----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: 
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Kamis, 5 Oktober 2017 21.56.26 
GMT+2Judul: [GELORA45] Antara Sukarni dan Sukarno
     



Antara Sukarni dan Sukarno
Sukarno-Sukarni, laksana sepasang kakak-beradik dalam perjuangan kemerdekaan.

MF MukthiMinggu 28 April 2013 WIB

SUKARNI, bersama Adam Malik, Chaerul Saleh, dan Wikana, “menculik” Sukarno dan 
Hatta ke Rengasdengklok sehari sebelum proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. 
Peran istrinya, Nursjiar Machmoed, tak bisa diabaikan begitu saja.

“Di rumah ada dua anak. Bapak berani bilang saya begini, saya begitu itu karena 
di rumah ada mama. Kalau mama nggak ada, dengan anak dua, apa berani Bapak? 
Nggak berani,” kata Emalia Iragiliati Sukarni, putri Sukarni, dalam peluncuran 
bukunya, Sukarni dan Actie Rengasdengklok, di Museum Perumusan Naskah 
Proklamasi, Jakarta (20/4/2013).

Namun, Emalia mengatakan dia tak pernah mendengar cerita soal pekerjaan ataupun 
kiprah ayahnya. Dia pernah bertanya, semisal, kenapa ayahnya dipenjara Sukarno 
tapi dia tak mendapat jawaban memuaskan. Ayahnya selalu menjawab singkat dan 
menutup kesempatan untuk bertanya lagi. Di sisi lain, orangtuanya menjadikan 
rumah steril dari urusan politik.

Sukarni lahir di desa Sumberdiren, Blitar, Jawa Timur, pada 14 Juli 1916. Dia 
anak dari pasangan seorang warok, Dimun Kartodiwirjo dan Supiah. Darah 
“perlawanan” mengalir dari kakeknya di pihak ayah, Onggomerto, seorang pengawal 
setia Pangeran Diponegoro. Namun, justru ibunya yang menjaga darah “perlawanan” 
tetap mengalir dalam diri Sukarni.

Sukarni terjun ke dalam pergerakan kemerdekaan sejak usia belasan. Atas 
dorongan Ibu Wardoyo, kakak Sukarno, Sukarni ikut pendidikan jurnalistik di 
Bandung di bawah bimbingan Sukarno. “Perkenalan dengan keluarga Bung Karno 
sejak berusia 14 tahun tersebut merupakan awal dari kedekatan Sukarni dengan 
Bung Karno,” tulis Emalia.

Pada 1930, Sukarni menjadi anggota Perhimpunan Pemuda Pelajar Indonesia (PPPI). 
Empat tahun kemudian dia menjadi ketua pengurus besar PPPI. Tak puas dengan 
PPPI, dia mendirikan Persatuan Pemuda Kita yang terbuka bagi pelajar dari 
sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pada 1936, dia aktif menyebarkan 
pemikiran Tan Malaka melalui brosur atau pamflet secara klandenstin. Setahun 
kemudian, dia menjadi ketua umum Indonesia Muda, fusi dari beberapa organisasi 
pemuda.

Pada masa pendudukan Jepang, dia bersama temannya mendirikan sekolah untuk 
kaderisasi pemuda dengan gurunya antara lain Sukarno. Kala itu dia bekerja di 
kantor berita Antara yang berganti nama menjadi Domei, tempat dia berkenalan 
dengan Adam Malik dan beberapa pemuda lain. Aktivitas politik Sukarni kian 
meningkat.

Sewaktu kabar kekalahan Jepang dalam Perang Pasifik samar-samar terdengar, 
Sukarni dan beberapa pemuda radikal mendesak kemerdekaan segera 
diproklamasikan. Mereka menculik Sukarno-Hatta ke Rengasdengklok. Sempat 
terjadi silang pendapat antara kedua generasi itu, Sukarno-Hatta akhirnya 
setuju dan keesokan harinya membacakan proklamasi.

Bersama Wikana dan Chaerul Saleh, Sukarni lalu membentuk Komite van Aksi dan 
Angkatan Pemuda Indonesia (API). Dia juga memobilisasi kalangan buruh dengan 
membentuk Barisan Buruh Indonesia. Sukarni, Adam Malik, dan Chairul Saleh lalu 
bergabung ke dalam Persatuan Perjuangan, organisasi oposisi terbesar yang 
didirikan Tan Malaka pada 1946.

“Selain Bung Karno, Pak Tan (Malaka) merupakan idola Sukarni,” tulis Emalia. 
“Kedekatan Sukarni dengan Pak Tan baru terlihat sewaktu didirikannya Partai 
Murba (7 November 1948).” Partai Murba merupakan gabungan dari Partai Rakyat, 
Partai Buruh Murba, Partai Rakyat Djelata, dan Permi (Persatuan Rakyat Marhaen 
Indonesia).

Setelah Pemilu 1955, Sukarni terpilih menjadi anggota Konstituante dan Badan 
Pekerja KNIP. Setelah itu, dia menjadi anggota DPA. Antara 1961-1964, Sukarni 
menjabat duta besar di Republik Rakyat Tiongkok dan Mongolia.

PKI menyebut Partai Murba penganut ajaran Trotsky. Atas desakan PKI, Sukarno 
membekukan Partai Murba pada September 1965 karena dituduh terlibat dalam 
Barisan Pendukung Soekarnoisme (BPS), mendukung Manifesto Kebudayaan, dan 
menerima uang US$100 juta dari CIA untuk menggulingkan Presiden Sukarno. 
Sukarni ditahan pada 15 Januari 1965.

“Sukani ditahan oleh orang-orang yang diplih namanya untuk dicantumkan dalam 
naskah proklamasi kemerdekaan. Namun, tidak ada rasa dendam pada orang-orang 
yang memenjarakannya,” tulis Emalia.

Setelah Sukarni keluar pejara, Sukarno merehablitiasi Partai Murba melalui 
Keputusan Presiden No. 223 tahun 1966 pada 17 Oktober 1966.

“Pertengkaran antara Sukarno-Sukarni sering terjadi, walaupun mereka sebagai 
kakak-beradik karena hampir serupa dan senama,” kenang Adam Malik dalam 
memoarnya Mengabdi Republik. “Namun demikian Sukarno-Sukarni, laksana sepasang 
kakak-beradik dalam perjuangan kemerdekaan, akan selalu terkenang dalam ingatan 
saya, yang satu berpici hitam dan yang satu lagi berpici merah, yang 
seakan-akan merupakan lambang dari kepribadian mereka masing-masing. Sama-sama 
tampan tapi juga sama-sama keras seolah-olah tak akan pernah ada titik-temu di 
antara mereka.”

Setelah Sukarno jatuh, Sukarni masih sempat menjadi anggota Dewan Pertimbangan 
Agung pada 1967. Namun kehilangan istrinya, yang meninggal pada 1967, membuat 
hidupnya lebih sepi. Dia bertahan hingga ajal menjemputnya pada 7 Mei 1971.

    

Kirim email ke