----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: 'Chan CT' [email protected]
[GELORA45] <[email protected]>Kepada: GELORA_In
<[email protected]>Terkirim: Jumat, 10 November 2017 07.52.38
GMT+1Judul: [GELORA45] Kirim Ulang ==> Melulu di Ilmu, Lupa Hakikat dan Akibat
Kirim Ulang, Rupanya tulisan terkirim tadi belum selesai, tertinggal ekornya,
... Maaf!
ChanCT
Melulu di Ilmu, Lupa Hakikat dan Akibat
DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.
Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.
Kompas.com - 10/11/2017, 11:15 WIB
Ilustrasi(Shutterstock)
KOMPAS.com - Kebanyakan saya diundang untuk berceramah, mengajar dan mengupas
seputar penyakit, gaya hidup dan pola makan orang.
Begitu gregetnya orang haus akan kebenaran ilmu, rasa ingin tahu dan pastinya:
jurus jitu keluar dari masalah kesehatan.
Tak jarang apa yang saya paparkan secara usil dibenturkan dengan perilaku
‘kekinian’ dan konflik kepentingan – yang katanya melumpuhkan industri pangan
dan usaha kuliner kecil-kecilan.
Anehnya, di sisi lain, para peserta seminar dan orang-orang yang mengikuti
paparan saya juga mengamini, bahwa makin hari dagangan yang disebut makanan itu
makin meningkatkan risiko timbulnya penyakit ketimbang sekadar mengenyangkan
perut.
Racikan yang semakin jauh dari bentuk aslinya di alam, bahkan tidak pernah
terdapat di alam, menjadi bahan dasar pemicu kenikmatan lidah.
[Baca juga : Rahasia Makna di Balik Nama dalam Label Makanan]
Mungkin amat jarang orang Indonesia yang paham misalnya, bahwa keju yang
bertaburan di atas pizza atau dijejali sebagai isian roti, bahkan meleleh bagai
saus di atas mi dan ayam goreng sebagai kudapan ‘anti mainstream’
ternyata....bukan keju sungguhan. Pantas dijual murah dan rasanya ‘pas’ di
lidah Indonesia.
Keju imitasi atau analog diam-diam membanjiri pasar dengan promosi berlebihan
di negeri kita. Sementara, di Amerika Serikat pada tahun 1992 ocehan omong
kosong produsen keju itu sudah dibungkam oleh Federal Trade Commission.
Berandai-andai keju yang dikonsumsi adalah protein asli kasein susu yang
dikultur oleh enzim dan bakteri sehat, membuat begitu banyak konsumen keju di
negeri ini termakan pepesan kosong.
Ilustrasi di atas hanya sebagian kecil contoh akibat ilmu pangan hanya
diutak-atik sebatas ilmu saja, asyik berkutat di epistemologi.
[Baca juga : Mengapa Orang Tidak (Bisa) Berubah?]
Sama seperti untuk diversifikasi pangan katanya, agar cocok dengan lidah zaman
sekarang tapi tidak mengkhianati produk sendiri, tempe dipaksakan jadi nugget.
Donat terbuat dari singkong. Sisi asal usul, hakikat, ontologi kebaikan tempe
dan singkong tidak lagi penting.
Bahwa singkong sehat yang dimakan, cukup setelah dikukus dengan teman makan
lauk lainnya, menjadi amburadul bahkan menjadi petaka saat minyak goreng mulai
melumuri singkong lumat berbentuk donat yang pastinya diberi gula rafinasi dan
campuran lainnya.
Ke depannya, generasi pecinta nugget dan donat pun tetap menuai masalah
kegemukan dan sindroma metabolik karena aspek aksiologis, yaitu baik-buruk
benar-salahnya suatu temuan, ilmu atau teknologi tidak dipikirkan apalagi
dikaji secara bijak.
Seperti lelehan keju imitasi, coklat sarat gula, dan seribu satu panganan yang
seratus tahun yang lalu saja tidak ada.
Padahal, sel hingga DNA manusia tidak ada sedikit pun yang berubah dibanding
leluhurnya sekian ribu tahun yang lalu.
[Baca juga : Pendapat Ahli Berdasarkan Besarnya Pendapatan]
Lalu, muncul pertanyaan seperti di lokakarya yang saya isi hari ini,”Bagaimana
dong membuat generasi sekarang bisa menikmati makanan asli kita, yang
sebetulnya secara turun temurun terbukti sehat?”
Jawabannya sederhana: Makanan itu disukai bukan karena rasanya ‘enak’,
melainkan karena proses pembelajaran dan pembiasaan.
Beberapa puluh tahun yang lalu, akses pangan dan variasinya tidak sebrutal hari
ini. Bahkan, bisnis yang paling diincar orang sekarang justru seputar makanan.
Yang menciptakan kecanduan. Yang bisa direka-rasa dan olah-rupa, sehingga
memberi istilah ‘signature dish’ – tiada duanya di tempat mana pun.
Negeri ini kaya dengan soto, sementara orang bule paling banter cuma punya sup
ayam dan sup buntut.
Mengapa soto-soto tradisional itu sudah hilang dari meja anak-anak generasi
masa kini? Diganti kuah manis bernama dessert dengan taburan biji impor, buah
impor, dan rasa impor.
[Baca juga : Negeri Pusing Jadi Bancakan Orang Asing]
Negeri ini juga kaya dengan olahan ayam. Tapi karena diasuh ibu yang pendek
pikir dan benaknya masih tertinggal di kantor, generasi milenial ke bawah hanya
kenal ayam goreng bersalut tepung.
Padahal ayam itu semakin enak jika dibuat garang asem, dipanggang beralas daun
seperti taliwang atau betutu, dijadikan pepes, hingga diberi rempah menjadi
opor atau kari.
Kawan-kawan anak saya boleh dijamin makan tempe sebatas mendoan atau tempe
goreng. Lidah mereka tidak diajar mengunyah pepes tempe berisi pete dan teri.
Padahal, proteinnya setengah mati saratnya.
Sedih melihat generasi baru tumbuh itu mengonsumsi sayur lalap berkiblat bule.
Bicara makan sayur lalap sebetulnya tidak sama dengan salad berlumur krim alias
dressing yang sekali lagi berisi emulsifier, pengental dan perasa yang sama
sekali di alam tidak ada – bahkan potensial menyebabkan penyakit baru.
[Baca juga : Tingkat Kepercayaan: Edukasi, Inspirasi atau Sensasi?]
Masalahnya, kegiatan makan bersama yang belakangan ini merebak di
sekolah-sekolah akhirnya membuat kepala sekolah menyodorkan deretan makanan
yang dianggap ‘memudahkan para ibu’ untuk membuatnya. Makan bersama hanyalah
program formalitas. Bukan pendidikan pangan sehat.
Alhasil daftar menu yang pernah mendarat di meja saya membuat dahi ini kian
berkerut: bakso goreng, spageti, makaroni skotel, fish and chips, donat dan
susu, pisang goreng keju coklat, mie goreng bakso sapi. Astaga.
Jangan pernah berasumsi anak sulit diajar makan sehat. Masalahnya, sang ibu dan
ayah tidak cukup telaten menjadi contoh dan sungguh-sungguh memilih berbagai
sayur enak yang tumbuh di negeri ini untuk dimakan bersama lauk yang tepat.
Saya masih ingat ada seorang anak yang ‘katanya susah makan’ – begitu dibuatkan
gulungan selada romain berisi ayam betutu dan potongan ketimun, dia makan
seperti orang belum diberi makan sehari.
Secara ontologis, tidak ada anak yang menolak pangan alamiah. Mereka punya
hubungan erat antara kebutuhan gizi dan tubuhnya.
Ontologi tubuh manusia sesuai dengan hukum kodrat, sementara teknologi bekerja
dengan pakem andalannya: cepat, tepat, akurat, efisien, praktis. Jadi amat
sangat kacau jika tubuh diberi pangan menurut hukum teknologi.
Salah kaprah memberi makan anak dengan cara praktis, menjadikan tubuhnya hanya
sekadar mendapat asupan seperti hitungan di atas kertas, padahal mereka butuh
lebih dari itu.
[Baca juga : Tetap Fotogenik Tanpa Harus Jalani Ketogenik]
Secara epistemologi, anak butuh antioksidan sekaligus protein dan serat, bukan
hanya energi dari karbohidrat – untuk membuatnya bebas dari tubuh pendek dan
otak telat mikir.
Secara aksiologis, pola makan sehat sejak dini bukan hanya menunjukkan soal
ketahanan pangan dan identitas bangsanya, tapi juga ketahanan tubuhnya terhadap
pelbagai perubahan jaman.
Memberi kebaikan bagi banyak orang, memberkahi petani dengan rezeki – selama
tidak ada kartel dan mafia sepanjang garis perjalanan dari kebun ke atas meja
makan.
Semoga pendidikan para penyehat bangsa ini masih peduli dengan tiga tiang
keilmuan tadi, demi masa depan yang lebih baik – bukan untuk segelintir orang –
tapi demi semua anak bangsa.
[Baca juga : Mengapa Dunia Pengobatan Selalu Menarik?]