*_Ayo blajar sejarah lagi!_*


==============





Liem Koen Hian dan AR Baswedan



Ahmad Syafii Maarif*



Inilah kutipan yang sering saya gunakan untuk menunjukkan bahaya sikap 
a-historis, ”Berpikir a-historis punya satu konsekuensi: kegagalan melihat 
kenyataan.”



Kutipan itu berasal dari Dr Abdallah Laroui, sarjana kiri dari Moroko, dalam 
karyanya, The Crisis of the Arab Intellectual: Traditionalism or Historicism? 
(diterjemahkan dari bahasa Perancis oleh Diarmid Cammell, Berkeley: University 
of California Press, 1976, halaman 154).



Agar tidak terkena rumusan Laroui, kita harus kenal realitas kita sebelum 
Indonesia menjadi bangsa dan kemudian negara.



Proses pembentukan bangsa dan kebangsaan Indonesia yang berasal dan terdiri 
dari ratusan etnis memakan waktu lama dan sarat tantangan. Keragaman latar 
belakang etnis, tradisi, agama, dan ideologi politik menjadi sebab utama 
mengapa harga sebuah keindonesiaan harus melalui perjuangan panjang dan alot 
para pendiri bangsa. Dalam proses keindonesiaan inilah, dua nama di judul perlu 
dibaca ulang.



Siapa Liem Koen Hian, siapa AR Baswedan?



Pejuang keindonesiaan



Bung Karno dalam Pidato 1 Juni 1945 di depan Badan Penyelidik Usaha-Usaha 
Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) yang kemudian dikenal dengan Hari Kelahiran 
Pancasila adalah salah satu testimoni maha-penting dalam bangunan kebangsaan 
kita.



Dalam pidato itu, nama Liem Koen Hian (1896-1952) terbaca empat kali. Sekali 
pun nama AR Baswedan tidak ada di sana. Penyebutan Saudi Arabia ada delapan 
kali, perkataan Arab disebut sekali. Yang utama bukan sebut-menyebut itu, 
tetapi perjuangan fenomenal kedua tokoh untuk keindonesiaan.



Sebagai peminat sejarah, saya baru-baru ini menelusuri kiprah Liem Koen Hian 
terkait dengan seri seminar tentang AR Baswedan yang disponsori Yayasan Nabil. 
Di kalangan peneliti sejarah peranakan etnis Tionghoa, Koen Hian bukan nama 
baru. Seberapa penting nama ini dalam proses keindonesiaan sehingga Bung Karno 
menyebutnya berulang kali? Apa hubungannya dengan AR Baswedan (1908-1986), 
tokoh Indonesia keturunan Arab yang juga punya peran?



Koen Hian adalah mentor AR Baswedan dalam dunia jurnalistik tahun 1930-an. 
Keduanya pernah tampil di antara bapak-bapak bangsa. ”Lupakan itu Daratan 
China, lupakan itu Hadramaut. tanah airmu bukan di sana, tetapi di sini, di 
Indonesia.” Itulah filosofi keduanya.



Liem Koen Hian, yang lahir di Banjarmasin, sejak kecil berpikir radikal dan 
revolusioner. Usia 15 tahun, ia pernah diusir dari sekolah karena mau berkelahi 
dengan gurunya, orang Belanda.



Sifat serupa dimiliki oleh AR Baswedan, kelahiran kampung Ampel, Surabaya. Dia 
suka menerjang segala jenis rintangan yang dinilainya tidak rasional, apalagi 
jika itu menghambat proses keindonesiaan.



Dalam urusan keindonesiaan, Tionghoa totok dan Arab totok yang masih setia 
dengan daratan China dan Hadramaut menjadi lawan berat kedua tokoh kita ini. 
Keduanya adalah pelopor pluralisme dalam realitas, di saat isu publik tentang 
itu belum lagi mengemuka tahun 1930-an. Tanpa banyak teori, keduanya 
bergandengan tangan, mengemukakan gagasan, dan mempraktikkan dalam perjuangan 
merajut keindonesiaan. Agaknya mereka dipertemukan oleh kekuatan kemanusiaan 
yang tunggal dan keindonesiaan yang padu.



Dalam perspektif ini, perbedaan etnis Tionghoa, Arab, Jawa, Sunda, Minangkabau, 
Bugis, Aceh, Batak, Banjar, Bali, Papua, Ambon, dan 1.001 etnis yang lain tidak 
boleh menjadi perintang kukuh dan padunya bangunan keindonesiaan.



Perkara ada warga etnis-etnis itu yang oportunis, khianat, dan tak peduli 
kepentingan bersama, itu yang harus dilawan dengan kekuatan keindonesiaan kita. 
Ini agar bangsa tidak terkapar di tangan anak-anaknya yang tuna moral dan tuna 
pengetahuan sejarah alias kelompok a-historis. Sama halnya dengan elite 
nasional kita yang telah kehilangan kepekaan keindonesiaannya karena buta 
sejarah.



Liem Koen Hian dan AR Baswedan adalah acuan memikat dalam menghadapi kondisi 
bangsa yang lagi sarat masalah ini.



Bertemu di ”Sin Tit Po”



Surat kabar Sin Tit Po Surabaya pimpinan Koen Hian tahun 1932 adalah media yang 
mempertemukan mereka. AR Baswedan yang ingin sekali menjadi wartawan melamar ke 
koran yang gigih membela kemerdekaan Indonesia itu. Di luar dugaan, AR Baswedan 
diterima.



Sebelum di Sin Tit Po , Koen Hian telah lama malang melintang di pers. Ia 
pernah menjadi pemimpin redaksi Sinar Soematra dan penanya dikenal 
runcing—karena tulisannya tajam.



Melalui Sin Tit Po inilah, AR Baswedan menyatakan ”perang terbuka” pada 
golongan Arab Arabitah yang tetap setia kepada Yaman sebagai tanah airnya.



Di Semarang pada 4 Oktober 1934, melalui kongres Persatuan Arab Indonesia 
(PAI), AR Baswedan dan pendukungnya mengucapkan Sumpah Pemuda Keturunan Arab 
tentang Indonesia sebagai bangsa dan tanah airnya yang wajib dibela. PAI 
kemudian menjelma menjadi Partai Arab Indonesia.



Setelah Indonesia merdeka—sebagaimana Liem Koen Hian yang pernah menjadi 
anggota BPUPK—AR Baswedan terlibat penuh dalam perjuangan bangsa, baik sebagai 
diplomat, menteri, dan anggota DPR/Majelis Konstituante dari Partai Masyumi.



Maka, bagi saya, dua tokoh ini adalah patriot dan nasionalis Indonesia yang 
sejati dan autentik. Keduanya pantas diusulkan menjadi Pahlawan Nasional, 
sekalipun di ujung usianya Koen Hian dituduh menanggalkan kewarganegaraan 
Indonesia lantaran sangat terhina oleh sikap pemerintah tahun 1952 yang 
menganggap dia sebagai orang kiri lalu menangkap dan menahan dia.



Akibatnya, Liem Koen Hian merasa jasanya selama puluhan tahun membangun 
keindonesiaan tidak dihargai. Sebuah tragedi dalam sejarah modern Indonesia, 
bukan? Padahal, Liem Koen Hian telah menjalin persahabatan dengan Bung Karno, 
Bung Hatta, H Agus Salim, Bung Sjahrir, Bung Amir Sjarifuddin, AR Baswedan juga 
Dr Soetomo dan Dr Tjipto Mangoenkoesoemo, yang menyebutnya ”Orang Indonesia 
tanpa peci.”



Urusan kewarganegaraan ini memang bisa menjadi sangat serius. Akan tetapi, Tjoa 
Tjie Liang, kader dan sahabat Liem Koen Hian, membantah tuduhan itu dalam 
kesaksian yang disampaikan kepada sejarawan Soe Hok Gie tertanggal 5 Juli 1965.



Menurut Tjie Liang, sahabatnya itu begitu mendongkol dengan perlakuan 
pemerintah. Maka pada hari ulang tahun Tiongkok, Koen Hian mengibarkan bendera 
Tiongkok. Tjie Liang mengutip jawaban Koen Hian soal kewarganegaraan. 
”Sebetulnja owee tjuma setengah maen2 akibat ini rasa mendongkol’nja owee. 
Kalau dengan ini orang mengira owee bukan orang Indonesia lagi, ja biarin 
sadja.” (Lihat surat Tjoa Tjie Liang online kepada Soe Hok Gie tertanggal 5 
Juli 1965, halaman 1-2).



Lebih lanjut, Tjoa Tjie Liang menjelaskan, Koen Hian adalah orang yang mudah 
marah, apalagi bila ada orang yang meragukan kejujurannya, terutama mengenai 
bangsa dan negara.



Dengan demikian, Liem Koen Hian dan AR Baswedan yang memang tidak pernah 
terkena insiden seperti halnya Koen Hian tetap patriot-patriot bangsa yang 
pantas dihargai dan ditiru semangat keindonesiaannya.



AHMAD SYAFII MAARIF Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah

Sumber: Kompas, 26 April 2011


Kirim email ke