Apakah maksud sebenarnya kelompok radikal aman di masjid?
 Tak tahulah.
 ---
 

 Jusuf Kalla: Jaga Masjid dari Kelompok Radikal 
http://www.tribunnews.com/nasional/2017/11/11/jusuf-kalla-jaga-masjid-dari-kelompok-radikal?page=all
 

 Sabtu, 11 November 2017 14:13 WIB

 

 

 Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka penyelenggaraan Muktamar ke-7 Dewan Masjid 
Indonesia, di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu (11/11/2017). 

 

 TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia Jusuf Kalla 
berpesan agar masjid dijaga agar tidak disusupi kelompok radikal.

 

 Hal itu disampaikan Wakil Presiden JK saat membuka penyelenggaraan Muktamar 
ke-7 Dewan Masjid Indonesia di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, Sabtu 
(11/11/2017).
 
 Menurut Kalla, ia tidak berbicara tentang apa yang harus dikotbahkan di dalam 
masjid.
 

 Namun, ia berharap agar khotbah yang disampaikan di masjid itu berupa 
pemahaman yang wasathiyha.
 "Sekali lagi saya tidak bicara tentang apa yang harus dikhotbahkan. Tapi 
dengan menjaga moderasi, menjaga jalan tengah, maka akan baik. Kita menjaga 
jangan tiba-tiba masjid itu menjadi radikal, menjadi provokatif," kata Kalla.
 Menurut Kalla, tak ada yang salah jika khotib menyampaikan kritik dalam 
khotbahnya.
 Baca: Anies Gunakan Pesan dengan Bahasa Inggris kepada Warga Pulau Seribu 
http://www.tribunnews.com/metropolitan/2017/11/11/anies-gunakan-pesan-dengan-bahasa-inggris-kepada-warga-pulau-seribu
 Namun, ia berharap kritik tidak ditujukan untuk hal yang positif atau dengan 
cara memprovokasi orang.
 "Itu sangat penting. Dan itu sekali lagi pimpinan daerah tentu harus 
bermusyawarah ke bawah karena kita enggak punya sistem menginstruksikan. 
Kenapa, karena pola masjid kita beda dengan Brunei, Malaysia, Timur Tengah, 
Kuwait, Saudi dan macam-macam. (Tapi) pola kita adalah komunitas masyarakat," 
ujar Kalla.
 Kalla menambahkan, sebagai negara dengan jumlah penduduk lebih dari 250 juta 
orang yang mayoritas Muslim, Indonesia memiliki sekitar 800.000 sampai 
1.000.000 masjid.
 Jarak satu masjid dengan masjid lainnya, lanjut Kalla, hanya sekitar 500 meter 
sampai dengan 1 kilometer.
 Antar masjid terhubung dengan alat pengeras suara. Hal itu, menurut dia, suatu 
kekuatan yang luar biasa.
 "Tapi yang berbahaya juga apabila ada kelompok yang menguasai secara ideologi. 
Karena itu kita menjaga bagaimana masjid itu betul-betul sesuai dengan idelogi 
masyarakat," ujar dia.
 "Jangan datang-datang masjid dia balikan itu masjid menjadi radikal dan 
sebagainya, tentu ini tidak bagus. Inilah tugas kita semua dan menteri agama," 
tambah Wapres.
 Dalam kesempatan itu pula, Kalla menyinggung hal lain, misalnya soal slogan 
DMI "memakmurkan dan dimakmurkan Masjid".
 Ia berharap, seluruh program DMI bertujuan memakmurkan masjid sebagai tempat 
ibadah kepada Allah SWT, sekaligus pusat aktifitas sosial kemasyarakatan umat 
Islam.
 Wapres juga menyinggung seputar 10 program DMI yang harus diselesaikan, di 
antaranya perbaikan peralatan pengeras suara di masjid-masjid.
 Perbaikan peralatan pengeras suara ini penting karena 80 persen aktivitas di 
masjid ialah mendengarkan ceramah, sisanya menunaikan shalat.
 "Jadi waktu soundsystem tidak bagus, maka 80 persen hilang manfaatnya," ujar 
Ketua Umum DMI tersebut.
 Adapun muktamar ini merupakan agenda lima tahunan dan forum tertinggi dalam 
kepengurusan DMI yang diikuti oleh seluruh Pimpinan Pusat (PP), Pimpinan 
Wilayah (PW) dan Pimpinan Daerah (PD) DMI.
 Muktamar akan menentukan kepengurusan dan program kerja DMI 
2017-2022.(Robertus Belarminus)
 Berita ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul: Buka Muktamar ke-7 DMI, JK 
Minta Masjid Dijaga dari Kelompok Radikal
 

Kirim email ke