang mereka bawa. 

Baca Juga: Cerita Seputar Para Penculik G30S

Pada malam 30 September 1965 itu, Letnan Kolonel Untung sang komandan Batalyon 
KK I Cakrabirawa ikut mengawal Presiden Sukarno di acara musyawarah nasional 
ahli teknik di Senayan. Presiden berada di Senayan hingga pukul 23.00 malam. 
Setelah itu, Untung berangkat ke Lubang Buaya, dekat Pangkalan Udara Halim 
Perdanakusuma untuk melihat pasukan. 

Dini hari 1 Oktober 1965, pasukan pun berangkat menculik jenderal-jenderal 
Angkatan Darat yang dianggap sebagai Dewan Jenderal. Ada enam jenderal dan satu 
Letnan berhasil ditangkap hingga berakhir di sebuah sumur tua di Lubang Buaya.

Paginya, pada 1 Oktober 1965, Letnan Kolonel Untung yang pendiam dan dianggap 
buta politik itu, dalam siaran Radio Republik Indonesia (RRI, tersebut sebagai 
Ketua Dewan Revolusi. Di mana anggota-anggota Dewan Revolusi itu adalah 
orang-orang terkemuka yang tak semuanya komunis. Untung menjadi satu-satunya 
penandatangan dokumen Dewan Revolusi itu. Aksinya tak hanya soal malam jahanam 
itu, karena sebelumnya Untung menorehkan sejarah soal dirinya.

Letnan Kolonel Untung adalah pemegang Bintang Sakti, seperti juga Benny 
Moerdani, atas aksinya pada 1962 dalam Operasi Trikora melawan tentara Belanda 
di Papua Barat. Intinya, Untung sempat punya nama baik sebelum 30 September 
1965. 

Baca Juga: 

a.. Bintang Sakti Untung Sjamsuri dan Benny Moerdani 
b.. Soepardjo Jenderal Angkatan Darat dalam G30S

Untung memang tak seberuntung namanya, ia jadi pemimpin gerakan kudeta yang 
gagal. “Untung bertubuh pendek kekar dan berleher gemuk, memperlihatkan 
stereotip seorang prajurit,” tulis John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal 
(2008). 

Ia hanya bisa diandalkan bertempur seperti di Sumatera waktu menghajar PRRI dan 
di Papua Barat dalam Trikora, tapi tidak untuk berpolitik. Audrey Kahin dalam 
karyanya Dari  Pemberontakan ke Integrasi(2005) menyebut orang-orang di 
Sumatera Barat, heran mengetahui Untung yang pendiam dan tidak populer memimpin 
sebuah kudeta G30S itu. 

Untung memang dilahirkan untuk menjadi tentara. Laki-laki bernama asli Kusman 
ini, seperti ditulis Julius Pour dalam Gerakan 30 September: Pelaku, Pahlawan & 
Petualang (2010), pernah jadi pembantu tentara Jepang (Heiho) di zaman Jepang, 
waktu umurnya belum 20 tahun. 

Ketika Peristiwa Madiun 1948, ia masih berpangkat Sersan Mayor. Pada 1950-an, 
ia pernah jadi bawahan Suharto sebagai Letnan dalam Batalyon Sudigdo di Kleco, 
Solo. Pangkatnya naik bertahap sejalan jam tugasnya sebagai prajurit. Waktu 
penumpasan PRRI, sekitar 1958, pangkatnya masih Letnan Satu. Ia langsung naik 
jadi Kapten usai tugas pulang dari Sumatera. Ia kemudian jadi Mayor pada 1962 
dan jelang 1965 sudah berpangkat Letnan Kolonel. 

Saat bertugas ke Irian Barat, ia memimpin pasukan Banteng Raider dari Batalyon 
454 Srondol Kodam Diponegoro Jawa Tengah. Untung sempat jadi Komandan Batalyon 
di sana, menggantikan Letnan Kolonel Ali Ebram, yang dianggap pengetik 
Supersemar. Sebagian pasukan Raider dari Srondol ada yang ditarik sebagai 
Resimen Cakrabirawa. 

Pasukan yang sempat di Banteng Raider masuk dalam Batalyon KK I Cakrabirawa 
yang dipimpin Untung. Banteng Raider adalah pasukan elit yang didirikan Ahmad 
Yani yang juga menjadi korban penculikan G30S. Di antara pasukan penculik G30S 
sebagian berasal dari Banteng Raider. 

share infografik

Baca Juga: Kiprah dan Tragedi Para Perwira Banteng Raider

Bintang kehidupan Untung mulai suram sejak 1 Oktober 1965. Sebagai sosok yang 
sangar secara militer, Untung tergolong apes terkait peristiwa penangkapannya. 
Untung yang menghilang setidaknya sejak 2 Oktober 1965. Pada 11 Oktober 1965 
berusaha kabur ke sekitar Jawa Tengah dan dia berada dalam sebuah bus. Di 
Tegal, bus yang ditumpangi rupanya dimasuki tentara yang tak dikenal olehnya. 

Namun, ia tak mau kena ciduk oleh tentara yang naik, ia memutuskan melompat 
dari bus. Sialnya tubuhnya menghantam sebuah tiang listrik. Kesialannya makin 
bertambah, saat orang-orang di sekitar tempat mengira dirinya adalah copet. 
Untung sempat digebuki massa. Menurut Misbach Yusa Biran dalam Kenang-kenangan 
Orang Bandel (2009), Untung tetap mencoba menunjukkan gengsi sebagai perwira. 
Untung memposisikan diri sebagai orang yang tak takut pada siksaan yang akan 
menimpanya. 

Awal 1966, Untung diadili oleh sebuah pengadilan luar biasa dalam sejarah 
Indonesia, Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub). Ruang sidangnya pun bukan di 
gedung pengadilan Kementerian Kehakiman melainkan Gedung Badan Perencanaan 
Pembangunan Nasional (Bappenas) di dekat Taman Suropati, Menteng, Jakarta 
Pusat. 

Dalam pengadilan Untung, Gumuljo Wreksoatmodjo SH bertindak sebagai pembela. 
Ketua Mahmilub yang mengadili Untung adalah Letnan Kolonel CHK Soedjono 
Wirjohatmodjo SH dengan  hakim anggota: Letnan Kolonel Udara Zaidun Bakti; Ajun 
Komisaris Besar Drs Kemal Mahisa SH; Mayor AL Hasan Basjari SH; Mayor tituler 
Sugondo Kartanegara. Oditur yang menuntut perkara itu adalah Letnan Kolonel 
Iskandar SH. Mitzi Tendean, kakak dari Kapten Pierre Tendean hadir dalam 
persidangan. 

Berkas-berkas pengadilan dibukukan dan jadi sebuah karya yang berjudul Gerakan 
30 September di hadapan Mahmilub: Perkara Untung (1966). Dalam laporan ini, 
pekerjaan Untung adalah Letnan Kolonel Infanteri (Angkatan Darat) Komandan 
Batalyon I Kawal Kehormatan Cakrabirawa dan berdasar Keputusan Presiden/Pangti 
ABRI/KOTI/nomor 171/KOTI/1965 per 4 Desember 1965 diberhentikan tidak hormat 
dari pangkat dan jabatannya dalam dinas ketentaraan terhitung mulai 30 
September 1965. 

Dalam persidangannya, Untung sempat menyebut: “Kolonel Latief yang menyatakan 
tentang kesulitan daripada ekonomi prajurit, dan pada umumnya 
keterangan-keterangan itu dibenarkan oleh yang hadir yakni saya sendiri 
(Untung), Kapten Wahjudi dan juga Mayor Udara Sujono termasuk Sjam 
(Kamaruzaman) dan Pono.” Itu yang ingat Untung dalam rapat terkait G30S pada 19 
Agustus 1965. 

Semula, menurut Subandrio dalam buku Kesaksianku tentang G-30-S (2000), Untung 
yang sempat ditahan di Instalasi Rehabilitasi (Inrehab) Cimahi, punya keyakinan 
dia tak bakal dihukum mati. Ia yakin Soeharto bakal membebaskannya. 

Namun, pada 6 Maret 1966, Mahmilub memberi vonis: Hukuman Mati kepada Untung. 
Esoknya dibuat surat keputusan dari Menteri Panglima Angkatan Darat, Letnan 
Jenderal Soeharto,  menyetujui keputusan dan eksekusi mati terhadap Untung. 
Pembelanya sempat minta grasi agar tak dihukum mati. Grasi tak datang padanya 
tapi hukuman mati yang menghampirinya. 

Menurut Subandrio, “Saat itu dia sudah selesai ditanya permintaan terakhirnya, 
seperti lazimnya orang-orang yang akan menjalani eksekusi mati. Mungkin karena 
sedang panik, dia malah tidak minta apa-apa.” 

Baca juga artikel terkait G30S PKI atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi 

(tirto.id - pet/dra)

   

Kirim email ke