Tambahan: Link1 menggunakan sampling ikan dari Cambodia, sedang link 2 dari 
Tiongkok. Tidak tahu apakah ikan gabus dari Indonesia kandungan merkuri-nya 
lebih tinggi atau lebih rendah, tetapi sebaiknya jangan untuk makanan bayi.

    On Thursday, November 30, 2017, 1:35:35 PM PST, Jonathan Goeij 
<[email protected]> wrote:  
 
 Ikan gabus atau snakehead fish mengandung merkuri yang tinggi yang tidak 
seharusnya dikonsumsi bayi. Dua link artikel dibawah menunjukkan tingkat 
merkuri yang tinggi pada ikan gabus.
Link 1:Predator Fish like these Snakeheads are Richest in Mercury

Link 2:Snakehead fish (Ophiocephalus argus cantor), silver carp 
(Hypophthalmichthys molitrtix), crucian carp (Carassius carassius), and common 
carp (Cyprinus carpio) are four common freshwater fish species in China. In 
this study, the level of methylmercury (MeHg), total mercury (T-Hg), and total 
selenium (T-Se) in muscle samples of these four fish species from Ya-Er Lake, 
China, were analyzed using atomic fluorescence spectrometry coupled with 
high-performance liquid chromatography, and inductively coupled plasma mass 
spectrometry. The concentrations of MeHg in all the fish species were 
significantly correlated with those of T-Hg. Higher T-Hg and MeHg 
concentrations had accumulated in the snakehead fish, which is a strongly 
predatory fish, than in the other three species.

Methylmercury, total mercury and total selenium in four common freshwater fish 
species from Ya-Er Lake, China.


kutipan:Makanan bayi sehat yang tidak melulu bayam atau hati ayam. Melainkan 
ikan gabus yang jauh lebih murah, tapi sarat protein dan kembang kol yang tidak 
pernah terpikirkan mempunyai kandungan vitamin C – sedangkan bayam tidak.


---In [email protected], <SADAR@...> wrote :




Anti Tradisi, Kini Harajuku Panganku

DR.dr.Tan Shot Yen,M.hum.

Dokter, ahli nutrisi, magister filsafat, dan penulis buku.

 

Kompas.com - 29/11/2017, 20:25 WIB



Ilustrasi(Thinkstockphotos)

KOMPAS.com - Walaupun belum pernah menginjakkan kaki ke Jepang seperti saya, 
istilah Harajuku bagi banyak orang pasti tidak asing, terutama yang sedikitnya 
tahu soal fashion.

Dikenal dengan keberanian tabrak warna dan tabrak motif, gaya harajuku 
menggambarkan pemberontakan atas pakem.

Di mulai saat perhelatan Olimpiade Tokyo 1964, Jepang membuka lebar-lebar 
infiltrasi mode dan pengaruh asing dengan membiarkan anak-anak muda mereka 
mabuk lepas diri demi ekspresi.

Saya bukan pakar mode, apalagi punya nyali bergaya harjuku. Memadu-madankan 
blus atasan dengan rok atau celana panjang saja masih berpegang pada pakem kuno.

Apalagi memberi bordiran bunga di atas bahan kotak-kotak seperti yang sedang 
viral di banyak etalase.

[Baca juga : Melulu di Ilmu, Lupa Hakikat dan Akibat]

 

Tapi, inti tulisan ini sebenarnya tentu bukan soal isi lemari baju. Melainkan 
tren pangan yang mengisi perut manusia.

Baru saja saya pulang dari Lampung, memberi materi seminar yang tadinya saya 
pikir pencerahan. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, apa yang saya bahas di sana 
malah lebih mirip ajakan kembali ke ajaran lawas.

Mengapa? Karena makna pencerahan mestinya adalah munculnya visi baru – seperti 
layaknya yang terjadi di awal abad ke 18, saat orang diberi terang ilmu tentang 
asal muasal penyakit, jika sebelumnya dikira akibat kutukan para dewa.

Mengajak para ibu kembali menyusui bayi-bayinya hingga umur 2 tahun, mendorong 
orang kembali makan sayur dan buah dengan cara yang benar - bukankah hal yang 
usang dan basi didengar berulang kali?

Justru versi harajuku yang saya lihat berbagai macam ‘cake shop’ kekinian yang 
menjejalkan pure lelehan pisang ke dalam adonan kue yang bertabur biskuit hitam 
manis.

Lebih mencengangkan lagi, rak-rak tinggi besar di toko oleh-oleh sarat aneka 
rasa keripik pisang kepok. Mulai dari aroma sapi panggang hingga wangi stroberi.

Bulan lalu, saat saya ada di Malang, pameran pangan harajuku juga tidak kalah 
hebohnya. Apel yang secara nalar sehat dikunyah begitu saja muncul dengan 
balutan pastri gaya Jerman-Austria yang disebut ‘strudel’. Tentu dengan rasa 
Melayu.

Tidak mau kalah dengan ‘produk lokal’, gerai waralaba ayam goreng Amerika pun 
mencelup ayam renyahnya di lelehan keju olahan (bukan keju sesungguhnya) dan 
balutan cokelat.

Hal yang membuat almarhumah nenek saya mungkin bisa mendelik keheranan atau 
geleng-geleng kepala gagal paham.

[Baca juga : Mengapa Orang Tidak (Bisa) Berubah?]

 

Ada rasa sedih (bukan bangga) yang menyusup begitu dalam dan pedih tak 
terperikan. Yang tidak bisa membuat air mata menetes sambil menyanyi seperti 
para artis pemilik toko kue model aneka polah itu.

Saat kita semua sedang berjuang keluar dari deraan penyakit akibat kekacauan 
pangan, ini malah kericuhan diperkeruh dengan pesta gula dan segala bahan 
rafinasi.

Suatu ironi dikotomi konyol di mana para artis jadi lakonnya. Mohon maaf, lebay 
sekali jika mereka mempertontonkan tubuh ramping sambil sesumbar ‘berkat gaya 
hidup sehat’ (yang belum tentu memuat kejujuran), sementara mereka memiliki 
dagangan penebar masalah kesehatan.

Publik yang nalarnya pas-pasan suatu hari akan mengidap gangguan bipolar jika 
terus-terusan didera ketidak- selaras-an informasi.

Yang lebih parah, identitas pangan lokal bukan hanya bergeser, tapi justru 
mendapat lirikan sinis dari para pakar pangan dunia.

Seperti yang sudah terjadi, Makanan Pendamping Air Susu Ibu yang ‘rumahan’ 
dianggap tidak memenuhi syarat gizi tumbuh kembang bayi dan anak. Pernyataan 
yang amat menghina dan bikin ‘nyolot’.

[Baca juga : Mengapa Dunia Pengobatan Selalu Menarik?]

Tapi apa boleh buat: memang kenyataannya begitu. Mengapa? Karena ibu-ibu muda 
kita sekarang adalah kelompok generasi milenial, yang berpikir sayur buat bayi 
hanya bayam dan telur dianggap biang kerok bisul.

Jelas saja, bayam dan tempe kukus melulu tidak membuat anak tumbuh optimal 
selain rasanya tidak enak.

Sebagai pembuktian, saya punya contoh pangan beragam dan data yang justru 
memberi informasi bahwa: kandungan kalsium bisa mencapai 140 persen lebih, 
bahkan zat besi lebih dari 100 persen.

Makanan bayi sehat yang tidak melulu bayam atau hati ayam. Melainkan ikan gabus 
yang jauh lebih murah, tapi sarat protein dan kembang kol yang tidak pernah 
terpikirkan mempunyai kandungan vitamin C – sedangkan bayam tidak.

Begitu pula bubur Manado menjadi lebih optimal dengan abon ikan sebagai 
Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Posyandu, ketimbang bubur kacang ijo yang 
itu-itu lagi.

Sangat miris dan menyesakkan dada, menyaksikan para nelayan dengan hasil 
tangkapan melimpah ruah sementara anak-anaknya pendek dan bodoh.

Suatu tamparan keras jika kita bisa melihat berderet-deret warung bakso mulai 
dari Aceh hingga Papua.

Bayangkan orang asing yang sedang survei, mengandaikan bakso dan mi ayam adalah 
‘pangan lokal’ Nusantara. Fenomena yang masuk akal jika menyebut ayam goreng 
renyah saja kita menggunakan istilah ‘ayam krispi’.

[Baca juga : Tetap Fotogenik Tanpa Harus Jalani Ketogenik]

Jangan sampai kita mempunyai keturunan generasi yang memaksakan minum susu 
sekalipun diare setiap hari akibat intoleransi laktosa di atas usia 2 tahun – 
yang semakin merusak kemampuan usus menyerap nutrisi.

Sementara jika gurunya cukup pintar, maka hanya dengan 1 ons daun ubi yang 
dibuat botok atau buntil , anak memperoleh kalsium setara dengan 4 butir telur 
ayam.

Harajuku adalah pola pemberontakan. Biarlah jika soal fashion dan mode. Tapi 
bukan untuk badan manusia. Tubuh tidak akan mampu menanggung pola tabrak sana 
sini. Justru yang akan berontak tubuh itu sendiri.

Mengolah tubuh dan hidup ada pakem yang tidak pernah bisa berubah – seperti 
lamanya orang hamil juga tidak berubah di kisaran 9 bulan 2 minggu dan proses 
pencernaan normal juga tidak lebih cepat dari 3 jam.

Itu adalah hukum kodrat, yang hanya bisa dipahami dan diturunkan dengan pola 
asuh yang benar serta bijak - bukan sekadar kasih sayang berupa peluk cium.

Keluarga bijak mampu membuat perencanaan sehat tentang seminggu ini mau masak 
apa, bukan hari ini makan di mana.

 [Baca juga : Rahasia Makna di Balik Nama dalam Label Makanan]

 

  

Kirim email ke