https://www.antaranews.com/berita/665932/alasan-jokowi-bangun-infrastruktur-untuk-satukan-indonesia
Alasan Jokowi bangun infrastruktur, untuk satukan Indonesia
Pewarta: Joko Susilo Senin, 20 November 2017 13:53 WIB
Presiden Joko Widodo . (ANTARA /Puspa Perwitasari)
Jakarta (ANTARA News) - Presiden Joko Widodo mengatakan pembangunan
infrastruktur yang gencar dilakukan oleh pemerintahannya saat ini tidak
hanya berhubungan dengan ekonomi saja, tetapi juga menyatukan bangsa
Indonesia.
"Banyak orang melihat pembangunan infrastruktur hanya berkaitan dengan
ekonomi, mobilitas logistik, mobilitas orang dan barang, ya. Tetapi yang
paling penting, infrastruktur yang kita bangun adalah infrastruktur yang
menyatukan bangsa Indonesia," kata Presiden saat membuka Simposium
Nasional Kebudayaan Tahun 2017 di Jakarta, Senin.
Kepala Negara menjelaskan pembangunan bandara dan pelabuhan di
pulau-pulau terpencil dan daerah pinggiran adalah untuk menyatukan 17
ribu pulau milik Indonesia.
Presiden mengatakan walaupun infrastruktur di pulau terpencil harus
dikerjakan karena hal itu adalah pulau terdepan dan bisa menghubungkan
masyarakat ini dengan pulau lainnya.
"Saya pernah terbang dari Aceh ke Wamena, waktu yang saya tempuh
sembilan jam 15 menit. Tanpa infrastruktur orang Aceh tidak bisa
langsung ke Wamena. Bagaimana kita ke Pulau Miangas kalau di sana tidak
ada infrastrukur pelabuhan, airpor meskipun tidak panjang," kata Jokowi.
Presiden juga menyinggung dibangunnya Trans Papua walaupun banyak
masukan apakah perlu dibangun saat ini karena anggaran yang besar.
"Pertanyaan ini kayak telur sama ayam, dibangun infrastruktur baru
pertumbuhan ekonomi ada atau menunggu pertumbuhan ekonomi ada baru
dibangun jalan," kata Jokowi.
Namun Presiden menegaskan pembangunan Trans Papua ini bukan urusan
ekonomi semata tetapi berkenaan dengan pemerataan pembangunan dan
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Jokowi menegaskan infrastruktur tidak mungkin dibangun di Jawa saja,
tetapi harus merata ke seluruh wilayah Indonesia.
Presiden mengakui jika dilihat dari `return` (pengembalian) ekonomi di
Jawa lebih cepat pengembaliannya, begitu juga jika dihubungkan dengan
politik karena 60 persen penduduk ada di Jawa,
"Tapi ini kan masalah pemerataan pembangunan, bagaimana kita menyatukan
seluruh tanah air ini kalau ada ketimpangan infrastruktur," katanya.
Presiden mengakui saat ini antara wilayah barat dan timur masih memiliki
perbedaan yang jauh terkait infrastuktur yang dimilikinya.
"Sangat kelihatan sekali. bayangkan kalau penduduk di Wamena mau pergi
ke Nduga harus berjalan empat hari empat malam melewati hutan
belantara," ungkapnya.
Presiden mengaku pernah berkunjung ke Nduga, walaupun telah
diperingatkan daerah berbahaya oleh Panglima TNI dan Kapolri.
Jokowi mengaku kaget dengan keadaan di Nduga yang jalannya belum
beraspal dan kantor Bupatinya juga belum ada. "Ini keadaan yang akan
saya lihat, masyarakat kita yang akan kita lihat," ungkap Presiden.
Editor: Jafar M Sidik
COPYRIGHT © ANTARA 2017