Padi hibrida lebih menggiurkan bagi petani Tabanan
Pewarta: System  Senin, 20 November 2017 13:29 WIB
 
Kajian teknologi padi hibrida dengan pendekatan “Small Farmer, Large Field” 
(SMLF) yang prinsipnya adalah petani dengan kepemilikan lahan yang kecil 
dikelola secara bersama (kelompok tani) dengan varietas yang sama dan system 
budi daya yang sama sehingga dapat meningkatkan hasil pendapatan petani.

Jakarta (ANTARA News) - Desa Tajen, Kec. Penebel, Kab. Tabanan, Bali pada tahun 
ini terpilih menjadi pusat dilaksanakan gelar teknologi padi hibrida. 

Siaran pers Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian 
menyebutkan, gelar teknologi tersebut merupakan salah satu dari rangkaian 
kegiatan The International Hybrid Rice Symposium yang rencananya akan 
diselenggarakan di Yogyakarta  pada Februari  2018.

Kajian teknologi padi hibrida dengan pendekatan “Small Farmer, Large Field”  
(SMLF)  yang prinsipnya adalah petani dengan kepemilikan lahan yang kecil 
dikelola secara bersama (kelompok tani) dengan varietas yang sama dan system 
budi daya yang sama sehingga dapat meningkatkan hasil pendapatan petani. 

Gelar teknologi seluas lima puluh hektar melalui pendekatan SMLF ini 
menampilkan dua belas varietas hibrida produk Badan Penelitian dan Pengembangan 
Pertanian, Kementerian Pertanian maupun varietas hibrida dari mitra swasta yang 
ada di Indonesia.

Desa yang  berada di ketinggian ±300-400 mdpl tersebut merupakan salah satu 
lumbung padi selain kabupaten-kabupaten lain di pulau Bali. Budaya agraris 
sangat kental di pulau yang terkenal dengan sebutan pulau dewata ini. 

Wisatawan asing yang datang membawa budaya mereka masing-masing namun adat 
istiadat, nilai-nilai budayanya tetap bisa dipertahankan.

Keterkaitan antara tradisi masyarakat Bali dengan lingkungan masyarakat 
berbudaya memberikan nuansa tersendiri dan berbeda dengan daerah lain. 
Lingkungan tersebut terbentuk dalam sebuah wujud budaya dan perilaku telah 
diwariskan turun temurun. 

Tatanan perilaku menjadi sebuah warisan dalam kehidupan sehari-hari yang 
bertahan hingga saat ini. Sebgai contoh salah satunya adalah sistem pertanian 
subak yaitu sistem pengairan (irigasi) yang telah melembaga selama beberapa 
abad. Subak bagi masyarakat Bali tidak hanya sekedar sistem irigasi, tetapi 
juga merupakan konsep kehidupan bagi rakyat Bali itu sendiri. 

Pembagian air dilakukan secara adil dan merata, segala masalah dibicarakan dan 
dipecahkan bersama, bahkan penetapan waktu menanam dan penentuan jenis padi 
yang ditanam pun dilakukan bersama.

Sanksi terhadap berbagai bentuk pelanggaran akan ditentukan sendiri oleh warga 
melalui upacara atau ritual yang dilaksanakan di pura. Harmonisasi kehidupan 
seperti inilah yang menjadi kunci utama lestarinya budaya Subak di pulau dewata.

Adanya program dari Kementerian Pertanian pada gelar teknologi padi hibrida 
yang digelarkan di Desa Tajen tidak bermaksud menggeser tatanan masyarakat 
petani setempat untuk meninggalkan budayanya. Teknologi budidaya dan penggunaan 
varietas unggul hadir semata-mata untuk meningkatkan produksi padi dan 
kesejahteraan petani tanpa meninggalkan budaya setempat.

Dilandasi dengan kebiasaan dan perilaku petani yang familiar menamam padi 
hibrida setiap musimnya  mendorong keinginan Balitbangtan untuk mengenalkan 
varietas hibrida kepada petani dengan harapan  bisa meningkatkan produksi dan 
pendapatan petani.  

I Gusti Nyoman Sutirka sebagai pekaseh atau ketua kelompok tani Subak Tajen, 
dengan logat balinya yang kental mengatakan “beberapa musim saya tanam padi 
hibrida hasilnya tinggi dan ada peningkatan sekitar 2 ton dibanding tanam 
varietas inbrida, sehingga para petani disini tertarik untuk ikut menanam 
varietas hibrida yang lain, dengan harapan hasilnya tinggi”, katanya.

Display varietas hibrida yang saat ini ditanam di areal gelar teknologi berumur 
90 hari dengan sistem tanam jajar legowo. 

Dalam perbincangan ditempat terpisah I.G.N Sutirka menuturkan bahwa petani 
sudah terlanjur tertarik mananam padi hibrida sehingga walaupun harga benihnya 
mahal tetapi petani akan berusaha untuk membelinya” tutur bpk yang lebih akrab 
dipanggil Pak Pekaseh

Kepala Balai Besar Penelitian Tanaman Padi Dr. Ismail Wahab dalam arahanya 
selalu menyampaikan agar pelaksanaan kegiatan yang bekerja sama dengan 
Internatioanal Rice Research Institute (IRRI), BPTP Bali, Dispertan Kab. 
Tabanan serta Dinas Pertanian Prov. Bali ini dapat dijadikan momen penting 
dalam pengembangan padi hibrida di Indonesia sekaligus bisa dijadikan media 
promosi kepada pengguna/petani.

Kelembagaan petani sudah teroganisir dengan baik dan setiap petani  mudah 
mendapatkan sarana prasarana produksi dari Koperasi yang mereka bayar setiap 
habis panen. Kelemahan dan keluhan petani desa ini masih menjual padinya dengan 
sistem tebas.  

Petani mengakui bahwa cara menjual hasil panen dengan cara tersebut petani 
kurang diuntungkan. Diharapkan dengan adanya gelar teknologi ada pemahaman 
kepada petani tentang cara meningkatkan produksi dan mengurangi 
kehilangan/susut hasil panen, sekaligus merubah kebiasaan petani yang awalnya 
jual sistem tebas, kedepan petani bisa menjual hasil gabah kering panen agar 
pendapatan petani lebih tinggi.

Dalam perbincangan singkat dengan Kepala Desa Tajen I Gusti Putu Sumertayasa 
atau yang akrab dipanggil Perbekel menghimbau kepada masyarakatnya agar petani 
diwilayahnya serius  dan bisa mengadopsi  teknologi sesuai dengan kondisi alam 
dan cocok bagi petani bersangkutan dalam usaha tani di wilayah lingkungannya. 
Dan kegiatan seperti itu patut didukung karena bisa mensinergikan antara 
pertanian muatan local dengan teknologi kekinian,” imbuh Pak Kades

Gelar teknologi dalam bentuk display varietas dan teknologi budidaya unggulan 
yang menjadi bagian dari kegiatan kajian SFLF akan digunakan sebagai 
international show window padi hibrida yang dikembangkan Balitbangtan, 
Kementerian Pertanian ke forum internasional. (Shr/AG)


Editor: Aditia Maruli Radja

Kirim email ke