*Salinan dari salinan yang telah diedit? Akan itu kapan?*

http://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/10/161025_indonesia_sby_keterangan_munir


SBY akan serahkan salinan dokumen pembunuhan Munir yang hilang

   -

   25 Oktober 2016


Dalam acara yang digelar di kediaman SBY di Cikeas, bekas Menteri
Sekretaris Negara Sudi Silalahi juga menandaskan bantahan mantan presiden
SBY terkait selentingan bahwa pemerintah SBY waktu itu sengaja
menghilangkan dokumen itu.

Ini merupakan pemenuhan janji Susilo Bambang Yudhoyono alias SBY beberapa
waktu lalu melalui twitter, setelah muncul kabar bahwa Jaksa Agung M
Prasetyo akan menemuinya untuk mencari dokumen hasil penyelidikan Tim
Pencari Fakta (TPF).

   -

   Yudhoyono jelaskan temuan TPF Munir 'dalam dua tiga hari ini'
   <http://www.bbc.com/indonesia/indonesia/2016/10/161023_indonesia_sby_munir>
   -

   Presiden Jokowi didesak ungkap laporan TPF Munir
   
<http://www.bbc.com/indonesia/berita_indonesia/2016/10/161010_indonesia_kasus_munir>

"Kejahatan yang menyebabkan meninggalnya Munir adalah kejahatan serius.
Sebenarnya mencoreng demokrasi kita waktu itu. Tak pelak jadi perhatian
masyarakat Indonesia dan dunia," kata SBY.

"Maka saya pastikan yang kami lakukan dulu juga serius dan sungguh,
terutama dalam konteks penegakan hukum. Tentu waktu itu sesuai batas
kewenangan pejabat publik. Jika masih ada yang menganggap keadilan sejati
belum terwujud, saya katakan selalu ada pintu untuk mencari kebenaran.

"Jika masih ada kebenaran yang belum terselesaikan, selalu ada pintu untuk
cari kebenaran sejarah. Saya dukung langkah presiden Jokowi untuk
menyelesaikannya," kata SBY.

Hak atas foto BBC INDONESIA Image caption Suciwati, isteri mendiang Munir,
tak lelah memperjuangkan keadilan terkait pembunuhan suaminya.

SBY seterusnya menyerahkan penjelasan rinci terkait kekisruhan dokumen
kasus munir itu kepada bekas Menteri Sekretaris Negara di masa
pemerintahannya, Sudi Silalahi. Saat kisah hilangnya dokumen asli kasus ini
meletus, disebutkan bahwa di Sekretariat Negara tidak ada data tentang
penyerahan dokumen TPF, dan bahwa TPF menyerahkan dokumen itu langsung
kepada Presiden SBY.

Sudi Silalahi menjelaskan, pemerintah SBY dituduh sengaja menghilangkan
naskah sehingga tidak bisa ditindak lanjuti oleh penegak hukum, bahwa SBY
disebut tidak menindak-lanjuti sehingga kasus Munir belum selesai, dan SBY
disalahkan karena seolah-olah harus mengumumkan sendiri hasil TPF.

Menurut Sudi, semua tudingan itu tidak benar.

Image caption Kasus pembunuhan Munir tak kunjung tuntas, kendati sudah ada
seorang eks pilot Garuda yang dihukum.

Sudi Silalahi memapar secara kronologis mulai pembentukan TPF hingga
akhirnya dibubarkan.

"Pemerintah bahkan memperpanjang masa kerja TP selama tiga bulan lagi,
hingga 23 Juni 2005, dan kemudian memutuskan bahwa temuan TPF diberlakukan
sebagai pro justisia dan tindak lanjut dilakukan para penegak hukum," papar
Sudi Silalahi.

Menurut Sudi Silalahi, waktu itu TPF menyerahkan enam salinan hasil temuan
mereka.

"Satu berkas diserahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, dan lima
berkas lagi diserahkan kepada pihak-pihak lain yang terkait.

"Naskah saat ini sedang ditelurusi di mana keberadaannya... Kami Kabinet
Indonesia Bersatu (pemerintahan SBY) akan terus cari di mana naskah itu.
Berhubung kapolri sudah ganti tujuh kali, jaksa agung empat kali, Kepala
Badan Inteljen Nasional lima kali, menkumhan lima pejabat, dan sekretaris
kebinet empat pejabat..."

Namun, katanya, lepas dari belum ditemukan naskah asli temuan TPF itu,
"semua reklomendasi TPF sudah dijalankan Presiden SBY."

Ia menegaskan pula sementara naskah asli belum ditemukan, pihak SBY akan
menyerahkan salinan dokumen itu kepada Presiden Joko Widodo.

Kirim email ke