Hal yang perlu digaribawahi, hal inilah yang sebenarnya terjadi.
kutipan:Sama sekali tidak disinggung siapa yang membunuh 6 jenderal dan seorang 
kapten. BUKAN PKI! BAGIAN DARI TENTARA LAH YANG MEMBUNUH MEREKA!!!  Heran fakta 
ini ingin dilupakan dan dihapus!!!!


---In [email protected], <jetaimemucho1@...> wrote :

 Tidak sedikit orang yang  menilai “persahabatan” dan “rekonsiliasi” antara 
anak-anak pahlawan revolusi dengan anak-anak beberapa penggede PKI sebagai 
contoh yang patut ditiru oleh para  korban dan dianggap sebagai  satu-satunya 
cara yang tepat untuk menuntaskan pelanggaran HAM berat  yang dikategorisasi 
sebagai genosida oleh IPT.Soemini dan Tarup dibawa ke makam pahlawan revolusi.  
Soemini tenggelam dalam keharuan yang dalam. Sesuatu yang manusiawi. Yang perlu 
diingat adalah sampai hari ini masih ada ribuan, atau puluhan ribu atau ratusan 
ribu bahkan jutaan orang yang dibunuh dan dihilangkan dengan paksa yang tidak 
diketahui di mana jasadnya dikubur, atau dibuang.Yang menyolok adalah sikap 
Agus Wijoyo yang konsisten dengan kenyataan bahwa dia adalah TENTARA (walaupun 
sudah purnawirawan). Ia tidak lupa  menggunakan pertemuan ini untuk menarik 
perhatian orang kepada kejahatan PKI. Di bawah ini kata-katanya.Di samping itu, 
Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKI pernah terlibat konflik 
berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan. Seperti terjadi di Madiun, 
Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh. 

Saat itu, kata Agus, PKI pernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan 
aksi teror kepada masyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu 
menanamkan kebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan 
darat. Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden 
Soekarno terus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat. 

Selain ada kepentingan politik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas 
Soekarno. Ini setelah diketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini 
masalahnya politik berebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang 
akan merebutnya," ujar Agus.
Sama sekali tidak disinggung siapa yang membunuh 6 jenderal dan seorang kapten. 
BUKAN PKI! BAGIAN DARI TENTARA LAH YANG MEMBUNUH MEREKA!!!  Heran fakta ini 
ingin dilupakan dan dihapus!!!!
Agus tidak mau membicarakan lagi siapa yang salah dan siapa yang bertanggung 
jawab!! Karena sudah begitu banyak bukti akan kejahatan dan tanggung jawab 
rezim fasis Suharto serta aparat militernya atas GENOSIDA itu, maka enak sekali 
dan mudah banget bilang tidak ada lagi gunanya membicarakan siapa yang salah 
dan siapa yang bertanggung jawab!!!
Sikap Agus Wijoyo yang menyinggung peristiwa Madiun, aksi sepihak, dsb. sungguh 
normal dan saya mengerti sepenuhnya! Sikapnya adalah pencerminan bahwa justru 
Letjen purnawirawan ini tidak lupa pada kenyataan dan fakta adanya perjuangan 
kelas!!! Nah, ironisnya, justru orang-orang ex-PKI yang ingin melupakan 
perjuangan kelas!! Dianggapnya dengan rekonsiliasi, berdamai dengan dirinya 
sendiri (heran, ngapain saya harus berdamai dengan diri saya sendiri, emangnya 
saya punya kontradiksi dengan diri saya sendiri yang menyangkut peristiwa G30S 
dan pembantaian??!!), maka selesailah masalahnya!
Sikap saya jelas. Persahabatan dan rekonsiliasi antara individu-individu adalah 
hal yang syah-syah saja, tidak seharusnya dipolitisasi. Namun itu sama sekali 
tidak bisa menggantikan tuntutan keadilan bagi para korban yang sekarang sudah 
tidak bisa lagi bersuara dan menuntut keadilan.
International People’s Tribunal mengkategorisasi peristiwa 65 sebagai GENOSIDA. 
Dan salah satu tuntutannya adalah proses judicial, proses hukum. Karena sudah 
terjadi pembunuhan secara sewenang-wenang terhadap orang yang tidak pernah 
dibuktikan kesalahannya.
Keluarga Munir, keluarga Wiji Thukul, keluarga korban pembunuhan Trisakti terus 
menuntut dituntaskannya masalah kejahatan itu. Di negeri hukum, pembunuhan 
terhadap satu orangpun diselesaikan melalui hukum. Apalagi ini pembunuhan 
terhadap ratusan ribu bahkan jutaan manusia tak berdosa.
Sebaliknya orang revisionis dan renegad seperti Chan, karena otaknya sudah 
dipenuhi oleh pengkhianatan, malah menuduh saya mengobarkan DENDAM tiada 
berkesudahan! Dan  munafikya lagi masih nggak punya malu menyinggung ajaran Mao 
Tse dong yang sudah lama dia kentutin!!! Mencampur adukkan politik Mao terhadap 
tawanan dengan proses hukum terhadap penjahat!!! Apakah tidak ada tuan tanah 
kejam dan punya hutang darah  yang dihukum mati oleh pengadilan rakyat selama 
berkembang revolusi nasional demokratis di Tiongkok??!!! Yang tidak boleh 
dilakukan adalah tindakan anarkis, didorong oleh dendam karena penderitaannya 
untuk melakukan balas dendam TANPA melalui proses pengadilan!!!
Apakah menuntut penyelesaian hukum berarti kita ingin MEMBUNUH mereka yang 
telah melakukan kejahatan menyiksa dan membunuh!! Sungguh PICIK!! Memang tidak 
bisa diharapkan pikiran sehat dan logis dari seorang remo dan renegad!!!
Ingat Pramudya Ananta Toer??? Permintaan maaf Gus Dur pun bagi Pramudya tidak 
ada artinya!!! Itulah sikap orang yang berani dan konsekwen dengan keyakinannya 
sampai akhir hayatnya!!! Apakah dengan menolak permintaan maaf Gus Dur berarti  
Pramudya ingin membunuh orang-orang yang telah merampas dan membakar 
perpustakaannya, yang telah menjebloskannya ke Pulau Buru??
Sudah dibuktikan dalam sejarah bahwa orang remo adalah sekutu imperialisme dan  
kaum reaksioner! Siapa yang mau belajar sejarah dengan jujur tak terhindarkan 
akan mengakui Partai dan Negara Soviet sejak dibawah Khrustjov dengan politk 
koeksistensi damainya telah bertekuk lutut dan kerja sama dengan imperialisme 
AS. Makanya PKUS tidak pernah mengutuk pembantaian 65-66. Sebaliknya dengan 
Tiongkok, Vietnam, Republik Demokratis Rakyat Korea, dan Kuba yang menolak 
menaikkan bendera setengah tiang. Sekarang saksikan sendiri sikap PKT remo dan 
Tiongkok kapitalis terhadap ancaman perang dan sanksi kaum imperialis AS 
terhadap RDRK. Mereka mendukung sepenuhnya sanksi dan menekan Korea untuk 
tunduk pada ancaman AS!!!
Nah, si Chan remo tak ketinggalan!! Dengan setia mengikuti strategi dan 
scenario para jenderal untuk meletakkan PKI sejajar dengan rezim fasis ORBA: 
sama-sama salah, sama-sama harus bertanggung jawab!!
Karena sudah begitu banyak tulisan, buku, penelitian yang membuktikan kejahatan 
rezim Suharto dan aparat militer dalam pembantaian 65-66, maka mereka 
mengalihkan perhatian orang kepada peristiwa Madiun, Aksi Sepihak dan 
sebagainya. Bayangkan menuduh PKI melakukan TEROR!!!
Ini kan sama dengan alasan NAZI membunuh orang-orang yahudi karena mereka 
menguasai/berpengaruh dalam ekonomi Jerman ketika itu. Nah, bagaimana dengan 
alasan orang-orang rasis di Indonesia yang mengejar-ngejar dan membunuh orang 
tionghoa karena mereka melihat orang-orang tionghoa menguasai ekonomi 
Indonesia?? Apakah kita bisa juga bilang, salahnya sendiri orang-orang tionghoa 
itu maka dimusuhi orang Indonesia pribumi. Coba pikir, bukankah itu juga logika 
yang dipakai para tentara untuk membenarkan kejahatan pembantaiannya??? Karena 
PKI juga salah, karena bikin terror, karena Aksi Sepihak, karena berontak, ya 
makanya dibunuh!!!
Maka itu saya bilang di antara ex. anggota PKI tidak sedikit yang sudah 
menyeberang dan menempatkan dirinya di barisan kaum reaksioner dan turut 
memutar balik fakta  sejarah dan mengatakan PKI berontak di Madiun!!!!
Pernah saya dengar ada orang yang menggunakan wawancaranya dengan pak 
Soemarsono tapi kemudian di bukunya ia mengubah atau memutarbalik fakta dan 
berkesimpulan PKI berontak di Madiun. Makanya pak Soemarsono marah besar!!! 
Hati-hati dengan orang yang suka bikin wawancara!! Bisa digunakan untuk 
kepentingannya sendiri!!

On Wednesday, October 4, 2017 6:46 AM, "'Chan CT' SADAR@... [temu_eropa]" 
<[email protected]> wrote:


 Entah bagaimana cara memilih dan menemukan 2 KORBAN yang akan dipertemukan 2 
anak Pahlawan Revolusi ini, saya tidak tahu. Tapi, menurut saya, ada baguuusnya 
juga membuktikan KESERAMPANGAN Pemerintah ketika itu, bukan saja main FITNAH 
PKI DALANG G30S, tapi juga serampangan dalam menangkap orang! Jelas Soemini 
sekalipun anggota GERWANI, tapi saat 1 Oktober 1965 sedang berada di Bogor! 
Jadi, menangkapi orang hanya karena tokoh bahkan anggota GERWANI adalah 
KESALAHAN serius yang merupakan kekejaman kemanusiaan, ... menangkap Moh. Tarup 
yang bukan apa-apa tentu lebih salah lagi! Entah kekejaman apa namanya yang 
dilakukan Pemerintah jenderal Suharto ketika itu! Dan, ... ternyata setelah 
lewat 52 tahun Pemerintah berikut yang berkuasa boleh saja menghindari 
tanggungjawab yg harus dilakukan! Tanpa keharusan mengakui Pemerintah terdahulu 
pernah melakukan kejahatan, KESALAHAN pelanggaran HAM, bahkan TIDAK HENDAK 
menyatakan minta maaf pada KORBAN, ...! Dan, ... sampai sekarang BELUM PERNAH 
ada sikap TEGAS Pemerintah untuk MEREHABILITASI para KORBAN-KORBAN yg jumlahnya 
ratusan ribu kalau tidak hendak dibilang jutaan yang diperlakukan semena-mena, 
dianiaya, dipenjarakan bahkan dibantai, dan semua dilakukan TANPA proses hukum! 
Sungguh KETERLALUUAAAN, ...! Salam,ChanCT   From: jonathangoeij@... 
[GELORA45]Sent: Wednesday, October 4, 2017 12:34 AM  
Dia memulai dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa 
dirinya tahun 1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang 
dulu hanya mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga 
anggota PKI hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu 
ditangkap. Karena dituduh sebagai bagian dari PKI. 

Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh 
bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap 
pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET, 
berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat 
negara.

...
Makan malam bersama Gerwani dan anak Pahlawan Revolusi
Minggu, 1 Oktober 2017 08:00Reporter : Anisyah Al Faqir, Angga Yudha Pratomo 
Gerwani bertemu anak jenderal. ©2017 Merdeka.com/dwi narwoko
Merdeka.com - Pandangan Soemini sesekali menengok ke arah jendela. Dua 
tangannya mendekap. Diletakkan di atas paha. Jari-jemarinya tak bisa diam. 
Tatapannya agak sendu. Di dalam mobil lebih banyak diam. Hanya sesekali 
menanggapi pembicaraan. 

Dia mantan anggota Gerakan Wanita (Gerwani), organisasi dimiliki Partai Komunis 
Indonesia (PKI). Kami mengajaknya ke Jakarta dari Pati, Jawa Tengah. Tujuannya 
sederhana. Mempertemukan dia dengan anak Pahlawan Revolusi untuk rekonsiliasi. 
Pertemuan diatur rapih. Di sebuah restoran kawasan Jakarta Pusat. Kami 
memfasilitasi.

Soemini datang didampingi Moh Tarup, eks tahanan politik. Usia mereka sudah 
sepuh. Di atas 70 tahun. Kami menjemput mereka di Pati. Selanjutnya menuju 
Semarang, memakan waktu tiga jam. Kami lalu naik kereta dari Stasiun Semarang 
Tawang menuju Ibu Kota.

Dua anak jenderal Pahlawan Revolusi sebelumnya sudah bersedia menemui. Adalah 
Agus Widjojo dan Catherine Panjaitan. Mereka anak Brigjen Sutoyo Siswomihardjo 
dan Donal Issac (DI) Pandjaitan. Agus dan Catherine memang sudah dikenal lebih 
terbuka dalam masalah ini. Hari Kamis, 28 September 2017 pada jam 5 sore, 
akhirnya dipilih. Keduanya sepakat bertemu Soemini.

Tanggal 28 September 2017, pukul 4 pagi. Soemini dan Moh Tarup tiba di Jakarta. 
Kami menjemput di Stasiun Gambir. Mereka langsung kami antar ke hotel bintang 
dua bilangan Tebet, Jakarta Selatan. Melanjutkan istirahat.Pukul 1 siang, kami 
kembali menjemput Soemini dan Moh Tarup di hotel. Lalu mengajak keduanya ziarah 
ke Taman Makam Pahlawan, Kalibata, Jakarta Selatan. Siang itu Soemini 
mengenakan batik cokelat dan celana panjang berwarna cokelat. Sebuah selendang 
dikalungkan ke lehernya. Rambutnya diikat sebagian. Meski sudah berusia lanjut 
namun tak banyak uban terlihat di rambutnya. Langkahnya pun pelan memasuki 
tempat pertemuan. Sedangkan Moh Tarup memakai batik hijau lengan panjang.

Tujuh makam Pahlawan Revolusi kami sambangi. Tangisan mendadak pecah dari mata 
Soemini di depan makam Jenderal Ahmad Yani. Dia mengirim doa. Lalu berdiri 
menaburkan bunga. Kemudian melanjutkan ke makam para Pahlawan Revolusi lainnya.

Ini pengalaman pertama mereka mendatangi makam para Pahlawan Revolusi korban 
peristiwa 30 September 1965. Selama ziarah, Soemini mengaku tak kuat menahan 
kesedihan. "Seperti merasakan ada sosoknya dekat di diri kita," ucap Soemini 
kepada kami.

Langkah Soemini sebenarnya mulai lemah. Dia sudah diingatkan dokter agar tidak 
berjalan terlalu lama. Tapi tidak ketika berziarah. Dia begitu semangat. Mesti 
harus dipandu bila tengah menaiki anak tangga.

Setengah jam kemudian, ziarah usai. Kami sengaja beristirahat sejenak. Mencari 
tempat makan di sekitar Tebet, Jakarta Selatan. Karena siang itu cuaca cukup 
cerah. Sambil menunggu waktu pertemuan dengan para anak jenderal Pahlawan 
Revolusi. Sekitar pukul 3 sore, kami langsung menuju lokasi pertemuan.Soemini 
dan Moh Tarup tiba di lokasi setengah jam lebih awal. Kami kembali mengajaknya 
beristirahat. Sambil minum teh manis hangat. Wajah Soemini terlihat mulai 
gugup. Waktu pertemuan semakin dekat. Kami lantas mengajak mereka ruangan 
pertemuan. Naik lift ke lantai 3. Namun, keduanya tiba-tiba berpapasan dengan 
Agus Widjojo. Mereka kaget. Ini pertemuan pertama mereka. Kami memperkenalkan 
keduanya kepada Agus. Sedangkan Catherine sudah menunggu di ruangan.

Tepat pukul 5 sore pertemuan berlangsung. Tiba di ruangan, Soemini kembali 
kaget. Dia senang bisa bertemu dengan Catherine. Mereka berpelukan. Suasana 
semakin hangat dan cair. Dalam ruangan, Soemini dan Moh Tarup duduk 
bersebelahan. Mereka satu meja makan berbentuk bulat bersama Agus dan 
Catherine. Selain itu juga hadir Ketua Forum Silaturahmi Anak Bangsa (FSAB) 
Suryo Susilo dan Mayang Pandjaitan, putri Catherine sekaligus cucu DI 
Pandjaitan. Hadir pula Pemimpin Redaksi merdeka.com, Wens Manggut di tengah 
mereka.

Soemini diberikan kesempatan pertama berbicara. Hanya satu keinginannya bertemu 
anak jenderal Pahlawan Revolusi. Menjelaskan bahwa dirinya tak pernah ikut 
membunuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya ketika peristiwa kelam 1 Oktober 
1965.

"Saya dituduh ikut membunuh jenderal, mencungkil mata dan menyayat penis 
mereka. Itu tidak benar," kata Soemini dalam pertemuan itu. Selanjutnya 
pembicaraan berlangsung santai. Soemini mengaku tak percaya bisa bertemu dengan 
anak para Jenderal. Suasana pun menjadi haru.

Dia melanjutkan menceritakan kehidupannya dulu dan sekarang. Masa kelamnya 
ketika itu, Soemini mengaku pernah ditahan tanpa diadili selama 6,5 tahun. 
Sebagai anggota Gerwani, dia pernah menjabat Ketua ranting Gerwani Desa 
Ngerandu, Pati.

Keterlibatannya dalam organisasi Gerwani membuatnya ikut dituduh sebagai pelaku 
pembunuhan enam jenderal dan satu perwira. Padahal saat kejadian, Soemini 
tengah berada di Bogor untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

"Saya memang ikut Gerwani, jujur. Saya ikut Gerwani itu tidak karena paksaan," 
ungkap Soemini.

Mendapatkan kesempatan bertemu dan berbincang dengan Agus dan Catherine, 
Soemini pun tak kuasa menahan air mata. Tangisannya kembali pecah. Sebab selama 
ini dia hanya bisa membayangkan bertemu sedekat ini.

Meski merasa korban, namun dari kaca matanya, Soemini merasa para anak jenderal 
senasib. Apalagi mereka menyaksikan bagaimana ayahnya dibunuh di depan mata.

"Mari kita bersama-sama mengisi kemerdekaan itu bersama-sama. Mari kita selalu 
bergandengan tangan, kita lepaskan dan kita merajut kembali kebersamaan dan 
kita lepaskan itu hal-hal yang dulu, itu harapan kami," ujar Soemini mengakhiri 
pernyataannya sambil mengelap tisu ke mata.Selanjutnya satu per satu diberikan 
kesempatan berbicara. Moh Tarup giliran selanjutnya. Sebelum berbicara, Tarup 
membenarkan posisi duduk. Kedua tangannya mendekap di atas meja.Dia memulai 
dengan memperkenalkan diri. Kemudian Moh Tarup menceritakan bahwa dirinya tahun 
1965 hanyalah kuli. Kehidupannya sangat sederhana karena memang dulu hanya 
mengenyam Sekolah Rakyat. Dia ditangkap lantaran bosnya diduga anggota PKI 
hilang bersembunyi. Di rumah itu hanya ada Moh Tarup. Dia lalu ditangkap. 
Karena dituduh sebagai bagian dari PKI. 

Selama menjalani hukumannya, Moh Tarup menceritakan kerap disiksa dan disuruh 
bekerja secara paksa. Setelah dibebaskan, dia harus tetap wajib lapor tiap 
pekan ke Koramil. Kartu Tanda Penduduk (KTP) miliknya pun diberi tanda ET, 
berarti mantan tahanan politik. Bahkan di usia senjanya, dia diawasi aparat 
negara."Kemarin-kemarin itu saya didatangi intel, katanya (punya) kaos palu 
arit. Saya bilang di desa saya tidak ada palu arit," cerita Moh Tarup. Meski 
terus mendapatkan pengawasan, namun dirinya sempat beberapa kali mendapatkan 
bantuan sembako dari tentara.

Usai Soemini dan Tarup menyampaikan pernyataannya, kini anak para jenderal 
mendapat giliran. Kesempatan pertama diberikan kepada Agus. Namun, dia menolak. 
Agus melempar kesempatan kepada Suryo Susilo untuk memberikan tanggapan.

Dalam kesempatan itu, Suryo menerangkan bahwa proses rekonsiliasi sebenarnya 
sudah berjalan dengan hadirnya FSAB. Forum ini digagas almarhum Taufik Kemas, 
suami Megawati Soekarnoputri saat menjabat sebagai ketua MPR. Suryo juga 
menjelaskan bahwa dalam proses rekonsiliasi sudah tak lagi mencari pihak salah 
atau benar.

Lalu giliran Catherine. Dia juga memberikan tanggapan dari kisah Soemini dan 
Moh Tarup. Putri DI Pandjaitan itu meminta keduanya tidak rendah diri lantaran 
pernah menjadi tahanan politik dan dituduh membunuh para jenderal. Dengan 
bijak, Catherine mengajak Soemini dan Tarup tak lagi kembali terjebak dengan 
masa lalu.

"Kalau menurut saya ibu sudah jangan terlalu rendah diri. Kita berpikirnya maju 
ke depan," ucap Catherine.Catherine lalu menceritakan kehidupannya setelah 
menyaksikan ayahnya tewas di rumahnya sendiri. Dia menjelaskan bahwa 
kehidupannya pun hancur setelah kematian ayahnya. Bahkan dia mengaku sering 
berusaha untuk bunuh diri dengan cara menyilet kedua lengannya. Hingga 
mengalami depresi selama 20 tahun.

Trauma berkepanjangan itu membuat Catherine tak bisa mengendalikan diri. Dia 
kerap meledak-meledak. Bahkan lupa bahwa dirinya adalah seorang perempuan, 
seharusnya bersikap lemah lembut dalam bertutur kata dan bersikap. Sebab 
sebelum kematian ayahnya, Catherine muda dikenal periang. Dia pun membenci 
perubahan sikapnya itu. 

"Saya sendiri susah sama diri saya sendiri, mengontrol diri saya dan saya tahu 
saya menyakiti orang," kata Catherine sambil menepuk-nepuk dada.

Sebagai sulung, kata Catherine, belum semua adiknya telah selesai dengan masa 
lalu tersebut. Hingga kini salah satu adiknya itu masih memiliki luka dan 
kebencian terhadap para pelaku pembunuhan ayahnya. Catherine juga menceritakan 
bagaimana ibunya setiap pekan selama 10 tahun selalu mendatangi makam ayahnya 
dan menangis. Sebab, di rumah ibunya berusaha untuk tidak menunjukkan kesedihan 
di hadapan semua anaknya. Meski begitu Catherine mengaku telah memaafkan masa 
lalunya.

Kini giliran Agus angkat bicara. Dia hanya menjelaskan bahwa dirinya berupaya 
untuk bersikap rasional setelah kematian sang Ayah, Brigjen Sutoyo 
Siswomihardjo. Sebab, putra sulung dan menggantikan posisi ayahnya di keluarga. 
Berbicara soal kabar penyiksaan dialami ayahnya di Lubang Buaya, Agus berusaha 
untuk rasional. Terlebih di awal tahun 2000 saat hasil visum et repertum 
menyatakan bahwa penyiksaan berupa pemotongan alat kelamin tidak pernah ada. 
Hanya ada luka tembak dan tusukan benda tajam di tubuh para Pahlawan Revolusi.

"Saya percaya itu, Saya percaya bahwa tidak ada pencukilan mata, pemotongan 
alat kelamin itu tidak ada," kata Agus. 

Hasil visum tersebut menurutnya sudah cukup untuk menggambarkan bahwa ayahnya 
mati karena pembunuhan. Agus mengaku tak perlu lagi mengetahui bagaimana 
kematian sang ayah 52 tahun silam. Termasuk mencari tahu siapa melakukan itu 
kepada ayahnya.

Di samping itu, Agus juga menjelaskan bahwa sebelum tragedi 1965, PKI pernah 
terlibat konflik berdarah. Menjadi dalang pelbagai pemberontakan. Seperti 
terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948 dan aksi sepihak di Aceh. 

Saat itu, kata Agus, PKI pernah bersikap sombong, mengintimidasi dan melakukan 
aksi teror kepada masyarakat. Sehingga PKI bersama gerakannya telah lebih dulu 
menanamkan kebencian kepada masyarakat. Hal ini lantas tercium tentara angkatan 
darat. Mereka tak ingin kecolongan di tengah kabar bahwa kesehatan Presiden 
Soekarno terus menurun dan diperkirakan akan meninggal dalam waktu dekat. 

Selain ada kepentingan politik, angkatan darat menilai PKI adalah anak emas 
Soekarno. Ini setelah diketahui adanya poros Jakarta-Beijing-Jogja. "Nah, ini 
masalahnya politik berebut kekuasaan. Kalau Bung Karno meninggal siapa yang 
akan merebutnya," ujar Agus.

Terlepas dari berebut kekuasaan di masa lalu, Agus menilai sudah tak perlu lagi 
memperdebatkan siapa harus bertanggung jawab atas praha telah menelan ribuan 
korban. Sebagai generasi penerus, Agus justru mengajak menatap masa depan dan 
menanggalkan perjalanan pahit masa lalu.Agus mengaku sudah selesai dengan masa 
lalunya. Pelbagai upaya rekonsiliasi telah dilakukan. "Tantangannya sekarang 
adalah menggulirkan perdamaian ini untuk menjadi gerakan nasional. Rekonsiliasi 
harus menjadi gerakan sosiokultural."

Rekonsiliasi, dalam pandangan Agus, merupakan bentuk rasa saling percaya. 
Caranya dengan melakukan pengakuan dari tiap pihak tentang kesalahan pernah 
dilakukan dan mengambil tanggung jawab atas semua kejadian. Hal ini tidak akan 
mencapai titik temu bila semua masih menempatkan posisi sebagai korban tanpa 
mengakui kesalahan. 

Lebih kurang 1,5 jam mereka berbincang. Sambil menyantap hidangan pembuka roti 
cane kuah kari. Waktu menunjukkan pukul 18.30. Perbincangan mereka selesai 
untuk sementara. Sebagian izin melakukan ibadah salat Magrib.Tepat pukul 7 
malam, pertemuan dilanjutkan. Sekaligus menutup pertemuan mereka dengan 
menyantap hidangan utama. Mereka makan satu meja dengan menu nasi goreng, udang 
goreng, ikan kerapu hingga ayam. Hidangan malam itu terlihat menggugah selera.

Selama makan malam, mereka tampak berbincang ringan. Bahkan Catherine sempat 
memberikan resep obat herbal kepada Soemini untuk mengobati asam urat. Resep 
itu segera dicatat. Catherine mengaku sudah bertahun mengonsumsi ramuan herbal 
itu. Hasilnya tidak lagi mengalami penyakit tersebut.

Setelah itu mereka saling bertukar nomor telepon dan foto bersama. Pada sesi 
foto bersama, mereka tampak akrab. Bahkan Catherine dan Soemini berpose sambil 
rangkulan. Keduanya tampak bahagia. Hal serupa terlihat pada tamu undangan 
lainnya. Mereka menutup pertemuan ini dengan suasana hangat dan diselingi tawa 
antar mereka. [ang]


Kirim email ke