Kemayoran, April 1961. Turun dari pesawat sepulang mengunjungi Kennedy, Soekarno langsung menyatakan ia bertambah yakin bahwa kita (Indonesia)sudah berada pada rel yang benar – maksudnya, menjadi bangsa sosialis yangtidak ikut Blok Kiri apalagi Kanan, alias Non Blok. Seperginya Bung Karno dari Washington, JF Kennedymengumumkan rencana penghentian campurtangan AS di Indocina dan akan menarik ratusan penasehat militernya dari Vietnam-selatan mulai 1964. November 1963, Kennedy dibunuh. Dengan tembakan dimuka umum. Bukannya melanjutkan putusan presiden AS untukkeluar dari Vietnam, politisiAS yang bersekongkol dengan kalangan industri senjata dan jendral-jendral korup malah memulai serangan udara besar-besaran atas Vietnam-utara sejak Maret 1965dalam operasi “rolling thunder”.
Gemuruhnya bergulir sampaiJKT, September 1965. Hingga Bung Karno akhirnya dijatuhkan pada 1967. Di tahun yang sama, Freeport mulai mengaduk-aduk alam Papua. - Mempertautkan Bung Karno, Ho Chi Minh dan Kennedy YOGA SUKMANAKompas.com – 01/12/2017, 08:54 WIB JAKARTA, KOMPAS.com - Presidenpertama RI Soekarno atau Bung Karno dikenal luas memiliki pendirian yang tegasdan berwiba, namun Presiden RI pertama itu bukanlah sosok yang kaku. Sejarah mencatat, Putra Sang Fajar itubisa menjalin hubungan dengan siapa saja, tidak terkecuali dengan tokohrevolusi Vietnam Ho Chi Minh dan Presiden Amerika Serikat (AS) John F. Kennedyyang punya idealisme berbeda. Seperti diketahui, Bung Karno adalahtokoh yang memprakarsasi gerakan non blok di tengah kecamuk perang dinginantara Uni Soviet dengan komunismenya dan Amerika Serikat dengan liberalismedan kapitalismenya. Kawan Sehaluan Kedekatan Ho Chi Minh dan Soekarno mulaiterlihat pada 4 Maret 1959. Saat itu, atas usul Soekarno, Ho Chi Minhmendapatkan gelar doktor honoris causa dari Universitas Padjajaran Bandung. Di tahun yang sama, tokoh kharismatikVietnam itu datang ke Indonesia dengan senang hati atas undangan Bung Karno. Bahkan Bung Karno pernah mengajak Ho keBandung untuk bersama meresmikan nama Institut Teknologi Bandung (ITB) yangsebelumnya bernama Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Jauh sebelum kedekatan itu, Bung Karnodan “Paman” Ho sudah memiliki pertautan. Keduanya dikenal sebagai tokohperjuangan yang anti kolonialisme dan imperialisme. Tim Historia dalam bukunya yangditerbitkan Kompas, "Ho Chi Minh dan Soekarno", menyebut kedua tokohbesar itu sebagai kawan sehaluan dari negeri seberang. Ho bahkan pernah berkirim surat kepadaSoekarno pada 19 November 1945. Isinya, mengajak tokoh perjuangan kemerdekaanIndonesia bersama-sama mengusir kolonialis dan imperialis di Asia mulai dariIndia, Burma, Indonesia, dan Malaya. Ide itu menurut Sejarawan Asvi WarmanAdam dalam buku "Ho Chi Minh dan Soekarno", paralel dengan gagasanBung Karno di Konferensi Asia-Afrika 1955. "Dia (Ho) ingin menyatukannegara-negara tersebut dalam satu federasi,” begitu tulis Tim Historia. Kedekatan kedua pemimpin itu otomatismempererat hubungan Indonesia dengan Vietnem. Indonesia bahkan menggalang lobidan kampanye internasional antiinvasi Amerika Serikat (AS) di Vietnem Selatan. Ho sendiri wafat pada 1969, setahunsebelum Bung Karno berpulang. Namun pasca wafat, kedua tokoh itu diperlakukanberbeda. Ho dikenang meriah oleh masyarakatVietnam, tetapi “Soekarno dikenang dalam keremangan catatan sejarah versi OrdeBaru”, tulis Tim Historia. Kehangatan di Barat Di rentang waktu yang sama, Bung Karnojuga menjalin hubungan dekat dengan Presiden AS John F. Kennedy. Hubungan ituterjalin saat tokoh kelahiran Surabaya itu datang ke Washington pada April1961. “Dia mendekatiku dengan langsung danramah sekali,” kenang Bung Karno dalam otobiografinya karya Cyndy Adams, BungKarno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Bahkan, seperti dikutip dari Kennedy danSoekarno, karya Tim Historia, Bung Karno diajak berkeliling Washington olehKennedy dengan menaiki helikopter. Bapak bangsa itu merasa senang, apalagiKennedy menawarinya capung besi tersebut. Entah bagaimana prosesnya, helikopterpemberian Kennedy sampai di Indonesia pada 1962, saat konflik Irian Barat kianmemanas. Kujungan Bung Karno ke Washington sendiribertepatan dengan pembukaan forum baru pemerintahan demokratis Papua Baratbentukan Belanda. Namun, Kennedy memilih bertemu Soekarno daripada menghadiriundangan Belanda. AS memiliki kepentingan strategis untuklebih dekat dengan Indonesia dalam konteks perang dingin. Apalagi pengaruhPartai Komunis Indonesia (PKI) sudah besar saat itu. Pasca pertemuan itu, AS yang sejak awalpasif justru mulai aktif terkait isu Irian Barat. Langkah itu diambil untukmengimbangi pengaruh Uni Soviet di Indonesia. Di luar itu, Bung Karno memiliki kesanpositif kepada Kennedy. Bahkan, ia sempat mengundang Kennedy datang keIndonesia. Ajakan itu disambut hangat oleh pemimpin barat itu dan berjanji akandatang pada 1964. Pada 1962, Bung Karno bahkan membentuktim arsitek untuk membangun wiswa negara di lingkungan Istana Merdeka Jakarta. Guntur Sukarnoputra dalam "BungKarno dan Kesayangnya" mengatakan, wiswa negara dibangun Bung Karno agarKennedy bisa tinggal lebih nyaman saat datang ke Indonesia. Sayangnya, keinginan Bung Karno itu tidakpernah terwujud. Kennedy tidak pernah datang. Ia dibunuh di Dallas, Texas, pada22 November 1963. Tokoh proklamator kemerdekaan Indonesiaitu kehilangan sosok yang ia nilai sebagai pemimpin yang memberikan kedudukanAS sesuai perkembangan dunia saat itu. “Aku sangat menyesal bahwa dia tidaktidak pernah bisa datang,” kata Soekarno dikutip Tim Historia dari Merdeka, 25November 1963. Kosmopolitan Ditemui di Musium Nasional, SejarawanYosef Djakababa menilai bahwa hubungan baik Bung Karno dengan Ho Chi Minh danKennedy menunjukan bahwa bapak bangsa itu memiliki sikap kosmopolitan. Ia menilai persaudaraan antara insanmanusia yang berbeda pandangan politik pun mampu dilakukan. Pandangan sepertiini patut untuk diperjuangan dan relevan dilakukan hingga saat ini. “Dengan Ho dia (Bung Karno) menemukansosok yang serupa dengan dirinya, sama-sama nasionalis tulen dan antikolonialisme,” kata Yosef. “Sementara dengan Kennedy, Bung Karnomelihat sosok yang terbuka dan gentleman,ramah dalam pendekatan personal, mau mendengarkan namun tetap diplomatis dansaling menghormati.” sambung dia. Penulis:Yoga SukmanaEditor:Diamanty Meiliana
