http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41649232 Dokumen rahasia Amerika:
AS mengetahui skala pembantaian tragedi 1965

Tito Sianipar BBC Indonesia

   -

   36 menit lalu


Hak atas foto Bettmann / Getty Images Image caption Seorang terduga
simpatisan G30S diperiksa di bawah todongan senjata.

Sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika soal tragedi 1965 kembali dibuka
ke publik oleh lembaga nonprofit National Security Archive (NSA), National
Declassification Center (NDC), dan lembaga negara National Archives and
Records Administration (NARA). Laporan itu menguak sejumlah surat dari dan
ke Amerika Serikat ketika pembantaian terjadi.

Dokumen yang dibuka
<http://nsarchive.gwu.edu/briefing-book/indonesia/2017-10-15/indonesia-mass-murder-1965-us-embassy-files>
adalah 39 dokumen setebal 30.000 halaman yang merupakan catatan Kedutaan
Besar Amerika untuk Indonesia sejak 1964 hingga 1968. Isinya antara lain
seputar pertikaian antara tentara dengan PKI, termasuk efek selanjutnya
berupa pembantaian massal.

Data dan fakta ini menguak sebagian tabir yang selama ini masih tertutup
rapat dalam sejarah Indonesia. Selama ini, negara, terutama Tentara
Nasional Indonesia, mengelak untuk membicarakan atau membuka sejarah kelam
tragedi 1965.

   -

   Simposium 'anti-PKI': Pensiunan jenderal, kaum radikal dan Haji Lulung
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160601_indonesia_simposium_pki_haripertama>
   -

   Galeri Foto : Ketegangan pasca G30S
   <http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/09/150928_galeri_g30s>
   -

   Jokowi perintahkan pencarian kuburan massal korban peristiwa 1965
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160425_indonesia_luhut_pki>

Fakta yang tersaji dalam dokumen diplomatik Amerika ini membantah narasi
tunggal yang selalu didegungkan bahwa korban pembantaian tragedi 1965
adalah komunis atau mereka yang memang seharusnya bertanggung jawab.
"Mereka kebingungan dan mengaku tak tahu soal 30 September," tulis laporan
diplomatik Kedutaan Besar Amerika untuk Indonesia pada 20 November 1965.

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Agus Widjojo mengatakan
dirinya tidak bisa membantah maupun mengiyakan terjadinya pembantaian pasca
30 September 1965.

"Saya tidak dalam posisi membenarkan atau menolak fakta itu. Tragedi 1965
adalah pertarungan kekuasaan antara PKI dan Angkatan Darat," kata Agus,
yang juga putra Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, korban 30 September 1965.



Hak atas foto Carol Goldstein/Keystone/Getty Images Image caption 13
Oktober 1965: Sekelompok mahasiswa Muslim membakar markas Pemuda Rakyat di
Jakarta.

Berikut ini adalah beberapa poin menarik soal tragedi 1965 yang tersaji
dalam laporan diplomatik yang juga memuat sedikit soal konfrontasi dengan
Malaysia, kondisi Irian Barat, dan perang Vietnam tersebut.

*Angkatan Darat hendak menjatuhkan Presiden Soekarno*

Dalam kabel diplomatik Kedutaan Amerika untuk Indonesia kepada Kementerian
Luar Negeri Amerika di Washington tanggal 12 Oktober 1965 disebutkan bahwa,
"Tentara Angkatan Darat Indonesia mempertimbangkan menjatuhkan Soekarno dan
mendekati beberapa kedutaan negara-negara Barat memberi tahu soal
kemungkinan itu."

Dalam telegram rahasia itu juga disebutkan, "Jika itu terlaksana, maka itu
akan dilakukan dengan gerakan yang cepat tanpa peringatan dan Soekarno akan
digantikan kombinasi junta militer dan sipil." Dari negara-negara Barat,
Angkatan Darat mengharapkan bantuan ekonomi berupa makanan dan lainnya.

Hal itu terkait perkembangan pada 10 Oktober 1965 yang menyebutkan Soekarno
menerima pimpinan Angkatan Darat di Istana yang memberikan laporan soal
keterlibatan PKI pada kejadian 30 September. Soekarno menolak membaca dan
memarahi mereka karena menghina PKI. Para jenderal yang tidak disebutkan
namanya itu kemudian meninggalkan Soekarno dengan rasa jengkel.

Hak atas foto Beryl Bernay/Getty Images Image caption Sejumlah serdadu, tak
jauh dari rongsokan sebuah mobil yang terbakar di hari-hari awal Oktober
1965, menyusul gagalnya G30S.

*Rencana membunuh Omar Dani*

Sutarto, asisten Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani, menyampaikan ke
diplomat Amerika perlunya mengeksekusi pimpinan PKI dan membunuh Omar Dani
yang kala itu menjabat Menteri Panglima Angkatan Udara Indonesia. Itu
tercatat dalam kabel dari Kedutaan untuk Kemenlu tanggal 18 Oktober 1965.

Sutarto menyampaikan bahwa gejolak anti-PKI sudah merebak di Medan dan
Makassar, sementara Jawa Tengah sedang berada dalam situasi yang kacau.
Aksi-aksi anti-PKI ini dilaporkan dipimpin oleh "Angkatan Darat/kelompok
Muslim".

"Kita perlu menggantung Aidit, Njoto, dan Lukman di Lapangan Banteng guna
menunjukkan ke semua orang seperti apa sebenarnya mereka," kata Sutarto
dikutip laporan tersebut.

Bahkan lebih lanjut Sutarto menyebutkan, "Omar Dani harus meletakkan
jabatannya atau kita harus membunuh dia." Ada pejabat AU lain yang juga
disebut harus dicampakkan, yakni Sri Muljono, Suryadarma, dan Abdoerachmat.

*Adnan Buyung turut melemahkan PKI dan Soekarno*

Jaksa Adnan Buyung Nasution yang ketika itu berusia 31 tahun, ikut membantu
penghancuran PKI. Dalam perbincangannya dengan Sekretaris Kedua Kedutaan
Amerika Robert Rich, Buyung mengusulkan untuk terus mengejar komunis guna
melemahkan kekuatan PKI.

Hak atas foto AFP Image caption Adnan Buyung Nasution semasa hidup.

Bahkan Buyung juga mengusulkan agar fakta pembantaian ribuan komunis
disembunyikan dari Soekarno. "Pembantaian oleh tentara harus tetap
dirahasiakan dan masifnya represi tentara terhadap PKI harus dijauhkan dari
Soekarno," kata Buyung seperti ditulis telegram Kedutaan Amerika untuk
Kemenlu tanggal 23 Oktober 1965.

Buyung yang disebutkan dua kali mendatangi Kedutaan untuk berdiskusi yakni
pada 15 dan 19 Oktober 1965, juga menyampaikan informasi lainnya. "Beberapa
elemen tentara berencana membebaskan pimpinan Masjumi dan PSI yang
dipenjara sejak pemberontakan PRRI," tulis laporan tersebut.

Dalam biodatanya Buyung disebutkan sebagai asisten pribadi jaksa agung
sejak 1964 dan pernah di intelejen kejaksaan. Pada 1961, Buyung adalah
perwakilan kejaksaan yang bertanggung jawab pada perencanaan keamanan bagi
Jaksa Agung Robert Kennedy yang akan berkunjung ke Indonesia.

*Kerusuhan rasial menyasar etnik Tionghoa*

Seiring propaganda anti-PKI yang diusung Angkatan Darat, sentimen anti-Cina
juga berkembang luas di Sulawesi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Warga
Indonesia keturunan Tionghoa menjadi korban kekerasan dan dituding adalah
pendukung, bahkan, anggota PKI.

Hak atas foto Getty Images Image caption Massa Islam menghancurkan
universitas Res Publica, perguruan tinggi yang diidentikkan dengan PKI.

Telegram Kedutaan untuk Kemenlu 12 November 1965 menyebutkan, "90 persen
toko-toko milik orang Tionghoa di Makassar dijarah dan dihancurkan pada
kerusuhan 10 November yang dilakukan hampir seluruh penduduk." Bahkan lebih
jauh lagi, alat-alat produksi milik orang Tionghoa diambil paksa tentara.

Dalam kabel diplomatik untuk Kemenlu pada 7 Desember 1965 memuat informasi
bahwa aset orang Tionghoa disita tentara. Menteri Pertanian Sudjarwo
mengumumkan bahwa penggilingan beras dan pabrik tekstil orang Tionghoa
diambil alih militer masing-masing wilayah.

*Kader PKI tidak tahu apa yang sedang terjadi*

Dalam telegram Kedutaan ke Kemenlu 20 November 1965, digambarkan bahwa
kader-kader PKI kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi, dan tidak
tahu harus berbuat apa. Informasi didapat diplomat Amerika dari seorang
jurnalis Australia yang dapat dipercaya.

Si jurnalis disebutkan adalah jurnalis Barat pertama yang mengunjungi Jawa
Tengah, yakni pada 10 Oktober 1965. "Dia berbicara dengan kader-kader PKI
di beberapa tempat di Jawa Tengah," tulis laporan itu.

Informasi serupa dikonfirmasi Konsuler Politik Kedutaan Yugoslavia yang
mengatakan terlibat kontak secara rutin dengan aktivis PKI. Si aktivis sama
sekali tidak panik dan tetap percaya Soekarno akan melindungi mereka.
"Mereka tidak akan bertindak tanpa perintah Soekarno," ujar sang diplomat.



Hak atas foto Getty Images Image caption Serdadu mengawasi para tahanan
yang diduga komunis di sebuah lokasi di Tangerang, Oktober 1965

*Jihad membantai ribuan orang di daerah*

26 November 1965 laporan dari Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya
menyebutkan terus mendapatkan laporan pembantaian di berbagai wilayah di
Jawa Timur oleh Ansor. Di Tulungagung setidaknya 15.000 komunis dibunuh.

"Pembantaian diwarnai dengan Perang Suci (jihad): membunuh kafir akan
memberi tiket ke surga dan jika darah korban diusapkan ke wajah, maka akan
lebih terjamin (masuk surga)," tulis laporan tersebut.

*Angkatan Darat persenjatai Hansip untuk bunuh PKI*

Selain kelompok-kelompok Islam, Angkatan Darat juga mempersenjatai
pertahanan sipil atau Hansip sebagai kekuatan memerangi PKI. Dalam laporan
Konsulat Jenderal Amerika di Medan menyebutkan hal itu dilakukan untuk
meningkatkan peran pengawasan di kota maupun pedesaan.

Hak atas foto Keystone/Getty Images Image caption Prajurtit TNI berjaga di
depan Istana Bogor, saat sejumlah mahasiswa berbagai kalangan yang berusaha
mendekati Presiden Soekarno.

"Ketika ini dilaksanakan, rantai komando militer bertambah luas hingga
setiap desa yang ada di Sumatera," tulis laporan tersebut.

Tak sampai di situ, pemuda yang berusia 8-13 tahun diwajibkan ikut Pramuka
yang dikontrol tentara. "Secara singkat, Sumatera dengan cepat berubah
menjadi tanah tentara."
Topik terkait

   -

   Politik
   <http://www.bbc.com/indonesia/topics/75612fa6-147c-4a43-97fa-fcf70d9cced3>
   -

   Hukum
   <http://www.bbc.com/indonesia/topics/d94f45db-bb47-4e7b-b1a2-5bc3e6afd0aa>



http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41649232



Dokumen rahasia Amerika: AS mengetahui skala pembantaian tragedi 1965

Tito Sianipar BBC Indonesia

   -

   36 menit lalu

Hak atas foto Bettmann / Getty Images Image caption Seorang terduga
simpatisan G30S diperiksa di bawah todongan senjata.

Sejumlah dokumen kabel diplomatik Amerika soal tragedi 1965 kembali dibuka
ke publik oleh lembaga nonprofit National Security Archive (NSA), National
Declassification Center (NDC), dan lembaga negara National Archives and
Records Administration (NARA). Laporan itu menguak sejumlah surat dari dan
ke Amerika Serikat ketika pembantaian terjadi.

Dokumen yang dibuka
<http://nsarchive.gwu.edu/briefing-book/indonesia/2017-10-15/indonesia-mass-murder-1965-us-embassy-files>
adalah 39 dokumen setebal 30.000 halaman yang merupakan catatan Kedutaan
Besar Amerika untuk Indonesia sejak 1964 hingga 1968. Isinya antara lain
seputar pertikaian antara tentara dengan PKI, termasuk efek selanjutnya
berupa pembantaian massal.

Data dan fakta ini menguak sebagian tabir yang selama ini masih tertutup
rapat dalam sejarah Indonesia. Selama ini, negara, terutama Tentara
Nasional Indonesia, mengelak untuk membicarakan atau membuka sejarah kelam
tragedi 1965.

   -

   Simposium 'anti-PKI': Pensiunan jenderal, kaum radikal dan Haji Lulung
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/06/160601_indonesia_simposium_pki_haripertama>
   -

   Galeri Foto : Ketegangan pasca G30S
   <http://www.bbc.com/indonesia/multimedia/2015/09/150928_galeri_g30s>
   -

   Jokowi perintahkan pencarian kuburan massal korban peristiwa 1965
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/04/160425_indonesia_luhut_pki>

Fakta yang tersaji dalam dokumen diplomatik Amerika ini membantah narasi
tunggal yang selalu didegungkan bahwa korban pembantaian tragedi 1965
adalah komunis atau mereka yang memang seharusnya bertanggung jawab.
"Mereka kebingungan dan mengaku tak tahu soal 30 September," tulis laporan
diplomatik Kedutaan Besar Amerika untuk Indonesia pada 20 November 1965.

Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) Agus Widjojo mengatakan
dirinya tidak bisa membantah maupun mengiyakan terjadinya pembantaian pasca
30 September 1965.

"Saya tidak dalam posisi membenarkan atau menolak fakta itu. Tragedi 1965
adalah pertarungan kekuasaan antara PKI dan Angkatan Darat," kata Agus,
yang juga putra Mayjen Sutoyo Siswomiharjo, korban 30 September 1965.

Hak atas foto Carol Goldstein/Keystone/Getty Images Image caption 13
Oktober 1965: Sekelompok mahasiswa Muslim membakar markas Pemuda Rakyat di
Jakarta.

Berikut ini adalah beberapa poin menarik soal tragedi 1965 yang tersaji
dalam laporan diplomatik yang juga memuat sedikit soal konfrontasi dengan
Malaysia, kondisi Irian Barat, dan perang Vietnam tersebut.

*Angkatan Darat hendak menjatuhkan Presiden Soekarno*

Dalam kabel diplomatik Kedutaan Amerika untuk Indonesia kepada Kementerian
Luar Negeri Amerika di Washington tanggal 12 Oktober 1965 disebutkan bahwa,
"Tentara Angkatan Darat Indonesia mempertimbangkan menjatuhkan Soekarno dan
mendekati beberapa kedutaan negara-negara Barat memberi tahu soal
kemungkinan itu."

Dalam telegram rahasia itu juga disebutkan, "Jika itu terlaksana, maka itu
akan dilakukan dengan gerakan yang cepat tanpa peringatan dan Soekarno akan
digantikan kombinasi junta militer dan sipil." Dari negara-negara Barat,
Angkatan Darat mengharapkan bantuan ekonomi berupa makanan dan lainnya.

Hal itu terkait perkembangan pada 10 Oktober 1965 yang menyebutkan Soekarno
menerima pimpinan Angkatan Darat di Istana yang memberikan laporan soal
keterlibatan PKI pada kejadian 30 September. Soekarno menolak membaca dan
memarahi mereka karena menghina PKI. Para jenderal yang tidak disebutkan
namanya itu kemudian meninggalkan Soekarno dengan rasa jengkel.



Hak atas foto Beryl Bernay/Getty Images Image caption Sejumlah serdadu, tak
jauh dari rongsokan sebuah mobil yang terbakar di hari-hari awal Oktober
1965, menyusul gagalnya G30S.

*Rencana membunuh Omar Dani*

Sutarto, asisten Menteri Penerangan Ruslan Abdulgani, menyampaikan ke
diplomat Amerika perlunya mengeksekusi pimpinan PKI dan membunuh Omar Dani
yang kala itu menjabat Menteri Panglima Angkatan Udara Indonesia. Itu
tercatat dalam kabel dari Kedutaan untuk Kemenlu tanggal 18 Oktober 1965.

Sutarto menyampaikan bahwa gejolak anti-PKI sudah merebak di Medan dan
Makassar, sementara Jawa Tengah sedang berada dalam situasi yang kacau.
Aksi-aksi anti-PKI ini dilaporkan dipimpin oleh "Angkatan Darat/kelompok
Muslim".

"Kita perlu menggantung Aidit, Njoto, dan Lukman di Lapangan Banteng guna
menunjukkan ke semua orang seperti apa sebenarnya mereka," kata Sutarto
dikutip laporan tersebut.

Bahkan lebih lanjut Sutarto menyebutkan, "Omar Dani harus meletakkan
jabatannya atau kita harus membunuh dia." Ada pejabat AU lain yang juga
disebut harus dicampakkan, yakni Sri Muljono, Suryadarma, dan Abdoerachmat.

*Adnan Buyung turut melemahkan PKI dan Soekarno*

Jaksa Adnan Buyung Nasution yang ketika itu berusia 31 tahun, ikut membantu
penghancuran PKI. Dalam perbincangannya dengan Sekretaris Kedua Kedutaan
Amerika Robert Rich, Buyung mengusulkan untuk terus mengejar komunis guna
melemahkan kekuatan PKI.

Hak atas foto AFP Image caption Adnan Buyung Nasution semasa hidup.

Bahkan Buyung juga mengusulkan agar fakta pembantaian ribuan komunis
disembunyikan dari Soekarno. "Pembantaian oleh tentara harus tetap
dirahasiakan dan masifnya represi tentara terhadap PKI harus dijauhkan dari
Soekarno," kata Buyung seperti ditulis telegram Kedutaan Amerika untuk
Kemenlu tanggal 23 Oktober 1965.



Buyung yang disebutkan dua kali mendatangi Kedutaan untuk berdiskusi yakni
pada 15 dan 19 Oktober 1965, juga menyampaikan informasi lainnya. "Beberapa
elemen tentara berencana membebaskan pimpinan Masjumi dan PSI yang
dipenjara sejak pemberontakan PRRI," tulis laporan tersebut.

Dalam biodatanya Buyung disebutkan sebagai asisten pribadi jaksa agung
sejak 1964 dan pernah di intelejen kejaksaan. Pada 1961, Buyung adalah
perwakilan kejaksaan yang bertanggung jawab pada perencanaan keamanan bagi
Jaksa Agung Robert Kennedy yang akan berkunjung ke Indonesia.

*Kerusuhan rasial menyasar etnik Tionghoa*

Seiring propaganda anti-PKI yang diusung Angkatan Darat, sentimen anti-Cina
juga berkembang luas di Sulawesi, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Warga
Indonesia keturunan Tionghoa menjadi korban kekerasan dan dituding adalah
pendukung, bahkan, anggota PKI.



Hak atas foto Getty Images Image caption Massa Islam menghancurkan
universitas Res Publica, perguruan tinggi yang diidentikkan dengan PKI.

Telegram Kedutaan untuk Kemenlu 12 November 1965 menyebutkan, "90 persen
toko-toko milik orang Tionghoa di Makassar dijarah dan dihancurkan pada
kerusuhan 10 November yang dilakukan hampir seluruh penduduk." Bahkan lebih
jauh lagi, alat-alat produksi milik orang Tionghoa diambil paksa tentara.

Dalam kabel diplomatik untuk Kemenlu pada 7 Desember 1965 memuat informasi
bahwa aset orang Tionghoa disita tentara. Menteri Pertanian Sudjarwo
mengumumkan bahwa penggilingan beras dan pabrik tekstil orang Tionghoa
diambil alih militer masing-masing wilayah.

*Kader PKI tidak tahu apa yang sedang terjadi*

Dalam telegram Kedutaan ke Kemenlu 20 November 1965, digambarkan bahwa
kader-kader PKI kebingungan, tidak mengerti apa yang terjadi, dan tidak
tahu harus berbuat apa. Informasi didapat diplomat Amerika dari seorang
jurnalis Australia yang dapat dipercaya.

Si jurnalis disebutkan adalah jurnalis Barat pertama yang mengunjungi Jawa
Tengah, yakni pada 10 Oktober 1965. "Dia berbicara dengan kader-kader PKI
di beberapa tempat di Jawa Tengah," tulis laporan itu.

Informasi serupa dikonfirmasi Konsuler Politik Kedutaan Yugoslavia yang
mengatakan terlibat kontak secara rutin dengan aktivis PKI. Si aktivis sama
sekali tidak panik dan tetap percaya Soekarno akan melindungi mereka.
"Mereka tidak akan bertindak tanpa perintah Soekarno," ujar sang diplomat.



Hak atas foto Getty Images Image caption Serdadu mengawasi para tahanan
yang diduga komunis di sebuah lokasi di Tangerang, Oktober 1965

*Jihad membantai ribuan orang di daerah*

26 November 1965 laporan dari Konsulat Jenderal Amerika di Surabaya
menyebutkan terus mendapatkan laporan pembantaian di berbagai wilayah di
Jawa Timur oleh Ansor. Di Tulungagung setidaknya 15.000 komunis dibunuh.

"Pembantaian diwarnai dengan Perang Suci (jihad): membunuh kafir akan
memberi tiket ke surga dan jika darah korban diusapkan ke wajah, maka akan
lebih terjamin (masuk surga)," tulis laporan tersebut.

*Angkatan Darat persenjatai Hansip untuk bunuh PKI*

Selain kelompok-kelompok Islam, Angkatan Darat juga mempersenjatai
pertahanan sipil atau Hansip sebagai kekuatan memerangi PKI. Dalam laporan
Konsulat Jenderal Amerika di Medan menyebutkan hal itu dilakukan untuk
meningkatkan peran pengawasan di kota maupun pedesaan.

Hak atas foto Keystone/Getty Images Image caption Prajurtit TNI berjaga di
depan Istana Bogor, saat sejumlah mahasiswa berbagai kalangan yang berusaha
mendekati Presiden Soekarno.

"Ketika ini dilaksanakan, rantai komando militer bertambah luas hingga
setiap desa yang ada di Sumatera," tulis laporan tersebut.

Tak sampai di situ, pemuda yang berusia 8-13 tahun diwajibkan ikut Pramuka
yang dikontrol tentara. "Secara singkat, Sumatera dengan cepat berubah
menjadi tanah tentara."
Berita terkait

   -

   Peristiwa G30S 1965, penumpasan PKI, dan hari-hari sesudahnya
   <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41451322>

   30 September 2017 <http://www.bbc.com/indonesia/dunia-41451322>
   -

   Nobar film G30S/PKI oleh TNI 'mundur ke era Orde Baru', kata aktivis HAM
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41299220>

   18 September 2017 <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-41299220>



<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virus-free.
www.avast.com
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>

Kirim email ke