----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: Awind [email protected] 
[perhimpunanpersaudaraan] <[email protected]>Kepada: 
GELORA_In <[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; [email protected] 
<[email protected]>; PERSAUDARAAN 
<[email protected]>; Sahala Silalahi 
<[email protected]>Terkirim: Sabtu, 18 November 2017 10.37.59 GMT+1Judul: 
[perhimpunanpersaudaraan] Setya Novanto Ditahan KPK, Dukungan Golkar ke Jokowi 
Bisa Geser
     
 


 
 
https://nasional.tempo.co/read/1034936/setya-novanto-ditahan-kpk-dukungan-golkar-ke-jokowi-bisa-geser
 
 
 Setya Novanto Ditahan KPK, Dukungan Golkar ke Jokowi Bisa Geser 
   Reporter: 
Ahmad Faiz Ibnu Sani
   Editor: 
Rina Widiastuti
  Sabtu, 18 November 2017 14:52 WIB     0 komentar     10001       
   -  Font: 
           
   -  Ukuran Font: - + 
   -    
 
   -    
 
  
Kini Anda dapat mengganti jenis dan ukuran font sesuai preferensi Anda.
 Saya mengerti          
Ketua DPR Setya Novanto menyampaikan pidato pembukaan masa sidang pada Rapat 
Paripurna ke-11 di Gedung Nusantara II, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, 15 
November 2017. Setya menghilang saat didatangi petugas KPK ke rumahnya kemarin 
malam. TEMPO/Dhemas Reviyanto
  
TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Eksekutif Voxpol Center Reseach and Consulting, 
Pangi Syarwi Chaniago, mengatakan penahanan Setya Novanto oleh Komisi 
Pemberantasan Korupsi (KPK) bisa mengubah dukungan Golkar untuk Presiden Joko 
Widodo atau Jokowi dalam pemilihan presiden 2019. Perubahan sikap ini 
tergantung dari apakah Setya Novanto bakal terganti dari jabatannya sebagai 
Ketua Umum Partai Golkar.
 
Apabila Setya segera mengenakan rompi orange sebagai tanda tahanan KPK, kata 
Pangi, ada kemungkinan terulang kembali perebutan dua poros antara pengurus 
Dewan Pimpinan Pusat yang menjadi loyalis Aburizal Bakrie (ARB) dengan Agung 
Laksono.
 
Baca: Pakar: Kasus Hukum Setya Novanto Posisikan Golkar di Zona Bahaya
 
"Tidak bisa dinafikan, berpotensi kembali mengeliat perebutan pengaruh tokoh 
sentral dan elite penentu seperti ARB dan Agung Laksono untuk menjadi ketua 
umum partai Golkar mengantikan Setnov," katanya dalam keterangan tertulis, 
Sabtu, 18 November 2017.
   
Menurut Pangi, bila yang menjadi pimpinan Golkar berasal dari trah kubu ARB, 
maka kemungkinan dukungan Golkar mengusung Presiden Jokowi di 2019 bakal 
dievaluasi. "Itu artinya, dukungan Golkar terhadap Jokowi bisa bergeser dan 
dipastikan belum aman," ucapnya.
 
Sebaliknya, bila poros Agung Laksono yang memenangkan pertarungan, maka Golkar 
dipastikan konsisten mendukung Jokowi dalam pilpres 2019. "Oleh karena itu, 
apabila Setnov ditahan KPK, konstelasi politik bisa berubah secara ekstrim, 
turbulensi di internal Golkar tak bisa dihindarkan," kata dia.
 
Baca: KPK: Kalau Dokter Bilang Oke, Setya Novanto Dibawa ke Rutan
 
Pangi berujar, di tubuh parti berlambang pohon beringin ini masih kental dengan 
aroma faksi. Kemenangan Setya Novanto tahun lalu, salah satunya karena Ketua 
DPR itu dianggap netral. "Bisa masuk ke kubu ARB dan bisa dekat juga dengan 
kubu Agung Laksono," ujarnya.
 
Pangi pun memprediksi ketua umum penganti Setya Novanto nanti polaritasnya 
mirip dan bisa mengambil posisi di tengah-tengah.
 
Setya Novanto terpilih menjadi Ketua Umum Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar 
Biasa yang berlangsung di Bali, tahun lalu. Beberapa tahun sebelumnya, Golkar 
dilanda dualisme kepemimpinan antara ARB dan Agung Laksono.
 
Dalam forum Munaslub itu, Golkar juga secara resmi mendeklarasikan dukungannya 
untuk Presiden Joko Widodo sebagai capres 2019-2024.
 
Saat ini, Setya Novanto sedang terbaring di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo 
setelah mengalami kecelakaan lalu lintas. Ia kini berstatus tahanan KPK dan 
menjadi tersangka dugaan korupsi proyek kartu tanda penduduk berbasis 
elektronik yang merugikan keuangan negara sebesar Rp 2,3 triliun.
  
 
 
 
 
 
 
 
    

Kirim email ke