http://mediaindonesia.com/news/read/130570/waspadai-pembentukan-opini-negara-salah-format/2017-11-05



Waspadai Pembentukan Opini Negara Salah Format

Ahad, 5 November 2017 10:16 WIB Penulis: *Antara *

<http://mediaindonesia.com/files/news/2017/11/hamdi-muluk.jpg>

PAKAR psikologi politik Profesor Hamdi Muluk mengingatkan adanya upaya
pembentukan opini bahwa Indonesia adalah negara salah format sehingga harus
diformat ulang.

Menurut Hamdi, persoalan yang semestinya bermuara pada manajemen, seperti
masalah korupsi dan keadilan, ditarik sedemikian rupa seolah persoalan itu
muncul karena format negara ini yang tidak benar.

"Sehingga sebagian anak muda kita begitu percaya dan berpikiran 'negara ini
nggak bener ya formatnya'. Itu yang terjadi dan harus diwaspadai," kata
Hamdi dalam siaran pers yang diterima di Jakarta, Sabtu.

Ditambah lagi dengan adanya pihak-pihak yang masih saja mengungkit-ungkit
masalah pribumi dan nonpribumi, penduduk lokal dan tidak lokal, gubernur
Muslim dan gubernur non-Muslim yang membuat masyarakat bangsa ini terpecah.

"Itu biasanya politisi atau orang-orang yang punya ideologi lain yang tidak
suka dengan Indonesia, termasuk kaum radikal yang ingin mendirikan negara
khilafah dan segala macam," katanya.

Dikatakannya, sejarah menunjukkan bahwa terbentuknya negara dan bangsa
Indonesia memang berasal dari berbagai suku dengan budaya dan agama
berbeda-beda yang menyatukan diri?sebagai sebuah bangsa karena persamaan
nasib akibat penjajahan.

"Harusnya persoalan-persoalan bahwa kita ini plural, kita ini beda
keagamaan, beda budaya, dan sebagainya sudah selesai," kata guru besar
Fakultas Psikologi Universitas Indonesia itu.

Memang, kata dia, jumlah pihak yang mempermasalahkan NKRI dan Pancasila
lebih sedikit dibandingkan dengan yang menganggap bentuk dan dasar negara
ini sudah final. Namun demikian, perlu diwaspadai agar kelompok yang besar
ini tidak terbawa arus, terutama kalangan muda.

"Mahal sekali ongkosnya kalau generasi muda berpikir mengganti negara
dengan khilafah atau berideologi selain Pancasila. Pasti akan ada
disintegrasi. Ini yang harus disadari anak muda kita," katanya.

Untuk itu, selain didorong untuk berkarya yang terbaik di bidang
masing-masing, pemuda zaman sekarang juga harus didorong mempelajari apa
yang dilakukan pemuda zaman dahulu sebelum Indonesia merdeka.

"Mau apa pun sukunya, apa pun agamanya, semuanya bisa bersatu bahu membahu
dan berkorban demi kemajuan bangsa. Kita jangan mau kalah dengan bangsa
lain," katanya. (OL-7)



<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
Virus-free.
www.avast.com
<https://www.avast.com/sig-email?utm_medium=email&utm_source=link&utm_campaign=sig-email&utm_content=webmail>
<#DAB4FAD8-2DD7-40BB-A1B8-4E2AA1F9FDF2>

Kirim email ke