Cilakanya, Jokowi lebih suka membiarkan radikalisme tumbuh 
supaya bisa digebuk, laksana polantas nakal yang sembunyi 
di balik pohon menunggu orang melanggar rambu. Sudah terlalu 
lama pendidikan tidak dijadikan prioritas dalam membangun bangsa. 
Tidak menjalankan amanat UUD'45. Bahkan di era pemerintahan 
Joko Widodo banyak tokoh dan pakar pendidikan yang berjuang 
mencerdaskan kehidupan bangsa malah dibiarkan kena 'gebuk' juga, 
sebagaimana dialami Arief Rachman, Conny Semiawan dll.
Arief Rachman Diberhentikan dari LabschoolArief yang juga guru besar di 
Universitas Negeri Jakarta itu tak mengetahui 
alasan pemberhentiannya. 

Labschool Tanpa Arief Rahman, Apa Bisa?Orde Baru beserta pemimpinnya kini sudah 
tiada. Prof. Arief Rachman, 
di sisi lain, masih tetap eksis di Labschool UNJ. Disinilah nasib kedua 
musuh lama ini berpisah jalan. Namun perhatikanlah kata pepatah: Siapa 
yang tidak belajar dari sejarah akan mengulangi kesalahan yang sama.
--- j.gedearka@... wrote:

https://www.antaranews.com/berita/666780/pakar-pendidikan-karakter-bentengi-pelajar-dari-radikalisme
  
Pakar: pendidikan karakter bentengi pelajar dari radikalisme
   Kamis, 23 November 2017 19:58 WIB   Jakarta (ANTARA News) - Pakar pendidikan 
Profesor Arief Rachman mengatakan pendidikan karakter harus terus diberikan 
kepada pelajar dan mahasiswa untuk membentengi mereka dari ancaman paham 
kekerasan atau radikalisme dan ideologi asing yang ingin merusak generasi 
bangsa.
 
 "Para generasi penerus bangsa harus memperoleh materi bidang pendidikan 
tersebut supaya mereka mampu menyaring mana yang baik dan mana yang buruk, 
serta mana yang bermanfaat maupun tidak dibutuhkan," kata Arief di Jakarta, 
Kamis.
 
 Menurut Arief, pendidikan karakter bangsa itu bisa berupa penguatan ideologi 
Pancasila serta pemahaman nilai-nilai agama yang benar.
 
 Ia mengatakan penguatan karakter bangsa ini bisa menjadi kunci dalam membekali 
generasi muda, terutama di era digitalisasi sekarang ini. 
 
 "Melalui media digital kan kita bisa berhubungan secara internasional, bisa ke 
Eropa, bisa ke Amerika. Jadi, harus ada pendidikan karakter bangsa supaya 
anak-anak bisa menyaring mana baik dan mana yang buruk, mana yang bermanfaat 
mana yang tidak perlu," katanya.
 
 Dalam pandangannya, anak-anak usia sekolah harus memahami pemakaian media 
digital secara sehat. Dengan demikian, informasi yang didapat maupun 
pemanfaatannya harus selalu berlandaskan prinsip-prinsip berbangsa dan 
bernegara.
 
 "Jangan sampai kita membiarkan media digital itu dipakai untuk hal-hal yang 
negatif. Itu yang ingin saya tekankan dan saya sampaikan," kata Guru Besar 
Universitas Negeri Jakarta itu.
 
 Ia mengatakan kemajuan teknologi tidak bisa dihindarkan sehingga 
sekolah-sekolah harus memperkenalkan media digital karena tidak ada yang bisa 
membuat anak-anak steril dari kemajuan teknologi komunikasi.
 
 Justru, kata Arief, teknologi komunikasi harus disapa oleh sekolah untuk 
dipakai secara positif oleh anak-anak untuk proses belajar mengajar.
 
 "Saya pikir tidak apa-apa media digital itu dipakai untuk proses belajar 
mengajar. Semua mata pelajaran bisa diakses melalui media digital, kecuali 
untuk praktik laboratorium, tapi rumus-rumus kimia itu bisa (dipelajari) di 
media digital," katanya.  
Pewarta: Sigit Pinardi
 Editor: Kunto Wibisono
 COPYRIGHT © ANTARA 2017
  

Kirim email ke