----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: J. Soehardjono <[email protected]>Kepada: "[email protected]" <[email protected]>Terkirim: Minggu, 5 November 2017 17.39.37 GMT+1Judul: Fwd: Saudi yang Moderat?
---------- Oorspronkelijk bericht ---------- Aan: [email protected] Datum: 5 november 2017 om 13:45 Onderwerp: Saudi yang Moderat? Oleh Eva K Sundari Saudi yang Moderat? Dunia tengah menyaksikan Arab Saudi yang kini mereformasi segenap tatanan negara, budaya dan perjalanan sejarahnya. Setahun yang lalu, Kerajaan Arab Saudi mulai menggunakan kalender Masehi dalam pembayaran gaji pegawai negerinya. Lalu, mulai bulan Juni 2018 nanti, kaum perempuan Arab Saudi dibolehkan menyetir mobil sendiri, peraturan yang lama dijalankan begitu ketat di kerajaan kaya minyak itu. Terakhir, Arab Saudi tengah membangun megaproyek NEOM -- dari kata Latin, neo (baru) dan Arab, mustaqbal (masa depan) -- sebagai cerminan masa depan Arab Saudi. NEOM adalah kawasan khusus kota besar baru seluas 26.500 kilometer persegi di dekat Laut Merah yang akan menyerap 20.000 lapangan kerja. Kota ini kelak akan menjadi tempat tinggal yang nyaman bagi siapa pun dari seluruh dunia, dengan gaya hidup modern dan kosmopolitan di dalamnya. Akan ada ruang-ruang gaul anak-anak muda, tempat untuk konser-konser musik, olahraga, pantai berpasir putih, dan lain-lain. NEOM ini saya bayangkan akan serupa Meikarta di luar Jakarta. Baru sebulan lalu kita juga mendengar otoritas keamanan Arab Saudi menangkapi para ulama, termasuk yang terkenal dan memiliki banyak murid seperti Salman al-Awdah, Awad al-Qarni, dan Ali al-Omary. Selain para ulama ini, Arab Saudi juga mencokok penyair, pakar ekonomi, hingga pangeran. Apa sebenarnya yang terjadi di sana? Jawabannya datang dari sang putra mahkota, Pangeran Mohammed bin Salman, putra Raja Salman, yang merupakan tokoh di balik perubahan demi perubahan besar di Arab Saudi kini. Berbicara di depan ribuan peserta pertemuan Future Investment Initiative di Riyadh, Selasa pekan lalu, Pangeran Mohammed menyampaikan Vision 2030, arah pembangunan dan masa depan Kerajaan Arab Saudi. “Kami hanya ingin kembali pada sesuatu yang dulu jati diri kami: Islam moderat yang terbuka pada dunia, terbuka pada semua agama. Kami tidak akan membuang 30 tahun hidup bergelut dengan ide-ide ekstrem. Kami akan hancurkan hal-hal itu,” kata sang putra mahkota berusia 32 tahun ini. Bulan depan, Pangeran Mohammed bin Salman akan berkunjung ke Jakarta. Di sini, di halaman negeri yang warganya banyak mengejawantahkan gaya hidup ala Arab Saudi “lama”, ia tentu akan berbicara tentang negaranya. Kita tunggu... -- You received this message because you are subscribed to the Google Groups "forumdiskusi" group. To unsubscribe from this group and stop receiving emails from it, send an email to [email protected]. To post to this group, send email to [email protected]. Visit this group at https://groups.google.com/group/diskusiforum. For more options, visit https://groups.google.com/d/optout.
