Sebenarnya yang diajukan adalah masalah KESEIMBANGAN dalam proses perkembangan 
setiap hal ihwal. Begitu terjadi ketidak seimbangan, harus diatur agar yang 
berkontradiksi itu, yang saling bertentangan itu menjadi agak seimbang dan 
proses perkembangan bisa berlanjut lebih baik dan lebih cepat, ...

Karena selama puluhan tahun ini pembangunan infrastruktur TIDAK mendapat 
perhatian, Jokowi justru menekankan dan mendahulukan pembangunan infrastruktur 
utk mendorong perkembangan ekonomi nasional bisa lebih baik. Yaa, bagaimana 
bisa tumbuh berkembang lebih baik, kalau hasil produksi berlebih disatu tempat 
tidak bisa ditransfer kedaerah lain yang justru kekurangan? Bagaimana bisa 
mengembangkan usaha menampung SDM yang berlebih kalau hsil produksi kesulitan 
untuk masuk kepasar?

Jadi, memang kita selalu dihadapi masalah, selesai satu masalah akan timbul 
masalah baru, ... pada saat terjadi perubahan situasi objektif diperlukan 
kemampuan subjektif untuk merubah kebijakan agar kontradiksi itu menadapat 
keseimbangan dan proses perkembangan bisa berlanjut dengan lebih baik. Dilihat 
saja hasilnya mana yang lebih baik. Baik untuk perseorangan, perusahaan 
bersangkutan maupun skala kota dan seluruh negeri, ... yang tentu bisa saja 
berbeda.

Disatu perusahaan, ambil saja kebijaksanaan BOC-HK sb contoh, memasuki tahun 
90-an menjelang HK kembali kepangkuan Ibu-Pertiwi tahun 97, mengembangkan 
cabang-bank dengan kecepatan tinggi, ... tapi begitu menghadapi gempuran 
krismon akhir 1997, dengan begitu banyak cabang-bank dirasakan BERAT ongkos 
pengeluarannya. Untuk menekan biaya pengeluaran, karena janji Basic Law HK, 
taraf kehidupan tidak menurun setelah HK kembali kepangkuan Ibu-Pertiwi, bagi 
pegawai yg masa kerjanya lebih 15th, tidak naik gaji! Sampai tahun 2000 tetap 
tidak menyelesaikan soal, harus ambil kebijakan regrupping, menggabungkan yg 
semula 13 nama bank yg dibawah nauangan BOC, menjadi satu nama BOC dan, dengan 
demikian bisa menutup cabang bank yg kurang beruntung bahkan rugi dan 
menggabungkan jadi satu cabang bank yg tempatnya lebih strategis disekitar 
wilayah itu. Akibatnya, ketentuan semula wanita pensiun diusia 55, pria 60 
tahun atau masa kerja 30th, disamakan usia pensiun wanita-pria 55th! Tapi, 
karena tugas saya digrup computer bank, masih dibutuhkan utk bongkar computer 
dibank yg harus ditutup untuk dipasang ke bank yg dipertahankan, ... setelah 
selesai ditahun 2003 baru dipensiun. Bahkan setahun kemudian, grup Reparasi 
Computer yg saya pimpin itu juga harus dibubarkan. Karena sudah tidak memadai 
dengan keb utuhan lagi. Lha, kalau sebelumnya, saat menggunakan sistem computer 
IBM, harga computer diatas 10 ribu dollar sedang gaji teknisi cuma ribuan, 
setelah th 2000 harga computer cuma ribuan gaji teknisi hampir 10 ribu bahkan 
masa kerja yg sudah 15th bisa diatas 10 ribu dollar! Kalau rusak, tidak ada 
nilai untuk reparasi, lebih baik ganti baru saja! Hehehee, ...

Ini terjadi disaat keadaan ekonomi HK sedang merosot drsatis, tapi, saya 
perhatikan bisa juga terjadi sebaliknya. Seperti saya temukan kisah perubahan 
desa miskin terbelakang di Tiongkok, dengan adanya mekanisasi sangat mengurangi 
penggunaan tenaga kerja manusia, tapi karena produksi jadi berlimpah, ... bisa 
mendapatkan keuntungan jauh lebih besar, justru meningkatkan kesejahteraan 
petani desa! Dan, semua itu juga terjadi setelah jaringan jalan tol, KA-Cepat 
di RRT sudah begitu luasnya sampai kemana-mana, jadi memudahkan desa-desa 
terpencil utk berhubungan dengan desa-desa, kota-kota diseluruh negeri! 
Ditambah lagi dengan jaringan Wi-Fi yg sudah mencapai desa-desa terpencil, 
lebih memudahkan dan mempercepat KOMUNIKASI untuk transaksi dan kehidupan pasar 
hasil-hasil produksi desa diseluruh negeri.

Salam,
ChanCT


From: kh djie [email protected] [GELORA45] 
Sent: Wednesday, November 22, 2017 1:53 AM
To: Gelora45 ; Chalik Hamid 
Subject: Re: [GELORA45] Fw: [nasional-list] 2020 Indonesia Panen Bonus 
Demografi, Sudirman: Jadi Berkah Jika Infrastruktur Lunak Dibereskan

  

Banyak generasi muda yang nanti membutuhkan pekerjaan.
Kalau mereka tidak mendapat pekerjaan, dan juga sulit untuk mendapat pekerjaan 
di luar negeri,
situasi dapat berbahaya.
Dulu di Nederland, saya kira juga sampai sekarang, kami harus melever 10 % jam 
kerja.
Jadi dari 40 jam kerja seminggu, jadi 36 jam seminggu. Ada juga yang karena itu 
milih kerja 4 hari 
kali 9 jam per hari
Jadi 4 hari kerja, 3 hari libur.
Asistent managers diharuskan kerja 38 jam/minggu. Yang 2 jam dibayar extra.


2017-11-21 18:40 GMT+01:00 Chalik Hamid [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>:

    



  ----- Pesan yang Diteruskan -----
  Dari: Sunny ambon [email protected] [nasional-list] 
<[email protected]>
  Kepada: @ <undefined>
  Terkirim: Selasa, 21 November 2017 12.31.35 GMT+1
  Judul: [nasional-list] 2020 Indonesia Panen Bonus Demografi, Sudirman: Jadi 
Berkah Jika Infrastruktur Lunak Dibereskan

    
  Hasil panen jangan disia-siakan, tetapi disyukurkan sebagai berkat 
kebahagiaan dari Atas.





  
http://www.suara-islam.com/read/kabar/daerah/24114/2020-Indonesia-Panen-Bonus-Demografi-Sudirman-Jadi-Berkah-Jika-Infrastruktur-Lunak-Dibereskan





  2020 Indonesia Panen Bonus Demografi, Sudirman: Jadi Berkah Jika 
Infrastruktur Lunak Dibereskan
  11 November 23:53 | Dilihat : 498 

  Sudirman Said menjadi pembicara seminar nasional bertajuk Indonesia 
Bersinergi Menyambut Bonus Demografi, Sabtu (11/11) di Universitas Diponegoro, 
Semarang, Jateng.

  Semarang (SI Online) - Mulai tahun 2020 mendatang Indonesia akan memanen 
bonus demografi. Namun, jika tidak dipersiapkan dan dikelola dengan baik, 
situasi besarnya jumlah usia produktif dibanding nonproduktif ini bisa berubah 
menjadi musibah bagi bangsa Indonesia.

  Ketua Institut Harkat Negeri (IHN), Sudirman Said menyatakan hal itu dalam 
acara seminar nasional bertajuk Indonesia Bersinergi Menyambut Bonus Demografi, 
Sabtu (11/11) di Universitas Diponegoro, Semarang, Jateng.

  "Jika infrastrukturnya tidak disiapkan, bonus demografi yang seharusnya bisa 
menjadi berkah bagi pembangunan justru akan menimbulkan masalah," kata 
Sudirman, yang hadir sebagai pembicara tunggal dalam forum yang diadakan 
Diponegoro School of Nation itu.

  Menurut Sudirman, yang tak kalah penting disiapkan untuk menyambut bonus 
demografi adalah infrastruktur lunak (soft infrastructure). Ini meliputi 
beragam hal yang berkaitan dengan masalah moral dan etika dalam berbangsa, 
seperti penegakan hukum, pemberantasan korupsi, kepemimpinan yang memberi 
keteladanan dan menginspirasi, serta mengedepankan keadilan sosial.  

  “Infrastruktur fisik penting, tapi yang tak kalah penting adalah pembangunan 
soft infrastructure. Tanpa ini bonus demografi akan berpotensi menimbulkan 
banyak masalah,” imbuh Sudirman dalam acara yang dihadiri oleh aktivis 
mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia ini.

  Jika infrastruktur lunak mampu dibereskan, maka prediksi sejumlah lembaga 
bahwa Indonesia akan menjadi negara terbesar keempat dunia secara ekonomi akan 
terwujud. Ini mengingat SDM produktif Indonesia, yang jumlahnya 70 persen 
lebih, akan menghasilkan produk barang dan jasa yang mampu diserap, baik oleh 
pasar domestik maupun ekspor.

  “Jika PR besar mampu kita bereskan, maka ekonomi akan tumbuh tinggi, lapangan 
kerja tersedia, tingkat pengangguran dan kemiskinan dapat ditekan, daya beli 
masyarakat meningkat, yang pada gilirannya akan meningkatkan pula kemakmuran 
bangsa Indonesia,” jelas Sudirman, yang juga calon gubernur Jawa Tengah ini.

  Untuk mengorkestrasi semua ini agar berjalan dengan baik, dalam pandangan 
Sudirman, perlu pemimpin yang tidak saja kompeten, tetapi juga memiliki visi ke 
depan (visioner). Pemimpin yang bekerja semata untuk kepentingan bangsa dan 
negara, bukan untuk golongan apalagi pribadi. 

  Dalam kesempatan itu, kepada aktivis mahasiswa sebagai calon pemimpin bangsa, 
Sudirman mengajak untuk mempersiapkan diri berperan mendorong terjadinya 
perubahan sebagaimana yang pernah dilakukan para pelajar dan mahasiswa di era 
perjuangan.

  “Seluruh perubahan besar dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia selalu 
dimotori oleh mahasiswa, pemuda, dan kaum cendikiawan. Karena itu persiapkan 
diri sebaik mungkin untuk menyongsong perubahan mendatang,” pungkas Sudirman.

  Red: shodiq ramadhan



Kirim email ke