Kalau penulis sedikit bersabar barangkali bacaannya tentang krisis 
nasional & global yang menyertai letusan Gunung Merapi ini bisa 
lebih seru dengan kombinasi amukan badai Cempaka dan badai Dahlia 
yang masih berlangsung bersama letupan Gunung Agung. 

-
Membaca Krisis Sosial-Ekonomi dan Sosial-PolitikMelalui Meletusnya Gunung 
Merapi dan Gunung Agung November 27, 2017 14:17
Fotodiambil dari Pos Pengamatan Gunung Api Agung di Desa Rendang, 
KecamatanRendang, Kabupaten Karangasem, Bali. GunungAgung meletus. Selintas ini 
fenomena biasa. Namun tahukan anda bahwa terjadinyaletusan gunung berapi, jika 
menelisik kesejarahannya, kerap jadi pertandabakal timbulnya krisis ekonomi, 
politik dan bahkan perang berskala besar. Yangberujung pada terjadinya 
pergeseran kekuasaan. Atau munculnya kekuatan-kekuatanbaru di pentas politik 
nasional maupun global. Sejarah letusan gunung merapi diJawa Tengah dan gunung 
Agung di Bali, mungkin bisa jadi bahan perenungan. Pada 18 Desember 1930, 
terjadibencana besar di Jawa Tengah, Gunung Merapi meletus. Tidak kurang dari 
1500orang tewas dan 2500 hewan mati. Berhektar-hektar sawah serta ladang 
hancur.Ratusan rumah terbakar atau roboh.  Letusan gunung Merapi di Jawa 
Tengahpada 1930 ini, sepertinya bertali-temali dengan Depresi Ekonomi yang 
sedangmelanda Amerika Serikat dan negara-negara di Eropa Barat. Hanya selang 
sepuluhtahun sejak berakhirnya Perang Dunia I, tepatnya pada 1929, 
kemakmuranekonomi masyarakat Amerika dan Eropa Barat berakhir sudah.  Antara 
1929-1933, perekonomianAmerika dan Eropa memang sempat membaik berkat solusi 
Presiden Frank DelanoRoseveelt yang terkenal dengan sebutan the New Deal. 
Sehingga lapangan kerjadan lapisan kelas menengah ekonomi Amerika bisa 
menggeliat lagi. Sayang hal itutidak berlangsung lama. Resesi ekonomi dunia 
yang terjadi pada 1937-1938,kembali menggerus perekonomian Amerika dan Eropa 
yang sebenarnya sudah sempatmembaik itu. Pada perkembangannya kemudian, resesi 
ekonomi dunia yang terjadipada 1937-1938, bermuara pada meletusnya Perang Dunia 
II.  Kembali ke peristiwa meletusnyagunung Merapi pada 1930, sulit untuk 
disangkal bahwa hal itu merupakan isyaratburuk bagi rakyat Jawa, yang terkena 
imbas Depresi Ekonomi 1930, Resesi Ekonomi1937-1938, seraya mernjadi isyarat 
bakal terjadinya “Goro-Goro” kalau memakaiistilah para spiritualis Jawa. Yaitu 
bakal terjadinya peristiwa berdarah yangmemakan korban jiwa.  Memang kalau kita 
telisik keadaanperekonomian rakyat Jawa antara 1930-1940, memang cukup 
mengenaskan. DepresiEkonomi 1929 dan tahun-tahun berikutnya menyebabkan 
runtuhnya harga-hargahampir di semua produk. Sehingga budidaya ekspor sangat 
merosot. Sehingga baikpara pengusaha Belanda maupun orang-orang Pribumi 
sama-sama terpukul. Karenakeduanya, meskipun berbeda kadar dan peruntungannya, 
sama-sama bergantung padaproduk ekspor tersebut.  Khususnya bagi para petani 
Jawa dizaman Malaise atau sering diplesetkan jadi zaman meleset, mengalami 
kesulitanbesar karena tidak mampu menyesuaikan diri utamanya dalam mencari 
penghasilanbaru. Sementara penghasilan merosot, hutang yang ada sebelum krisis 
tetap tidakberkurang. Alhasil, mereka terpaksa melepaskan simpanan berupa 
matauang emasdan perhiasan.  Namun itu baru sebagian dari cerita.Harga beberapa 
komoditi ekspor juga merosot di Hindia Belanda karena permintaanluar negeri 
berkurang gara-gara Depresi dan Resesi Ekonomi. Harga gula kualitassuperior 
yang semula 13.09 gulden per 100 kg pada Oktober 1929 merosot menjadi6,25 
gulden pada Juni 1932.  Kopi robusta merosot dari 82,37 per100 kg pada Oktober 
1929 menjadi 38.86 golden per 100 kg pada Juni 1932. Karetmentah dari 50 sen 
pada Oktober 1929 menjadi tujuh sen pada Juni 1932. Bolehdikatakan semua 
komoditi termasuk teh dan timah, dilanda kemerosotan harga.  Maka, pengangguran 
tak terhindarkanlagi. Tenaga kerja di beberapa perkebunan diberhentikan. 
Termasuk tenaga-tenagakerja kulit putih yang notabene merupakan aparat 
pemerintahan kolonial Belanda.Singkat cerita, akibat Depresi dan Resesi ini, 
orang kaya tiba-tiba jatuhmiskin. Orang miskin semakin terlunta-lunta. Kalau 
kita analogikan pada krisismoneter Indonesia 1997-1998, nilai rupiah terhadap 
dolar AS merosot sampai 80persen sehingga proyek-proyek besar macet, 
perusahaan-perusahaan besar runtuh,puluhan juta tenaga kerja menganggur.  
Banyak orang yang tidak tahu ataumungkin karena sibuk dengan masalahnya sendiri 
yang membelit, sehinggamelupakan satu fakta penting. Bahwa seperti halnya 
meletusnya gunung Merapi1930 yang mengawali krisis ekonomi berskala global dan 
berdampak padarakyat Indonesia, maka krisis moneter 1997-1998 juga diawali 
dengan meletusnyagunung Merapi pada 17 Januari 1997. 18 ribu penduduk mengungsi 
pada awalmengamuknya Merapi.  Lantas bagaimana dengan meletusnya GunungAgung? 
Letusan yang berlangsung saat ini tentu saja masih dini untukdisimpulkan 
sebagai pertanda. Namun kejadian letusan Gunung Agung sebelumya,berlangsung 
pada Februari 1963, sering diyakini oleh para spiritualis dan parapakar sejarah 
esoterik, sebagai pertanda bakal meletusnya ledakan sosialberdarah alias 
Goro-Goro yang meletus dua tahun kemudian ketika terjadi GerakanSeptember 1965. 
 Apakah berarti pula bahwa meletusnyaGunung Agung sekarang merupakan pertanda 
buruk bagi para penguasa? Tentusaja masih terlalu dini untuk disimpulkan. Namun 
sekadar catatan berikut ini bolehlahuntuk menjadi bahan perenungan dan 
introspeksi.  Ketika gunung Agung pertama kalimeletus pada 1808, tujuh tahun 
kemudian Kerajaan Belanda sepenuhnya berkuasapenuh terhadap hampir seluruh 
wilayah nusantara. Bahkan kongsi dagang parapengusaha swasta Belanda VOC yang 
mengawali kedatangannya di bumi nusantara,pada 1815 itu kemudian juga 
diambil-alih pemerintah kerajaan Belanda.  Pada 1823, ketika Gunung 
Agungmeletus lagi, Dua tahun kemudian pada 1825 terjadi perlawanan 
PangeranDiponegoro terhadap pemerintahan kolonial Belanda. Yang kelak dikenal 
denganPerang Jawa. Meski perlawanan Pangeran Diponegoro dapat dikalahkan 
secaramiliter 5 tahun kemudian, namun perang Jawa tersebut telah menghancurkan 
mesinperekonomian dan keuangan Kerajaan Belanda.  Pada masa itu juga 
terjadipemberontakan di Bone Sulawesi, dan Padri di Sumatra Barat yang dipimpin 
olehTuanku Imam Bonjol, yang semuanya juga dapat ditumpas secara militer 
olehBelanda. Namun perlawanqan tersebut tetap menjadi legenda dan epos 
kepahlawananyang tetap dilestarikan dalam Sejarah Nasional Indonesia. Betapa 
rakyatIndonesia di bumi nusantara tidak pernah begitu saja menyerah ketika 
pihakasing bermaksud menjajah Indonesia. Tahun 1843 Gunung Agung 
kembalimeletus. Tiga tahun setelah itu, tepatnya pada 1846, pasukan Belanda 
menyerbukerajaan Buleleng Bali. Istana Singaraja kemudian dihancurkan.  Pada 
1963, seperti disinggung diawal cerita, Gunung Agung meletus kembali. Kali ini 
Nusantara sudah dalamnaungan kekuasaan Negara Kesatuan Republik Indonesia 
(NKRI). Dan dua tahunkemudian, seperti kemudian sejarah mencatat, terjadilah 
pemberontakan G 30September 1965.  Pemberontakan PKI berhasil ditumpasdengan 
cepat dan efektif oleh Pangkostrad Mayor Jenderal Suharto, yangkelak pada 1967 
dikukuhkan menjadi pelaksana harian Presiden RI menggantikanPresiden pertama RI 
Sukarno. Namun rentetan peristiwa setelah itu adalahperalihan kekuasaan dari 
era Presiden Soekarno sang Proklamator Negara KesatuanRepublik Indonesia yang 
telah berkuasa selama 20 tahun kepada Jenderal TNISuharto yang mana sejak 
pemilu pertama di era Orde Baru pada 1971, Suhartosecara resmi menjadi Presiden 
RI kedua. Dan berkuasa selama 32 tahun.  Hendrajit, Redaktur Senior.

Kirim email ke