Mengunjungi beberapa negeri (2)
May Swan yb, Kota SanRemo sudah lama menjadi favorit kami ketika masih di Albania. Di sini diadakanfestival nyanyi setiap tahun. Lagu-lagu yang difestivalkan adalah lagu Italia.Aku masih ingat kami yang berada di Albania terpaksa membuat antene TV sendiriuntuk bisa menangkap Italia, karena Albania tidak menyediakan antene TV yangbisa menangkap siaran TV luar negeri. Ini tujuannya agar TV asing jangan sampaimempengaruhi ideologi rakyat Albania melalui kebudayaan Barat. Rakyat Albaniahanya bisa melihat siaran dalam negeri. Namun banyak penduduk yang melanggarperaturan pemerintah masa itu. Beberapa penyanyi top Italia lahir dari festivalini, seperti misalnya: Gianni Morandi, Adriano Celentano dan Minna. Pagi inikami berkunjung ke kota ini. Robangan dibagi menjadi dua kelompok. Kelompokyang kakinya masih kuat, berangkat ke gereja yang letaknya diatas bukit. Yangkakinya tidak kuat, berangkat ke pasar untuk belanjaan dengan harga murah. Aku termasuk rombongan yang kakinya tidak kuatmendaki bukit. Artinya ke pasar. Sudah menjadi kebiasaan, ibu-ibu termasuk kedalam robongan ke pasar. Di sini kami melihat barang yang diobral. Banyak jugaibu-ibu yang tergiur barang obralan. Aku membeli sebuah jeket yang dikeluarkanmenyisa dari toko. Ibu-ibu menjinjing dua tas kiri-kanan penuh denganbelanjaan. Uang yang dibawa dari negeri Belanda, dihamburkan di pasar ini.Ibu-ibu sangat mengerti mana barang yang baik dan bermutu. Pada harilainnya May, kami juga berkunjung ke kota Cannes. Kota festival film. Seluruhdunia ikut festival di sini. Banyak film cerita dan film dokumenter diputardalam ferstival di Cannes. Artis-artis besar lahir dalam festival di Cannes.Sutradara-sutradara besar lahir di sini, lewat juri terkenal di dunia. Di depanpanggung bioskop tempat festival kami berfoto. Dengan mata kepala kami melihatpenjaggaan sangat keras di sini. Orang-orang yang masuk panggung bioskop harusmelalui detektor. Dari situkami dibawa ke pelabuhan untuk naik kesebuah kapal laut. Jauh di tengah lautan,mengelilingi pulau-pulau, tampak daratan berciuman dengan air. Gunung-gunung batuitu merupakan lambang kerasnya hidup di daratan. Kami di daratkan disebuahpulau yang sangat indah, bukit batu dengan pepohonan di celahnya. Hargakebutuhan pokok di sini sangat mahal. Ada teman kami yang kakinya sakit, harusminum paracetamol 6 butir sehari. Agar cadangannya jangan sampai habis, diamembeli paracetamol satu dos. Tau engkau May, berapa harganya? 8,95 Euro. Di Amsterdam harga obat itu 1,50Euro. Belum lagi harga pakaian dan barang-barang lainnya. Semuanya serba mahal.Tapi kita harus maklum. Pulau itu sangat terpencil dan merupakan daerah turist.Ketika menuju arah pulang kepelabuhan, kami dibawa berkeliling. Angin lautmenerpa tubuh. Segar dan menyenangkan. Tampak pulau-pulau semakin mengecil.Pulasu-pulau ini punya sejarahnya sendiri sebagai tempat pembuangan. Kami singgahjuga dikota Nice. Klub bola Nice termasuk kesebelasan bola kuat di Eropa. Diapernah menglahkan kesebelasan Ajax Amsterdam. Di kota ini kami dilepasdengan waktu yang sudah ditentukan.Anggota rombonga terpencar di tengah kota. Sasarannya adalah toko-toko. Ibu-ibupada membeli tas, kerena tas dari Itali sangat terkenal kulitnya. Terutamauntuk oleh-oleh ke Indonesia. May Swanyang baik, banyak lagi kota-kota yang kami kunjungi. Tapi kesannya biasa-biasasaja. Yang menarik perhatianku adalah jalannya yang terjaga. Petunjuk jalan yangbesar dan rapi sudah lengkap diseruh megeri. Dari satu negara ke negara lainnya jalannyasama saja. Terutama di Swiserland jalan sangat terpelihara.Tidak kita jumpaisatu lobangpun. Banyaknya terowongan pun mempermudah lalu lintas di negeri ini.Terowongan seperti ini tidak kita jumpai di Belanda. Ada terowongan di Belanda,tapi tidak sepanjang di Siwserland, 17 Km terpanjang di dunia. Di Swiserlandkita jumpai banyak terowongan, karena negeri pegunungan, sedangkan Belandatanah rata. Aku anjurkanpadamu May, agar melakukan ekskursi seperti yang kami lakukan, mumpung kakimasih kuat. Kesannya akan terpelihara seumur hidup. Kami sudah pernah melakukanekskursi ke Cina, ke Turki, ke Tiga negara (Republik Ceko, Hongari danAustria), ke Berlin beberapa hari, ke Oberhauzen di Jerman, ke Belgie, kunjungan singkat ke Luxemburg, keTexel, dll. Dengan usaha ini, kita menjaga kesehatan dan memperjang usia. Inijuga merupakan kegiatan protes terhadap rejim fasis militer Suharto, yang tidakmengizin kami pulang ke tanah air tercinta Indonesia. Kami kembali lewatPerancis dan menginap satu malam di hotel Kyria Mulhouse Est Lutterbach. Sampaidisini kututup tusan ini, aku akan berusaha menyiarkan foto-foto dalamperjalanan. (CH).
