----- Pesan yang Diteruskan ----- Dari: [email protected] [GELORA45] 
<[email protected]>Kepada: "[email protected]" 
<[email protected]>Terkirim: Selasa, 28 November 2017 05.44.19 
GMT+1Judul: [GELORA45] Wajah peranakan Arab di Indonesia: Rizieq Shihab, 
politik identitas, dan pertanyaan tentang stereotip
     











Wajah peranakan Arab di Indonesia: Rizieq Shihab, politik identitas, dan 
pertanyaan tentang stereotip
Heyder AffanBBC Indonesia

   
   - 26 November 2017
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionDua poster berukuran cukup besar, 
Presiden Sukarno dan ulama asal Yaman, Umar bin Hafidz dipajang oleh penjualnya 
di sebuah lorong di dekat Masjid Ampel, Surabaya.
Untuk pertama kalinya di Indonesia, dinamika warga keturunan Arab di Indonesia 
dibahas secara ilmiah dalam seminar internasional. Ada kritikan tajam terhadap 
sejumlah tokohnya yang dianggap tidak mampu menjaga warisan leluhurnya.

Walaupun jumlahnya sedikit dan tidak mewakili kepentingan orang-orang peranakan 
Arab secara umum, beberapa tokoh keagamaan keturunan Arab juga diingatkan agar 
kembali berdakwah dengan cara-cara yang tidak memecah belah kehidupan umat 
beragama.

Ada seruan pula agar kehadiran orang-orang keturunan Arab dalam panggung 
politik kontemporer Indonesia tidak melahirkan eksklusifitas, tetapi justru 
memperkuat persatuan Indonesia yang bercirikan multikulturalisme.
   
   - Sumpah pemuda keturunan Arab 1934: Puncak pencarian identitas
   - Ideologi politik keturunan Arab: Islamis, sosialis hingga komunis
   - Wajah radikal dan moderat peranakan Arab Indonesia

Diselenggarakan oleh LIPI, Lembaga riset Hadhramaut centre, pusat studi dan 
penelitian Menara, serta Kementerian Agama, seminar bertema Dinamika Hadhrami 
di Indonesia ini menghadirkan sejumlah intelektual dan peneliti -dalam dan luar 
negeri- yang pernah melakukan studi tentang dinamika orang-orang keturunan Arab 
di Indonesia.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSeorang warga keturunan Arab dan toko 
minyak wangi yang dikelolanya di kawasan Ampel, Surabaya, November 2015.
Orang-orang Hadhrami, sebutan untuk penduduk Hadramaut, Yaman, merupakan 
mayoritas orang-orang peranakan Arab di Indonesia yang diyakini mulai 
berdatangan ke Nusantara sejak abad 13.

Walaupun konferensi internasional ini membahas sejarah, budaya, sosial serta 
peran keagamaannya, sorotan tajam lebih mengarah kepada tantangan dan harapan 
kehadiran orang-orang Hadhrami dalam politik kontemporer Indonesia.

Kebangkitan politik identitas berbasis etnis dan gerakan populisme global, yang 
menurut sejumlah pembicara tergambar dalam kasus Pilkada Jakarta, juga dianggap 
tantangan bagian sebagian elit orang-orang keturunan Arab ketika dihadapkan 
persoalan keutuhan dan persatuan bangsa.

Menteri Agama: Belajarlah dari ulama keturunan Arab pendahulu

Dalam pidato pembukaan seminar, Menteri Agama Lukman Hakim Saifudin 
mengharapkan para keturunan Arab yang menjadi pendakwah supaya mampu "menjaga, 
memelihara, dan merawat" apa yang telah diwariskan para leluhurnya.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionWalaupun konferensi internasional ini 
membahas sejarah, budaya, sosial serta peran keagamaannya, sorotan tajam lebih 
mengarah kepada tantangan dan harapan kehadiran orang-orang Hadhrami dalam 
politik kontemporer Indonesia.
Dahulu, lanjutnya, para ulama Indonesia keturunan Arab, yang memiliki garis 
keturunan Nabi Muhammad, tidak pernah mengajarkan "ideologi kebencian" atau 
"berpolitik praktis".

"Dari para habaib inilah lahir guru dan mubalik di berbagai daerah di 
Indonesia," kata Lukman.

"Metoda sufistik para habaib seperti inilah yang mengedepankan akhlak yang 
mulia sejak zaman dahulu yang kemudian diikuti oleh para Wali Songo dan dai 
pendahulu lainnya yang berhasil mengislamkan nusantara," kata Menteri Agama.
   
   - Kaum muda keturunan Arab yang gelisah
   - Panggilan dari kampung Arab Ampel Surabaya

Dalam teks pidatonya, Lukman Hakim tidak menyebut siapa tokoh agama keturunan 
Arab saat ini yang diharapkannya dapat meneladani sepak terjang para ulama 
peranakan Arab terdahulu.
Hak atas fotoGETTY IMAGESImage captionAbu Bakar Ba'asyir dan Muhammad Rizieq 
Shihab (kanan) - dua orang warga Indonesia keturunan Arab - yang tindakan dan 
ucapannya sering menjadi sorotan.
Tetapi menurut Muhammad Adlin Sila, Kepala Balai litbang Kementerian Agama, 
pidato Menteri Agama itu merupakan "kritik" terhadap salah-seorang figur warga 
Indonesia keturunan Arab yang pernyataan-pernyataannya "membahayakan keutuhan" 
Indonesia.

Ditanya apa yang dapat dilakukan Kementerian Agama untuk menghentikan kehadiran 
pendakwah di kalangan keturunan Arab seperti itu, Adlin mengatakan pihaknya 
berencana akan "berdialog", misalnya, dengan organisasi yang menghimpun 
keturunan Arab dari golongan Alawiyin, yaitu Rabithah Alawiyah.

"Ini suatu sinyal pemerintah, kalau ada beberapa oknum yang 'keluar' dari 
ajaran atau pemahaman kita, majelis itu bisa menjadi teman partner (mitra) 
pemerintah untuk menegur agar sesuai semangat keindonesian," jelas Adlin.

Sosok Rizieq Shihab

Terungkap dalam seminar itu, kendati jumlah mereka relatif kecil, peranan 
orang-orang peranakan Arab ini dianggap "penting" karena mereka tersebar di 
berbagai organisasi keagamaan, ormas, serta partai politik dengan latar 
pemahaman agama dan ideologi yang tidak tunggal.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionOrang-orang Hadhrami, sebutan untuk 
penduduk Hadramaut, Yaman, merupakan mayoritas orang-orang peranakan Arab di 
Indonesia yang diyakini mulai berdatangan ke Nusantara sejak abad 13. Sebuah 
kedai yang menjual makanan khas Arab di kawasan Ampel, Surabaya (foto atas).
Namun belakangan ketika politik identitas mengalami penguatan dan berisisan 
dengan gerakan populisme Islam, sepak terjang salah-seorang keturunan Arab, 
Rizieq Shihab, akhirnya menjadi sorotan utama setelah keterlibatannya yang 
mencolok selama Pilkada Jakarta, kata Azyumardi Azra, salah-seorang pembicara 
utama dalam seminar itu.

"Orang-orang Hadrami memiliki peranan yang penting di dalam kebangkitan politik 
identitas atau bahkan populisme Islam, terutama sejak akhir tahun lalu, ketika 
terjadi Pilkada Jakarta," kata Azyumardi, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, 
Jakarta, kepada BBC Indonesia.

Pernyataan Azyumardi ini merujuk pada gelombang unjuk rasa yang melibatkan 
ratusan ribu orang selama Pilkada Jakarta yang menggunakan isu agama. 
"Salah-satu pimpinan utama kebangkitan populisme Islam itu 'kan Rizieq Shihab," 
katanya.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage caption"Orang-orang Hadrami memiliki peranan 
yang penting di dalam kebangkitan politik identitas atau bahkan populisme 
Islam, terutama sejak akhir tahun lalu, ketika terjadi Pilkada Jakarta," kata 
Azyumardi, guru besar UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta
Menurutnya, Rizieq memiliki pengaruh kuat pada sebagian masyarakat Islam, 
terutama kalangan bawah, karena diyakini memiliki garis keturunan dengan Nabi 
Muhammad. "Ini sangat mempengaruhi Muslim lokal, karena dianggap sebagai 
panutan," jelasnya.

Meskipun demikian, lanjutnya, tidak berarti sikap dan tindakan pimpinan Front 
Pembela Islam (FPI) ini mewakili aspirasi orang-orang keturunan Arab di 
Indonesia. Karena,"ada juga di antara mereka yang aktif di Nahdlatul Ulama 
(NU)," katanya.

Tidak ada 'ideologi tunggal' di peranakan Arab

Masyarakat keturunan Arab di Indonesia, seperti masyarakat pada umumnya, tidak 
berlabuh dalam satu aliran politik atau keagamaan yang tunggal.

"Saya rasa penting untuk menegaskan bahwa masyarakat Hadrami di Indonesia tidak 
homogen," kata ahli sosiologi dari National Unversity of Singapore, Syed Farid 
Alatas, kepada BBC Indonesia.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage caption"Saya rasa itu merupakan suaru 
kemunduran, karena tradisi Hadhrami atau masyarakat keturunan Arab di 
Indonesia, tidak pernah mempolitisasi soal etnis," kata ahli sosiologi dari 
National Unversity of Singapore, Syed Farid Alatas.
Dalam seminar 'Dinamika keturunan orang-orang Hadramaut di Indonesia', Farid 
Alatas merupakan pembicara utama. Dia tampil bersama Azyumardi Azra, Huub de 
Jonge dari Universitas Radbound, Belanda, dan Martin Slama dari Akademi Sains, 
Austria.

Seperti masyarakat lainnya, mereka terdiri dari beberapa aliran. "Ada yang 
menganut tarekat Baalawi, seperti yang dianut oleh moyang mereka, ada juga yang 
terpengaruh oleh aliran-aliran lain dalam Islam, ataupun aliran seperti 
liberalisme atau sosialisme," jelasnya.
   
   - Aliran Wahabi dan wajah Islam moderat di Indonesia
   - Jejak Wahabi, dari sayap kanan hingga perang Paderi
   - 'Islam Indonesia berbunga-bunga, bukan Wahabi yang primitif'
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSalah-satu pintu masuk menuju Masjid 
Ampel, Surabaya. Di kawasan Ampel ini, sebagian warga keturunan Arab tinggal 
selama lebih dari 200 tahun.
Itulah sebabnya, ketika muncul sosok peranakan Arab yang sangat menonjol selama 
pilkada Jakarta yang diwarnai mobilisasi massa dengan menggunakan isu agama dan 
etnis, Farid menganggapnya itu tidak mewakili kepentingan orang-orang Arab 
secara keseluruhan.

"Itu bukan gambaran umum orang Arab di Indonesia," tegasnya. Artinya, apa yang 
menjadi pemikiran dan tindakan Rizieq Shihab tidak bisa dianggap mewakili 
aspirasi seluruh keturunan Arab di Indonesia.

'Keturunan Arab jangan eksklusif'

Dia menganalisa, apa yang terjadi saat Pilkada Jakarta lalu tidak terlepas apa 
yang disebut sebagai kemunculan gerakan populisme yang juga menjadi gejala umum 
di dunia.

Sebagai seorang keturunan Arab, Farid tidak setuju dengan penggunaan sentimen 
agama dan etnis seperti yang terjadi dalam Pilkada Jakarta lalu. Seperti 
diketahui, sasaran mobilisasi massa itu adalah Gubernur DKI Jakarta terdahulu, 
Basuki Tjahaja Purnama yang keturunan Tionghoa atau Cina.
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage captionSuasana di depan kampung di kawasan 
Ampel, Surabaya, yang banyak dihuni warga keturunan Arab.
"Saya rasa itu merupakan suaru kemunduran, karena tradisi Hadhrami atau 
masyarakat keturunan Arab di Indonesia, tidak pernah mempolitisasi soal etnis," 
kata Farid.

Ke depan, dia mengharapkan agar para peranakan Arab untuk lebih mengangkat 
isu-isu lainnya yang dianggapnya lebih penting dibicarakan dan disikapi. 
"Seperti pengangguran dan korupsi, misalnya."

Tentang kemunculan politik identitas yang antara lain mencirikan etnisitas dan 
agama, Farid Alatas mengatakan itu merupakan gejala umum dan terjadi di 
mana-mana. "Itu menunjukkan semacam ketidakpuasan terhadap kehidupan modern."

Tetapi sejauhmana kemunculan politik identitas itu bisa diterima sehingga tidak 
terjebak pada isu sektarian? Tanya saya.

"Saya kira masalah identitas ini tidak semestinya menyebabkan masalah 
sektarianisme, karena masalah sektarianisme itu disebabkan oleh sikap 
eksklusifisme," jawab Farid.
Hak atas fotoPANITIA SEMINAR ORANG-ORANG HADHRAMI DI INDONESIAImage 
captionPresiden Sukarno saat berpidato di kota Malang dengan diapit oleh 
sejumlah kaum muda keturunan Arab.
Menurutnya, arti eksklusifisme adalah "ingin mengatakan bahwa saya paling benar 
dan aliran lain menyeleweng atau sesat".

Farid Alatas pun menyatakan dirinya menolak sikap eksklusif. Dan menurutnya, 
sikap seperti itu sudah ditunjukkan oleh orang-orang keturunan Arab pendahulu 
dari tarekat Alawiyin yang disebutnya tidak pernah mendiskriminasikan penganut 
aliran lainnya.

"Jadi memperkukuh identitas tidak semestinya mengakibatkan sikap 
eksklusifisme," ujar Farid

"Yang menjadi masalah adalah asabiah (fanatik), asabiah yang begitu kuat 
sehingga menolak golongan, aliran atau akidah yang lain. Ini yang menjadi 
masalah," tegasnya.

Seminar tentang keturunan Arab: Apa pentingnya?

Dalam jumpa pers, Ketua panitia seminar sekaligus peneliti LIPI, Ahmad Najib 
Burhani mengatakan, pihaknya menggelar konferensi ini justru untuk memberikan 
pemahaman mendalam (understanding deeply) tentang komunitas keturunan Arab di 
Indonesia agar "tidak disalahpami".

Najib mengatakan pemahaman seperti itu dibutuhkan ketika merebak apa yang 
disebutnya sebagai anggapan supervisial tentang komunitas tersebut yang 
menyebar di media sosial, terutama terkait persoalan politik yang muncul 
belakangan.
Hak atas fotoARSIP KELUARGA AM ALKAFFImage captionTidak ada ideologi politik 
tunggal di komunitas Arab peranakan di Indonesia. Foto atas: Aktivis Partai 
Arab Indonesia (PAI) - didirikan 1934 - yang mendukung kemerdekaan Indonesia.
Dalam seminar itu, materi yang dibicarakan dan dibahas juga untuk mengungkap 
fakta lain yang telah dilakukan orang-orang keturunan Arab dalam bidang lainnya.

"Seperti apa mereka telah membangun, berkontribusi kepada bangsa, dan juga 
sejauhmana mereka telah meleburkan diri dengan bangsa yang multikultural ini," 
kata Najib.

Titik tekan lain yang menjadi fokus seminar itu adalah pertemuan atau 
perjumpaan (incounter) budaya mereka dengan budaya lainnya yang ada di 
Indonesia.

"Perjumpaan seperti ini akan menghilangkan namanya prejudice, menghilangkan 
stereotype tentang Arab itu seperti apa," tegasnya.
Hak atas fotoAFPImage captionAli Alatas (kiri) dipercaya Presiden Suharto 
sebagai Menteri luar negeri Indonesia.
Dia kemudian menekankan studi ilmiah tentang etnis Arab ini juga untuk 
mempertegas bahwa Indonesia itu adalah multi kultur, identitas, etnis, maupun 
agama. "Semuanya justru memperkuat kebhinekaan kita," katanya.

'Penyerbukan antar budaya'

Najib mengakui fakta kebhinekaan itu bisa mengancam persatuan, tetapi 
menurutnya seminar itu justru ditujukan untuk memperkuat persatuan dengan 
memahami keragaman tersebut.

Dalam keterangannya, seminar itu diharapkan pula dapat mengisi minimnya kajian 
tentang orang-orang keturunan Arab di Indonesia. "Semoga akan memantik 
studi-studi lebih lanjut yang lebih komprehensif," katanya.

Sementara, pimpinan Pusat studi dan penelitian Menara, yang juga menjadi 
penyelenggara seminar ini, Nabiel Hayaze' mengatakan, seminar itu merupakan 
bagian dari upaya "penyerbukan antar budaya".
Hak atas fotoBBC INDONESIAImage caption"Semangat untuk mempelajari bangsa, atau 
suku lainnya yang ada di Indonesia, adalah bagian dari penyerbukan antar 
budaya, dan bagian dari pembentukan bangsa Indonesia," kata Nabiel di hadapan 
wartawan. Foto atas: nasi kebuli merupakan salah-satu kuliner khas Arab yang 
dikenal di Indonesia.
"Semangat untuk mempelajari bangsa, atau suku lainnya yang ada di Indonesia, 
adalah bagian dari penyerbukan antarbudaya dan bagian dari pembentukan bangsa 
Indonesia," kata Nabiel di hadapan wartawan.

Dia juga menekankan, seminar internasional ini diharapkan dapat menciptakan 
keseimbangan dan pemahaman yang lebih utuh tentang orang-orang keturunan Arab, 
sehingga dapat "mengcounter berita-berita di media massa yang tidak bisa 
mewakili apa yang sedang terjadi," katanya.

Dalam seminar yang berlangsung dua hari itu, dibahas berbagai tema, diantaranya 
peran keagamaan dan pengaruh orang-orang keturunan Arab di Indonesia, politik 
kontemporer dan nasionalisme mereka, hingga identitas budaya (musik, bahasa, 
makanan dan sastra).



Lainnya, konferensi itu juga menelisik tentang identitas sosial mereka 
(pernikahan dan sistem kekeluargaan), hingga kontribusinya di bidang 
perekonomian, bisnis, pendidikan dan penerbitan di Indonesia.



    

Kirim email ke