Pendapat Dubes Inggris untuk Indonesia tentang Papua yang bagus untuk dicerna 
orang Indonesia.

Dubes Inggris: Banyak Pejabat dan Politisi Indonesia Tak Tertarik Bahas Papua
KONTRIBUTOR JAYAPURA, JHON ROY PURBAKompas.com - 20/11/2017, 21:36 WIB  
Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk Pahala Nugraha Mansury (kiri), 
Duta Besar Inggris untuk Indonesia Moazzam Malik (tengah) dan Deputi Bidang 
Pengembangan Pemasaran Pariwisata Mancanegara Kementerian Pariwisata, I Gde 
Pitana (kanan) seusai meresmikan layanan penerbangan nonstop Garuda Indonesia, 
Jakarta-London di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Selasa 
(31/10/2017). Layanan direct flight tersebut akan beroperasi tiga kali seminggu 
yakni Selasa, Kamis, dan Sabtu dengan Boeing 777-300.(KOMPAS.com/MUHAMMAD IRZAL 
ADIAKURNIA)


JAYAPURA, KOMPAS.com - Duta Besar Inggris untuk Indonesia,Moazzam Malik, 
mengungkapkan, banyak pejabat tinggi dan politisi di Indonesia yang tak 
tertarik ketika diminta membahas tentang Papua.

“Saya sangat tertarik ingin mengetahui tentang Papua. Selama ini informasi saya 
dapat di media tentang Papua sehingga kurang jelas kebenarannya. Kalau saya 
ajak bicara dengan para pejabat tinggi dan politisi di pusat, mereka tak banyak 
yang tertarik membahas tentang Papua,” ujar Malik ketika menggelar dialog 
coffee morning dengan beberapa awak media di Kota Jayapura belum lama ini.

Malik mengatakan, pada massa kepemimpinan Joko Widodo, tampak ada beberapa 
kemajuan di Papua, apalagi sebagai pemimpin beliau lebih sering ke Papua 
dibanding pemimpin Indonesia sebelumnya. Namun, itu hanya sebatas jalan, 
gedung-gedung megah, dan perkantoran yang tanpak maju.

“Kalau dilihat dari indikator sosial, orang asli Papua masih sangat miskin. 
Apalagi mengenai kesehatan, pendidikan, dan kesejahteraan yang mereka peroleh 
masih sangat sulit dibanding suku lain,” kata dia.

Malik menambahkan, kehadiran dana otonomi khusus di Papua yang mencapai Rp 40 
triliun per tahun sangat bermanfaat untuk pembangunan di sana. Akan tetapi, 
dana itu belum terlihat maksimal digunakan, khususnya untuk memberdayakan 
masyarakat asli Papua itu sendiri.

“Saya kira selama ini dana otsus banyak digunakan untuk kebutuhanpemerintah. 
Namun, pada akhirnya untuk memajukan masyarakat perlu pelayanan kesehatan, 
pendidikan, menciptakan peluang eknomi bagi masyarakat lokal dan SDM-nya,” 
papar dia.

Malik tak menepis bahwa di Papua saat ini sudah ada puskesmas, rumah sakit, 
sekolah, dan fasilitas publik lainnya. Namun, perhatian pemerintah pusat dan 
pemerintah daerah di semua kabupaten dan kota di Papua belum kelihatan 
mempermudah masyarakat asli untuk mengakses fasilitas yang disiapkan.

“Saya pikir perlu ada pemeriksaan dan audit semua dana yang masuk ke Papua. KPK 
perlu memperhatikan semua kasus dugaan korupsi di Papua. Saya pikir penggunaan 
dana di pemerintah harus sama disiplinnya dengan daerah lain di Indonesia,” 
tutur dia.

Baca juga: Menurut Pemerintah Inggris, Papua Sudah Final Jadi Bagian dari NKRI

Malik berpesan agar pemerintah pusat mendengarkan aspirasi dari masyarakat asli 
Papua karena Indonesia adalah demokrasi yang tak jauh berbeda dari negara 
asalnya.

“Aspirasi mereka harus dihormati dan harus dipenuhi, ini pertanggungjawaban 
pusat dan pemerintah daerah. Saya melihat Bapak Jokowi berkomitmen untuk 
membangun Papua dan beliau berkunjung ke Papua lebih sering dibanding mantan 
presiden,” ucap dia.

Malik menambahkan, kebijakan Presiden Jokowi untuk Papua cukup bijaksana, di 
antaranya kasus HAM yang menjadi isu besar diminta untuk diatasi dan beberapa 
tahanan politik dibebaskan. Namun, dialog pemerintah pusat dengan Papua yang 
menjadi kebijakan Presiden belum terlaksana.

“Kami mendukung dialog yang diwakili Pater DR Neles Tebay, Wiranto, dan Teten 
Masduki. Ini sangat baik untuk mendengar aspirasi masyarakat Papua. Walau 
kebijakan pemerintah pusat sudah tepat, hanya implementasinya masih rendah. Ya, 
mungkin ada kepentingan lain yang menghambat arahan Jokowi,” kata dia.



Kirim email ke