Gerombolan kriminal Papua menantang perang... dengan nyumput di punggung ribuan 
saudaranya yang 
dijadikan tameng hidup.
Ada-ada saja taktik basi imperialis. Setelah gagal menekandengan "dokumen 
rahasia G30S" sekarang mau merusak 
izin ekspor 3 bulan untuk mengulur-ulur perundingan 
merampok emas (dan uranium) Papua. 

Menteri Jonan Kasih Freeport Izin Ekspor Selama Tiga Bulan
. 

Polri: Senjata Kelompok Bersenjata di Papua dari Luar Negeri
Tolak Negosiasi,Kelompok Bersenjata Ajak Perang di Area Freeport Sebelumnya 
TentaraPembebasan Nasional Papua Barat (TPN/PB) Kodap III Mimika 
mengklaimbertanggungjawab atas serangkaian penembakan dan penyerangan di area 
PTFreeport Indonesia. Oleh: Katarina Lita, Winna Wijaya Jumat, 10November 2017 
15:02 WIB KBR, Jayapura – Kelompok bersenjata di kawasan Tembagapura, 
Mimika,Papua, menolak ajakan tim negosiasi untuk menghentikan aksi kekerasan 
diwilayah Tembagapura.  Tim negosiasi itu terdiri dari tokohagama dan 
masyarakat. Salah seorang anggota tim negosiasi, Pastor YohannesJonga 
mengatakan ia telah berkomunikasi langsung dengan Hengky Wanma, 
selakukoordinator lapangan kelompok bersenjata di Kampung Banti, Distrik 
Tembagapura. Menurut Yohannes Jonga, kelompoktersebut menginginkan Papua 
merdeka dari Indonesia. Kelompok tersebut bahkanmengajak perang dengan aparat 
keamanan dengan memilih lokasi di areaFreeport.  Pastor Yohannes Jonga 
mengatakankelompok bersenjata itu berkeras tidak akan melepaskan warga sipil 
yangmendiami sejumlah kampung sampai ada pengakuan merdeka. "Mereka ingin 
menggunakan arealFreeport untuk perang, baik TNI/Polri. Mereka mau supaya 
tempat perang itumulai dari Polsek (Tembagapura) sampai Grassberg untuk 
perang," kataJonga, di Jayapura, Jumat (10/11/2017). Kampung Kimbeli, Banti dan 
Utikinidi Tembagapura dikuasai kelompok bersenjata sejak seminggu lalu.  Warga 
yang rata-rata bermatapencaharian sebagai pendulang emas tradisional, tak boleh 
lagi keluar darikampungnya. Polisi menyebut aktifitas warga kiniterbatas, 
karena banyaknya warga yang tertekan dan mendapatkan intimidasai 
darikelompok---yang oleh polisi disebut sebagai Kelompok Kriminal Bersenjata 
(KKB)itu.  Sebelumnya Tentara Pembebasan NasionalPapua Barat (TPN/PB) Kodap III 
Mimika mengklaim bertanggungjawab atasserangkaian penembakan dan penyerangan di 
area PT Freeport Indonesia.  Dalam pernyataan terbaru yangdiunggah di media 
sosial pada Kamis (10/11/2017) malam menyatakan merekamenolak negosiasi dengan 
TNI/Polri. Mereka menegaskan tetap pada tuntutankemerdekaan bagi Papua Barat. 
Mereka menyatakan siapa saja yang warga yangterlibat dalam upaya negosiasi 
ditetapkan sebagai musuh.  Sulit Diajak Komunikasi  Mabes Polri mengakui 
kelompok bersenjatayang berada di Tembagapura menutup diri dari upaya negosiasi 
dari Satgas aparatkeamanan. Juru bicara Mabes Polri SetyoWasisto mengatakan 
hingga kini kelompok bersenjata itu masih 'menyandera' wargatiga kampung di 
Tembagapura.  "Belum ada komunikasi. PimpinanKKB-nya enggak mau komunikasi," 
kata Setyo di Mabes Polri, JakartaSelatan, Jumat (10/11/2017). Kabar terbaru 
disampaikan Setyomengenai jumlah penduduk di Banti dan Kimberly, sebanyak 300 
warga pendatangdan 1000 warga asli di tiga desa yang dikuasai kelompok 
bersenjata. Merekatidak boleh keluar dari kampung mereka.  Polri berharap 
kelompok sipilbersenjata mau bernegosiasi untuk melepaskan warga. "Polri dan 
TNI sudah mencobamenghubungi pimpinannya, tetapi belum ada kontak yang intens. 
Artinya, belumada negosiasi. Karena mereka memang tidak membuka ruang 
komunikasi dengan pihaksatgas," kata Setyo Wasisto. Menurut Setyo, warga di 
tiga kampungmasih tersandera dan dilarang keluar dari lokasi, terutama kelompok 
laki-laki.Sementara, kelompok perempuan diperbolehkan ke pasar untuk melengkapi 
keperluanpangan. Namun, tidak ada kekerasan fisik.  "Tapi secara psikis 
orangdibatasi dan dilarang keluar," kata Setyo.  Dia menduga dalam 
penyekapantersebut menggunakan senjata modern. Kalau senjata mereka rakitan, 
artinyabuatan lokal sehingga menyuplainya jarak dekat.  "Kalau senjata 
pabrikan, yakemungkinan senjata selundupan, dan masuk secara ilegal," ujarnya.  
Di sisi lain, Setyo Wasisto gamangdengan upaya negosiasi dalam menyelesaikan 
persoalan penyanderaan ini. Kendatimempertemukan kedua belah pihak, dia 
meramalkan akan ada kemungkinan dalamintensitas penyanderaan bisa menghadirkan 
keakraban antara penyandera dengankorban sandera, seperti teori stockholm 
syndrome, korban yang disandera bisaberbalik membela penyadera hanya karena 
intensitas tersebut.  KBR juga mendapat informasi dariKepolisian yang 
menyebutkan mereka tengah menyelidiki kebenaran informasimengenai adanya kabar 
penculikan dari kelompok bersenjata terhadap Martinus Beanal,seorang warga dari 
Kampung Utikini Disrik Tembagapura. Menurut kepolisian, Satgas 
TerpaduPenanggulangan Gangguan Kelompok Kriminal Bersenjata saat ini masih 
melakukanupaya pendekatan untuk membebaskan ratusan warga yang disandera KKB, 
baik disekitar Kampung Kimberly, Kampung Utikini maupun Kampung Banti, 
tanpamenimbulkan korban jiwa di masyarakat. Kapolda Papua Boy Rafli 
Amarmenyebut kelompok bersenjata itu diperkirakan memiliki sekitar 30 pucuk 
senjataapi hasil rampasan dari TNI dan Polri, serta senjata tradisional seperti 
panah. Editor: AgusLuqman

Kirim email ke