*Seandainya Freeport tidak mau menjual 51% sahamnya , lantas apa yang bisa
dilakukan?*


http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/10/05/oxba8s414-perundingan-dengan-freeport-ikut-kedepankan-penerimaan



Kamis , 05 October 2017, 01:40 WIB
Perundingan dengan Freeport Ikut Kedepankan Penerimaan

Red: Reiny Dwinanda

Antara/Akbar Nugroho Gumay


REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati
mengatakan perundingan yang dilakukan pemerintah dengan Freeport ikut
mengedepankan adanya kepastian dari penerimaan negara.

"Untuk kepastian investasi dan penerimaan negara, Kemenkeu merupakan 'lead'
dan dalam hal ini kami melakukan formulasi berdasarkan UU Minerba Nomor 4
Tahun 2009," kata Sri Mulyani di Jakarta, Rabu.

Sri Mulyani mengatakan dalam negosiasi tersebut pemerintah mengacu pada
pasal 128 UU Minerba untuk perlakuan fiskal bagi Izin Usaha Pertambangan
(IUP) dan Izin Usaha Pertambangan Khusus (IUPK).

Sedangkan pemerintah berpegang pada pasal 169 UU Minerba atas pungutan
biaya lainnya seperti cukai, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) maupun
pendapatan daerah yang tidak secara eksplisit diatur dalam UU tersebut.

"Khusus untuk pasal 169 pengecualian terhadap penerimaan negara sebagaimana
dimaksudkan untuk kontrak karya tersebut adalah dalam rangka untuk
meningkatkan penerimaan negara yang harus lebih banyak," ujarnya.

Saat ini, kata Sri Mulyani formulasi dari penerimaan negara tersebut sedang
dalam diskusi lebih lanjut, karena pendapatan ini terdiri dari banyak
detail seperti Pajak Penghasilan (PPh), Pajak Pertambahan Nilai (PPN),
Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), royalti dan pajak daerah.

"Tidak ada hal yang sifatnya rahasia atau konsensi yang diberikan tidak
hanya untuk satu perusahaan. Ini untuk seluruh perusahaan yang bergerak di
Minerba yang memang diatur dalam berbagai macam rezim, mulai dari Kontrak
Karya, PKP2B, kemudian ada yang hijrah menjadi IUP maupun IUPK," ujarnya.

Meski formulasi penerimaan negara bagi perusahaan tambang tersebut sedang
dirumuskan, ia menegaskan potensi penerimaan dari sektor minerba ini harus
lebih besar daripada periode terdahulu.

"Kita berharap ini tetap sesuai dengan semangat bahwa kepentingan RI adalah
dari sisi penerimaan negara, bukan hanya satu item saja. Penerimaan negara
itu harus lebih besar di rezim yang sekarang dibandingkan rezim
sebelumnya," ujarnya.

XXXXXXXXXXX

http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/10/05/oxcs1t382-negosiasi-dengan-freeport-jokowi-saya-yakin-winwin



Kamis , 05 October 2017, 20:56 WIB
Negosiasi dengan Freeport, Jokowi: Saya Yakin *Win-Win*

Rep: Halimatus Sa'diyah/ Red: Nur Aini

Antara/Asep Faturahman

[image: Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno
(kanan) dan Bupati Serang Tatu Chasanah (kedua kanan) berbincang dengan
Dirut PT PLN Sofyan Basir (kedua kiri) saat meninjau lokasi proyek PLTU
(Pembangkit Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, Kamis
(5/10).]

Presiden Joko Widodo (kiri) didampingi Menteri BUMN Rini Soemarno (kanan)
dan Bupati Serang Tatu Chasanah (kedua kanan) berbincang dengan Dirut PT
PLN Sofyan Basir (kedua kiri) saat meninjau lokasi proyek PLTU (Pembangkit
Listrik Tenaga Uap) di Desa Terate, Serang, Banten, Kamis (5/10).


REPUBLIKA.CO.ID, SERANG -- Presiden Joko Widodo (Jokowi) menanggapi
dinamika proses negosiasi yang tengah dilakukan pemerintah dengan PT
Freeport Indonesia terkait divestasi saham. Ia optimistis, negosiasi
tersebut pada akhirnya akan menghasilkan kesepakatan yang sama-sama
menguntungkan bagi kedua pihak.

"Saya yakin *win-win* lah. Saya yakin akan selesai," ujar Presiden, pada
wartawan di Serang, Banten, Kamis (5/10).

Jika saat ini negosiasi berjalan alot, ia memandang hal tersebut sebagai
hal yang wajar. Presiden yakin, tidak lama lagi proses itu akan selesai.
"Sudah tiga tahun *kok* ini *ngotot-ngototan* masalah negosiasi. Dan ini
hampir final," ucapnya.

Presiden mengatakan, dalam waktu dekat ia berencana mengumpulkan
menteri-menteri terkait untuk membahas lebih lanjut mengenai divestasi
saham Freeport serta hak dan kewajiban perusahaan asal Amerika tersebut
jika kontraknya beroperasi di Indonesia diperpanjang.

Namun begitu, Jokowi tidak mau memberi target kapan negosiasi harus
mencapai keputusan. "Kita ingin secepat-cepatnya. Sudah tiga tahun kita
bicara ini. Tapi *kan* kita juga *nggak* mau kalau tidak dapat *win,"* kata
dia.

Kirim email ke