https://news.detik.com/berita/d-3709376/cerita-prostitusi-jakarta-dari-becak-hingga-gerbong-kereta


Rabu 01 November 2017, 15:55 WIB
Cerita Prostitusi Jakarta, dari Becak hingga Gerbong Kereta

Sudrajat - detikNews



*Jakarta* -

Pada awal 1950 becak menjadi alat transportasi favorit warga Jakarta.
Mereka hadir di setiap sudut kampung, hingga jumlahnya puluhan ribu. Alat
transportasi roda tiga ini menjadi pilihan warga yang cuma punya kekuatan
otot untuk mencari nafkah.

Tapi dalam perjalanannya, terjalin simbiosis mutualisme antara para penarik
becak dengan para perempuan penjaja cinta. Lalu dikenal istilah 'Becak
Komplit' yang merujuk salah satu praktek prostitusi di Jakarta kala itu.
Ada kalanya si perempuan penjaja cinta berkeliling diantar abang becak
untuk mencari lelaki hidung belang atau sebaliknya. Lalu di atas becak yang
disewa itulah mereka melepas hajat, tentu di lokasi yang gelap.

Agar tidak kelihatan orang, menurut Firman Lubis dalam buku *Jakarta
1950-an, Kenangan Semasa Remaja*, becak ditutupi dengan kain dan sengaja
diposisikan di tempat yang gelap. Firman menyebut ada sekitar 25 ribu becak
di Jakarta kala itu.

Ikhwal 'Becak Komplit' ini juga disinggung dalam biografi mantan Gubernur
DKI Jakarta Ali Sadikin karya Ramadan KH, *Bang Ali: Demi Jakarta 1966-1977*.
Kenyataan itu menjadi salah satu dari 1001 ekses kehadiran becak di Ibukota
selain memicu kemacetan. Karena itu Ali kemudian mendatangkan 1.200 bemo
sebagai alternatif angkutan yang lebih manusiawi ketimbang becak.

Bang Ali juga menertibkan praktek prostitusi di gerbong-gerbong kereta yang
biasa langsir di sekitar Stasiun Senen dan Jatinegara. Hal itu ditempuh
setelah pihak Jawatan Kereta Api seperti tak berdaya untuk membereskannya.

Praktek prostitusi di gerbong kereta sebetulnya sudah berlangsung sejak
masa revolusi. Penyair Chairil Anwar dalam buku *Aku*'karya Sjumanjaja
termasuk salah satu pengunjung setianya. Tapi berkat pergaulannya dengan
para pelacur di Senen itulah, Chairil juga membubuhkan sebuah karya
fenomenal. Karya itu tak lain slogan pada poster bergambar pelukis Dullah
goresan Affandi. Bunyi slogannya singkat, "Boeng, Ajo Boeng!".

Para seniman yang hadir saat pembuatan poster tersebut setuju dengan
tulisan Chairil. Mereka tidak tahu "Boeng, Ajo, Boeng" merupakan ucapan
para pelacur di Senen, yang jadi langganan Chairil.


*(jat/erd)*

Kirim email ke