Apa ada yang lapar, dapat bakpaonya SETNOV ? Dahulu di Tiongkok, di jaman Manchu, ada jago silat yang ikut gerakan bawah tanah, sembunyi kerja sebagai koki di restaurant. Orang2 kaya yang datang makan, tidak hanya menikmati masakannya, tetapi juga gaya masaknya pakai kungfu, yang melemparkan makanan dari wajan dan ditangkap kembali dan api yang menyala sebentar di masakannya, yang membuat baunya lebih sedap. Orang2 kaya suka memperlihakan kekayaannya dengan cara pesan makanan berlebihan. Kalau pesan hanya 7 masakan, dianggap pasti tidak cukup uang. Di sana kebiasaan yang kaya, makan lengkap 10 macam makanan untuk satu meja. Kebanyakan ya, tidak habis, ditinggal. Tidak ada kebiasaan makanan lebih dibawa pulang dalam doggy bags seperti kebiasaan sekarang. Waktu ada bahaya kelaparan, si koki kumpulkan sisa semua makanan, dicampur, dicacah, dimasak lagi, dijadikan isi bakpao. Tidak tahu, bakpaonya SETNOV isinya apa ? Kulit bakpaonya dia bikin sendiri, tepungnya beli sendiri. Dia hanya pakai peralatan restaurant dan apinya untuk bikin bakpao. Tiap pagi dibagikan ke rakyat yang kelaparan. Apa begini ini hygienis ? Ya, semua sisa makanan dimasak lagi di temperatur tinggi. Juga bakpaonya dikukusnya lama. Wah, kalau di Indonesia, bisa2 diprotes, tidak sehat, tidak halal......
