https://www.merdeka.com/peristiwa/kronologi-terbongkarnya-kebohongan-dwi-hartanto-ahli-dirgantara.html?utm_source=Notification&utm_medium=Mdk-notif&utm_campaign=Mdk-Notification



Kronologi terbongkarnya kebohongan Dwi Hartanto 'ahli dirgantara'

Senin, 9 Oktober 2017 10:44 Reporter : Muhamad Agil Aliansyah
<https://www.merdeka.com/reporter/muhamad-agil-aliansyah/>



Dwi Hartanto. ©2017 Merdeka.com

*Merdeka.com - *Sosok Dwi Hartanto, tengah menjadi sorotan setelah skandal
kebohongannya terkuak ke publik. Ilmuwan yang tengah menempuh pendidikan di
negeri kincir angin itu sebelumnya mengklaim sebagai kandidat profesor di
Technische Universitet (TU) Delft, Belanda, serta diminta untuk
mengembangkan pesawat jet tempur generasi ke enam.

Aksi tipu-tipu dilakukan Dwi Hartanto sebetulnya telah diketahui lama oleh
rekannya sesama warga Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar
Indonesia (PPI) di Belanda. Bahkan, teman-temannya telah mengingatkan Dwi
untuk menghentikan aksi kehohongannya.

"Teman-teman DH yang mengetahui latar belakangnya sudah tahu lama. Hanya
mereka tidak bisa speak up. Perlu courage," kata Deden Rukmana
<https://www.facebook.com/deden.rukmana/posts/10155754459164185>, anggota
Ikatan Ilmuwan Indonesia Internasional (I-4) saat dihubungi merdeka.com
melalui email [email protected], Senin (9/10).

Menurut Deden, amarah kolega terhadap Dwi Hartanto memuncak hingga
memberikan informasi mengenai sepak terjang pria yang sempat dijuluki
sempat dijuluki sebagai The Next BJ Habibie kepada anggota grup I-4 yang
tergabung dalam grup aplikasi WhatApss. Informasi mengenai kebohongan Dwi
kemudian ditelusuri anggota I-4 dengan membentuk tim dengan Deden salah
satu anggotanya.

"Rasa kebanggaan dan kekaguman saya terhadap Dwi Hartanto 'terganggu'
ketika saya menerima rangkaian pesan dari WA group Pengurus I-4 yang
membahas tentang yang bersangkutan. Pada tanggal 10 September 2017 lalu,
salah seorang anggota pengurus I-4 secara terpisah mengirimkan dua dokumen
lengkap berisikan investigasi terhadap beragam klaim yang dibuat oleh Dwi
Hartanto," tulis Deden dalam akun *Facebook*
<http://www.merdeka.com/tag/f/facebook/>-nya seperti dikutip merdeka.com.

Dalam tulisannya Deden menyebut, dokumen pertama terdiri 33 halamam
berisikan beragam foto-foto aktivitas Dwi Hartanto termasuk dari halaman
Facebook-nya, link ke berbagai website tentangnya. Termasuk transkrip
wawancara dengan Mata Najwa pada bulan Oktober 2016 hingga korespondensi
email dengan beberapa pihak untuk mengklarifikasi aktivitas yang diklaim
oleh Dwi Hartanto.

"Dokumen kedua sebanyak 8 halaman berisikan ringkasan investigasi terhadap
klaim yang dibuat oleh Dwi Hartanto termasuk latar belakang S1, usia, roket
militer, PhD in Aerospace, Professorship in Aerospace, Technical Director
di bidang rocket technology and aerospace engineering, interview dengan
media international, dan kompetisi riset," kata Deden, yang merupakan
Professor dan koordinator program Urban Studies and Planning Savannah State
University, Amerika Serikat ini.

Deden melanjutkan, kedua dokumen tersebut disiapkan oleh beberapa teman
Indonesia di TU Delft yang mengenal Dwi Hartanto secara pribadi.
Rekan-rekan Dwi Hartanto lantas mencari cara untuk menghentikan aksi
penipuan publik ini dengan menghubungi Deden hingga ditulisnya melalui akun
media facebooknya.

"Saya menilai mereka sebagai pihak yang mengetahui kebohongan publik yang
dilakukan oleh Dwi Hartanto dan menginginkan agar kebohongan ini
dihentikan. Mereka sudah menemui Dwi Hartanto dan memintanya agar
meluruskan segala kebohongannya tetapi tidak ditanggapi dengan serius oleh
yang bersangkutan," kata Deden.

Dwi Hartanto sendiri telah menyampaikan permohonan maafnya. Dia mengakui
memberikan informasi yang tidak benar, tak akurat dan cenderung
melebih-lebihkan. Khususnya soal prestasinya di bidang dirgantara dan
keilmuan soal roket.

"Saya minta maaf yang sebesar-besarnya," kata Dwi seperti dimuat dalam
halaman PPI Delft.

Beberapa klarifikasi yang disampaikan Dwi Hartanto antara lain soal latar
belakangnya. Dwi mengaku dia bukanlah lulusan Institut Teknologi Tokyo,
Jepang. Namun lulus S1 dari Institut Sains dan Teknologi AKPRIND Yogyakarta.

Dwi juga menjelaskan dirinya memang benar menempuh S2 dan S3 di TU Delft.

"Posisi saya yang benar adalah kandidat Doktoral di TU Delft. Informasi
mengenai posisi saya sebagai Post-Doctoral maupun Assitant Professor adalah
tidak benar," beber Dwi.

Tak benar juga dia adalah kandidat Doktor di bidang space tecnology and
rocket science. Yang benar adalah di bidang Interactive Intelligence
(Departemen Intelligent System). *[gil]*
Baca Juga:

Ini sikap Kemenristek terkait kebohongan akademis Dwi Hartanto
<http://www.merdeka.com/teknologi/ini-sikap-kemeristek-terkait-kebohongan-akademis-dwi-hartanto.html>Ini
klarifikasi PPI Belanda terkait Dwi Hartanto
<http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-ppi-belanda-klarifikasi-terkait-dwi-hartanto.html>Kebohongan
Dwi Hartanto, Ilmuwan sebut pelanggaran parah
<http://www.merdeka.com/teknologi/kebohongan-dwi-hartanto-ilmuwan-sebut-pelanggaran-parah.html>Siapa
sebenarnya Dwi Hartanto, ilmuwan Indonesia yang ketahuan bohong?
<http://www.merdeka.com/peristiwa/siapa-sebenarnya-dwi-hartanto-ilmuwan-indonesia-yang-ketahuan-bohong.html>Kebohongan
Dwi Hartanto 'ahli dirgantara' yang disebut The Next Habibie
<http://www.merdeka.com/peristiwa/kebohongan-dwi-hartanto-ahli-dirgantara-yang-disebut-the-next-habibie.html>

Kirim email ke