Cempaka Siklon Terbesar yang PernahTerjadi di Indonesia 
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171129171704-199-258998/cempaka-siklon-terbesar-yang-pernah-terjadi-di-indonesia/
 

 Cempaka, Siklon Terbesar yang Pernah Te... 
https://www.cnnindonesia.com/teknologi/20171129171704-199-258998/cempaka-siklon-terbesar-yang-pernah-terjadi-di-indonesia/
 

 

 
 
 Cempaka dan Dahlia Ukir Sejarah, Dua Kelahiran Siklon dalam Sepekan
 
  
 LUTFY MAIRIZAL PUTRA
 Kompas.com - 30/11/2017, 07:00 WIB
 

 
 Lintasan Siklon Tropis DAHLIA 29 November 2017 pukul 19:00 WIB (BMKG)
  
 JAKARTA, KOMPAS.com – Untuk kali pertama dalam sejarah, siklon tropis lahir di 
wilayah Indonesia dalam minggu yang sama.
  
 Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisikan (BMKG) pada Senin (27/11/2017) 
mengumumkan telah terbentuk siklon tropis Cempaka.
  
 Letaknya berada di perairan Selatan Jawa Tengah, sekitar 100 Km sebelah 
selatan tenggara Cilacap pada titik 8,6 lintang selatan dan 110,9 bujur timur.
  
 Rabu (29/11/2017), siklon tropis Cempakamelemah dan menjauhi Indonesia tetapi 
siklon baru bernama Dahlia lahir.
  
 Dahlia lahir di wilayah 470 km sebelah barat daya Bengkulu pada 8,2 derajat 
Lintang Selatan dan 10,8 derajat Bujur Timur.
  
 Bila dilihat ke belakang sejak berdirinya Jakarta Tropical Center Warning 
Center (TCWC) pada 24 Maret 2008, telah ada beberapa siklon tropis di daerah 
Indonesia.
  
 Salah satunya adalah siklon tropis Durga di perairan barat daya Bengkulu pada 
22-25 April 2008.
  
 Siklon tropis lain yang pernah terbentuk adalah Anggrek di perairan barat 
Sumatera pada 30 Oktober-4 November 2010 dan Bakung di barat daya Sumatera pada 
11-13 Desember 2014.
 

 Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Mulyono Rahadi Prabowo, berkata bahwa lahirnya 
siklon tropis di wilayah Indonesia sendiri jarang.
  
 "Ini betul-betul suatu pengalaman baru bagi kita khsusunya setahun terjadi dua 
siklon, bahkan seminggu,” katanya.
  
 Dia mengatakan, pembentukan dua siklon tropis sekaligus di wilayah Indonesia 
merupakan pertama kali dalam sejarah.
  
 Setelah Dahlia, kata Mulyono, tak menutup kemungkinan terjadi siklon tropis 
baru lainnya dalam waktu dekat.
  
 Hal ini dipengaruhi oleh perbedaan tekanan yang tidak merata di permukaan di 
wilayah Indonesia. Selain itu, anomali suhu permukaan laut juga turut berperan.
  
 Mulyono menjelaskan, saat ini matahari berada di bagian selatan Bumi. Belahan 
Bumi selata menjadi lebih hangat dibandingkan dengan belahan bumi utara.
  
 Perbedaan ini membuat atmosfer di belahan Bumi selatan lebih cair dan lebih 
renggang. Maka, tekanan udara menjadi lebih rendah.
  
 “Kalau permukaan tekanan udaranya sama rata, aliran udara juga rata dari barat 
ke timur. Tapi begitu ada sistem tekanan udara yang pusatnya rendah sedikit 
saja, maka aliran udara itu sebagian akan masuk ke pusat tekanan rendah itu 
dulu sebelum lewat ke tempat lain,” kata Mulyono.
  
 “Kalau lubangnya besar atau cukup dalam, makanya aliran udaranya itu akan 
masuk situ dulu, jadi bibit siklon,” tambah dia.
  
 Sejak bulan Septemer hingga Maret, potensi siklon tropis akan muncul di 
sebelah selatan ekuator.
  
 Masa panen siklon di Indonesia terjadi pada bulan November hingga Januari.
  
 Saat matahari berada di belahan Bumi utara, yakni antara bulan Maret hingga 
September, Filipina akan menjadi lahan panen siklon tropis.
  
 “Seberapa cepat muncul lagi, kami belum tahu. Tentunya kami harus terus 
memonitor seberapa cepat gangguan sistem pola tekanan udara itu akan bisa jadi 
bibit siklon,” kata Mulyono.
  
 Sementara itu, Deputi Klimatologi BMKG Herizal mengatakan, perubahan iklim 
ikut berperan menambah semakin banyaknya siklon.
  
 El Nino dan La Nina yang sebelumnya terjadi dalam rentang waktu 7-11 tahun 
kini juga lebih cepat.
  
 Herizal menjelaskan, saat suhu di permukaan laut Pasifik mendingin, yang 
menjadi indikator La Nina, suhu di wilayah perairan Indonesia bertambah panas. 
Menurutnya, hal ini memberikan dampak pada terjadinya siklon tropis dengan 
cepat.
  
 “Kalau potensi dari La Nina meningkat, artinya di sana makin dingin, suhu 
perairan kita meningkat, maka potensi terjadiinya gangguan lebih banyak lagi,” 
kata Herizal.
  
 Herizal menuturkan, pihaknya akan terus menantau kondisi laut Pasifik maupun 
kondisi perairan Indonesia. Dengan begitu, BMKG dapat memberikan prediksi lebih 
awal kepada masyarakat. untuk dapat mengantisipasi terjadinya perubahan alam.
 

 Penulis : Lutfy Mairizal Putra
 Editor : Yunanto Wiji Utomo
 




 

Kirim email ke