*Di banyak negeri diusahakan perkembangan dan peningkatan pemakain
alternatif engeri misalnya energi sinar matahari. Di NKRI mau dijadikan
sawit menjadi solusi listrik. Jadi harus membabat hutan yang adalah
paru-paru dunia, untuk menanam sawit buat mendapatkan listrik, pada hal
misalnya sinar matahari bisa di dapat gratis. Disamping itu banyak sungai
juga bisa dibuat ”mini hydro eletric power” untuk sejumlah desa di dekatny*a.
*Jika hal ini dilakukan bisa banyak desa terpencil mempunyai listrik murah
tanpa polusi udara.*


http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/17/083000026/bappenas--perkembangan-energi-terbarukan-hadapi-banyak-tantangan


Bappenas: Perkembangan Energi Terbarukan Hadapi Banyak Tantangan

Kompas.com - 17/11/2017, 08:30 WIB

[image: Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat memberikan
keynote speech dalam Forum Diskusi Kadin dengan tema Kebijakan Pembangunan
untuk Mendukung Energi Terbarukan di Bonn, Jerman, Selasa (14/11/2017).]Menteri
PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro saat memberikan keynote speech
dalam Forum Diskusi Kadin dengan tema Kebijakan Pembangunan untuk Mendukung
Energi Terbarukan di Bonn, Jerman, Selasa (14/11/2017).(Dok. Bappenas)



*BONN, KOMPAS.com* - Menteri PPN/Kepala Bappenas
<http://indeks.kompas.com/tag/Bappenas>, Bambang
<http://indeks.kompas.com/tag/Bambang>Brodjonegoro mengatakan dari sisi
perencanaan, Indonesia perlu melakukan terobosan dengan mendekatkan kawasan
industri ke sumber-sumber energi terbarukan
<http://indeks.kompas.com/tag/energi-terbarukan>.

Menurut dia, diperlukan koordinasi antarkementerian dan lembaga untuk
menghasilkan kebijakan yang komprehensif dan holistik.

Hal itu dipaparkan Bambang saat memberikan keynote speech dalam Forum
Diskusi Kadin dengan tema "Kebijakan Pembangunan untuk Mendukung Energi
Terbarukan <http://indeks.kompas.com/tag/energi-terbarukan>" di Bonn,
Jerman, Selasa (14/11/2017).

Baca juga : Menperin Janji Beri Insentif untuk Riset Energi Terbarukan
<http://ekonomi.kompas.com/read/2017/11/14/131827326/menperin-janji-beri-insentif-untuk-riset-energi-terbarukan>

“Harus ada koordinasi yang lebih intensif antara kementerian yang berurusan
dengan sektor industri dan sektor energi dalam membangun industri berbasis
energi terbarukan, sehingga pengembangan kawasan industri dapat lebih
diarahkan ke lokasi dengan potensi energi terbarukan yang besar," kata
Bambang, melalui siaran pers ke *Kompas.com*.

*Tantangan Pembiayaan*

Menurut Bambang, saat ini perkembangan energi terbarukan menghadapi banyak
tantangan, tercermin dari lambatnya pertumbuhan kontribusi energi
terbarukan terhadap pasokan energi nasional, dari 6 persen pada tahun 2014
menjadi hanya 7 persen pada tahun 2016.

Padahal, Kebijakan Energi Nasional (KEN) menetapkan target ambisius untuk
porsi energi terbarukan dalam bauran energi nasional sebesar 23 persen pada
tahun 2025 dan meningkat menjadi 31 persen pada tahun 2050.

Pengembangan energi terbarukan kian penting, mengingat seluruh dunia sudah
berkomitmen pada tahun 2015 untuk mengurangi emisi karbon, menerapkan
ekonomi hijau, dan mengurangi kemiskinan yang berujung pada pembangunan
berkelanjutan.

Baca juga : Energi Terbarukan dari Industri Sawit Dinilai Solusi Kelangkaan
Listrik Nasional
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/08/28/175008626/energi.terbarukan.dari.industri.sawit.dinilai.solusi.kelangkaan.listrik.nasional>

Energi juga berperan sebagai faktor esensial dalam pembangunan
berkelanjutan dan mengatasi kemiskinan.

“Dalam Sustainable Development Goals, yang secara khusus memasukkan energi
dan tujuannya, meminta seluruh negara untuk memastikan akses energi yang
terjangkau, andal, modern dan berkelanjutan bagi semua,” jelas Bambang.

Pengembangan energi terbarukan juga penting karena produksi minyak dan gas
terus menyusut selama sepuluh tahun terakhir dan Indonesia menjadi negara
importir.

Pada tahun 2021-2022, Indonesia akan menjadi negara net importir gas
seiring peningkatan permintaan konsumsi gas domestik.

Baca juga : Bahkan Arab Saudi pun Kini Mulai Lirik Energi Terbarukan,
Selain Minyak
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/03/21/081613626/Bahkan.Arab.Saudi.pun.Kini.Mulai.Lirik.Energi.Terbarukan.Selain.Minyak>

Bambang menambahkan, permasalahan pembiayaan menjadi tantangan dalam
mencapai transformasi produksi dan penggunaan energi nasional.

Ia menjelaskan Program Sektor Lingkungan, Program Pertumbuhan Hijau, dan
Millennium Challenge Account adalah beberapa kegiatan pendukung pembiayaan
yang dapat membantu pengembangan energi terbarukan.

“Faktanya, banyak negara donor tertarik untuk membantu Indonesia
mengembangkan kapasitas energi terbarukan. Oleh karena itu, kita perlu
mempercepat pemanfaatan dana hibah internasional itu dengan terus
memperkuat manajemen kelembagaannya,” ujar dia.

*Tantangan Teknologi*

Tantangan lainnya, lanjut Bambang, adalah mengembangkan teknologi energi
terbarukan di Indonesia.

Baca juga : Pemerintah Butuh Rp 1.600 Triliun untuk Kembangkan Energi
Terbarukan
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/01/20/121300426/Pemerintah.Butuh.Rp.1.600.Triliun.untuk.Kembangkan.Energi.Terbarukan>

Menurutnya, tanpa dukungan teknologi yang baru, bersih, dan efisien,
Indonesia akan tetap bergantung pada teknologi dan peralatan impor.

Dukungan teknologi yang aplikatif dan efisien sangat diperlukan untuk
pengembangan energi terbarukan. Usaha ke depan perlu difokuskan pada
penelitian dan pengembangan sumber energi terbarukan yang banyak tersedia
di Indonesia dan teknologi yang mudah dioperasikan, bahkan di daerah
terpencil dengan menggunakan peralatan sederhana.

“Dengan upaya saat ini, kita tidak dapat menutup celah akses energi dan
jika kita tidak membuat kemajuan seperti itu, maka dapat membahayakan
pencapaian tujuan pembangunan berkelanjutan lainnya.Oleh karena itu,
penting bahwa akses terhadap energi berkelanjutan disampaikan lebih awal
untuk  mendukung pencapaian SDGs lainnya pada tahun 2030,” jelasnya.

Menurut Menteri Bambang, energi terbarukan dan efisiensi energi tidak lagi
merupakan sektor yang hanya dipromosikan oleh pemerintah.

Baca juga : Terabaikan, 99 Persen Potensi Energi Terbarukan di Indonesia
<http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2016/05/21/131328826/terabaikan.99.persen.potensi.energi.terbarukan.di.indonesia>

Meningkatnya tingkat investasi global dan fakta bahwa sebagian besar modal
berasal dari pelaku keuangan konvensional menunjukkan bahwa pilihan energi
berkelanjutan sekarang menjadi mainstream.

Kirim email ke