----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Jonathan Goeij 
[email protected] [GELORA45] <[email protected]>Kepada: 
Yahoogroups <[email protected]>Terkirim: Jumat, 3 November 2017 17.21.31 
GMT+1Judul: [GELORA45] Tanggung Jawab Politik “Sang Pribumi” Anies Baswedan
     



Tanggung Jawab Politik “Sang Pribumi” Anies Baswedan


by Maman SuratmanRabu, 18 Oktober 2017


   
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
   - 
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno melakukan 
salam commando seusai pelantikan, di Istana Negara, Jakarta, Senin (16/10). 
ANTARA FOTO/Wahyu Putro A
Senin, 16 Oktober 2017, DKI Jakarta akhirnya resmi punya nakhoda baru. Setelah 
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) digilas massa yang menggila-gila, Jakarta untuk 
lima tahun ke depan ini selanjutnya akan dipimpin oleh usungan para penggilas 
nakhoda sebelumnya itu, Anies Baswedan. 

Sebagai nakhoda baru, tentu Anies punya segudang tanggung jawab politik. Tak 
hanya untuk mengarahkan Jakarta seperti citanya, yakni maju kotanya bahagia 
warganya, Anies pun harus bertanggung jawab penuh atas apa yang telah dirinya 
perbuat di masa-masa sebelum ia benar-benar jadi “manusia pilihan”. Apa itu? 
Yakni merajut kembali tenun kebangsaan yang telah ia robek-robek sendiri tanpa 
ampun. 

Memang, kursi Gubernur yang kini Anies duduki—bersanding mesra dengan Sandi—di 
Ibu Kota, membuatnya harus niscaya menghadirkan wajah Jakarta seperti citanya 
sendiri. Segala ragam bentuk janji kampanyenya yang kurang lebih berjumlah 23 
buah itu harus tertepati. Program plus-plusnya, seperti KJP Plus dan KJS Plus, 
cepat atau lambat, harus segera ia realisasikan tanpa syarat. Sebab, warga yang 
menitipkan amanah di pundaknya memang butuh nasi, bukan janji. 

Itu baru janji. Tapi yang jauh lebih penting dari itu adalah hadirnya tenun 
kebangsaan kembali. Bukan hanya karena tanggung jawab Anies selaku pemimpin 
politik di Ibu Kota, bukan hanya karena tanggung jawabnya sendiri selaku 
penulis Merawat Tenun Kebangsaan, tapi karena ia yang mengumandangkan dan lalu 
ia sendiri yang merobek-robeknya kembali. Itu!

Bukan hanya Anies memang yang harus bertanggung jawab penuh atas ini. Akan 
tetapi, ini perlu diingat, kehancuran keberagaman, rusaknya tenun kebangsaan di 
Jakarta waktu itu yang mungkin masih mewabah hingga hari ini, disadari Anies 
atau tidak, terjadi hanya demi pemenangan dirinya. Terlebih bahwa Anies sendiri 
ikut merobeknya. Itu fakta yang saya kira sudah menjadi rahasia umum bersama.

Masih ingat, bukan, ketika rivalnya (Ahok) tersandung kasus penistaan agama? Di 
sana, nuansa peran Anies begitu nyata. Alih-alih meredakan gejolak emosi massa 
yang banyak orang harapkan darinya, ia justru terlibat-serta memanaskan 
situasi, menyiraminya dengan minyak-minyak penuh kebencian. Meminjam kata 
Burhanuddin Muhtadi dalam Anies dan Masa Depan Jakarta, ia membiarkan amarah 
itu menyala dan mengambil insentif elektoral darinya, termasuk mengunjungi 
Rizieq Shihab, motor penggerak anti-Ahok.
Baca Juga :   Menagih Janji-janji Gubernur Anies
Saat menghadiri makan malam bersama sejumlah petinggi partai pengusungnya di 
sebuah restoran di Jakarta Selatan (18/4), gejolak emosi massa ini kian 
diperparah. Di hadapan para elite politik, dengan lantang ia mengandaikan 
Pilkada DKI Jakarta (putaran dua) adalah “Perang Badar”. Sungguh benar-benar 
memperkuat kesan bahwa Anies telah secara sengaja memelihara sentimen agama 
demi kalahkan Ahok.

Ya, data-data empiris memang tak mampu menolak fakta bahwa Anies mulus 
melenggang ke Balai Kota melalui permainan licik isu-isu SARA, terutama agama. 
Seperti ditunjukkan exit poll Indikator Politik Indonesia sendiri, nyaris 60% 
pemilih Anies mendasarkan pilihannya pada kesamaan agama. Pun sebagian besar 
lainnya menilai ucapan Ahok tentang Al-Maidah adalah penistaan agama.

Temuan-temuan itulah, sekali lagi, yang berperan besar mengantar Anies ke pucuk 
pimpinan di DKI Jakarta, dibantu oleh Tamasya al-Maidah, tentu saja. Hal yang 
sama ini jugalah yang menjebloskan rivalnya (Ahok) ke jeruji besi penjara, 
dibantu penuh oleh rangkaian demi rangkaian Aksi Bela Islam & Ulama. 



Entah fakta-fakta di atas itu jadi landasan Anies atau tidak, tetapi dalam 
pidato pelantikannya, saya rasa ia telah menunjukkan tanggung jawab politiknya 
sendiri. Ia telah menampilkan niat mulia itu untuk bertanggung jawab penuh atas 
apa yang sudah dirinya perbuat di masa-masa genting dan menyengat dengan 
berkata:

“Holong manjalak holong, holong manjalak domu. Begitu pepatah Batak mengatakan 
kasih sayang mencari kasih sayang, kasih sayang menciptakan persatuan. Ikatan 
yang kemarin sempat tercerai, mari ikat kembali, mari kita rajut kembali. Mari 
kita kumpulkan energi yang terserang menjadi energi untuk membangun kota ini 
sama-sama.”

Jelas. Di sana Anies sadar betul bahwa kondisi keterceraian kemarin adalah buah 
dari pemenangan dirinya semata. Hari ini upaya pertanggungjawaban dirinya telah 
ditunjukkannya, meski baru sebatas kata-kata. Dan kita pun mesti 
mendukungnya-serta, seberapa pun bencinya kita pada sosok Muslim moderat yang 
sudah cenderung bergerak ke arah “kanan” ini.
Baca Juga :   Bahaya Pragmatisme dalam Pilkada Jakarta
Dan Anies pun Kembali Merobek

Baru beberapa detik saja kemuliaan itu muncul dari kata-kata Anies, entah 
dengan alasan apa, ia pun kembali merobeknya lagi dengan lantang:

“Dulu, kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini 
saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Jangan sampai Jakarta ini seperti 
yang dituliskan pepatah Madura: itik telor, ayam singerimi; itik yang bertelur, 
ayam yang mengerami.”

Seperti video prosesi pencitraannya di Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta 
Selatan kemarin (13/10), ungkapan Anies dalam pidatonya itu pun viral hebat. 
Persis di kata “pribumi”,  Anies dituding telah melontarkan visi politik yang 
tak ubah dengan rasisme, seperti diungkapkan oleh Ketua Setara Institute, 
Hendardi:

“Pidato pertama Anies setelah dilantik membuat publik menjadi mafhum bahwa visi 
politik Anies adalah rasisme. Politisasi identitas bukan hanya untuk menggapai 
kursi gubernur, tetapi hendak dijadikan landasan memimpin dan membangun 
Jakarta. Pidato yang penuh paradoks.”

Saya sendiri pun bertanya-tanya: apa maksud Anies menyelipkan kata “pribumi” 
itu dalam pidatonya? Terlepas dari tidak patutnya lagi kata seperti itu 
dihembuskan di ruang publik menurut UU No. 40/2008 tentang Penghapusan 
Diskriminasi Ras dan Etnis serta Instruksi Presiden No. 26/1998 tentang 
Menghentikan Penggunaan Istilah Pribumi dan Non-Pribumi, menggandeng kata 
“pribumi” dalam prosesi pelantikannya, hampir tak bisa disangkal lagi, adalah 
upaya dirinya untuk membedakan kelompoknya dengan kelompok Ahok.

Dengan kata lain, Anies berusaha mengklaim diri sebagai pribumi, sedang Ahok 
diposisikan sebagai nonpribumi, pemberontak yang harus dimusnahkan.

Paradoks? Tentu iya. Sebab, di satu sisi, Anies membingkai konsepsi negara 
untuk semua, sebagaimana cita Bapak Proklamator Kemerdekaan Bung Karno. Tetapi, 
di sisi lain, ia menghembuskan citra penuh benci atas ras-ras tertentu—kalau 
kata Hendardi, Anies telah mengumandangkan supremasi etnisitas melalui 
penegasan pribumi sebagai diksi pembeda dirinya (pemenang) dengan yang lain 
(kelompok Ahok?).

Maka, saya kembali bertanya: di mana letak pengupayaan Anies atas 
pewujud-nyataan sila kelima itu? Jika benar Anies menjadikan rasisme sebagai 
visi politiknya, maka itu sama saja dengan membangun peradaban dari Jakarta 
untuk Indonesia melalui visi politik yang benar-benar mematikan.
Baca Juga :   Selamat Bekerja, Pak Gub dan Pak Wagub!
Sudah. Tak perlu jauh-jauh melihatnya sampai ke negeri seberang, seperti yang 
terjadi di Jerman atau Myanmar, misalnya. Di negeri ini sendiri, Indonesia, 
hembusan visi politik berupa kebencian atas ras itu telah menjadi sejarah kelam 
bangsa. Terutama di era rezim Orde Baru Soeharto, visi yang lahir dari politik 
adu-domba sang diktator ini telah memakan korban yang tak terhitung lagi 
jumlahnya. Masyarakat Tionghoa untuk melakukan asimilasi sembari 
mengidentifikasi mereka sebagai yang bukan pribumi.

Sesudah Soeharto jatuh, alih-alih redup, garis demarkasi itu pun justru semakin 
menggila. Di mana-mana terjadi kerusuhan massal dengan target masyarakat 
Tionghoa. Mereka nyaris jadi sasaran empuk kebencian melulu atas nama ras. 
Semua karena visi politik rasisme yang dibangun secara matang-matang oleh Bapak 
Pembangunan yang pernah berkuasan selama 32 tahun kurang lebih ini.

Visi politik seperti itu sendiri sebenarnya bukan hal baru. Jauh sebelum 
Soeharto, kebencian atas masyarakat Tionghoa sudah bercikal-bakal di 
zaman-zaman kolonial Belanda. Maka, hadirnya pidato Anies Baswedan yang 
berupaya mengidentifikasi kelompok pribumi bisa dikatakan kelanjutan kembali 
visi politik rasisme di Indonesia.

Maka, tak salah juga jika peneliti LIPI Amin Mudzakkir menggambarkan fenomena 
ini dalam status Facebook-nya: Pribumi adalah mitos yang diciptakan oleh 
kolonialisme, dijalankan oleh Soehartoisme, dan dipidatokan oleh Anies 
Baswedanisme.

Ya, begitulah kira-kira penggambarannya yang tepat. Lalu Anies pun mau tak mau 
harus kembali bertanggung jawab pada polemik yang ia hadirkan sendiri di tengah 
gejolak emosi massa yang belum usai-usai ini. Semoga tanggung jawab politik ini 
mampu Anies tunaikan sebelum akhirnya beralih merealisasikan semua janji-janji 
politiknya yang plus-plus itu.

Selamat bekerja, Bang Anies!

    

Kirim email ke