https://x.detik.com/detail/intermeso/20171111/Orang-Kiri-di-Perang-Surabaya/index.php
HARI PAHLAWAN
Orang Kiri di Perang Surabaya
"Bung, kenapa pertempuran dihentikan. Inggris sebentar lagi akan kita
kalahkan."
Ilustrasi : Edi Wahyono
Sabtu, 11 November 2017
"Bau malapetaka sudah tercium di udara," Letnan Kolonel AJF Doulton
menulis pengalamannya dalam perang di Surabaya pada 1945 dalam bukunya,
/The Fighting Cock: Being the History of the Twenty-third Indian
Division, 1942-1947/. Doulton, perwira Inggris di Divisi India Ke-23,
menggambarkan suasana Kota Surabaya pada 28 Oktober 1945 pagi menjelang
habisnya batas waktu 48 jam yang diberikan Panglima Sekutu di Jakarta,
Mayor Jenderal HC Hawthorn, agar pihak Indonesia menyerahkan senjata.
Hampir tengah hari, para prajurit India yang tergabung dalam Brigade
Infanteri Ke-49 bergerak ke seluruh fasilitas penting. Lapangan udara
Morokrembangan, kantor telepon dan pusat telegraf, serta Rumah Sakit
Darmo mereka duduki. Ben Anderson dalam buku /Revoloesi Pemoeda/
menuliskan, sekitar pukul 11, Panglima Tentara Keamanan Rakyat (TKR)
Jawa Timur drg Moestopo datang ke markas Pemuda Republik Indonesia (PRI)
memberitahukan Inggris sudah siap melucuti senjata. Moestopo menarik
pasukannya ke perbatasan agar tak dilucuti.
Sementara itu, tulis Ben Anderson, Ketua PRI Soemarsono memilih pergi ke
pemancar radio. "Lebih baik kita mati berkalang tanah daripada
kehormatan dan kemerdekaan RI diinjak-injak. Merdeka atau mati!"
Soemarsono membacakan pidato singkat untuk membakar semangat perlawanan
rakyat pada pukul 17.00 WIB.
Soemarsono saat itu dikenal sebagai salah satu tokoh pemuda yang
disegani. Dia merupakan Ketua PRI, laskar pemuda pertama dan terbesar di
Surabaya. "Anggotanya kira-kira 20 ribu pemuda, jauh lebih besar
daripada Tentara Keamanan Rakyat," ujar Harsono Sutedjo atau Harsutejo,
penulis buku biografi /Soemarsono: Pemimpin Perlawanan Rakyat Surabaya
yang Dilupakan/.
Tak hanya kuantitas personel, perlengkapan dan persenjataan laskar PRI
terbilang lengkap. Mereka menguasai senjata-senjata yang dirampas dari
tentara Jepang. Bahkan, konon, kekuatan laskar PRI hampir menyaingi
Tentara Keamanan Rakyat. Hanya, para anggotanya lemah dalam disiplin
kemiliteran.
Letnan Kolonel A.T. Scott dari 9th Brigade, 5th Indian Division,
mempelajari peta Surabaya pada 1945
*Foto : Imperial War Museum*
Lebih baik kita mati berkalang tanah daripada kehormatan dan kemerdekaan
RI diinjak-injak.”
Soemarsono, Ketua Pemuda Republik Indonesia
Ketika hari beranjak malam, pertempuran mulai menjalar ke seluruh kota.
Pasukan Inggris kira-kira berjumlah 6.000 orang dengan persenjataan
lengkap dan rata-rata terlatih dalam pertempuran selama Perang Dunia II.
Namun kekuatan mereka tersebar di ujung kota sebelah utara, yakni
pelabuhan dan kamp-kamp Recovery of Allied Prisoners of War and
Internees di bagian selatan kota.
Kekuatan bersenjata Indonesia diperkirakan sekitar 30 ribu orang,
terdiri atas 20 ribu anggota PRI dan sisanya anggota laskar bersenjata
lainnya dan pasukan TKR. Terdapat juga hampir 100 ribu pemuda dan rakyat
dengan berbagai macam senjata tajam, mulai bambu runcing, tombak, hingga
golok. Semua pos tentara Inggris dikepung. Letkol Doulton menulis,
"Sampai tengah malam pertempuran tak pernah berhenti. Orang Indonesia
tidak peduli dengan kematian. Bila satu tewas, lainnya terus maju,
setengah gila melihat darah."
Pihak Inggris melihat tak ada yang mampu mengendalikan nafsu amarah
sebesar itu. Satu-satunya harapan mereka agar pasukan Brigade Ke-49 tak
tertumpas habis hanya pada pengaruh Presiden Sukarno. Pemimpin pasukan
Sekutu mendesak Bung Karno dan Bung Hatta merundingkan gencatan senjata
di Surabaya.
Pagi-pagi sekali, Tukimin, pembantu pribadi Bung Karno, terpaksa
membangunkan Presiden. Tukimin berbisik di telinga Bung Karno, ada
persoalan yang amat genting. Ada utusan dari tentara Sekutu yang datang
mengabarkan bahwa panglimanya ingin berbicara dengan Presiden Sukarno
saat itu juga. “Setelah saya bangun, selama tiga puluh menit saya
terpaksa bicara lewat telepon,” Bung Karno menuturkan kepada Cindy Adams
dalam biografinya, /Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia/. Dia
tak bercerita kepada keluarganya apa isi percakapan dengan Jenderal
Hawthorn. “Saya hanya bilang besok pagi akan terbang ke Surabaya.”
Bung Karno terbang ke Surabaya bersama Wakil Presiden Mohammad Hatta dan
Menteri Penerangan Amir Sjarifuddin. Pesawat yang mengangkut mereka
mendarat di Lapangan Udara Morokrembangan. Sehari kemudian, pada 30
Oktober 1945 pagi, Jenderal Hawthorn menyusul tiba di Surabaya.
Soemarsono saat itu memimpin laskar PRI di wilayah Wonokromo. Menurut
Harsutejo, Soemarsono mengaku sangat kaget mendengar berita kedatangan
Bung Karno. "Soemarsono disertai beberapa pengawalnya lantas mencegat
rombongan Bung Karno di Ngagel, yang tak begitu jauh dari Wonokromo,"
ujar Harsutejo.
Pasukan Sekutu menyingkirkan barikade yang dipasang laskar rakyat di
Surabaya pada 1945
*Foto : Imperial War Museum*
Soemarsono berdiri di tengah jalan menghentikan konvoi Bung Karno. Ia
protes keras kepada Bung Karno. "Bung, kenapa pertempuran dihentikan.
Inggris sebentar lagi akan kita kalahkan," ujar Soemarsono dengan
emosional. Bung Karno diam, kemudian menggamit Amir Sjarifuddin yang
berada dalam mobil yang sama. Amir keluar dari mobil, lalu merangkul
pundak Soemarsono. "Hal ini sudah kita diskusikan dengan kawan-kawan di
Jakarta," bisik Amir kepadanya. Soemarsono tak menyangka Amir, yang
dihormatinya, ikut dalam rombongan tersebut.
"Mendengar kata-kata itu, saya kaget dan lemas," ujar Soemarsono seperti
yang diungkapkannya kepada Harsutejo. "/We have to win the war, not the
battle,"/ kata Amir lagi. Soemarsono tak bisa mengelak ketika Amir
mengajaknya masuk ke mobil untuk ikut berkeliling. "Bung Karno
sepertinya sengaja mengajak Amir karena tahu bahwa Soemarsono, yang
memimpin pasukan laskar terbesar di Surabaya, adalah kader Amir
Sjarifuddin," ujar Harsutejo.
Dalam perundingan di kantor Gubernur Soerjo, selain Bung Karno, Hatta,
dan Amir, hadir tokoh-tokoh perlawanan di Surabaya, seperti Ketua Pemuda
Republik Indonesia Soemarsono, Sutomo alias Bung Tomo, Roeslan
Abdulgani, Des Alwi, serta para komandan TKR, seperti Soengkono,
Atmadji, dan Mohammad Mangoendiprodjo.
Pada hari itu disepakati gencatan senjata tentara Sekutu dengan
pemerintah Indonesia. Tapi gencatan senjata itu hanya berumur sangat
pendek, kurang-lebih setengah hari. Saat berkeliling Kota Surabaya
bersama pemimpin-pemimpin perlawanan rakyat, Jenderal Mallaby terjebak
dalam baku tembak di depan gedung Internatio dan tewas tertembak.
Kematian Mallaby membuat Panglima Sekutu marah besar. Mereka menuduh
prajurit Indonesia sebagai pembunuhnya. Pembalasan Sekutu atas kematian
Mallaby inilah yang memicu perang besar di Surabaya selama tiga pekan,
dimulai pukul 06.00 pada 10 November 1945.
Sehari sebelum pecahnya pertempuran 10 November, Soemarsono ada di
Yogyakarta untuk mengikuti Kongres Pemuda IV. Menyimak kabar genting di
Surabaya, dia buru-buru pulang kembali ke Surabaya. Pada pagi-pagi buta,
sebelum mesin-mesin perang Sekutu mulai membombardir Kota Surabaya,
Soemarsono tiba di kota itu. Dia segera bergegas ke markas PRI di Jalan
Pacarkeling.
Relawan Palang Merah di Surabaya pada 1945
*Foto : Imperial War Museum*
Ditaksir, lebih dari 6.000 prajurit dan anggota laskar Indonesia tewas
dalam Perang Surabaya. Sedangkan dari pihak Sekutu ada sekitar 600
korban jiwa.
** * **
Pada awal September 2009, puluhan orang dari sejumlah ormas yang
tergabung dalam Front Anti Komunis menggeruduk kantor Grup /Jawa Pos/ di
Surabaya. Mereka datang untuk menyampaikan protes. Semua bermula dari
tiga tulisan Dahlan Iskan, pemimpin /Jawa Pos/, soal pertemuannya dengan
Soemarsono. Mereka menilai Dahlan ‘mempromosikan’ jasa-jasa Soemarsono
yang seorang komunis.
Soemarsono lahir di Kutoarjo, Jawa Tengah, pada 26 Oktober 1921. Setelah
menyelesaikan Schakel School, ia masuk ke berbagai kursus kejuruan dan
akhirnya bekerja di perusahaan Belanda. Pada zaman Jepang, ayah enam
anak ini bekerja di Sendenbu (Departemen Penerangan dan Propaganda
Jepang) bersama Sukarni dan Adam Malik.
Sukarni pulalah yang mengirimnya ke Surabaya pada Agustus 1944 untuk
membantu perjuangan menyongsong proklamasi. Soemarsono kala itu bekerja
pada perusahaan minyak Belanda, Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM).
Belakangan ia bergabung dengan gerakan bawah tanah di Surabaya melalui
jaringan aktivis komunis Widarta.
Sebelum Perang Surabaya 1945, Soemarsono memang sudah dekat dengan
kelompok kiri. Soemarsono kenal tokoh komunis Amir Sjarifuddin sejak
1941. Pelukis Sudjojono-lah yang mempertemukan keduanya di Gedung
Permufakatan di Gang Kenari, Jakarta. Kala itu, tempat tersebut
merupakan salah satu pusat pergerakan. Tedjabayu, putra Sudjojono,
membenarkan peristiwa tersebut. Amir dan Sudjojono saat itu aktif di
organisasi pemuda Gerakan Rakyat Indonesia atau Gerindo. "Diperkenalkan
dalam satu pertemuan Gerindo. Pak Marsono memang dekat dengan organisasi
kiri," ujar Tedjobayu kepada *detikX*.
Tentara Gurkha di Surabaya pada 1945
*Foto : Imperial War Museum*
Selain kedekatan secara ideologi, menurut Harsutejo, Soemarsono sering
bertemu dengan Amir Sjarifuddin di Gereja Kernolong, Kwitang, Jakarta.
Amir sering membawakan khotbah tentang humanisme kekristenan. Soemarsono
mempraktikkan ajaran itu dengan terjun ke gerakan politik untuk
kemerdekaan. "Dari situ Soemarsono menjadi dekat dengan Amir dan menjadi
salah seorang kadernya," ujar Harsutejo.
Saat geger komunis di Madiun pada September1948, Soemarsono adalah salah
satu tokoh kunci. Dia menjadi Gubernur Militer dalam Front Nasional yang
dibentuk oleh Partai Komunis Indonesia di Madiun. Amir Sjarifuddin
dihukum mati dan arsitek utama peristiwa Madiun, Musso, tewas tertembak.
Soemarsono berhasil ‘selamat’ dan ‘menyepi’ di Pematang Siantar,
Sumatera Utara. Setelah peristiwa 30 September 1965, Soemarsono
ditangkap tentara dan dijebloskan ke penjara. Lepas dari penjara, dia
‘mengungsi’ ke Australia dan menjadi warga Negeri Kanguru.
------------------------------------------------------------------------
*Reporter/Redaktur:* Pasti Liberti
*Editor:* Sapto Pradityo
*Desainer:* Fuad hasim