Sakirman: Tokoh PKI dan Kakak dari S. Parman, Korban G30S 
https://tirto.id/sakirman-tokoh-pki-dan-kakak-dari-s-parman-korban-g30s-czxU 
Ilustrasi Sakirman 383 Shares    
mailto:?subject=Sakirman:%20Tokoh%20PKI%20dan%20Kakak%20dari%20S.%20Parman,%20Korban%20G30S&body=https://tirto.id:443/sakirman-tokoh-pki-dan-kakak-dari-s-parman-korban-g30s-czxU
 Reporter: Petrik Matanasi 
https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 05 November, 2017dibaca normal 2:30 menit

 Parman, adik Sakirman, mengaku dia mengetahui semua gerakan PKI karena ia 
menyusupkan intel
 Sakirman adalah anggota Politbiro PKI, sedangkan adiknya, S. Parman, merupakan 
perwira tinggi yang jadi korban peristiwa G30S.

 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Sewaktu 
balatentara Jepang mendarat di Hindia Belanda, kalangan yang tak menyukai 
kolonialisasi Belanda bahagia, sebab pemerintahan Hindia Belanda takluk dalam 
hitungan minggu. Namun, ada juga orang Indonesia yang tak suka tentara Jepang, 
yakni golongan anti-fasis. Sakirman, seorang kepala sekolah teknik swasta di 
Bandung, termasuk golongan pertama.

“Menurut Soebadio, Ir. Sakirman adalah seorang nasionalis yang bersuka cita 
melihat kedatangan Jepang daripada seorang komunis anti-fasis,” tulis Soe Hok 
Gie dalam Orang-orang di Persimpangan Kiri Jalan. 

Sakirman kemudian bekerja di Kantor Kerajinan dalam Departemen Perekonomian 
Jepang di Jakarta. Insinyur lulusan Technische Hoogeschool te Bandoeng (kini 
ITB) ini juga anggota dari organisasi yang turut didirikan Amir Sjarifoeddin, 
Gerakan Rakyat Indonesia (Gerindo)'. Ia menjadi anggota sejak 1941. 

Baca Juga: Amir Sjarifoeddin Perdana Menteri Kiri dan Dihukum Mati 
https://tirto.id/amir-sjarifoeddin-perdana-menteri-kiri-dan-dihukum-mati-cnvP

Sakirman tidak dilahirkan dalam keluarga susah. Menurut Sutrisno, dalam Letnan 
Jenderal Anumerta Siswondo Parman (1984), ayah Sakirman yang bernama 
Kromodihardjo adalah pengusaha yang cukup berhasil di sekitar Wonosobo. Kondisi 
orangtuanya itu memberi Sakirman peluang untuk bisa sekolah tinggi. Menurut 
Ensiklopedia Indonesia - Volume 3 (1954), Sakirman yang lahir pada 1911 di 
Wonosobo itu menamatkan pendidikannya pada 1939. 

Meski anak orang berada, ia akrab dengan kehidupan kromo. Ketika Sakirman masih 
sekolah, PKI memberontak melawan Belanda pada 1926. “Ketika umur 15 tahun, 
Sakirman mengalami dan sangat terpengaruh oleh pemberontakan” catat buku 
menurut Hasil Rakjat Memilih Tokoh-tokoh Parlemen: Hasil Pemilihan Umum 
Pertama, 1955 di Republik Indonesia (1956). 

Karenanya, setelah Indonesia merdeka, Sakirman akhirnya bergelut di partai 
bergambar palu-arit itu. Bahkan, ia menjadi anggota Politbiro sampai PKI 
tumbang. 

Setelah Jepang kalah dan Indonesia merdeka, Sakirman tidak ikut Belanda. Dia 
berdiri di belakang Republik Indonesia, menjadi pemimpin dari laskar rakyat 
dari Jawa Tengah. Dia juga menjadi anggota Komite Nasional Indonesia (KNI). 
Ketika Amir Sjarifoeddin menjabat menteri pertahanan, Sakirman termasuk orang 
yang memimpin TNI Masyarakat lalu Biro Perjuangan. 

Di badan itu, ada juga Jenderal Mayor Soesalit, anak Kartini. Menurut Harsya 
Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI-AD (1989), Sakirman diberi pangkat 
jenderal mayor. 

Baca Juga: Potret Buram Anak Kartini  
https://tirto.id/potret-buram-anak-kartini-F7r

Ketika kabinet Amir jatuh, dia ikut tersingkir dari pemerintahan. Sakirman juga 
terseret dalam petualangan Amir Sjarifoeddin di Front Demokrasi Rakyat (FDR) 
dan Peristiwa Madiun 1948. Tak hanya kena pecat, Sakirman juga ditahan. Menurut 
catatan Sutrisno, adiknya yang kala itu masih berpangkat mayor, Siswondo 
Parman, juga ikut kena tahan di rumah penjara Wirogunan. 

Setelah peristiwa itu berlalu, Beberapa tokoh PKI seperti Aidit, Lukman, dan 
Sudisman berusaha membangun lagi PKI yang hancur, hingga akhirnya bisa ikut 
Pemilu 1955. Pada Pemilu inilah Sakirman berhasil masuk ke parlemen. 

Sepuluh tahun kemudian, pertarungan kepentingan antara PKI dan Angkatan Darat 
memanas. Tentu hal ini tidak menguntungkan bagi Sakirman. Pada 1960an, adiknya 
Siswondo Parman sudah menjadi jenderal intel kepercayaan Jenderal Ahmad Yani. 
Karena itulah, Parman dan Sakirman menjadi relasi unik pada pusaran tragedi 
1965. Adiknya merupakan jenderal Angkatan Darat yang menjadi tangan kanan 
jenderal anti-komunis, sementara abangnya adalah petinggi PKI yang bermusuhan 
dengan Angkatan Darat. 

“Ir. Sakirman, orangnya pendek bulat […] mulanya ia sedikit curiga, tapi begitu 
menyadari saya benar-benar tertarik akan politiknya semasa muda, ia menghangat 
dan banyak cerita,” tulis Ben Anderson dalam Hidup di Luar Tempurung (2016), 
yang sejak sebelum 1965 sudah melakukan penelitian lapangan di Indonesia. 

Baca Juga: S Parman Korban G30S Yang Justru Adik Petinggi PKI  
https://tirto.id/s-parman-korban-g30s-yang-justru-adik-petinggi-pki-cwXa share 
infografik 
https://tirto.id/s-parman-korban-g30s-yang-justru-adik-petinggi-pki-cwXa


John Roosa dalam Dalih Pembunuhan Massal (2008) mencatat: “Adanya Sakirman di 
dalam politibiro akan merupakan kendala bagi Aidit untuk mendiskusikan rencana 
G30S secara rinci […] Salah satu sasaran penting G30S ialah adik Sakirman, 
Jenderal Parman, Kepala Intelijen Angkatan Darat.” 

Orang-orang PKI seolah sudah mencium gelagat bahwa partainya sudah tersusupi. 
Di sisi lain, Parman mengaku kepada seorang perwira militer Amerika Serikat 
bahwa ia sudah menyusupi tubuh PKI. Parman juga mengaku, "dapat mengetahui 
setiap keputusan yang diambil dalam sidang-sidang terpenting mereka dalam 
hitungan jam.” 

Setelah G30S, Parman adik Sakirman diketahui terbunuh dalam penculikan yang 
dipimpin Letnan Kolonel Untung. Mayatnya diketemukan di Lubang Buaya. Setelah 5 
Oktober 1965, hari pemakaman adiknya, Sakirman termasuk ke dalam daftar sasaran 
penangkapan. 

Untuk kedua kalinya, lebih parah ketimbang pasca-1948, dia harus menyembunyikan 
diri. Sakirman akhirnya “ditangkap waktu bersembunyi di rumah seorang 
fotografer Cina di Solo pada bulan Oktober yang lalu dan ditembak oleh militer 
waktu mencoba melarikan diri,” catat Rosihan Anwar dalam Indonesia, 1966-1983: 
Dari Koresponden Kami Di Jakarta (1992). 

Menurut Sketsmasa volume 10 tahun 1966, Sakirman ditembak mati di Solo pada 
1966. 

Baca juga artikel terkait G30S 
https://tirto.id/q/g30s-eUn?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword atau 
tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi  
https://tirto.id/author/petrikmatanasi?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - pet/msh)

 

Kirim email ke