Untuk persepsi mengenai PAI, survei PPIM menunjukkan 48,95 persen 
siswa/mahasiswa merasa “pendidikan agama memiliki porsi yang besar dalam 
memengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain”. Dengan kata 
lain, alih-alih berperan sebagai medium belajar menghargai perbedaan, 
pendidikan agama berpotensi membuat siswa merasa harus menjauh dari teman yang 
berbeda agama.

 ...
 Gen-Z, Intoleransi dan Pembaharuan Pendidikan Agama Islam 
https://tirto.id/gen-z-intoleransi-dan-pembaharuan-pendidikan-agama-islam-cz9Q 
Warga melintas di depan mural bertemakan keberagaman dan persatuan bangsa di 
Jakarta, Jumat (18/8). ANTARA FOTO/Galih Pradipta 873 Shares    
mailto:?subject=Gen-Z,%20Intoleransi%20dan%20Pembaharuan%20Pendidikan%20Agama%20Islam&body=https://tirto.id:443/gen-z-intoleransi-dan-pembaharuan-pendidikan-agama-islam-cz9Q
 Reporter: Terry Muthahhari 
https://tirto.id/author/terrymuthahhari?utm_source=internal&utm_medium=topauthor
 16 November, 2017dibaca normal 4 menit

 PPIM UIN Jakarta merekomendasikan tiga rekomendasi perubahan kurikulum 
Pendidikan Agama Islam.
 48,95 persen siswa/mahasiswa yang disurvei menilai pendidikan agama berperan 
memengaruhi agar tidak bergaul pemeluk agama lain.
 


 
 
 tirto.id https://tirto.id/?utm_source=internal&utm_medium=Article - Generasi Z 
disebut-sebut sebagai generasi yang menghargai keberagaman. Akan tetapi, 
karakterisasi tersebut tidak membuat Generasi Z kebal dari bibit intolerasi. 

Melalui survei nasional, Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN 
Syarif Hidayatullah Jakarta mengidentifikasi bibit intoleransi dari sikap 
keberagamaan Generasi Z di sekolah dan universitas. Survei ini menyoroti 
persepsi siswa, mahasiswa, guru dan dosen terhadap Pendidikan Agama Islam 
(PAI), hubungan agama dan negara, dan persoalan toleransi di Indonesia.  Survei 
dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 2.181 orang yang terdiri dari 1.522 
siswa, 337 mahasiswa, dan 264 guru di 34 provinsi di Indonesia.

Untuk persepsi mengenai PAI, survei PPIM menunjukkan 48,95 persen 
siswa/mahasiswa merasa “pendidikan agama memiliki porsi yang besar dalam 
memengaruhi mereka agar tidak bergaul dengan pemeluk agama lain”. Dengan kata 
lain, alih-alih berperan sebagai medium belajar menghargai perbedaan, 
pendidikan agama berpotensi membuat siswa merasa harus menjauh dari teman yang 
berbeda agama.

 Baca juga: Tirto Visual Report: Masa Depan di Tangan Generasi Z 
https://tirto.id/tirto-visual-report-masa-depan-di-tangan-generasi-z-ctMM

Hasil ini cukup mengkhawatirkan. Rekam jejak Indonesia dalam menjaga kebebasan 
beragama/berkeyakinan memang masih jauh dari sempurna. Menurut laporan Setara 
Institute 
http://setara-institute.org/kebebasan-beragamaberkeyakinan-di-indonesia-2016/slide-show
 sepanjang 2016 tercatat ada 208 peristiwa pelanggaran kebebasan 
beragama/berkeyakinan di Indonesia.

Generasi Z, sebagai generasi pemangku masa depan, idealnya dibekali pendidikan 
yang membimbing mereka menjauhi diskriminasi. Menurut PPIM, pengajaran 
pendidikan agama Islam, semestinya juga “memperkuat civic values (kebebasan, 
persamaan, keadilan, toleransi dan persatuan) bedasarkan Pancasila dan UDD 
1995”.

Alif (21 tahun), seorang Generasi Z yang merantau dari Aceh untuk kuliah di 
Universitas Indonesia, merasa PAI yang ia ikuti di SMA-nya di Aceh Besar belum 
membantunya dalam memahami isu-isu sosial keberagamaan. 

“Pelajaran yang paling banyak gue dapatkan adalah cara doa gimana, cara solat 
gimana. Sedangkan, pelajaran agama yang dapat diterapkan dalam kehidupan sosial 
itu sedikit sekali,” ujar Alif kepada Tirto. “Menurut gue nggak ada sama sekali 
sorotan terhadap agama lain. Misalnya, kebaikan apa yang bisa kita pelajari 
dari kelompok agama lain."

Secara aturan, materi mengenai cara salat, berdoa, berpuasa, dan berwudu dengan 
benar memang hal penting dalam ritual ibadah sekaligus bagian dari kurikulum 
pelajaran Agama Islam di sekolah dan universitas. Namun, Pendidikan Agama Islam 
dapat dikembangkan sebagai pintu pembelajaran bagi siswa/mahasiswa untuk 
mempelajari Islam secara komprehensif agar bisa hidup secara harmonis dalam 
perbedaan.

 Baca juga: Selamat Tinggal Generasi Milenial, Selamat Datang Generasi Z 
https://tirto.id/selamat-tinggal-generasi-milenial-selamat-datang-generasi-z-cnzX

Akan tetapi, problem dalam PAI di institusi pendidikan bukan satu-satunya. 
Kedekatan Generasi Z dengan akses internet juga membuka akses terhadap 
pandangan intoleran yang mengkerdilkan pentingnya nilai-nilai keberagaman. 
Temuan survei PPIM menunjukkan, lebih separuh siswa dan mahasiswa mendapatkan 
pengetahuan agama melalui internet seperti media sosial, blog, maupun situs 
berita daring.

Fenomena mencari informasi agama melalui internet didukung oleh hadirnya 
"ulama-ulama" di media sosial dan situs lainnya. Dalam analisis lanjutan, 
survei ini menemukan Generasi Z yang tidak memiliki akses internet memiliki 
opini lebih moderat dibandingkan yang terhubung dengan internet.  

Temuan lain dari hasil survei ini juga menggali persepsi negatif 
siswa/mahasiswa dan guru/dosen terhadap aliran minoritas seperti Ahmadiyah dan 
Syiah. Sebanyak 30,99 persen (siswa dan mahasiswa) menyebut Syiah sebagai 
kelompok yang tidak disukai di urutan pertama. Sementara itu, 64,66 persen guru 
dan dosen menyebut Ahmadiyah di urutan pertama.  

Dalam memahami gejala intoleransi, suara minoritas yang mewakili Generasi Z 
penting untuk didengarkan. Derril, generasi Z berumur 19 tahun, yang kuliah di 
jurusan Ilmu Ekonomi Universitas Indonesia, menceritakan pengalaman menjadi 
korban intoleransi yang dilakukan teman seumurannya. 

Baca juga:
 https://tirto.id/cara-orang-jerman-mengajarkan-toleransi-cvLjCara Orang Jerman 
Mengajarkan Toleransi 
https://tirto.id/cara-orang-jerman-mengajarkan-toleransi-cvLj Mencegah 
Anak-Anak Melakukan Bullying SARA 
https://tirto.id/mencegah-anak-anak-melakukan-bullying-berbasis-sara-coMB“Jadi 
kalau gue lagi santai sama dia, dia nggak bakal ada masalah, tapi kalau lagi 
cek-cok dikit langsung bawa-bawa fakta kalau gue Cina. ‘Dasar Cina’ gitu 
keluar,” jelas Derril kepada Tirto.

Hinaan rasialis yang diterima Derril relatif mudah ditemukan dalam praktik 
sehari-hari, termasuk dalam interaksi di kalangan Generasi Z. Dari pengalaman 
Derril juga tampak bahwa intoleransi tak hanya karena perbedaan agama, 
melainkan juga karena perbedaan ras, suku maupun etnis.
 Rekomendasi Pembaharuan Pelajaran Agama IslamToleransi tidak boleh dilakukan 
hanya karena alasan pragmatis yaitu dilakukan sekadar untuk mencegah konflik. 
Andrew Cohen, dalam tulisan berjudul What Toleration Is 
https://www.jstor.org/stable/10.1086/421982 (2004), memberikan definisi yang 
komprehensif soal toleransi. Ia menjelaskan toleransi sebagai “tindakan 
seseorang yang menahan diri secara sengaja dan berprinsip dari aktivitas yang 
mengintervensi mereka yang berlawanan (atau perilaku mereka, dll) di berbagai 
situasi yang melibatkan keberagaman, di saat individu tersebut meyakini ia 
memiliki kekuatan untuk ikut campur.”

Institusi pendidikan memegang peran krusial dalam menanamkan prinsip toleransi 
semacam itu agar menjadi basis dalam menyikapi berbagai situasi dan kondisi 
keberagaman. Dalam konteks pendidikan agama, PPIM UIN Jakarta merekomendasikan 
tiga rekomendasi perubahan untuk kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI). Dalam 
level materi, harus ada pengembangan literasi keagamaan melalui pendidikan 
lintas agama guna mengurangi prasangka buruk kepada kelompok agama yang 
berbeda. 

 Baca juga: Toleransi dan Kekufuran 
https://tirto.id/toleransi-dan-kekufuran-cq42 Toleransi Bermula dari Keluarga 
https://tirto.id/toleransi-bermula-dari-keluarga-cbBx
 share infografik


Selain itu, siswa-siswi harus dibiasakan berpartisipasi aktif dalam aktivitas 
yang memberikan pengalaman keberagaman. Misalnya, bertukar cerita mengenai 
pengalaman perayaan hari keagamaan dan nilai-nilai kebaikan yang juga diajarkan 
 agama lain. Sebagai rekomendasi terakhir, aktivitas pembelajaran pun harus 
dibuat interaktif yang mengkombinasikan berbagai bentuk materi pembelajaran. 

Mastuki, Kepala Biro Humas, Data dan Informasi Sekretariat Jendral Kementerian 
Agama, menjelaskan saat ini sedang dilakukan berbagai strategi pengarusutamaan 
PAI yang moderat dalam materi buku pelajaran, proses pembelajaran, rekrutmen 
guru dan pendekatan kepada anak-anak yang merupakan anggota Rohani Islam 
(Rohis). Untuk aspek materi, Buku Pendidikan Agama Islam Rahmatan Lil ‘Alamin 
yang pendekatannya lebih kepada moderasi ajaran Islam sedang diujicobakan di 8 
wilayah dalam dua tahun terakhir.

Untuk materi soal toleransi, PAI juga dirancang agar membiasakan siswa-siswi 
untuk menghargai kemajemukan. 

“Anak-anak dikenalkan dengan berbagai pemeluk-pemeluk agama. Karena ini 
pendidikan Agama Islam di sekolah, maka akan lebih mudah diterapkannya. Karena 
tidak homogen. Anak-anak Islam bisa ketemu dengan anak-anak Kristen,” jelas 
Mastuki kepada Tirto.

Selain pembelajaran toleransi dalam level praktis, anak-anak juga diajarkan 
mengenai pemahaman Islam yang melihat keberagaman bukan sebagai sebuah realita 
yang harus dihapuskan.

“Bahwa ada Kristen, Hindu, Budha, dan seterusnya itu niscaya. Kemajemukan itu 
bagian yang tidak terpisahkan dari sunnatullah. Begitu [kira-kira] misalnya 
pengajarannya. Anak-anak lebih memahami keberagaman dan kemajemukan itu bagian 
dari sunnatullah. Ketika sunnatullah, maka tidak mungkin melakukan upaya 
pemaksaan harus homogen,” kata Mastuki.

 Baca juga : Teladan Toleransi dari Kampung Sawah 
https://tirto.id/teladan-toleransi-dari-kampung-sawah-cwKp Pelajaran Toleransi 
dari Candi Borobudur 
https://tirto.id/pelajaran-toleransi-dari-candi-borobudur-cv2E
Kementerian Agama juga berkomitmen untuk melalukan proses rekrutmen dan seleksi 
guru-guru PAI melalui pemberian materi yang fokus terhadap pemahaman Islam yang 
komprehensif dan moderat. Namun, menurut Mastuki, yang harus juga diperbaiki 
adalah prosedur pengangkatan guru Agama di sekolah yang saat ini belum 
terpusat.  

“Guru agama di sekolah itu ada tiga pihak yang mengangkat. Kementerian Agama 
pernah melakukan pengangkatan tapi terbatas, yang paling banyak adalah dari 
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Pemda langsung. Inilah yang kita 
tidak bisa mengontrol guru agama seperti apa rekrutmennya,” jelas Mastuki.

Selain itu, diskusi mengenai tema-tema kebangsaaan dan relasi Islam dengan 
negara juga telah dilakukan dengan anak-anak yang menjadi anggota Rohis. 
Menurut Mastuki, informasi keagamaan yang "radikal" biasanya didapatkan oleh 
anggota Rohis dari mentor mereka di luar institusi pendidikan dan juga 
sumber-sumber di internet yang belum terverifikasi. 

Baca juga artikel terkait GENERASI Z 
https://tirto.id/q/generasi-z-fql?utm_source=internal&utm_medium=lowkeyword 
atau tulisan menarik lainnya Terry Muthahhari  
https://tirto.id/author/terrymuthahhari?utm_source=internal&utm_medium=lowauthor
 (tirto.id - try/zen)

 

Kirim email ke