From: [email protected] [GELORA45] 
Sent: Monday, November 20, 2017 10:59 AM

  





Indeks demokrasi Jakarta paling anjlok



Oleh : Yandi Mohammad
 |  17:00 WIB - Kamis, 14 September 2017



Ilustrasi unjuk rasa elemen buruh di kawasan Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Rabu 
(16/8). Mereka menolak terbitnya Perppu Ormas karena menganggap demokrasi 
Indonesia terancam akibat penandatanganan Perppu Ormas tersebut. © Makna Zaezar 
/Antara Foto

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis Indeks Demokrasi Indonesia (IDI) tahun 2016 
pada Kamis (14/9/2017). Di tingkat provinsi, DKI Jakarta menjadi provinsi yang 
mengalami penurunan terbesar indeks demokrasi.


Berdasarkan rilis BPS, ada 15 provinsi yang mengalami penurunan indeks 
demokrasi. Penurunan terbesar terjadi di Provinsi DKI Jakarta yang turun 14,47 
poin, dari 85,32 pada 2015 menjadi 70,85 pada 2016. Nilai indeks itu menjadikan 
Jakarta termasuk dalam kategori sedang.

BPS mengklasifikasikan tingkat demokrasi menjadi tiga kategori, yakni baik 
(nilai indeks lebih dari 80), sedang (indeks 60 - 80), dan buruk (indeks kurang 
dari 60).

"Tahun 2015, penurunan indeks demokrasi terjadi di Papua. Untuk tahun 2016, 
justru di DKI Jakarta," ujar Kepala BPS Suhariyanto melalui CNN Indonesia, 
Kamis (14/9/2017).


Pengukuran indeks demokrasi 2016 berlangsung ketika kondisi Jakarta menghangat 
menjelang Pilkada. Suasana kian memanas ketika video pidato Ahok di Kepulauan 
Seribu diunggah ke Youtube oleh Buni Yani.

Unjuk rasa berantai pada November dan Desember 2016 diikuti ribuan orang. Dalam 
aksi damai bertajuk 411 dan 212 itu, ribuan orang menyesaki kota Jakarta. 
Mereka menuntut proses hukum. Pada 16 November 2016, Ahok menjadi tersangka 
karena dianggap menistakan agama ketika berpidato di Kepulauan Seribu.

Peneliti LIPI Bidang Otonomi Daerah, Syarif Hidayat mengatakan penurunan aspek 
demokrasi terjadi karena adanya dinamika politik. Dinamika politik di DKI dan 
pilkada serentak di daerah juga akan mempengaruhi penurunan angka IDI dalam 
aspek kebebasan sipil.

Tak hanya Jakarta, ada juga provinsi lain yang indeksnya menurun cukup tajam, 
yaitu Sumatera Barat. Indeks provinsi ini turun 13,05 poin dari 67,46 pada 2015 
menjadi 54,41 pada 2016. Penurunan ini menyebabkan Sumatera Barat menjadi 
satu-satunya provinsi dengan indeks demokrasi kategori buruk pada 2016.

Terdapat empat provinsi yang berkategori baik, yaitu Yogyakarta, Kepulauan 
Bangka-Belitung, Nusa Tenggara Timur, dan Sumatera Selatan. Rata-rata provinsi 
di Indonesia masuk kategori sedang. Ada 29 provinsi berada dalam kategori 
sedang sehingga BPS menganggap kinerja demokrasi cukup merata di hampir seluruh 
wilayah Indonesia.

Nilai indeks di setiap provinsi itu memberikan kontribusi terhadap penghitungan 
indeks demokrasi nasional. Indeks Demokrasi Indonesia 2016 mencapai 70,09 dalam 
skala 0-100. Angka itu turun dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 72,82, meski 
tetap berada pada kategori sedang.

"Turun atau naik-nya Indeks Demokrasi Indonesia ini tidak hanya tergantung pada 
peran pemerintah, tapi perkembangan demokrasi ini sangat tergantung kepada 
aspek peran masyarakat, lembaga legislatif dalam hal ini DPRD di 34 provinsi, 
juga peran serta partai politik, dan penegak hukum," kata Kepala BPS 
Suhariyanto melalui Kontan.co.id, Kamis (14/9/2017).


Indeks demokrasi merupakan indikator komposit yang menunjukkan tingkat 
perkembangan demokrasi di Indonesia.

Tingkat capaiannya diukur berdasarkan pelaksanaan dan perkembangan tiga aspek 
demokrasi, yaitu: kebebasan sipil (civil liberty), hak-hak politik (political 
rights), dan lembaga-lembaga demokrasi (institution of democracy).

Kebebasan sipil itu diturunkan lagi menjadi kebebasan berkumpul dan berserikat; 
kebebasan berpendapat, kebebasan berkeyakinan; dan kebebasan dari diskriminasi.

Hak-hak politik terdiri dari hak memilih dan dipilih; serta partisipasi politik 
dalam pengambilan keputusan dan pengawasan pemerintahan.

Adapun lembaga demokrasi terdiri dari pemilu yang bebas dan adil; peran DPRD; 
peran partai politik; peran birokrasi pemerintah daerah; serta peradilan yang 
independen.

Indeks Demokrasi Indonesia bertujuan mengukur secara kuantitatif tingkat 
perkembangan demokrasi. Dari indeks itu akan terlihat perkembangan demokrasi 
sesuai dengan ketiga aspek yang diukur.

BPS menggunakan metodologi penghitungan indeks ini dengan 4 sumber data, yaitu: 
ulasan surat kabar lokal, dokumen (Perda, Pergub, dll), diskusi kelompok 
terarah (FGD), dan wawancara mendalam. Pengumpulan data dengan menggunakan 
pendekatan kuantitatif dan kualitatif.

Pada tahap pertama, data kuantitatif dikumpulkan dari koding surat kabar dan 
dokumen tertulis seperti perda, dan surat keputusan kepala daerah yang sesuai 
indikator.

Temuan itu diverifikasi dan dielaborasi melalui diskusi kelompok terarah, 
sekaligus menggali kasus yang tak tertangkap di koding surat kabar atau dokumen.

Data yang telah terkumpul diverifikasi lagi melalui wawancara mendalam dengan 
nara sumber yang kompeten. Semua tahapan pengumpulan data dilakukan oleh BPS 
Provinsi, diolah di BPS RI, dan diverifikasi oleh dewan ahli serta mitra kerja.

Indeks demokrasi indonesia mengalami fluktuasi sejak 2009-2016. Pada 2009, 
nilai indeks demokrasi Indonesia hanya 67,30. Angka itu terus mengalami 
perubahan hingga mencapai momen tertinggi pada 2014 sebesar 73,04. Indeks 
kembali turun menjadi 72,82 pada 2015 dan 70,09 pada 2016.

BPS menyebutkan bahwa fluktuasi angka indeks demokrasi merupakan cerminan 
situasi dinamika demokrasi di Indonesia.

Indeks demokrasi sebagai alat ukur perkembangan demokrasi yang khas Indonesia 
dirancang untuk sensitif terhadap naik turunnya kondisi demokrasi. Indeks ini 
disusun berdasarkan kejadian sehingga potret yang dihasilkan merupakan refleksi 
realitas yang terjadi.

Indeks Demokrasi Indonesia yang dirilis BPS, Kamis (14/9/2017) © Badan Pusat 
Statistik 



Kirim email ke