From: Jonathan Goeij [email protected] [GELORA45]
Sent: Saturday, November 4, 2017 4:06 AM
4 Legenda Sepakbola Indonesia yang Berdarah Tionghoa
Pribumi dan Legenda Sepakbola Indonesia Berdarah Tionghoa
INDOSPORT.com
Berikut ini beberapa pemain sepakbola keturunan Tionghoa yang
berperan penting dalam perkembangan sepakbola Indo...
a.. Sepakbola menjadi alat untuk menumbuhkan nasionalisme warga Indonesia.
b.. Selain itu, dunia persepakbolaan juga menjadi alat untuk menyatukan
segala perbedaan, khususnya suku dan etnis.
c.. Hal itu bisa dilihat dari banyaknya para pemain legendaris Indonesia yang
merupakan keturunan Tionghoa dan turut berperan penting dalam memajukan
persepakbolaan nasional.
Kamis, 19 Oktober 2017 11:39 WIB
Penulis: Frederica | Editor: Galih Prasetyo
Tan Liong Houw dan Thio Him Tjiang, legenda Timnas Indonesia keturunan Tionghoa.
Jika di dunia politik, beberapa pihak saling 'sikut' dengan menggunakan isu
SARA, yang terbaru tentu saja soal pernyataan Gubernur DKI Jakarta yang baru,
Anies Baswedan soal kata Pribumi yang menjadi polemik di tengah masyarakat, hal
itu tidak berlaku di dunia persepakbolaan. Ketika di dunia politik, isu suku
dan etnis menjadi topik hangat untuk saling menyudutkan pihak lain, berbeda
dengan di dunia si kulit bundar.
Persepakbolaan bisa dikatakan sebagai alat untuk menumbuhkan nasionalisme warga
Indonesia. Di dunia sepakbola pula, segala perbedaan akan menjadi satu,
khususnya etnis dan suku.
Dalam hal ini, tidak hanya warga asli Indonesia saja yang berperan penting
dalam perkembangan sepakbola nasional. Warga Indonesia yang merupakan keturunan
Tionghoa pun turut ambil bagian dalam memajukan persepakbolaan di Indonesia.
Hal itu terbukti dari banyaknya para pemain keturunan Tionghoa yang menjadi
pesepakbola di klub asal Indonesia, ataupun turut memperkuat Tim Nasional
Indonesia.
Jika menengok pada masa kini, hal itu bisa ditemui pada diri salah satu
pesepakbola milik klub ibu kota, Persija Jakarta. Adalah Sutanto Tan, yang
merupakan pemain sepakbola keturunan Tionghoa.
Bermula pada 2015 lalu, saat Sutanto dipanggil oleh pelatih Aji Santoso untuk
mengikuti Pelatnas Timnas U-23 menjelang Kualifikasi Piala Asia U-23 di
Jakarta. Hal itu menjadi pembuktian bahwa tidak adanya perbedaan suku dan etnis
di dunia si kulit bundar.
"Saya bangga bisa dipanggil Timnas sebagai seorang keturunan Tionghoa. Di sini,
tidak ada perbedaan, semuanya sama dari Sabang sampai Merauke. Saya memang
Cina, tapi jangan panggil saya Cina, karena hati saya untuk Merah Putih. Saya
berharap bisa bertahan di sini dan ikut mengharumkan nama bangsa," ujar Sutanto
saat itu, dilansir dari FourFourTwo (14/04/16).
Gelandang Persija Jakarta, Sutanto Tan.
Namun, jauh berpuluh-puluh tahun lamanya sebelum muncul nama Sutanto Tan, ada
banyak para pemain sepakbola keturunan Tionghoa yang sudah dikenal dengan luas
di Indonesia berkat sumbangsihnya kepada persepakbolaan nasional.
Menilik hal itu, berikut ini INDOSPORT akan menyajikan empat pesepakbola
legendaris Indonesia yang merupakan keturunan Tionghoa.
Tan Liong Houw, pesepakbola legendaris Indonesia yang merupakan keturunan
Tionghoa.
Tan Liong Houw
Nama Tan Liong Houw dikenal dengan baik sebagai pemain legendaris Indonesia di
era 1950-an yang merupakan keturunan Tionghoa. Pria yang juga mempunyai nama
lain Latief Harris Tanoto itu menjadi pujian bagi Tim Nasional dan juga Persija
Jakarta di masa kejayaannya.
Pria yang lahir di Surabaya ini tumbuh dan berkembang di Jakarta. Namun di masa
awalnya, Liong Houw harus menapaki jejak yang sulit untuk menjadi seorang
pesepakbola. Pasalnya, dirinya tidak diperbolehkan untuk menjadi pesepakbola
oleh orang tuanya.
Sang ibu, Ong Giok Tjiam memberikan larangan kepadanya untuk bermain sepakbola.
Bahkan, adiknya bernama Tan Liong Pha yang juga sempat bermain untuk Persib
Bandung Junior terpaksa berhenti karena larangan dari sang ibu.
Namun, keinginan kuat yang mengalir di tubuh Liong Houw untuk bermain sepakbola
tidak membuatnya berhenti begitu saja karena larangan sang ibu. Dirinya tetap
bermain secara bersembunyi. Nahas, Giok Tjiam yang mengetahui hal itu pun
langsung mengirim Liong Houw ke Semarang dengan tujuan supaya anaknya tidak
lagi bermain sepakbola.
Sayangnya, harapan sang ibu tidak berjalan dengan baik. Di Semarang, Liong Houw
dipertemukan dengan orang-orang dari klub Chung Hua (sekarang bernama Tunas
Jaya), perkumpulan olahragawan keturunan Tionghoa saat itu.
Melihat hal itu, orang tua Liong Houw pun meminta anaknya kembali ke Jakarta,
sebelumnya akhirnya sang ayah memberi izin untuk bermain bola berkat kegigihan
Liong Houw.
Tan Liong Houw.
Melansir dari JPNN (13/02/11), Tanoto, demikian Liong Houw juga disapa, turut
bermain bersama Persija Jakarta. Bahkan, para pendukung yang sudah jatuh cinta
dengan performanya memberikan julukan "Macan Betawi" meskipun berasal dari
etnis Tionghoa.
Selain bersama klub asal ibu kota, pria yang lahir pada 26 Juli 1930 silam itu
juga pernah membela negara Indonesia selama 12 tahun sejak 1950. Sayangnya,
dirinya yang merupakan keturunan Tionghoa sempat dituding akan bermain setengah
hati jika bertemu dengan pemain dari China.
Namun, kritikan itu tidak diindahkan oleh Liong Houw. Bahkan, hal itu menjadi
penambah semangat bagi Liong Houw dan rekan-rekannya di Timnas untuk bisa
membawa harum nama Indonesia di kancah internasional.
Seperti halnya pada era 1950-an, yang mana Timnas sempat dua kali bertemu
dengan China di Kualifikasi Olimpiade 1956 dan Kualifikasi Piala Dunia 1958.
Faktanya, kedua laga itu berhasil dimenangkan oleh Indonesia.
“Jangan tanyakan masalah nasionalisme orang-orang Tionghoa. Kami siap mati di
lapangan demi membela Indonesia melalui sepak bola” – Tan Liong Houw.
Selain itu, Liong Houw dan rekan-rekannya turut membawa Timnas masuk ke babak
perempatfinal Olimpiade 1956 di Melbourne, Australia. Pada laga yang
berlangsung 29 November 1956 silam itu, Timnas mampu menahan tim kuat Uni
Soviet dengan skor kacamata, sebelum akhirnya mereka harus kandas dengan skor
0-4 di laga berikutnya.
Sementara pada Turnamen Merdeka 1961 yang digelar di Malaysia, Timnas Indonesia
mampu meraih juara usai mengalahkan tim tuan rumah dengan skor 2-1 di babak
final.
Tan Liong Houw dan Wahyu-Budhi Tanoto.
Usai memperkuat Timnas di Asian Games 1962 yang diselenggarakan di Jakarta,
Liong Houw memutuskan untuk gantung sepatu, sebagai buntut dari kasus suap yang
menerpa 18 pemain Timnas. Pasalnya, pada laga melawan Yugoslavia, Malmo,
Thailand, dan Vietnam Selatan, pemain Timnas bermain dengan buruk.
Meskipun sudah tidak menjadi seorang pesepakbola, dirinya tetap memberikan
sumbangan untuk perkembangan sepakbola nasional dengan menjadi anggota Dewan
Penasihat PSSI periode 1999-2003.
Kecintaan yang begitu besar pada dunia si kulit bundar itu pun sempat diikuti
oleh kedua anaknya, Budhi Tanoto dan Wahyu Tanoto. Keduanya pernah menjadi
pemain Timnas dan Persija senior pada tahun 1980-an. Hanya saja, kiprah mereka
cuma sekilas dan tidak sefenomenal ayahnya.
Thio Him Tjiang.
Thio Him Tjiang
Thio Him Tjiang merupakan salah satu pemain sepakbola legendaris Indonesia
keturunan Tionghoa yang bersinar berkat binaan Union Make Strength (UMS). Lahir
di tengah-tengah keluarga pesepakbola memang membuat dunia si kulit bundar
sudah mendarah daging di tubuh Him Tjiang sejak kecil.
Ayahnya, Thio Kioe Sen merupakan eks kiper UMS di era 1920-1936 silam.
Sementara lima dari enam adik Him Tjiang juga turut bermain sepakbola dan
menapaki jejak karier di UMS, dilansir dari Tribun News (23/02/15).
Semasa kariernya di dunia persepakbolaan, pria yang lahir pada 28 Agustus 1929
silam itu dikenal sebagai sosok dengan loyalitas tinggi. Sebab, dirinya tetap
setia bermain untuk UMS meskipun sempat diajukan penawaran untuk bermain di
klub Chung Hua, yang sejatinya merupakan musuh bebuyutan dari UMS.
Selain itu, nama Him Tjiang juga melejit bersama klub ibu kota, Persija Jakarta
yang pernah dibelanya pada 1953 hingga 1961 silam. Setelah berkarier di
Jakarta, Him Tjiang juga memutuskan untuk hengkang ke klub rival Persija, yaitu
Persib Bandung. Namun, dirinya hanya bermain satu musim lamanya saja.
Thio Him Tjiang.
Semasa dirinya memperkuat dua tim besar tersebut, Him Tjiang turut
mempersembahkan gelar, seperti gelar juara Kompetisi PSSI tahun 1954 bersama
Macan Kemayoran. Ada pula gelar juara Kompetisi PSSI tahun 1961 yang
ditorehkannya bersama Persib, sebagaimana dikutip dari FourFourTwo (01/04/17).
Tidak hanya bersinar di klub sepakbola saja, nama Him Tjiang juga terdaftar
sebagai pemain Tim Nasional Indonesia berkat prestasi gemilang yang
dimilikinya. Selama hampir delapan tahun lamanya (1951-1958), Him Tjiang
mengabdikan dirinya untuk memperkuat Tim Merah Putih.
Pada masa itu, Him Tjiang bersama Ramang, Maulwi Saelan, Phoa Sian Liong, Kwee
Kiat Sek, Chaeruddin Siregar, dan juga Tan Liong Houw bahkan berhasil membawa
Indonesia menjadi salah satu tim yang disegani di Asia. Salah satunya di ajang
Olimpiade 1956 silam itu, yang mana Timnas masuk hingga babak perempatfinal.
Selama berkarier di dunia sepakbola, Him Tjiang bahkan sempat mendapatkan
julukan "Si Kaki Lady". Pasalnya, Him Tjiang sendiri termasuk dalam pemain yang
jarang dibekap cedera. Hal itu membuat kaki miliknya hampir mulus seperti
wanita pada umumnya.
Selain itu, Him Tjiang juga merupakan pemain yang memegang prinsip teguh. Pasca
pensiun sebagai pemain sepakbola, dirinya tidak melanjutkan karier sebagai
pelatih layaknya kebanyakan pesepakbola saat ini. Hal itu dikarenakan, Him
Tjiang ingin dikenang sebagai pemain sepakbola dan bukan sebagai pelatih
sepakbola.
Hingga pada 14 Februari 2015 lalu, Him Tjiang pun mengembuskan napas
terakhirnya di usianya yang ke-85 tahun. Meskipun secara fisik sudah tidak ada
di dunia, nama Thio Him Tjiang akan selalu dikenang sebagai pesepakbola
keturunan Tionghoa yang melegenda di Indonesia.
Timnas Hindia Belanda saat Piala Dunia 1938 silam.
Tan 'Bing' Mo Heng
Nama Tan 'Bing' Mo Heng juga menjadi salah satu pemain sepakbola Indonesia
legendaris yang merupakan keturunan Tionghoa. Pria yang lahir pada 28 Februari
1913 silam itu telah merasakan panas dingin berkarier sepakbola di Indonesia
yang masih berada di bawah penjajahan Belanda.
Bahkan, Mo Heng juga sempat membela Timnas Hindia Belanda (nama Timnas sebelum
merdeka) pada 1938 silam dan menjadi satu-satunya mantan pemain Timnas Hindia
Belanda yang kembali bermain untuk Timnas Indonesia pada 1951.
Bersama Timnas Hindia Belanda, Mo Heng yang menjadi kiper utama tim sempat
memperkuat Timnas untuk berlaga di Piala Dunia 1938 yang berlangsung di
Prancis, sebagaimana diberitakan Viva (18/06/10).
Pada masa itu, Timnas Hindia Belanda menjadi peserta Asia yang untuk pertama
kalinya dapat lolos tampil di kompetisi akbar dunia itu. Pada babak kualifikasi
sendiri, Timnas tergabung di Grup 12, yang mana hanya terdiri dari dua negara,
Indonesia dan Jepang.
Pemain Hindia Belanda saat Piala Dunia 1938.
Timnas Jepang yang memutuskan untuk mengundurkan diri pun membuat Timnas dapat
melenggang mulus ke Piala Dunia 1938 tanpa harus mengeluarkan keringat.
Sementara di babak pertama Piala Dunia 1938, Timnas Hindia Belanda harus
langsung menerima kenyataan pahit. Pasalnya, pada 5 Juni 1938, Timnas yang
bersua dengan Hungaria harus dibantai dengan skor 0-6 telak.
Padahal, sebelum bertandang ke Prancis, skuat yang saat itu diasuh oleh pelatih
Johannes Christoffel van Mastenbroek sempat melakukan laga uji coba dengan
sejumlah klub Belanda. Sayangnya, Mo Heng dkk tidak bisa berbuat banyak usai
para pemain Hungaria menjebol gawang sebanyak enam kali.
Usai memperkuat Timnas Hindia Belanda, Mo Heng lolos seleksi untuk memperkuat
Timnas Indonesia pada 1951, yang mana membela Indonesia dalam laga persahabatan
melawan klub dari Singapura. Selain itu, Mo Heng juga diketahui pernah membela
beberapa klub semasa kariernya di dunia persepakbolaan, seperti HCTNH Malang,
Tiong Hoa Soerabaja, dan Chung Hua.
Tan Hong Djien (pojok kanan bawah) bersama Skuat Timnas Hindia Belanda.
Tan Hong Djien
Selain Tan 'Bing' Mo Heng yang pernah membela Timnas Hindia Belanda, ada pula
pemain keturunan Tionghoa lainnya yang juga pernah tampil di Piala Dunia 1938
itu. Adalah Tan Hong Djien, pemain asal klub Tiong Hoa Soerabaja yang turut
melegenda di Indonesia.
Pria yang lahir pada 12 Januari 1916 itu juga sempat merasakan atmosfer di
kompetisi elite dunia itu, meskipun harus menerima kenyataan pahit kalah 0-6
dari Hungaria. Walaupun harus kalah di babak pertama, Djien juga menjadi salah
satu pemain yang mampu membawa nama Indonesia berjaya di mata dunia.
Djien diketahui pernah berlatih bersama beberapa klub terkenal, seperti Santos
dan juga Barcelona selama Piala Dunia 1938 tersebut. Namun, pria yang berposisi
sebagai penyerang itu tetap memilih untuk tinggal di Indonesia supaya bisa
dekat dengan keluarganya.
Berbeda dengan rekannya Mo Heng, usai empat tahun memperkuat Timnas Hindia
Belanda, Djien tidak lagi memperkuat Timnas Indonesia. Untuk kancah klub saja,
dirinya diketahui hanya memperkuat klub Tiong Hoa Soerabaja.
Walaupun begitu, performa apik serta kecintaannya kepada sepakbola pun menjadi
panutan bagi para pemain lainnya, khususnya pesepakbola keturunan Tionghoa.
Sebab, setelah masa Djien dan Mo Heng, mulai banyak lahir pemain sepakbola
keturunan yang ikut andil dalam perkembangan sepakbola nasional.