*Sendiwara Tingkat Tinggi ini tidak lain dari pada kaum neo-Mojopahit
bermain cakar-cakan antara mereka sendiri. Mereka yang bukan kaum
neo-Mojopahit penonton bisu, tuli dan Lagi lemah syahwat di kelas kambing.
Hehehehehehe*



https://www.eramuslim.com/berita/analisa/waspada-bersandiwara-tingkat-tinggi.htm#.WdjRrDBx12
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/waspada-bersandiwara-tingkat-tinggi.htm#.WdjRrDBx12E>
Waspada, Sandiwara Tingkat Tinggi!

302
<https://www.eramuslim.com/berita/analisa/waspada-bersandiwara-tingkat-tinggi.htm#>

Redaksi – Sabtu, 10 Muharram 1439 H / 30 September 2017 02:00 WIB


Eramuslim.com -Seolah-olah ada pertentangan antara Gatot Nurmantyo dan
Jokowi yang diwakili Wiranto, demikian asumsi kebanyakan kita. Popularitas
Gatot terus diikuti elektabilitasnya, mengingat tahun depan Indonesia
memasuki tahun politik.

Jokowi tampak nyaman dengan peristiwa ini. Mengapa Jokowi nyaman?

Pernyataan Gatot Nurmantyo sangat jelas dengan terang menunjukkan
loyalitasnya pada Jokowi. Sayangnya dari sekian kalimat, kebanyakan hanya
fokus pada 5000 senjata yang berencana diimpor secara ilegal. Sesuatu yang
jelas-jelas sudah batal dilakukan.

Pandangan saya berkata lain, kegaduhan ini hanyalah sandiwara politik
Jokowi-Gatot sebagai pasangan Capres-Cawapres. Sebuah situasi yang
merugikan Prabowo yang berencana kembali bertarung pada pilpres 2019.

Pendukung Prabowo ikut larut dalam suasana sandiwara politik tersebut.

Pengkondisian ini sudah dengan matang direncanakan dan dilakukan. Selain
itu, pemutaran film klasik G30s/PKI ternyata bukan hanya dilakukan
institusi TNI. Kampus yang merupakan institusi dibawah kemendiknas pun
melaksanakan hal yang sama, bahkan kampus memberikan sertifikat bagi
mahasiswa yang menonton.

Maknanya apa, Jokowi dan Gatot Nurmantyo sejatinya tidak berseteru.
Indikasi lainnya ialah terkait isu PKI, Jokowi telah sejak lama menyatakan
akan menggebuk PKI. Itu artinya Jokowi dan Gatot sedang berspekulasi dengan
isu tersebut. Soetiyoso mantan kepala BIN pun senada dengan mereka terkait
isu PKI.

Gatot Nurmantyo pun telah meluruskan bahwa dirinya tak pernah rilis ke
media. Pernyataan itu dengan sendirinya bukan pernyataan resmi Panglima
TNI. Sebelumnya Panglima TNI ini juga cukup cakap berada disisi umat Islam.
Namanya mulai berkibar seiring dukungan retorisnya pada aksi-aksi umat
Islam. Melalui Gatot Nurmantyo, Jokowi menjadi Presiden pertama yang berada
ditengah jutaan umat Islam.

Pernyataan Gatot Nurmantyo sejatinya harus direspon Jokowi dengan
pemanggilan dan bila itu pernyataan ngawur maka aksi pecat harus dilakukan.
Namun Jokowi membiarkan kita semua berpolemik melalui dua pernyataan
Jenderal. Jokowi sangat cerdik dalam hal ini, sukses mengkotak-kotakan
lawan-lawan politik.

Isu krusial seperti bertambahnya hutang, freeport, kreta api cepat,
Meikarta, akhirnya lenyap. Masyarakat bahkan intelektual terus fokus pada
isu abstrak. Isu PKI dan senjata ilegal, isu yang terlalu dibesar-besarkan.
Soal PKI misalnya, TNI dan Polri bisa menangkap mereka tanpa perlu wacana
segala.

Terjebaknya masyarakat dan lawan politik Jokowi pada isu abstrak, tentu
sangat menguntungkan Jokowi. Mereka yang berpakaian atau bertato palu-arit
dianggap PKI, sama halnya ketika bendera berlambang ke-Islaman dianggap
ISIS atau Islam Radikal. Sesuatu yang dangkal dalam menilai.

Jokowi dan Gatot Nurmantyo sebaiknya hentikan sandiwara politik, jangan
kotak-kotakan rakyat dengan manuver dan isu sensitif.

Lawan-lawan politik Jokowi jangan tidur, lihatlah dengan jernih sandiwara
politik yang sedang berlangsung. [jk/krf]

Oleh: Don Zakiyamani  – Ketua Umum Jaringan Intelektual Muda Islam (JIMI)

Source link
<https://www.konfrontasi.com/content/opini/sandiwara-politik-jokowi-gatot>

Tulisan ini dibuat agar umat Islam berhati hati agar tidak lagi hanya
menjadi pendorong mobil dan akhirnya kembali lagi terkecewakan di kemudian
hari. Pilpres mendatang akan membuktikan, apakah Jenderal Gatot segerbong
Jokowi atau tidak , smoga tidak…

Resensi Buku : API Sejarah, Kini Hadir Kembali dalam Hardcover
<https://www.eramuslim.com/resensi-buku/167492.htm>

Kirim email ke