"Proposal yang dulu diajukan paramenteri Jokowi dan Rizal menolaknya, 
kembali diajukan dan akhirnya ‘di-acc’Jokowi."
Begitulah cara kerja imperialis dalam memaksakan kehendak. 
Seperti halnya reklamasi Teluk JKT, pro-kontra diendapkan dulu 
lalu ditimbun dengan berbagai masalah. Ketika kepepet lagi di 
masalah lain, maka masalah-masalah yang ditenggelamkan akan 
diangkat lagi satu-persatu dengan kemasan baru, "masalah selesai". 
Dan kehendak pun tercapai.
-
Rizal Ramli: Kejam, Biaya Bayar Listrik diNegeri Ini Lebih Mahal dari Biaya 
Makan Oktober 8, 2017 12:40
Jakarta, Aktual.com – Menteri Koordinator Perekonomian di era Gus Dur danekonom 
senior Rizal Ramli sejak duduk di pemerintahan Joko Widodo sangat getolmenolak 
kenaikan tarif dasar listrik (TDL) 900 volt ampere. Dia pun menyarankanskema 
jitu untuk mendulang keuangan PLN, tanpa harus menaikkan TDL. Namun sayangnya, 
selepas diadilengserkan dari Kabinet Jokowi, TDL 900 VA dinaikkan di awal tahun 
ini.Proposal yang dulu diajukan para menteri Jokowi dan Rizal menolaknya, 
kembalidiajukan dan akhirnya ‘di-acc’ Jokowi. “Waktu saya di kabinet (Jokowi) 
sayangotot untuk menolak TDL naik. Tapi mereka (menteri ekonomi Jokowi) 
mengusulkanuntuk mencabut subsidi. Dalihnya, banyak yang dapat subsidi ini 
ternyata bukanorang miskin. Karena tidak terdaftar di daftar orang miskin. 
Kalau begitu, itudaftarnya yang ngaco. Bukan listrik malah naik,” kritik Rizal 
di Jakarta,ditulis Minggu (8/10). Apalagi, bagi dia, penerima listrik 450VA itu 
sudah pasti miskin, sedang yang 900 VA itu ‘near poor’ atau nyarismiskin. Jadi 
kebijakan menaikkan tarif dasar listrik itu sangat salah. “Saya mohon maaf. 
Saya tidak setujupemerintah mau menaikkan listrik 450 VA dan 900 VA. Kenapa? 
Kalau rakyatgunakan 450 VA. Itu sudah pasti miskin. Itu hanya tiga titik lampu, 
kulkaskecil kalau ada. Dan kalau mau nyetrika harus nyabut yang lain dulu, masa 
itudisebut orang kaya,” tandas RR, panggilan akrabnya. Sementara,kata dia, 
untuk kapasitas 900 VA itu kategorinya nyaris miskin. Dan begitu adaharga naik, 
itu langsung jatuh miskin. Memang ada tiga persenan orang yangpengguna listrik 
ini punya rumah kos-kosan. Akan tetapi hal itu tak signifikan. Jadikelompok 
yang near poor yang kebanyakan kelas menengah itu sangat dipusingkandengan 
kenaikan TDL 900 VA ini. Karena mereka harus bayar rumah kontrakan sekitarRp1 
juta. Tadinya yang harus bayar listrik Rp300 ribu naik menjadi Rp900 ribu.Dan 
sisa dari penghasilan mereka itu tinggal Rp1,1 juta untuk transport danmakan. 
“Artinya,mereka makan dan keluarganya bisa dengan mie saja. Mana ada negara di 
dunia inidimana biaya listrik lebih tinggi dari ongkos makan. Kejam itu,” 
semprot RR. Sementarakalau pun lakukan kebijakan kenaikan TDL, BUMN listrik itu 
cuma akan dapattambahan Rp20 triliun. Tapi konsekeunsinya menambah orang miskin 
baru. “Tapi adakebijakan lain seperti efisiensi PLN dan nego ulang dengan pihak 
yang terkaitdengan PLN itu bisa mencapai dana tambahan Rp65 triliun,” katanya. 
(Reporter:Busthomi)(IsmedEka Kusuma)

Kirim email ke