Butuh Berapa Lama Indonesia Ungkap Kebenaran?
http://m.dw.com/id/butuh-berapa-lama-indonesia-ungkap-kebenaran/a-40707051
Butuh waktu 60 tahun bagi Jerman untuk setuju membuka arsip milik Nazi. Butuh 
berapa lama Indonesia ungkap kebenaran kasus-kasus HAM, termasuk tragedi 1965? 
Opini Monique Rijkers.
   
   -             google+  Tumblr  VZ  Xing  Newsvine  Digg   
 


Akibat perbuatan Nazi, Jerman "terpojok” untuk bersikap. Untung Jerman memiliki 
pemimpin yang bersedia meruntuhkan tembok penghalang dan membangun jembatan 
pemulihan agar keluarga korban dan penyintas bisa mencicipi kebenaran, meski 
sudah terlambat 60 tahun. Jika membandingkan kasus dokumen Nazi dan sikap 
Jerman dengan kondisi di Indonesia, apakah ini berarti baru pada tahun 2025 
bangsa Indonesia bisa mengetahui kebenaran 1965? Atau pada tahun 2058 untuk 
mengungkap Peristiwa Mei 1998? 
 
Penulis: Monique Rijkers bersama Paul Saphiro 

Pada tahun 2014, saat mendapat kesempatan ke Australia untuk kursus singkat 
jurnalistik topik lingkungan, saya mampir ke Museum Holocaust Melbourne. 
Kebetulan ada acara Diskusi Umum dengan pembicara Paul Shapiro, Direktur Mandel 
Centre for Advanced Holocaust Studies pada Museum Holocaust di Washington DC, 
Amerika Serikat. Paul Shapiro menyampaikan pengalamannya berjuang membuka data 
arsip dari International Tracing Service (ITS) atau Layanan Penelusuran Arsip 
Internasional. Paul Saphiro berusaha keras agar arsip rahasia milik Hitler 
tersebut dapat diakses terutama oleh keluarga korban dan publik. Dalam 
pencatatan, Nazi termasuk sangat teratur dan lengkap. Paul Saphiro menunjukkan 
berbagai foto dokumen saat presentasi. Catatan Nazi tersebut adalah bentuk 
kebanggaan mereka yang berhasil menguasai orang Yahudi dan pertanggungjawaban 
mereka terhadap Hitler.

Satu hal yang menjadi pertanyaan, mengapa dokumen ITS perlu dibuka? 

Bukankah itu akan menimbulkan luka dan trauma? Paul Saphiro menyatakan, 
‘Informasi terkait ITS harus berada di tangan penyintas dan keluarga korban, 
ini adalah kewajiban moral dari kita yang hidup.” Selain itu data ITS merupakan 
tambang emas untuk riset mengenai Holocaust karena banyak pula penyintas yang 
masih anak-anak saat berada di kamp konsentrasi.

Namun, satu hal yang terpenting Paul Saphiro menegaskan, ITS membantah 
penolakan banyak orang terhadap Holocaust. Berkat ITS maka kebenaran sejarah 
bisa dibuktikan. ITS menyimpan seluruh data terkait persekusi, pemindahan 
paksa, kerja paksa dan Holocaust oleh Nazi dengan jumlah mencapai lebih dari 50 
juta halaman dokumen yang berkaitan dengan nasib lebih dari 17,5 juta orang.

Arsip ITS awalnya dimiliki oleh Palang Merah Inggris dengan tujuan mengizinkan 
keluarga melacak keberadaan jutaan orang pengungsi dan orang hilang selama 
Perang Dunia Kedua. Lokasi penyimpanan ITS secara fisik sekarang bertempat di 
Bad Arolsen, Jerman namun tersedia layanan online bagi perpustakaan di seluruh 
dunia yang berminat memberi layanan pelacakan dokumen dan penelitian historis.
   
   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Film dengan narasi propaganda antisemitisme
   
"Jud Süss," salah satu film propaganda Nazi yang paling terkenal, yang sekarang 
dilarang untuk umum. Disutradarai oleh Viet Harlan tahun 1940. Harlan 
menceritakan kisah seorang bankir Jerman-Yahudi Joseph Süss Oppenheimer dan 
menggambarkan dia sebagai Yahudi konteks propraganda Nazi. "Jud Süss" ketika 
dirilis pertama kali ditonton oleh jutaan warga Jerman.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Membungkus antisemitisme dalam seni
   
Dalam filmnya, Harlan menonjolkan prasangka antisemit lewat plot dan 
karakternya. Seorang penulis Jerman-Yahudi pernah mengatakan, "Jud Süss" adalah 
"bentuk anti-Semitisme artistik yang paling kejam dan disempurnakan." Seroang 
pengamat film menulis, "Film ini secara terbuka memobilisasi ketakutan dan 
agresi seksual dan mengarahkannya untuk kepentingan antisemitisme.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
"Sutradara maut"
   
Penulis biografinya menyebut Veit Harlan sang "sutradara maut," karena dia 
total mengabdikan diri pada ideologi Nazi. Setelah Jerman kalah dalam Perang 
Dunia II, Veit Harlen sempat diadili, tapi masih tetap bisa bekerja setelah 
menjalani masa larangan kerja beberapa tahun.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Bagaimana memperlakukan film propaganda sekarang?
   
Setelah perang, banyak sekali tulisan dan ulasan tentang Viet Harlan dan 
filmnya "Jud Süss". Sutradara Oskar Roehler mengolah material ini dan membuat 
film melodramatis "Jud Suss: Film Ohne Gewissen (film tanpa nurani)" (2010).

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Joseph Goebbels, otak di belakang layar
   
Nazi dengan cepat menyadari bahwa bioskop bisa punya efek ampuh untuk 
propaganda. Joseph Goebbels, juru propaganda Nazi, lalu menggunakan media untuk 
mempromosikan ideologi anti Yahudi. Departemennya membuat banyak film 
propaganda, uga dalam budaya dan pendidikan.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Film dokumenter palsu
   
Film anti-Semit buatan Nazi lainnya adalah "Der ewige Jude" (Yahudi abadi) yang 
dirilis beberapa bulan setelah "Jud Süss" pada tahun 1940. Film yang dibuat 
oleh Fritz Hippler ini menunjukkan pemandangan dari Ghetto di Warsawa. Film ini 
menunjukkan kehidupan seniman Yahudi dan tradisinya, yang digabungkan dengan 
kutipan-kutipan pidato Hitler. Film ini diperkenalkan sebagai film dokumenter.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Sutradara favorit Hitler: Leni Riefenstahl
   
Leni Riefenstahl adalah salah satu pembuat film Nazi yang mencoba membersihkan 
namanya setelah 1945. Dia bertanggung jawab untuk membuat film dalam 
demonstrasi-demonstrasi massal Nazi, yang menjadi bagian sentral dari dari 
mesin propaganda.

   
   -     
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film
   
Propaganda lewat layar perak
   
Kebanyakan film propaganda Nazi dibuat antara tahun 1933 dan 1945 dengan porsi 
anti-Semitisme yang lebih kecil dibandingkan dengan "Jud Süss." Beberapa film 
bahkan direvisi saat produksi. Film historis "Bismarck" (1940) pada awalnya 
direncanakan sebagai film propaganda yang jauh lebih agresif.

◀1 / 8▶
Butuh 60 Tahun Untuk Membuka Arsip ITS

Meski akhirnya ITS bisa diakses oleh publik, namun perjalanan untuk mendapatkan 
akses sungguh berliku. ITS dikumpulkan dari dokumen catatan transportasi orang, 
data penjara dan data dari Gestapo. Menurut Paul Saphiro ada 100 juta data dari 
seluruh dunia. Data juga diperoleh dari tentara sekutu dan dari Kamp Pembebasan 
yang dikelola oleh Badan PBB yang menangani Pemulihan dan Rehabilitasi yang 
menampung mereka yang dibebaskan dari kamp konsentrasi.

ITS dijalankan oleh komisi yang terdiri dari 11 negara yakni Amerika Serikat, 
Inggris, Prancis, Jerman, Italia, Belgia, Belanda, Yunani, Polandia, Luksemburg 
dan Israel. Untuk mencegah keingintahuan publik, Palang Merah sempat membantah 
dokumen ITS ini eksis. Jerman pun menolak mengungkap data tersebut. Bahkan 
Amerika Serikat ikut-ikutan ragu dan berharap negara lain yang menuntut 
pengungkapan dokumen tersebut.
   
   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Kehancuran Jerman
   
Pada dekade 1920an Jerman yang sedang terseret krisis ekonomi dan sosial pasca 
Perang Dunia I, membutuhkan stabilitas politik untuk menggenjot perekonomian. 
Pada pemilu 1926 partai bentukan Adolf Hitler, NSDAP, cuma dipilih oleh 800.000 
penduduk (2,6%). Namun pada September 1930, pendukung kaum fasis berlipatganda 
menjadi 6,4 juta pemilih (18,3%). Apa sebab?

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Strategi Hitam
   
Strategi Hitler buat merebut hati pemilih tertera dalam karyanya sendiri, Mein 
Kampf. Di dalamnya ia mengusulkan agar kampanye dibatasi pada isu yang bersifat 
emosional dan dikemas dalam kosakata politik yang sederhana dan mudah diingat. 
Selain itu pesan yang biasanya membidik emosi khalayak diulang sebanyak 
mungkin. NSDAP juga menghindari diferensiasi dan cendrung memukul rata obyek 
serangannya.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Bahasa Kaum Fasis
   
Menurut intelektual Yahudi-Jerman, Hannah Arendt, kaum fasis banyak 
mempropagandakan kebohongan ihwal ancaman oleh kaum Yahudi dan asing. Saat itu 
pun, tulis Arendt dalam The Origins of Totalitarianism, kaum kiri dan liberal 
berupaya menghalau kebohongan dengan fakta. Namun menurut Arendt, kebohongan 
anti asing dan Yahudi bukan dibuat untuk meyakinkan penduduk, melainkan sebuah 
ikrar politik.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Didukung Petani dan Pengusaha
   
Berbeda dengan anggapan umum bahwa pemilih Hitler merupakan pengangguran yang 
frustasi atas kondisi ekonomi, sebuah studi teranyar mencatat pemilih terbesar 
NSDAP adalah petani, pensiunan dan pengusaha, terutama pemodal berkocek tebal 
yang mengimpikan kemajuan ekonomi lewat jalur cepat seperti yang dijanjikan 
oleh NSDAP.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Genting di Berlin
   
Menjelang pemilu Juli 1932 situasi politik di Jerman menyerupai perang saudara. 
Konflik berdarah antara simpatisan merajalela. Pada Juni 1932, 86 orang tewas 
dalam bentrok antara kaum Komunis dan sayap paramiliter NSDAP. Saat itu 
partai-partai pro demokrasi masih berharap hasil pemilu akan menggugurkan 
dominasi satu partai. Namun NSDAP justru keluar sebagai pemenang terbesar 
dengan 37,4% suara.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Nafsu Kuasa
   
Lantaran partai-partai politik gagal membentuk pemerintahan mayoritas, Jerman 
kembali menggelar pemilu pada November 1932. Kali ini NSDAP kehilangan banyak 
suara. Sebaliknya kaum kiri dan komunis menguasai 36% kursi di parlemen. Namun 
lantaran ingin berkuasa, sejumlah politisi papan atas Jerman memilih berkoalisi 
dengan NSDAP dan mengusung Hitler sebagai kanselir.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Perebutan kekuasaan
   
Pada 30 Januari 1933 Hitler dilantik sebagai Kanselir. Ia lalu meminta Presiden 
Paul von Hindenburg buat membubarkan parlemen lantaran kebuntuan politik 
menyusul tidak adanya kekuatan mayoritas di parlemen. Permintaannya dikabulkan. 
Pada pemilu 1933 Hitler menggunakan kekuasaanya untuk menekan musuh-musuh 
politiknya. Pemilu tidak lagi bebas dan NSDAP menjelma menjadi kekuatan tunggal 
di parlemen.

   
   -     
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi
   
Kematian Demokrasi
   
Sejak itu Nazi menggiatkan propaganda dan presekusi terhadap kaum Yahudi. 
Hitler yang meleburkan perangkat partai dengan lembaga negara dengan cepat 
mempreteli parlemen dan struktur demokrasi warisan Republik Weimar. Menjelang 
Perang Dunia II, NSDAP menggunakan strategi propaganda yang sama untuk membibit 
kebencian terhadap negara asing.

◀1 / 8▶
Mengapa Israel Tidak Menuntut ITS Dibuka?

Pada tahun 2004, Badan Khusus Internasional mengenai Pendidikan, Mengenang dan 
Riset Holocaust bertemu di Roma, Italia dan sampai pada pertanyaan "Siapa yang 
akan memegang kendali ITS?” Jerman, Italia, Belgia dan Palang Merah Dunia 
akhirnya mau membuka ITS tapi tidak mau bertanggung jawab atas dampaknya. 
Sementara Belanda, Polandia dan Israel diam, tak bersuara. Ada peserta diskusi 
yang mempertanyakan alasan Israel tidak menuntut pengungkapan ITS, padahal 
Israel seharusnya paling berkepentingan soal ini. Paul Saphiro menyebutkan 
Israel diliputi keraguan sehingga memilih untuk tidak bertindak sementara 
Amerika memiliki banyak alasan untuk bertindak dan memaksa pengungkapan ITS.

Saat itu media sangat berperan penting membuka mata publik. Adalah sebuah koran 
lokal Mineapolis Star Tribune yang menurunkan tulisan tentang ITS. Sebuah koran 
di Jerman mempertanyakan momen pengungkapan ITS yang berdekatan dengan 
peresmian Berlin Memorial yang dikhawatirkan menimbulkan kontroversi. Lalu New 
York Times, Washington Times dan International Herald Tribune mulai menaruh 
perhatian pada isu ITS.

Puncaknya pada 2006, sebuah berita muncul di New York Times, "German Agrees to 
Open Holocaust Archive”. Butuh waktu 60 tahun bagi Jerman untuk memutuskan 
memberikan akses ITS bagi publik. Perdana Menteri Jerman Angela Merkel yang 
paling berperan dan patut diberi apresiasi karena keberaniannya mengubah 
kebijakan terkait ITS. Jerman setuju memberikan salinan dokumen ke semua 
Holocaust Memorial Centre. 11 negara akhirnya meratifikasi perjanjian ITS. Lalu 
pada 2007, program TV "60 Minutes” menurunkan episode tentang ITS dengan judul: 
"Hitler's Secret Archieves”. Pada November 2007, ITS dibuka untuk publik. Paul 
Saphiro berkomentar, "Sangat terlambat untuk banyak orang.”
   
   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Joseph Goebbels (1897-1945)
   
Sebagai Menteri Propaganda Hitler, penebar racun anti semit ini bertanggung 
jawab untuk memastikan semua pesan Nazi diterima oleh setiap warga negara di 
periode Reich Ketiga. Dia mencekik kebebasan pers, menguasai semua media, 
kesenian, dan informasi, dan mendorong Hitler menyatakan "Totalitas Perang". 
Goebbels dan istrinya bunuh diri pada tahun 1945, setelah meracuni keenam anak 
mereka. 

   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Adolf Hitler (1889-1945)
   
Pemimpin Partai Nazi ini telah mengembangkan propaganda antisemitisme, 
antikomunisme dan ideologi rasisme ini sejak sebelum menjadi kanselir tahun 
1933. Dia merusak institusi politik dan mengubah Jerman menjadi negara 
totaliter. Dari tahun 1939 sampai 1945, ia memimpin Jerman di Perang Dunia II 
sambil mengawasi Holocaust. Ia bunuh diri pada bulan April 1945. 

   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Heinrich Himmler (1900-1945)
   
Sebagai pemimpin satuan milisi Nazi yang ditakuti: SS (Schutzstaffel), Himmler 
adalah salah satu anggota partai Nazi yang paling bertanggung jawab atas 
Holocaust. Dia juga menjabat sebagai kepala polisi dan Menteri Dalam Negeri, 
sehingga mengendalikan semua pasukan keamanan Reich Ketiga. Ia mengawasi 
pembangunan dan operasi semua kamp pemusnahan, di mana lebih dari 6 juta orang 
Yahudi dibunuh.

   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Rudolf Hess (1894-1987)
   
Hess gabung dengan Nazi tahun 1920. Ia ambil bagian dalam Bierkeller Putsch 
(Hitlerputsch) 1923 -usaha Nazi dalam menumbangkan kekuasaan, namun gagal. Di 
penjara, ia membantu Hitler menulis "Mein Kampf." Hess terbang ke Skotlandia 
tahun 1941 untuk negosiasi perdamaian. ia ditangkap & ditahan sampai akhir 
perang. 1946, ia diadili di Nürnberg & dipenjara seumur hidup hingga meninggal 
dunia. 

   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Adolf Eichmann (1906-1962)
   
Bersama Himmler, Eichmann adalah fasilitator utama Holocaust. Sebagai letkol 
SS, ia berhasil mendeportasi massal orang Yahudi ke kamp-kamp pemusnahan Nazi 
di Eropa Timur. Setelah kekalahan Jerman, Eichmann melarikan diri ke Austria, 
lalu ke Argentina, di mana ia ditangkap Mossad Israel tahun 1960. Setelah 
dinyatakan bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan, ia dieksekusi tahun 
1962. 

   
   -     
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI
   
Hermann Göring (1893-1946)
   
Göring menjadi orang kedua paling berkuasa di Jerman ketika Nazi berkuasa. Ia 
mendirikan Gestapo, polisi rahasia dan menjabat sebagai komandan angkatan udara 
Luftwaffe sampai sebelum perang berakhir, serta semakin tak dipercaya Hitler. 
Göring dihukum mati di Nürnberg tapi telanjur bunuh diri pada malam hari 
sebelum dieksekusi. Ed: Cristina Burack (ap/as) 

◀1 / 6▶
Lantas apa signifikasi dari dibukanya data ITS dan konteks Indonesia? 

Holocaust yang terjadi pada 1939 hingga 1945 bukan dilakukan oleh bangsa Jerman 
tetapi oleh Partai Nazi sebagai pemenang Pemilu namun akibatnya diderita oleh 
seluruh Jerman. Namun ada kemauan dari pemimpin Jerman untuk mengobati luka 
masa lalu dengan menelan "pil pahit” mengakui kesalahan alih-alih cuma membalut 
dengan "perban melupakan”. Rasa-rasanya Indonesia perlu sosok pemimpin yang 
bersedia meniru jejak nekad Merkel. Saatnya Indonesia memiliki Tim Pengungkapan 
Kebenaran Peristiwa '65 untuk menyudahi polemik sejarah saban bulan September. 
Saatnya kebenaran diperbincangan dalam ruang-ruang diskusi dan sejarah ditulis 
tanpa beban masa lalu dan bersih dari intimidasi dan ketakutan. Korban langsung 
Peristiwa '65 saat ini sudah jompo, mungkin generasi kita adalah generasi 
terakhir yang dapat mendengar langsung kesaksian mereka. Keluarga para korban 
pun tak hidup selama-lamanya, bukan? Kapan lagi kalau bukan sekarang?

Penulis:

Monique Rijkers adalah wartawan independen, IVLP Alumni, pendiri Hadassah of 
Indonesia, inisiator Tolerance Film Festival dan inisiator #IAMBRAVEINDONESIA.
   
   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Uang saya hanya cukup untuk menyambung nyawa"
   
Sumilah berusia 14 tahun ketika ia ditangkap tahun 1965. Tuduhannya: Dia adalah 
anggota dari gerakan perempuan "Gerwani". Aparat menghajarnya sampai pingsan. 
Mereka kemudian menyekap Sumilah di kamp Plantungan. Di sana baru diketahui 
bahwa ia korban salah tangkap. Di masa tua, Sumilah hidup di Yogyakarta dengan 
uang pas-pasan.

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Mereka memukuli ayahku hingga hampir mati"
   
Ayah Kina diduga merupakan simpatisan Komunis. Ia ditangkap dan tak boleh 
bekerja. "Itu sebabnya saya mengambil peran sebagai pengganti ayah," kata dia. 
Kina berpakaian seperti anak laki-laki, bekerja di ladang an mengumpulkan kayu 
bakar. Masyarakat mengecapnya sebagai "anak komunis". Oleh karena itu, ia dan 
saudara-saudaranya kehilangan hak atas tanah ayah mereka .

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Masih tersimpan luka di hati saya"
   
Suami Lasinem ditangkap tahun 1969, disiksa & dikirim ke Pulau Buru. "Suamiku 
diangkut oleh kawannya sendiri, yang merupakan tentara. Dia dipukuli, 
punggungnya diinjak-injak sampai luka di sekujur tubuh," papar Lasinem. 
Perempuan ini ditinggalkan sendirian dengan anak-anaknya. Tahun 1972, mereka 
menyusul sang kepala keluarga ke Buru. Trauma ketakutan melekat di diri Lasinem 
hingga saat ini.

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Meski dipukuli bertubi-tubipun saya tidak menangis"
   
Sri adalah seniman dan penyanyi yang tergabung dalam organisasi yang dekat 
dengan Partai Komunis Indonesia. Pada tahun 1965 ia ditangkap, disiksa, dan 
dipenjara. "Depan kamar tidur kami penuh tahi," kenangnya. "Kotoran itu baunya 
tak tertahankan." Ketika dia dibebaskan pada tahun 1970, rumahnya sudah 
dirampas keluarga lain. Sri menjadi tunawisma. Di masa tua, ia tinggal bersama 
keponakannya.

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Aku harus meninggalkan bayi perempuanku"
   
Berkali-kali Yohana ditangkap, ditahan, diinterogasi. Ketika ditangkap ke-2 
kalinya, ia baru saja melahirkan. Ia dipisahkan dari bayinya masih menyusu. Dua 
tahun kemudian baru ia bertemu anak perempuannya lagi. "Pengalaman kekerasan 
itu menghantuiku terus," paparnya. Namun, sepanjang hayatnya, ia tak pernah 
menceritakan apa yang menimpanya saat itu, bahkan pada keluarganya sekalipun.

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Mungkin takkan pernah lupa"
   
Ketika Juriah beumur 7 tahun, ayah diasingkan ke Pulau Buru tahun 1966. Saat 
menginjak usia 18 tahun, Juriah dipaksa ikut pernikahan massal. Dia harus 
berjanji tidak pernah meninggalkan Buru. Meskipun penuh penderitaan, ia tetap 
di sana: "Jika kita datang ke tempat-tempat tertentu, kita akan berbicara 
tentang masa lalu dan terasa seolah-olah kita tertusuk pisau."

   
   -     
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65
   
"Orang-orang belum tahu kebenarannya"
   
"Begitu banyak hilang pada tahun 1965, tanpa pengadilan atau bukti-bukti 
keterlibatan dengan kasus 65," kata Migelina. Seluruh keluarganya dipenjara 
pada tahun 1965 - ia kehilangan orang tuanya dan kakaknya. Meski tragedi sudah 
berlalu berakhir, tetapi ia tetap mendoakan. Migelina percaya bahwa Tuhan 
memberinya kehidupan lebih panjang, untuk bisa mengetahui apa yang terjadi 
dengan keluarganya.

◀1 / 7▶
Laporan Pilihan
  
Bagaimana Rezim NAZI Hitler Promosikan Antisemitisme Lewat Film 

Rezim Nazi dengan cerdik membungkus sentimen antisemitisme dalam film-film 
komersial yang mereka bantu pendanaannya. Ini memang jadi bagian strategi 
propaganda mereka. (03.08.2017)
 
Strategi Hitler Membunuh Demokrasi 

Hanya dalam 18 bulan, seorang asing tanpa pendidikan formal atau pengalaman 
politik, tanpa kewarganegaraan atau kursi mayoritas di parlemen, mampu mengubah 
Jerman dari negara Demokrasi menjadi totaliter. (27.01.2017)
 
Inilah Potret Para Dedengkot NAZI 

Partai Pekerja Nasional-Sosialis Jerman NAZI mengukir sejarah kelam abad ke-20 
lewat ideologi, propaganda dan kejahatan perang. Siapa saja para 
tokoh-tokohnya? (01.02.2017)
 
Suara Bisu Perempuan Korban Tragedi 65 

Jutaan penduduk menua dengan trauma 65 di pundaknya. Sebagian pernah disiksa 
dan kehilangan anggota keluarga. Hingga kini mereka menderita dalam diam. Tanpa 
suara. Tanpa keadilan. (13.05.2016)
     
   - Tanggal 02.10.2017 
   - Kata Kuncidwnesia, #dwnesia, politik, sejarah, nazi, tragedi, 1965, 
tragedi 1965, pki, peristiwa 1998, Mei 1998, kerusuhan mei 98 
   - Bagi artikel            google+  Tumblr  VZ  Xing  Newsvine  Digg   

Konten terkait

Ketiadaan Ruang Bagi Gerakan Kiri 25.09.2017 
 
Berbicara tentang gerakan kiri di Tanah Air, selalu merujuk pada tiga 
peristiwa, masing-masing Pemberontakan 1926, Madiun 1948 dan Peristiwa 1965. 
Tak ada ruang bagi garis kiri? Opini Aris Santoso.
 
Perang ala Jokowi 27.06.2017 
 
Bagaimana seorang pemimpin dapat menjadi harapan, jika ia hanya berpihak pada 
kelompok mayoritas saja? Simak opini Febriana Firdaus berikut ini.
 
Lebih Baik “Diahokkan” Daripada “Dianieskan” 08.05.2017 
 
Belakangan gencar istilah “diahokkan”, apakah itu? Ikuti opini Sumanto al 
Qurtuby.
  © 2017 Deutsche WelleKontak | Imprint | Kebijakan Privasi Versi Desktop 

Kirim email ke